Bukan kita yang kecil, tapi dunia yang terlampau besar. . . #sajakliar #sajakmalam #psbb #lockdown #covid19 #minoritas #minor #hidup (di Bandar Lampung) https://www.instagram.com/p/B_x3YF3AtdD/?igshid=xc9vh70940js
seen from Netherlands
seen from Germany
seen from Germany
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Russia
seen from United States
seen from China

seen from Germany

seen from Canada

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from South Africa
seen from China
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
Bukan kita yang kecil, tapi dunia yang terlampau besar. . . #sajakliar #sajakmalam #psbb #lockdown #covid19 #minoritas #minor #hidup (di Bandar Lampung) https://www.instagram.com/p/B_x3YF3AtdD/?igshid=xc9vh70940js
(bukan) tentang SARA
agak sedikit terlambat membuat tulisan ini. sempat menahan diri untuk tidak menulis, tapi akhirnya dibuat juga.
kekecewaan yang lagi-lagi sama. terjadi sejak lama. ya, manusia dan egonya.
saat mendengar berita soal penembakan dalam rumah ibadah, tidak ada yang kulakukan selain berucap kasar dan mencaci manusia yang penuh dengan kesombongan itu. ya, pelakunya.
kenapa sombong? karena sebenarnya tidak ada yang dia ketahui soal hidup tapi dia mampu mengambil keputusan untuk mengorbankan orang lain. yang dia tahu mungkin hanyalah mayoritas yang paling benar.
jadi sebenarnya hidup itu apa? hidup jelas bukan milik dia. bukan milikku. bukan juga milik mayoritas. bukan pula milik minoritas. hidup jelas milik TUHAN, lengkap dengan segala ke-Maha BesaranNya.
lalu siapa kita hingga mencoba menghakimi orang lain? kenapa kita bisa yakin orang itu salah atau benar, lalu tega mencabut hak hidupnya? karena kita mayoritas? atau karena yang kita percayai adalah yang terbaik? cih! pikiran paling picik yang paling sering kutemui pada manusia.
mungkin sebelum bertingkah sebagai seorang mayoritas yang menekan minoritas, manusia harus menimbang lagi. sepantas apa untuk merasa superior, diantara begitu banyak sisi lemah yang manusia miliki? dan mungkin baiknya manusia tahu, bahwa titik lemah manusia akan tampak ketika dia menganggap lemah sesuatu. lalu, seberapa yakin kamu bahwa TUHAN menyukai perbuatan jahatmu yang mengatasnamakan kebenaran mayoritas? mengingat TUHAN sangat menyayangi manusia. siapapun itu.
agak bosan mengatakan ini. tapi, berkacalah manusia.
Habib Jafar : Andaikan Merry Riana Muslim, Bicara Toleransi, Ucapan Natal, Minoritas, dan Isu yang Sedang Viral
Beberapa waktu lalu sempat viral mengenai kasus yang melibatkan salah seorang pendakwah yang berhubungan dengan seorang pedagang minuman. Masyarakat banyak yang menyayangkan kejadian tersebut karena bermakna kurang pantas.
Dalam video terbaru di kanal YouTube Merry Riana, Habib Ja'far memberikan responnya terkait isu tersebut dan juga membahas isu-isu penting terkait toleransi beragama, khususnya mengenai minoritas dan ucapan selamat Natal. Beliau menekankan pentingnya memahami perbedaan dan menunjukkan rasa hormat kepada semua golongan, termasuk minoritas, dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.
Habib Ja'far menjelaskan bahwa dalam Islam terdapat berbagai pandangan mengenai pemberian ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani. Beberapa ulama membolehkan dengan alasan menjaga kerukunan, sementara yang lain melarang karena alasan teologis. Beliau menekankan pentingnya memahami konteks dan niat di balik ucapan tersebut, serta menghormati perbedaan pendapat yang ada.
Selain itu, Habib Ja'far juga menyoroti isu-isu yang sedang viral terkait toleransi dan keberagaman. Beliau mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi perbedaan dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar. Menurutnya, dialog dan edukasi adalah kunci untuk membangun masyarakat yang harmonis dan saling menghargai.
Dalam video yang sudah ditonton lebih dari 460,000 penonton ini mendapatkan banyak ribuan komentar, diantaranya seperti :
@fifikartikad2774 : ketika dua orang positif ngobrol.. yang dengerin dapet banyak sekali ilmu positif
@ristasalon3859 : Sbg umat Katolik sy sangat apresiasi dengan sikap dan pandangan Habib, sungguh Luar Biasa. Salam Hormat
@asepkurniawan999 : Indahnya kebersamaan, dengan tidak menyudutkan salah satu yg benar.... bravo buat habib dan merry, semoga menginspirasi banyak orang
Melalui diskusi ini, Habib Ja'far bersama Merry Riana berharap dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau mengajak semua pihak untuk terus belajar dan membuka diri terhadap berbagai perspektif, guna menciptakan Indonesia yang lebih damai dan bersatu.
Penasaran dengan obrolan selengkapnya? Simak di sini :
Perihal Fakultas Minoritas, M. Aslam: Seluruh Urusan Menjadi Mudah
Perihal Fakultas Minoritas, M. Aslam: Seluruh Urusan Menjadi Mudah
Informatika.net, Kairo- “Tidak perlu mengantri panjang hanya untuk ijroat dan kebutuhan lainnya, bahkan ketika fakultas lain harus menunggu dan terjaga dari subuh dini hari, kita dari fakultas lughoh bisa dengan santai dalam menunggu pemberkasan. Dari jumlah mahasiswa yang tidak mendominasi perkuliahan, segalannya menjadi gampang”, Ungkap Muhammad Aslam, pemateri dalam acara Orientasi Senat…
View On WordPress
Makna Merdeka
Sehari dua hari belakangan internet penuh dengan riuh rendah kicauan mengenai kemerdekaan. Banyak yang merayakan dengan memosting berbagai pamflet ucapan yang riang gembira, namun banyak juga yang melempar sarkasme terkait dengan situasi sosial dan ekonomi dengan pamflet-pamflet yang menampilkan propaganda bagaimana sebenarnya kemerdekaan itu belum begitu hadir bagi bangsa kita, terutama bagi kalangan rakyat jelata.
Orang-orang punya penafsiran sendiri-sendiri mengenai apa sebenarnya makna dari merdeka itu. Apakah sekadar terlepasnya bangsa ini dari penjajahan? Lantas bagaimana dengan mereka yang masih terjajah di kalangan bawah, apa makna merdeka bagi mereka?
Barangkali sederhana saja, makan yang cukup, pekerjaan yang layak, serta pendidikan dan kesehatan yang terjangkau bagi anak-anak mereka. Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Seluruh, bukan separuh, apalagi hanya sebagian kecil kelompok. Sesederhana itu harapan kemerdekaan mereka, sebenarnya. Namun harapan sesederhana itu pun tampak seperti utopia.
Sungguh suatu ironi yang sangat menyayat hati; di masa-masa kampanye semua partai politik dan para politisi akan berlomba-lomba menghadirkan narasi kerakyatan. Namun saat mereka terpilih dan duduk dengan nyaman di gedung parlemen serta pos-pos pemerintahan, produk politik dan kebijakan-kebijakan yang mereka hasilkan hanya menguntungkan sekelompok orang saja; para konglomerat dan perusahaan-perusahaan besar yang rela berbagi keuntungan dengan para politisi itu demi memuluskan agenda kapitalistik mereka. Meski agenda itu mengorbankan begitu banyak hak rakyat; tanah, tradisi, dan penghidupan mereka.
Memang ketika menilik ke bawah, makna kemerdekaan itu tidak ada. Ketika kita menilik ke masyarakat marginal, kaum adat, kalangan minoritas, orang-orang miskin, dan para pengangguran, makna merdeka itu sama sekali tidak ada.
Self-Acceptance | Menemukan Kepercayaan Diri di Lingkungan yang Heterogen
Self-Acceptance | Menemukan Kepercayaan Diri di Lingkungan yang Heterogen
Sejak kecil, aku tidak terlalu memperhatikan penampilanku. Aku malah kadang malu jika memakai baju yang sangat identik dengan “perempuan”. Seperti dress, rok ataupun aksesoris wanita lainnya. Aku tumbuh besar di kalangan yang homogen atau dengan kata lain sebagai mayoritas di daerahku. Tetangga di kampung halaman berasal dari satu suku yang sama. Sebagian besar. 98%. 2% nya adalah orang dari suku…
View On WordPress
#kemenag #minoritas #imb #adil #kemenkumham Adillah sedikit woi buat kami yang minoritas ini https://www.instagram.com/p/B8F--jNBHcqGwkVcAbLW9Z1g_Zv7OXnAOhQW-o0/?igshid=1e38gi5zz7d92