How beautiful it is to be loved so fiercely by someone that if they were given another chance, they would still want to unveil your vilest faces and choose to love you nevertheless.
i will find you in any lifetime.
seen from United States

seen from United States
seen from India

seen from Belgium
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Australia
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from Sweden
seen from France
seen from Singapore
seen from China
How beautiful it is to be loved so fiercely by someone that if they were given another chance, they would still want to unveil your vilest faces and choose to love you nevertheless.
i will find you in any lifetime.
It's always a 'too' for you. Too naive, too selfish, too deep in love with me.
i don’t want to destroy you ; let’s not fall in love.
One day, if I decide to love again—it'd be nice if I can see you there.
Wisa, to Frieska.
Jadilah bulanku, Ratuku, wanitaku—dengan begitu aku tak akan kehilangan arah lagi. Sebab acap kali kegelapan turun dan senja menjadi alasanku untuk buta, aku ingin kamu yang ada di sana dan menggenggam tanganku untuk menuntunku menuju kejayaan.
maka bukalah matamu dan sambut aku; katakan kamu baik-baik saja.
Berhentilah menatapku seolah aku jatuh cinta padamu.
he won’t ever know about those tiny itsy bitsy sparks of excitement in his eyes whenever he sees m̶e̶ her.
“Wisa, aku selalu memikirkanmu. Kau tahu itu?”
Pernyataan dari Frieska terdengar bodoh, tapi mungkin dia serius. Wisa menurunkan cangkir kopinya. Kepul asap kelabu yang masih terasa panas menyentuh permukaan kulit wajahnya dengan lembut.
“Lalu?” Kalimatnya seperti sebuah tuntutan yang berbalut nada lembut, tatapan sayu yang sudah lama beristirahat di sepasang bola mata tenangnya memandangi siswi teladan itu. Tangannya dilipat rapi di atas meja.
Frieska menyibakkan satu-dua helai juntaian rambut yang menghalangi pandangan. Cepat dia mengangkat bahu. “Kupikir kamu perlu tahu. Aku kekasihmu; siapa tahu kamu meragukanku.”
Kekehan pelan Wisa terdengar merdu di telinga Frieska. Itu seperti ejekan; tapi Frieska, jangan tanya mengapa, selalu saja merasa suka ketika lantunan tenang itu memasuki telinganya. Entah se-menyebalkan apa itu bagi orang lain.
“Oh.”
Frieska agak terkejut mendengar respon dari figur di depannya itu; ya, ayolah. Pasti dia mengekspektasikan sesuatu yang lebih besar. Wisa bukan tipikal orang seperti itu, sejauh Frieska tahu. Ketua salah satu tim basket kampusnya itu seorang yang suka mendramatisir sesuatu (setidaknya itu kesimpulan Frieska setelah empat tahun berteman dan setahun berromansa dengan Wisa).
“Fris,” Ah, suara merdu itu lagi. Frieska menengadahkan dagu, memandangi sorot hangat yang sedang menginvasinya. Apa yang Wisa kira-kira pikirkan? Dari kelamnya sepasang iris pekat yang sedang dalam jangkauan pandangnya itu, bagaimana Frieska mau menebak?
“Boleh aku bertanya?”
Frieska mengangkat sebelah alisnya dan mengangguk, mengiyakan pertanyaan konyol Wisa.
“Apa aku pernah meragukanmu?”
Gadis berkacamata itu tidak menjawab. Hening mengetuk atmosfir diantara mereka dengan tawa mengejek. Di antara pipi yang bersemu, kepulan dari cangkir tehnya perlahan mengembuni kedua lensa kacamatanya.
Mungkin memang epilogmu tidak sejalan denganku (kamu dengannya; aku dengan duniaku), tapi tidak apa. Aku, entah bagaimana caranya, akan tetap di sana untuk mengagumi rupawanmu. Nona, maka dari itu, teruslah saja berjalan. Dia yang menjadi epilogmu menunggu, kamu tidak perlu berlama-lama memandangku seperti itu. Yang kamu lakukan hanya akan membuatku makin sulit melepasmu lebih jauh. Aku melakukan sebaik yang aku bisa, jadi, terbanglah.
mulutnya berkata begitu, tetapi sorot matanya tidak.
Hidupku ini tidak sederhana. Berputar-putar bagai riak air di banyak tempat; distorsi realita yang kau dengar dari buku-buku kakakmu benar-benar aku hadapi tiap harinya. Mungkin kau akan berpikir tentang aku yang dramatis atau hiperbol, menentukan satu dari dua abjad sederhana yang berujung mana saja. Kau pikir itu mudah, tapi pilihanku dimanapun simalakama, dua-duanya tetap berujung Enigma dengan E kapital dan tanda tanya besar yang dimintai pertanggungjawaban. Aku bahkan tidak yakin lagi mana abjad pertama dan mana kedua, semua ini memiliki arti yang absurd.
dia memandangiku dengan tatapan sembab, aku tidak bisa tidak bertanya.