Ramadan dan Tradisi di keluarga
Di sore itu, papa seperti biasa menghidupkan lagu-lagu Qosidah. Ya, setiap bulan Ramadan, setiap pagi dan sore hari, rumah penuh dengan lantunan musik Qosidah. Mulai dari lagu magadir, lagu Sulis dan Hadad Alwi, sampai lagu-lagunya Raihan.
"ada anak bertanya pada bapaknya untuk apa berlapar-lapar puasa".
Fadhillah yang saat itu berusia 6 tahun coba menyimak setiap kalimat di dalam lagu.
"Pa, memang nya kita dapat apa sih kalau puasa ?"
"dapat pahala yang besar, nanti kalau pahalanya banyak, kita bisa masuk surga"
"surga yang ada air terjun dan sungai susu itu ya ?"
"iya, benar. Bukan cuma sungai susu, di surga kakak bakal bisa minta apa aja yang kakak mau dan bakal di kabulkan oleh Allah. Selain puasa, kita juga harus baca Al-Qur'an dan tarawih di bulan puasa".
Fadhil mendengar dengan mata berbinar, hati penuh mendambakan bisa minum susu di sungai susu ketika di surga nanti.
Tapi, semakin bertambah usia, cara Fadhil kecil memaknai Ramadan juga ikut berganti. Dulu rajin puasa setengah hari dengan harapan bisa masuk surga agar bisa mandi dan minum air susu di sungai susu. Ketika Fadhil berusia 10 tahun, Fadhil memaknai ramadan sebagai momen bertemu teman baru.
Fadhil rajin sekali sholat subuh dan tarawih ke masjid yang jaraknya cukup jauh dari rumah, sekitar 500 meter. Kali ini bukan soal sungai susu lagi. Tapi, Fadhil senang bertemu dengan teman baru, yang selain di bulan ramadan, mereka tidak akan bertemu dan main bareng.
Pernah suatu hari, tidak ada seorang pun yang menemani Fadhil kecil berangkat ke masjid, tapi Fadhil tetap ngotot ingin sholat di masjid
"aduh, baik budi sekali si Fadhillah ini" celetuk tetangga yang tau kalau anak umur 10 tahun ini akan pergi sendiri ke masjid.
"masih kecil sudah gemar ke masjid"
Andai orang dewasa ini tau alasanku ingin ke masjid, apa dia akan tetap berkomentar seperti itu ya ?
Momen main bersama teman baru di bulan ramadan begitu menyenangkan. Karena, jika tidak bulan ramadan, kami akan sulit bertemu. Jarak rumah yang jauh, tidak satu sekolah. Menjadi tembok untuk Fadhil bisa bermain bersama mereka. Maka, momen setahun sekali ini, tentu saja tidak disia-siakan oleh fadhil kecil. Apapun rintangannya, ia akan berusaha tetap pergi sholat subuh dan tarawih ke masjid.
Ramadan selalu jadi bulan yang begitu spesial. Bukan hanya karena keutamaannya, karena limpahan berkah di bulan Ramadan. Tapi, bulan ramadan di hidup fadhil, selalu di hidupkan dengan kebiasaan - kebiasaan yang hanya di lakukan di bulan Ramadan. Seperti lagu qasidah Papa, main dengan teman baru, dan es timun suri buatan mama yang juga hanya ada di bulan ramadan.
Ramadan di usia dewasa ini juga terasa sangat spesial, seperti sedang melakukan perayaan. Walau tidak lagi jadi momen bertemu dan bermain dengan teman baru. Tapi, ramadan di usia dewasa ini tetap akan di temani dengan es timun suri yang hanya ada di bulan ramadan. Walau kini, bukan dibuat oleh mama, melainkan dibuat oleh tangan ku sendiri, dan kusajikan untuk suamiku.
Aku tidak hanya menyajikan sebuah minuman kepada suami. Tapi, aku sedang menyajikan momen Ramadan yang tumbuh membersamai Fadhil kecil hingga dewasa. Aku menyajikan kenangan yang akan terus hidup dan terulang di bulan Ramadan. Tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang, insyaaAllah.


















