@Regrann from @magfur_alghiffary - Puncak gunung menjadi puncak dari segala puncak, puncak rasa cemas, puncak kelelahan, puncak rasa haus Tapi kemudian.. semua rasa itu lenyap seketika bersama tirisnya angin pegunungan #mountciremai #gunungciremai #gunungindonesia #pendakicirebon #pendakikuningan #pendakimajalengka #ciremaimountain #3078mdpl 👆👆👆👆👆👆👆👆👆 👍👍👍👍👍👍👍👍👌👌👌👌😍😍😍😍💖💖💖💖💖💋💋💋 👇👇👇👇👇👇👇👇 Jangan sungkan dan gengsi untuk Follow and tag yang mau saja silahkan pilih (semuanya juga boleh) ; @outdoorgearofficial @ogogear @pointpanjat @dewaalam_ @meetshoponline @panjattebingindonesia @domegear @verticalgear @belantarastore @panjatdinding @pemanjattebingcantik @junglemountaindivision @rockclimbingdivision Outdoor Equipment Store OutdoorGearOfficial.com Gunakan hashtag #outdoorgearofficial #outdoorgear #outdoorstore #outdoor #ogogear #outdoorequipment #outdoorequipmentstore
Oke oke, aku janji akan menyelesaikan ceritaku pada part ini. :))
Dari awal pembaca sudah tau bahwa aku tipe orang yang menyusahkan dalam rombongan. Semakin menyusahkan pada bagian akhir ini, bagian setelah puncak.
Kami kembali ke camp sekitar pukul setengah sebelas, dengan hati puas dan sumringah setelah mencapai puncak. Jika saat menanjak menuju puncak aku tertinggal berdua bersama Dede, kali ini, di perjalanan menuju camp aku kembali tertinggal berdua bersama Dede. Seharusnya perjalanan sudah sangat mudah; tidak ada beban untuk dibawa, kaki pun tidak perlu melangkah jauh untuk menanjak. Tapi nyatanya, kakiku mulai gemetar, terlalu lemah untuk mengerem, yang mana pada keadaan track menurun, kaki yang pakem mengerem sangat dibutuhkan. Dede dengan sabar mendampingi langkah lambatku, bahkan ia membiarkan aku menghabiskan sisa air yang kami miliki, padahal saat itu perjalanan kami masih lumayan jauh.
Di bawah pohon rindang, pada lahan datar, aku dan Dede merebahkan diri. Aku ingat aku berujar padanya: "De, gue yakin gue bakal masih butuh bantuan lo pas turun (kembali menuju pos pertama, maksudnya) nanti. Tolongin gue lagi ya." Dede meyakinkanku bahwa ia akan selalu siap menolong.
Teman-teman yang lain sudah lumayan lama beristirahat di dalam tenda ketika aku dan Dede tiba. Segera Cynthia mempersiapkan peralatan memasak untuk membantu Dede memasak. Aku sebenarnya agak gusar, kenapa harus Dede terus yang melakukan semuanya, apa saja yang mereka lakukan selama kami belum tiba tadi, kenapa mereka belum makan. Hingga hujan pun turun dengan deras. Kami yang jelas-jelas sudah kehabisan air, sangat mensyukuri turunnya hujan ini. Botol-botol air mineral yang kosong didirikan di tanah datar untuk menampung air hujan. Iya, air hujan adalah satu dari beberapa pilihan ketika air yang kau bawa habis di gunung.
Menu makan siang terakhir kami adalah indomie goreng plus kornet. Satu tenda sunyi senyap, penghuninya terkapar lemas bahkan dibangunkan untuk makan pun tidak mau. Mereka adalah Rizky Suhe, Rizky Fauzi, dan Untung. Makan siang yang kubawakan ke tenda merekapun kembali ke hadapan Dede dan Cynthia.
Pukul setengah empat sore, semua tenda sudah dibongkar, sampah-sampah sudah dikumpulkan, kamipun sudah siap melanjutkan perjalanan. Untuk pulang.
Satu jam pertama, aku merasa baik-baik saja. Aku sempat memimpin rombongan, berada paling depan dengan Septi di belakangku. Dede bahkan sempat berujar "Abis gua kasih vitamin, sekarang kayak robot dia (aku, maksudnya), cepet banget" saat kami beristirahat di salah satu pos. Di perjalanan turun ini, aku banyak memerosotkan diriku. Haha, iya, main perosotan, saking licinnya track sehabis hujan dan lutut mulai gemetar. Jadi tidak usah ditanya bagaimana kotornya celana dan carrierku.
Lama-kelamaan, lututku semakin bergetar hebat, rasanya semakin sulit berjalan. Saat kami beristirahat, aku menjawab dengan ketus pertanyaan yang dilontarkan Cynthia. "Ruth? Baik-baik aja?", tanya Cynthia, "Gak", jawabku dengan cepat, ketus, dan tanpa embel-embel. Selama ini aku terbantu dengan salep entah apa namanya yang Cynthia bawa, namun hampir di setiap pos saat kami melakukan peristirahatan, aku mengoleskan salep itu, manfaatnya sudah tidak mempan sama sekali. Aku berkali-kali jatuh saking tidak kuatnya menahan kaki dan tubuhku. Biar ku perdetail bagaimana keadaannya agar pembaca mengerti. Jadi ketika lututku harus tertekuk karena jalanan menurun, lututku terlalu lemas untuk kembali seperti semula, kembali tegak, terlalu lemas untuk menopang bobot tubuhku, hasilnya adalah jatuh, menuruti lemasnya lututku itu. Hingga pada satu titik, aku merasa benar-benar putus asa, dan meneteslah airmataku. Teman-teman mengerubungiku, memberiku semangat dan kekuatan, meyakinkanku bahwa aku takkan ditinggalkan. Dengan keadaan seperti itu, Dede membuat keputusan. Keputusan yang membuat kami berjalan dalam formasi, aku dan Dede berada paling depan, tujuannya agar yang lain mau tidak mau bersabar menunggu pergerakanku. Jujur saja hal ini sangat membebankanku, membuatku tidak enak, karena aku membuat perjalanan kami menjadi lebih lama. Namun dengan Dede menggenggam tanganku selama perjalanan, aku merasa lebih tenang dan aman.
Mas Wahyu, yang berada paling belakang dalam formasi, memohon padaku untuk menyerahkan carrierku padanya, tujuannya agar bebanku berkurang sehingga aku lebih mudah melangkah. Aku meyakinkannya bahwa carrier bukan menjadi masalah bagiku, bahwa walaupun aku tidak membopong carrier, jalanku akan tetap lambat. Saat itu semua kembali beristirahat dan dalam keadaan mengerubungiku, hingga terdengarlah ucapan Bang Abel yang membuatku semakin merasa tidak enak yang mengarah ke sakit hati: "Kalo kayak gini kasian yang paling belakang, Yuth. Jadi lama banget." Menurutku, seseorang sebaiknya tidak mengungkapkan keluhannya kepada orang yang dibantunya. Selain membuat yang dibantu merasa bersalah, juga membuat seseorang yang membantu terlihat tidak membantu dengan ikhlas. Mendengar ucapan itu, Dede kembali menunjukkan kepemimpinannya dengan membuat keputusan. Dede meminta yang masih mampu berjalan dengan cepat agar berjalan duluan di depan, sisanya bisa berjalan pelan-pelan, lalu ia memintaku menyerahkan carrierku pada Mas Wahyu. Dan karena Dede melihat kegusaranku karena ucapan Bang Abel, ia berucap pelan padaku saat yang lain sedang tidak memperhatikan: "Udah, jangan dipikirin omongan orang." Aku cenderung ingin menangis di hadapan orang yang bisa memahamiku.
Terpecahlah rombongan kami menjadi dua bagian. Rombongan depan terdiri dari Mas Wahyu, Bang Anton, Mas Bayu, Rizky Fauzi, Desty, dan Bang Dwi. Sisanya sangat tertinggal jauh di belakang, dipimpin aku dan Dede, diikuti dengan sabar oleh Rizky Suhe, Cynthia, Septi, Bang Abel dan Untung. Ini satu hal yang masih tidak kumengerti, Bang Abel yang tadinya terlihat jelas ingin cepat tiba di Cibunar, jadi dengan ikhlas mengikuti rombongan yang berjalan lambat, haha. Bagaimanapun aku sangat berterima kasih pada rombongan depan yang bersedia bergantian membawakan carrierku, sangat-sangat bersyukur dengan keberadaan orang-orang kuat yang bisa membawa dua carrier berat sekaligus.
Kecuali sedang beristirahat, aku dan Dede tidak melepaskan genggaman tangan kami sama sekali. Bukan terlalu manja, memang keadaanku saat itu tidak bisa berjalan tanpa jatuh kalau tidak dipegangi. Jangankan saat keadaan lututku tertekuk, saat berjalan biasa di jalan datar saja tubuhku bisa goyah, tau-tau seperti akan jatuh. Dibimbing Dede sajapun aku masih jatuh, berkali-kali Dede dan Rizky Suhe berusaha menangkapku sebelum aku benar-benar jatuh ke tanah. Perjalanan kami menjadi benar-benar sangaaaaaat lama, dan kami kembali kehabisan air.
Tiba-tiba Dede memberhentikan rombongan, ia membuka botol minumnya, berjongkok di depan kubangan, lalu pelan-pelan berusaha mengambil bagian atas saja dari kubangan tersebut. Aku diam-diam menjerit dalam hati: "Yang bener ajaaaa??" Tapi, ya itulah salah satu pilihan ketika air mu habis di gunung. Dede meyakinkan kami bahwa itu air hujan dan tidak apa-apa untuk diminum. Anehnya, Dede tidak mengijinkan aku meminum air kubangan itu. Padahal menurut teman-teman lain yang diijinkan Dede meminum air kubangan itu, rasa airnya memang baik-baik saja, masih bisa disebut layak untuk diminum, bahkan terasa dingin dan segar. Walau kubilang aku penasaran, Dede tetap tidak memperbolehkan, aku diberi air mineral (asli) yang masih tersisa.
Ketika melihat kubangan air yang lebih banyak dan agak jernih, kami kembali berhenti. Kali ini Rizky Suhe mengisi botolnya dengan air kubangan tersebut. Dede bahkan mengeluarkan 5 sachet susu kental manis dan membuatkan kami susu dari air kubangan tersebut. Untuk yang satu ini, aku diperbolehkan meminumnya, haha. Memang ya, gunung membuat orang menjadi lebih banyak akal. :))
Malam sudah sangat larut dan aku bisa merasakan Septi dan Cynthia sudah semakin putus asa. Mereka tidak berhenti bertanya pada Dede apakah jarak sudah semakin dekat. Keadaan Rizky Suhe juga semakin mengkhawatirkan, aku tau sebenarnya kakinya juga bergetar hebat seperti kakiku (well, kaki teman-temanku juga pasti gemetaran sih, tapi tidak separah dan selemah aku), tapi ia tidak menunjukkan kesakitannya, tidak mengeluarkan keluhannya, namun beberapa kali terjatuh. Untung, yang kami anggap Letkol kami, suaranya tidak lantang lagi untuk membakar semangat kami. Karena berada paling belakang, Untung dan Bang Abel tidak terlalu kuketahui keadaannya, yang jelas harus terus menerus menahan kesal karena terus-terusan 'dibom' oleh 'gas' Cynthia dan Septi, haha. Aku masih goyah, masih tidak seimbang, dan sangat mengantuk apalagi saat di jalan datar (saat tiba di Cibunar, Dede juga mengakui hal yang sama). Entah bagaimana, meskipun keadaan kami sudah kacau, genggaman tangan Dede membuatku merasa semua baik-baik saja. Dede dengan sabar berjalan dua langkah lalu menengok ke belakang untuk menyenteri jalanku dan Rizky Suhe (karena aku dan Rizky Suhe tidak memegang senter), begitu seterusnya.
Betapa tak terlukiskan gembiranya hati kami saat dari kejauhan ada cahaya senter menyorot kami dan terdengar suara yang memanggil kami. Cahaya itu pun terlihat, cahaya lampu dari warung di Cibunar. Mas Bayu menyambut kami, ternyata ia yang menyorot kami dengan senter. Wajah teman-teman yang sudah tiba terlebih dahulu di Cibunar pun terlihat gembira, lega. Tengah malam tepat saat itu.
Rombongan belakang memesan makanan di warung yang buka 24 jam, makan dengan lahap dan minum seakan-akan tidak akan menemui air lagi esok hari. Cerita demi cerita pun bergulir, didominasi dengan cerita tentang hal-hal mistis yang terjadi. Septi, Mas Wahyu, dan Cynthia masih mempunyai kewajiban yang tak bisa ditinggal esok hari, jadi mereka tidak menghiraukan pagi buta dan tetap pulang ke Jakarta. Sementara sisanya memilih memasang tenda di Cibunar dan menginap semalam lagi. Aku tidur dengan Cynthia. Lelap dan nyenyak.
Aku masih berjalan dengan gemetar keesokan harinya, namun tidak selemah itu hingga membutuhkan pertolongan Dede lagi. Kami berpisah satu sama lain, Dede pulang ke Tasik, tidak naik bis dengan kami, aku dan Bang Anton turun di Kampung Rambutan, sementara sisanya turun di Bekasi.
Kuakui, kegiatan ini pengalih pikiran yang sangat bagus, tak ada waktu sedikitpun hingga kau sempat memikirkan masalah hidupmu. Oh, sungguh, aku sangat mencintai keadaan di gunung, kebersamaan kami di gunung. Mendapat teman langsung sebanyak dan seakrab ini mungkin juga pengalaman pertama bagiku. Anggap ini racun, tapi siapapun yang membaca postingan ini dan belum pernah naik gunung, percayalah, pendakian tidak akan membuatmu menyesal. Kau harus mencobanya, setidaknya sekali saja dalam hidupmu. Ini serius.
Selain karena tidur di atas lahan yang tidak datar, mimpiku tentang tugas-tugas perkuliahan juga membuat mataku tak terpejam dengan lelap. Menurut penuturan Septi, igauanku seperti orang yang sedang berpikir tentang deadline-deadline tugas yang mengejar, haha. Kami baru mulai bersiap-siap sekitar pukul setengah 4, dan memulai penanjakan pukul 4, sehingga kami tidak sempat menelan makanan sesedikit apapun. Aku sendiri hanya meneguk sedikit susu jahe hangat entah buatan siapa.
Kami menuju puncak bersama rombongan pendaki lain yang terdiri dari 5 orang (2 perempuan, 3 lelaki). Setengah jam pertama masih sanggup kujalani dengan lincah dan semangat, apalagi tanpa carriel di bahuku, membuat kakiku semakin mudah melangkah. Semua carrier memang ditinggal di tenda, kami hanya membawa satu carrier untuk menampung air, makanan kecil, dan obat-obatan. Mas Bayu dan Bang Abel dari wilayah perkemahan yang lebih rendah menyusul rombongan kami, tinggallah Bang Dwi seorang diri di dalam tenda dengan kelemahan tubuhnya.
Walaupun kami semua memakai jaket dan aku juga memakai sarung tangan, udara dingin subuh itu terasa menusuk-nusuk tubuh kami, terutama dalam keadaan ngos-ngosan, saat menarik napas sangat terasa sekali sesaknya. Selain ketidakmudahan mengatur napas, perutku pun terasa mual (lagi), sehingga aku menjadi orang pertama yang membuat rombongan berhenti untuk beristirahat. Rizky Suhe memberiku satu sachet Madurasa dengan harapan meredakan gejolak dalam perutku.
Setelah melewati Pos Batu Lingga dan Pos Sangga Buana 1, kekuatanku semakin melemah. Mual di perutku sepertinya disebabkan maag karena perut yang tidak terisi plus angin yang enggan keluar (dalam bentuk sendawa ataupun kentut), mual seperti ini selain membuat perut seperti diaduk-aduk, juga membuat perut seperti kain basah yang sedang diperas. Melilit.
Hari sudah mulai terang saat kami melewati Pos Sangga Buana 2 menuju pos terakhir sebelum puncak, Pos Pengasinan. Semburat oranye sudah mulai menghiasi kabut putih di langit, pohon-pohon tinggi berganti menjadi sesemakan di sekitar kami. Kami menikmati sunrise di tengah perjalanan menuju Pos Sangga Buana 2, memang tidak sesuai rencana (menikmati sunrise di puncak), tapi tidak peduli bagaimana keadaannya, kami tetap menikmati pemandangan sunrise yang terpampang di depan mata kami. Terlihat siluet Gunung Salak dari kejauhan, menambah indahnya keberagaman bentuk dalam sebuah kabut yang membosankan.
Tentu saja kami tidak melewatkan kesempatan ini, setiap orang mengeluarkan gadget yang dibawa untuk mengabadikan momen. Di saat-saat seperti ini, aku seperti terlupa pada sakit di perutku, aku bisa dengan mudahnya berpose ceria di depan kamera. Tapi saat melanjutkan perjalanan menuju Pos Pengasinan, sakit itu kembali datang menyerangku, rupanya ia hanya menghilang sejenak tadi. Dengan sisa-sisa kemampuan aku memaksakan diri untuk sampai Pos Pengasinan, dan yang pertama kali kulakukan ketika sampai di Pos Pengasinan adalah merebahkan diriku dalam keadaan tengkurap. Tidak peduli bagaimana tanggapan pendaki lain yang sudah duluan tiba di pos itu, tidak peduli bagaimana terlihat buruknya aku dalam keadaan seperti itu, yang aku tau perutku harus diganjal agar sakit lilitannya berkurang. Dalam keadaan itu aku memutuskan untuk menyerah, aku merasa sudah tidak berdaya, bahkan aku sudah mengutarakan keinginanku untuk tinggal di Pos Pengasinan sementara yang lain melanjutkan perjalanan menuju puncak.
Setelah berusaha menenangkan diri, akupun mengamat-amati keadaan, baru kusadari jumlah pendaki di Pos Pengasinan saat itu lumayan banyak. Rombongan pendaki lain yang saat berangkat bareng bersama kami sudah duluan sampai dibanding rombongan kami. Para pendaki memang menghabiskan waktunya lebih lama di pos ini, selain pemandangan dari pos ini bagus untuk berfoto-foto, pos ini juga tepat untuk beristirahat sambil menyeruput teh manis hangat sebelum pengerahan kekuatan habis-habisan menuju puncak.
Semangatku mulai timbul, aku mulai bangun dari posisi tengkurap dan memperhatikan keadaan dengan duduk tenang. Baru kutau 'tradisi' pendaki di gunung adalah menuliskan kalimat apapun pada selembar kertas lalu memfoto diri bersama kertas tersebut dengan latar belakang langit biru. Akupun tertarik mengikuti tradisi itu. Aku meminta kertas pada Desty dan meminjam pulpennya. Orang yang kutuju sudah jelas, pesan yang ingin kusampaikan pun sudah jelas. Tidak terbersit satu orang pun yang lain, dan pesan apapun yang lain. Hanya O dan pesan semangat.
Salah satu rombongan pendaki ada yang berbaik hati membuatkan rombongan kami teh manis hangat, Septi yang memberanikan diri dan mengakrabkan diri untuk meminta dibuatkan. Akupun diberikan roti tawar yang dilumeri susu kental cokelat. Kebaikan seperti ini yang sampai kapanpun, saat kamu bertemu si pemberi kebaikan dalam keadaan apapun, harus selalu diingat dan dihargai.
Ternyata aku merasa sanggup dan akhirnya membatalkan niatku untuk tinggal. Perjalanan kamipun dilanjutkan, dan aku ditempatkan paling belakang bersama Dede, Mas Bayu dan Bang Abel. Berkali-kali lipat beratnya perjalanan menuju puncak, dengan track bebatuan besar-besar yang membuat kaki terpeleset dengan mudah. Udara juga berganti menjadi panas menyengat, membuat tubuh kami yang terselimuti jaket menjadi semakin berkeringat. Pendaki lain yang beranjak turun dan berpapasan dengan kami selalu memberi semangat, "Ayo, Mas, Mba, dikit lagi.", ujar mereka. Dan jangan pernah percaya kalimat "Dikit lagi" yang diucapkan oleh seorang pendaki. Itu salah satu pelajaran yang kudapatkan dari mendaki gunung.
Perjalanan terasa jauh sekali dan terasa seperti tidak sampai-sampai. Dikarenakan aku yang sering meminta istirahat dan berlama-lama saat beristirahat, Mas Bayu dan Bang Abel mendahului aku dan Dede. Hanya Dede yang sabar menemaniku. Meskipun begitu, semangatku tidak pudar, aku tidak mungkin berhenti saat sudah sejauh ini, aku tidak mau tau, apapun yang terjadi aku harus sampai puncak, begitu pikirku. Dan betapa lega, haru, bersyukur yang amat sangat saat kaki ini menginjak puncak Gunung CIremai, Septi dan teman-teman yang lain dengan semangat menyorakiku, memberi tepuk tangan kepadaku, membuat mataku semakin berkaca-kaca.
Tapi bukan sorakan dan kebanggaan diri karena telah mencapai puncak yang membuat mataku berkaca-kaca, melainkan pemandangan yang ada di depan mataku. Lautan awan, putih bergelombang, di antara birunya langit. Pemandangan yang biasanya hanya bisa kunikmati dengan mendongakkan kepala, saat itu terpampang jelas di depan mataku. Seolah-olah aku bisa menjulurkan tangan dan menyentuh kapas-kapas putih itu. Takjub rasanya, tidak tergambarkan dengan kata-kata. Dan hati dipenuhi dengan rasa syukur, merasa kecil dan sangat mengakui bahwa Sang Pencipta sungguh besar, ajaib, dan Maha Keren adanya. Aku takkan melupakan hari itu, 4 Mei 2014, hari di mana keajaiban rasanya dekat sekali.
Tidak ada hambatan yang berarti di perjalanan menuju pos ke-2. Hanya melakukan pemberhentian dan saling menunggu pemulihan napas untuk beberapa menit. Mual pada perutku pun sudah tidak terasa, mungkin berkat madu. Saat melakukan pemberhentian di depan sebuah gubuk yang sudah tak berpenghuni, Rizky Fauzi (kenapa harus dengan nama lengkap? karena ada 2 Rizky dalam rombongan kami. Yang satu lagi bernama Rizky Rochman namun lebih akrab dipanggil Rizky Suhe. Suhe = susu jahe, haha) meminjamiku tracking pod untuk memudahkan langkahku. Belum setengah hari aku sudah menerima banyak kebaikan, bersyukur sekali ya.
Sampailah kami di pos ke-2, Leuweung Datar. Sesuai namanya, track ini memang lebih datar dibanding yang lain, sehingga perjalanan kami tidak terasa begitu berat. Bang Dwi, Mas Bayu dan Bang Abel selalu berada paling belakang dalam formasi. Untung dan Rizky Suhe dua terdepan. Aku biasa dekat dengan Desty, ritme kami sama, Septi dan Cynthia sedikit lebih cepat dari aku dan Desty.
Setelah melalui Leuweung Datar dan tiba di pos ke-3 yaitu Condong Amis, jalanan tak lagi sama. Tak ada lagi bonus jalanan datar, kaki kami dituntut untuk terus melangkah lebar dan mendorong badan kami dari satu pijakan ke pijakan yang lebih tinggi. Hutan Gunung Ciremai sangat lebat, hanya sedikit celah bagi matahari untuk menyinari kami. Pergerakan kamilah yang membuat keringat membasahi baju kami, bukan terik matahari.
Jarak antara rombongan depan dan rombongan tengah terpisah agak jauh, sehingga ketika rombongan tengah memutuskan berhenti sejenak untuk menyeduh minuman hangat, rombongan depan sudah terlalu malas untuk mundur kembali menghampiri rombongan tengah. Yang kumaksud dengan rombongan depan adalah Untung, Rizky Suhe dan Rizky Fauzi, rombongan tengah adalah Dede, Septi, Desty, Cynthia, Mas Wahyu, Bang Anton, dan aku sendiri, sedangkan rombongan belakang yang tertinggal lebih jauh, yang terdiri dari Mas Bayu, Bang Abel dan Bang Dwi, akhirnya berhasil menyusul rombongan tengah dan minum bersama. Dede mengeluarkan perlengkapan nesting dari tasnya dan menyeduh 3 sachet teh tarik yang kubawa. Kalau sudah melakukan pemberhentian, aku sudah tidak peduli kotor. Aku tidak akan memilih-milih tempat untuk mendudukkan pantat dan menyelonjorkan kaki. Yang kulakukan saat pemberhentian kali itu adalah merebahkan tubuh, tidur dalam posisi telentang dengan Desty duduk termangu di sampingku. Ia menjadi lebih diam. Di Cibunar, ia yang paling semangat meledek Bang Dwi denganku. Sepertinya kami memang benar-benar kelelahan saat itu. Rombongan depan menunggu kami menyusul mereka, dan perjalanan pun berlanjut.
Aku sudah diberitau bahwa Kuburan Kuda adalah salah satu track terberat di jalur Linggajati ini. Karena itu ketika kami tiba di pos ke-4, yang tidak lain adalah Pos Kuburan Kuda, kami berfoto-foto dengan plang nama tersebut. Entahlah, mungkin karena nama posnya juga unik. Senyum ceria di wajah kami ketika difoto berganti dengan ringisan begitu kami melalui track Kuburan Kuda. Benar adanya, track ini salah satu track terberat,
Banyak rombongan pendaki lain yang berpapasan dengan kami, yang juga sedang menuju ke atas. Namun salah satu rombongan yang paling kuingat adalah rombongan yang terdiri dari 3 orang lelaki, yang satu berkacamata dan berbaju lengan puntung, yang satu tinggi tegap dan berkulit bersih, dan aku tidak bisa mengingat yang satu lagi. Ketika mereka beristirahat, kami berjalan melewati mereka tidak lupa menyapa. Ketika giliran kami beristirahat, mereka melanjutkan perjalanannya dan melewati kami juga tidak lupa menyapa. Di gunung, manusia menjadi ramah dan bersopan santun. Di gunung, manusia menjadi senang berbagi. Sesama pendaki yang asing satu sama lain akan saling menyapa dan mengobrol, seakan teman lama.
Untung, yang selalu menyemangati kami dari depan, mempunyai embel-embel baru di depan namanya: Letkol. Sewaktu-waktu ia akan berteriak "YOOOH! SEMANGAT SEMANGAT!", ketika kami melakukan pemberhentian, ia yang akan memulai perjalanan kembali dengan berseru "YO, PASUKAN! KITA LANJUT!" sehingga seperti menjadi kebiasaan kami setiap melakukan pemberhentian harus menunggu aba-aba darinya. Caranya ini tidak lain untuk menyemangati dirinya sendiri, dengan berada di baris paling depan dan image "letkol" yang sudah terbentuk, ia harus selalu kelihatan bersemangat.
Lewat pertengahan hari, kami tiba di pos ke-5 yaitu Pangalap. Di pos ini kami berhenti lama untuk makan siang. Ada 2 nesting dan 2 lelaki yang turun tangan, yaitu Dede dan Mas Bayu. Menu makan siang kami adalah indomie rebus pakai bakso, Khusus Desty, bubur ayam cepat saji. Perbandingan jumlah makan dengan jumlah orang menjadikan kenyang bukan tujuan kami. Yang penting perut cukup terisi untuk memulihkan tenaga. Berkat bubur ayam cepat saji, Desty seperti menemukan keceriaannya kembali. Ia melaksanakan sholat tidak jauuh dari tempat kami makan siang, setelah itu meminta Cynthia mengambil gambar ias sedang melaksanakan sholat di tengah hutan. Mas Wahyu dan Bang Anton tertawa cekikikan melihat tingkah Desty. Pembawaan Desty memang seperti mpok-mpok dengan mulut ceplas-ceplos yang bisa mencairkan suasana. :D
Begitu perut terisi, rasa kantuk menyerangku. Sementara yang lain bercengkerama sambil cemal-cemil dan membereskan nesting, aku jatuh tertidur dengan bersandar pada carrier. Aku sudah diperingatkan untuk jangan ketiduran, karena badan yang tidak bergerak akan menyebabkan kedinginan, apalagi ditambah baju yang basah. Tapi aku terlalu ngeyel dan akhirnya jatuh tertidur untuk waktu yang sebentar saja. Memang benar, begitu bangun aku menjadi kedinginan. Untungnya kami segera melanjutkan perjalanan sehingga dingin tidak menyergapku.
(Diam-diam diambil Mas Bayu saat aku tertidur setelah makan siang)
Track dari Pangalap menuju Seruni (pos ke-6) tidak seberat Kuburan Kuda, Ketika tiba di Pos Seruni timbul dalam benakku bahwa Seruni itu nama yang bagus dan berniat menjadikannya sebagai nama anak perempuanku nanti, haha. Sayangnya tracknya tidak sebagus namanya. Seruni juga merupakan salah satu track terberat di jalan Linggajati. Kami semakin sering berhenti dan aku semakin sering merebahkan diri. Septi dan teman-teman lain yang pro berpendapat, kalau sedang melakukan pemberhentian, jangan duduk, atur napas saja dalam posisi berdiri atau membungkukkan badan. Karena kalau sudah sempat duduk, untuk berdiri lagi akan sulit dan seperti mengulang dari awal. Aku tidak peduli. Sama sekali tidak peduli pada pendapat itu. Setiao pemberhentian aku akan selalu duduk menyelonjorkan kaki atau merebahkan badan. Karena sungguh, capek banget rasanya! Dan aku tidak mengerti bagaimana dengan berdiri mengatur napas saja sudah cukup Begitulah ngeyelnya aku.
Hari sudah sore dan kami akhirnya tiba di pos ke-7, Pos Bapa Tere. Track Bapa Tere adalah track terberat di jalur Linggajati. Bukan salah satu terberat lagi, tapi inilah track terberat. Kuburan Kuda dan Seruni yang sudah seberat itu kami lalui, masih kalah dibanding Bapa Tere. Aku ingat ketika tiba di Pos Bapa Tere, Rizky Suhe berkata: "Ga berani gue ngeliat ke atas", saat itu juga aku menengok ke atas, dan menciut. Yang dimaksud "ke atas" adalah track Bapa Tere yang sangat terjal, nyaris seperti penggaris yang ditegakkan.
Selain persediaan air yang mulai menipis, tenaga kami juga sudah sangat terkikis, tinggal penghabisan. Dede berpindah tempat menjadi di barisan paling depan bersama Untung. Ia sudah melihat wajah putus asa kami, sehingga memutuskan tiba di wilayah perkemahan lebih dulu dan memasang tenda. Entah bagaimana Desty, Rizky Suhe, dan Bang Anton menjadi tertinggal jauh di belakang bersama Bang Abel, Mas Bayu dan Bang Dwi. Aku, Septi, Cynthia, Rizky Fauzi dan Mas Wahyu juga ditinggal jauh oleh Untung dan Dede. Kami kehilangan jejak Untung dan Dede sampai-sampai ketika kami berteriak-teriak memanggil nama mereka, tidak ada yang menyahut.
Sampai akhirnya kami menemukan Untung seorang diri sedang beristirahat di wilayah perkemahan rombongan pendaki lain. Untung menyerah tidak sanggup mengikuti jejak langkah Dede, sehingga Dede melanjutkan perjalanan seorang diri. Setelah lega setidaknya menemukan satu teman yang terpisah, kami kembali melangkah. Hari mulai gelap ketika akhirnya kami mendengar sahutan suara Dede dari kejauhan. Aku ingat aku berkata "Please dong, De, nyahut lagi, denger suara lo itu surga banget", saking putus asa sekaligus lega meskipun baru suaranya yang terdengar, belum sosoknya yang terlihat.
Kamipun menemukan sosok Dede dan satu tenda yang sudah terpasang. Aku segera melepas carrierku dan merebahkan diri, tidak peduli pada hawa yang mulai mendingin. Selesai menenangkan diri, Rizky Fauzi, Untung dan Mas Wahyu membantu Dede membuat satu tenda lagi. Aku yang belum bisa tenang, hanya terpaku memperhatikan para lelaki memasang tenda.
Tak lama kemudian, tibalah rombongan Desty, Rizky Suhe, dan Bang Anton. Bang Anton menyampaikan kabar bahwa Mas Bayu, Bang Abel, dan Bang Dwi terpaksa tidak menyusul dan memasang tenda di jarak yang lumayan jauh dari kami, karena kondisi Bang Dwi yang tidak memungkinkan. Bang Dwi memang menunjukkan tanda-tanda ketidaksanggupan setelah makan siang. Aku lumayan sedih menyadari ada anggota tim dalam kondisi lemah dan tidak bisa menikmati kebersamaan di wilayah perkemahan.
Menurut rencana awal, kami seharusnya berkemah di Pos Batu Lingga. Namun jika harus menuruti rencana awal, kami baru akan tiba di pos ketika hari sudah gelap, dan akan sulit sekali memasang tenda. Jadi kami berkemah agak bawah sedikit dari Pos Batu Lingga.
Para perempuan bergerak membersihkan diri dan berganti baju. Empat tenda terpasang, satu untuk barang-barang + Dede dan Cynthia, satu untuk Bang Anton dan Mas Wahyu, satu untuk Untung dan kedua Rizky, dan satu lagi untuk Septi, Desty, dan aku. Semua berkumpul di depan tenda Dede untuk makan malam bersama. Bang Anton menggelar matras untuk diduduki. Semua memakai jaket kecuali Dede. Entah terbuat dari apa manusia yang satu ini. Untuk urusan memasak, lagi-lagi Dede yang turun tangan. Menu makan malam kami adalah nasi campur mie goreng, ikan teri, dan sarden. Aku makan sepiring berdua dengan Desty, yang akhirnya membiarkanku menghabiskan makanan, karena bibirnya yang sariawan membuat ia tidak nafsu makan.
Kami khawatir dengan persediaan air kami, Masih ada perjalanan ke puncak dan perjalanan turun kembali, namun air yang tersisa tidak lebih dari 5 botol Aqua ukuran besar, tentu saja itu sangat tidak cukup. Karena itu pada saat makan malam kami menghemat air sebisa mungkin.
Ini pengalaman pertamaku berkemah di hutan. Perasaanku meluap-luap ketika melihat pendar dari kunang-kunang. Selain itu tidak ada yang bisa kami lihat sama sekali, gelap total. Kukira kami akan membakar api unggun. Setelah bercengkerama sejenak setelah makan, aku dan Desty yang paling duluan masuk tenda. Selain karena besok kami harus memulai penanjakan ke puncak dari pukul 4 pagi, aku dan Desty juga sudah sangat ingin menuruti keinginan tubuh kami untuk beristirahat. Kami masuk ke sleeping bag kami masing-masing. Sayup-sayup kudengar suara Septi, Dede, dan Cynthia bercakap-cakap dari luar tenda. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya tidak ada satu suarapun yang terdengar oleh telingaku.
Selama 22 tahun hidup di dunia ini, tidak banyak pencapaian keren yang kuraih. Diterima 2 kali di UI adalah satu-satunya pencapaian keren yang bisa kuingat (itupun setelah aku berusaha mengingat dengan keras, dan mungkin memang itu saja yang bisa tergolong keren). Namun pendakian ke Gunung Ciremai tanggal 2-5 Mei kemarin membuatku sedikit berbangga hati, karena pengalaman tersebut masuk ke dalam daftar pencapaian kerenku. Aku yakin cerita ini akan panjang (aku memberi perhatian pada detail, oke?), jadi kuputuskan untuk membuatnya dalam empat bagian.
Septi, teman kuliahku di D3 Pariwisata UI, merancang open trip ke Gunung Ciremai. Bulan September tahun lalu, aku, Septi, dan dua teman lainnya pernah melakukan pendakian ke Papandayan. Tetapi karena Septi tidak membawa tenda, kami tidak menuntaskan pendakian kami sampai ke puncak. Perjalanan kami hanya sampai Tegal Alun (ladang edelweiss) pada tengah hari, lalu kembali ke basecamp sebelum hari terlalu senja. Setelah setengah tahun pengalaman tersebut berlalu, hasrat untuk kembali merasakan suasana gunung timbul menguat akhir-akhir ini, Kebetulan, Septi mengadakan open trip. Dan pada dasarnya, tidak ada yang namanya kebetulan. Jadilah aku menyanggupi tawaran open trip yang dirancang Septi.
Septi merancang open trip ini bersama dua teman lelakinya, dan kebanyakan peserta yang ikut adalah teman dari dua teman lelaki Septi tersebut, Otomatis, Septi adalah satu-satunya orang yang kukenal sebelum perjalanan dimulai. Total peserta berjumlah 13 orang (4 perempuan, 9 lelaki). Kami berkumpul di terminal Kampung Rambutan pukul 10 malam. Ketika aku, peserta terakhir yang ditunggu akhirnya datang (karena aku harus menyelesaikan perkuliahan dari pukul 7-9 terlebih dahulu), kami langsung menaiki bis ekonomi jurusan Cirebon. Sementara para lelaki memilih duduk berderet di bangku paling belakang, para perempuan lebih memilih duduk berpasang-pasangan di bangku bagian tengah bis. Aku duduk bersama Septi, Desty duduk bersama Cynthia, Perjalanan dari Jakarta ke Cirebon memakan waktu sekitar enam sampai tujuh jam. Setelah mengobrol membahas banyak hal dengan Septi, aku tertidur pulas untuk beberapa lama. Selebihnya tidur-tidur ayam dan menikmati kegelapan yang diberikan pemandangan dari luar jendela. Waktu-waktu seperti ini membuat pikiranku berkelana.
Aku teringat tujuanku naik gunung: bernapas. Jujur saja, hasrat ingin naik gunung ini menjadi kuat karena didorong oleh satu tujuan, tujuan ini dilatarbelakangi oleh keadaan yang akhir-akhir ini menghimpitku, mendesakku, membuatku sulit bernapas. Jadi aku ingin sejenak lepas, sejenak lari, sejenak melupa. Terlalu lama menyelam di dalam air, sudah saatnya timbul ke permukaan, menghirup udara sebanyak-banyaknya, untuk kemudian (mungkin) keluar dari air (atau kembali menyelam?), berjalan-jalan di darat, menikmati udara segar sepuasnya, sebelum memulai sesuatu yang baru. Sementara itu mungkin kalian tidak mengerti apa yang kubicarakan, haha.
Hampir satu jam terakhir sebelum kami tiba di tempat pemberhentian, tv di dalam bis menayangkan salah satu film Benyamin Sueb (Tarzan Kota). Keadaan bis yang sudah agak sepi membuat kami tidak sungkan untuk tertawa kencang. Suara tawa gaduh terutama disumbangkan oleh para lelaki penghuni bangku deret paling belakang. Belum juga habis film ditonton, kami sudah harus turun di Linggajati. Sekitar pukul 5 pagi waktu itu. Di Linggajati, kami menunggu satu perancang trip untuk bergabung, Dede namanya. Ia memang asli Tasikmalaya, jadi tidak ikut berangkat bersama kami dari Kampung Rambutan. Setelah Dede tiba, kami langsung menyewa satu angkot untuk membawa kami ke basecamp. Perjalanan ke basecamp membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam. Setibanya di basecamp, kami mengurus pendaftaran, mengisi perut, menuntaskan yang harus dituntaskan, bersiap-siap, lalu berangkat menuju pos pertama, yaitu Cibunar.
(Berdiri, kiri ke kanan: Bang Dwi, Septi, Desty, Cynthia, aku, Rizky Suhe, Mas Wahyu. Duduk, kiri ke kanan: Bang Abel, Bang Anton, Untung.)
Jalanan menuju Cibunar adalah jalanan paling manusiawi selama kami melakukan perjalanan dengan berjalan kaki. Jalanannya menanjak namun sudah beraspal. Aku berseru dalam hati, "Wow, akhirnya dimulai", sambil melangkah riang gembira dengan cengiran di bibir. Carrier yang sangat berat belum menjadi beban. Di sisi kiri dan kanan jalan terdapat pemukiman penduduk dan persawahan. Di sebelah kiri belum jauh dari basecamp, terdapat villa untuk disewakan.
Namun perasaan excited itu tidak bertahan lama. Di pertengahan jalan, mulai kurasakan mual pada perutku. Jalanku semakin lambat dan lama-lama aku tertinggal di belakang bersama Septi, Dede, dan Bang Abel. Seperti ada tangan di dalam perut yang mengaduk-aduk dan mendorong isi perut keluar dari mulut. Tangan dari dalam perut tersebut berhasil, berhasil membuat langkahku terhenti untuk memuntahkan sedikit isi dalam perut. Sedikit, jadi belum melegakan, belum membuat langkahku tegak mantap. Aku meringis sedih, baru seujung kuku perjalanan saja aku sudah babak belur begini, memalukan. Lalu Septi, dengan alasan ingin mengetes kemampuannya, mengambil carrierku dan menyampirkannya ke bagian depan badannya. Gila. Perempuan yang terbuat dari apa sih si Septi ini? Apa onderdil-onderdil saat pembuatannya disamakan dengan onderdil pembuatan kaum Adam? Aku berusaha menghentikannya namun karena jalanan menanjak, tubuhku sangat lemah, dan Septi berjalan sangat cepat, akhirnya Septi berhasil membawakan carrierku ke pos pertama, Cibunar, tempat di mana teman-teman yang lain sudah menunggu.
Segera aku dikerubungi. Diberi minum, diberi madu, diganti sepatunya menjadi sendal, dikurangi isi carriernya, dan ditunggu sampai merasa pulih. Hampir satu jam kami berhenti di Cibunar. Sementara yang lain sibuk meledek Bang Dwi yang katanya tertarik denganku, aku hanya bisa terpaku dengan pandangan kosong. Kalau baru jalan begini saja aku sudah begitu kelelahan, bagaimana aku bisa melanjutkan perjalanan yang jelas-jelas akan jauh lebih berat? Aku khawatir, takut, dan ragu pada diri sendiri. Namun tidak kusuarakan hal itu. Kupaksakan diri untuk berdiri tegak, kupakai kembali buff menutupi rambutku, kukencangkan sendal pinjaman Bang Anton. Kami pun melanjutkan perjalanan. (to be continue...)