Peniel as Joonho on XO Kitty is fucking everything!!!
seen from China

seen from Saudi Arabia

seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Germany

seen from Saudi Arabia

seen from Australia

seen from Russia
seen from Brazil

seen from Netherlands
seen from South Africa
seen from Italy

seen from United States
seen from Iraq
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
Peniel as Joonho on XO Kitty is fucking everything!!!
All this time we were waiting for each other All this time I was waiting for you We got all these words, can't waste them on another So I'm straight in a straight line running back to you
OneRepublic - All This Time
“I feel so emotional around you.”
like what you do
“Tidak, hyung. Masih ada yang perlu kubereskan. Pergilah duluan,” Moon Joonho menatap Lee Kyungho yang tengah memberesi barangnya sebelum beralih lagi pada monitor di hadapannya. Jarum panjang jam dinding di atas kepalanya menunjuk angka sebelas, sementara yang pendek berada tak jauh di depannya. Lima menit menjelang tengah malam dan Joonho belum menunjukkan tanda-tanda akan segera pulang.
Kyungho yang sebelumnya menawari untuk pulang bersama hanya mengedikkan bahu. “Aku duluan kalau begitu. Sampai jumpa besok, Joonho-ya.”
Lagu baru untuk album baru, yang tengah digarapnya itu. Targetnya rilis musim semi depan. Makin lama, minatnya tak hanya mencipta kunci-kunci dasar lagu dengan gitar, tapi juga menyusun keseluruhan lagu secara utuh. Maka jangan terlalu heran kalau belakangan menemukan pemuda itu sibuk di depan layar monitor. Bermain-main dengan aplikasi penyusun lagu.
Laki-laki yang barusan pergi juga orang yang ada kaitannya dengan album baru ini. Lee Kyungho, produser musik yang memantau perkembangan lagu KNOX untuk mengoreksi di sana-sini. Menambahkan, mengurangi, menyempurnakan, semacam itu.
Setengah jam dan Joonho mungkin akan masih akan terus berada di studio itu sampai pagi kalau manajernya tak mengirim pesan singkat ke ponselnya. Memintanya untuk segera kembali ke dorm. Besok pagi-pagi sekali mereka harus berangkat ke luar kota, acara off-air. Manajernya tak suka kalau anak-anak asuhnya kekurangan jam tidur sebelum melakukan aktivitas mereka, apalagi ini di luar kota.
Masih dengan berat hati, langkah kaki Joonho akhirnya tiba di lantai dasar. Membawanya menuju lobi dan hendak keluar gedung kantornya, kalau matanya tak menangkap sosok Bang Minhwa duduk sendirian di salah satu sofa berwarna merah di lobi itu. Sedang menekuri ponselnya.
“Tidak pulang?”
Seolah tidak kaget mendapati Joonho di sana, Minhwa mengangkat pandangannya. Tenang dan santai. “Menunggu orang.”
Tak ada respons berlebih dari mimik muka si pemuda. “Hati-hati. Aku duluan.”
Perasaannya sedikit terasa berat meninggalkan Minhwa sendirian di kantor. Tapi gadis itu bilang sudah ada yang ditunggu. Maka Joonho tak perlu mengulur waktu lagi untuk segera kembali ke dorm. Dalam langkahnya menuju ke halte, dia berpapasan dengan seorang anak laki-laki yang tampak lebih muda darinya. Kelihatan asing, dan dengan ringannya melangkah masuk ke dalam gedung.
Joonho tidak tahu apakah ada orang lain lagi selain Minhwa di dalam sana. Joonho harap ada. Karena ada satu bagian kecil dalam hatinya yang tak ingin mengetahui fakta bahwa dialah orang yang sedang ditunggu Bang Minhwa. Entah kenapa. Rasanya tidak suka.
Sayang, harapannya tidak terkabul.
Posisinya yang duduk di dekat jendela di dalam bus disertai dengan momentum yang tepat, membuatnya melihat pemuda itu berjalan keluar dari gedung. Bersama Bang Minhwa.
***
“Sampai bertemu nanti,” Chaeri melambaikan tangannya bersamaan dengan tungkainya yang mulai menjejak anak tangga menuju lantai dua. Jadwalnya latihan bersama Ryeokwon, tadi dia berujar. Sementara Joonho berniat mengisi perut dulu sebelum kembali menekuni lagu-lagu barunya saat seseorang menyejajari langkahnya. Laki-laki itu menoleh dan belum sempat menelurkan sapaan apapun.
“Kau. Sebenarnya ada hubungan apa dengan dia?” Bang Minhwa sudah lebih dulu bersuara. Tatapannya dingin—seperti biasa—namun ada yang aneh dalam nada bicaranya.
“Memang kenapa?” Tatapannya kembali diarahkan ke depan. Tak berniat menjelaskan apapun. Dianggapnya itu hal yang adil mengingat Minhwa juga tak menjelaskan apapun perihal hubungannya dengan laki-laki anonim tempo hari. Joonho ingat dan menghitung dengan tepat, sudah tiga kali laki-laki itu datang ke kantor menjemput Minhwa.
“Tidak. Tapi tidakkah kau berpikir soal skandal kalau kau tidak menjaga perilakumu?”
Ekspresi Joonho tidak berubah. Tapi ada dengusan kecil terdengar, keluar dari hidungnya. Minhwa melirik tidak senang melihat tanggapan Joonho.
“Sejak kapan kau peduli soal skandal dan semacamnya?” Menoleh sebentar pada Minhwa sebelum beralih pada petugas kantin di balik konter, “satu sandwich dan satu botol air mineral, nunim,” pesannya. Pemuda itu sibuk dengan saku celana, dompet, dan uang selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia menyodorkan uang pas setelah menerima apa yang dipesan. “Gamsahamnida.”
Beberapa kali Minhwa membuka dan menutup mulutnya. Dia kesulitan memilih kata yang tepat. “Bukan begitu—tapi—maksudku—“ Minhwa tak sadar dirinya sedikit tergeragap.
“It hurts you, right?”
“…? What..?”
Pandangan Joonho lurus menatap Minhwa.
Minhwa tahu Joonho selalu begitu tiap menatap sesuatu. Orang bilang, meski pemuda itu tak ada niat untuk mengintimidasi, tapi rasa yang didapat tiap menemukan tatapan itu adalah demikian. Minhwa hanya tertawa, biasanya, karena dia tak pernah merasa begitu selama ini tiap mendapati tatapan seorang Moon Joonho.
Ternyata kali ini lain.
Minhwa mengerti apa yang dimaksud oleh orang-orang itu, akhirnya.
“To feel jealous of a person who's not yours—” Joonho melangkah meninggalkan Minhwa sendirian di depan konter. Meja favoritnya belum diisi orang.
`—cause I feel exactly the same like what you do.`
Kamu Anak Siapa
Mamak: Halo nak
Joonho: Halo
Mamak: Nggak sopan ya
Joonho: .....mak
Mamak: Nah gitu kan ganteng. Lagi apa?
Joonho: .................................
Mamak: Mamak tanya
Joonho: .................................
Mamak: Tadi malem tidur jam berapa?
Joonho: 3
Mamak: Bangun jam berapa?
Joonho: 4
Mamak: .................................
Joonho: .................................
Mamak: Jujur nak. Kamu lagi naksir cewek?
Joonho: Aku belum mikir begituan. Mau fokus KNOX dulu
Mamak: Pret
Joonho: .................................
Mamak: MAMAK TAHU KAMU NGGAK USAH BOHONGIN MAMAK JADI SIAPA ORANGNYA
Joonho: ........................apa sih
Mamak: MAMAK TAHU KAMU NGGAK KAYAK BIASANYA
Joonho: ........................apanya
Mamak: HYAAAAH NYEBELIN KAMU YA (ヽ`д´)┌┛★)`з゜)
Joonho: ..................................