Mencari Sebuah Keluarga
Berada dalam lingkungan yang kusebut sebagai “lingkungan kondusif” tentunya membawa dampak besar bagiku. Bekerja sama, tertawa, menangis, hingga mendapatkan amanah menjadi ketua keputrian selama satu periode kepengurusan dalam organisasi keislaman yang kuikuti selama tiga tahun tentu bukan waktu yang sebentar. Hal ini membuat pandangan baru dalam benakku, bahwa suasana ideal adalah yang seperti selama ini kulihat.
Hingga akhirnya, ketika semua berlalu, ketika aku menjelma menjadi dandelion yang mau tidak mau harus tumbuh sendiri, aku disuguhkan dunia baru. Dunia yang tak pernah kusangka sebelumnya; dunia yang tak sama dengan duniaku selama tiga tahun terakhir; dunia yang memaksaku harus berjuang lebih keras agar bisa tetap hidup.
Tiga tahun terbiasa dalam buaian nyaman, membuat diriku sulit untuk beradaptasi dengan dunia baru itu. Aku hanya belum terbiasa, mungkin. Atau ada yang salah dari diriku? Entahlah. Yang jelas, sungguh segala hal keduniawian ini membuatku terlampau lelah, sebab rasanya tak ada habis-habisnya; tak ada ujungnya.
Kemudian aku mencari, mendaki, dan akhirnya menemukan satu hal yang selama ini kurindukan dan hilang dariku.
Keluarga.
Ya, keluarga. Tempat bernaung, tempat aku didengarkan, tempat aku diberi solusi yang bukan hanya untuk membesarkan hatiku, tapi justru mendewasakan diriku. Ketika manusia lain menyuruhku menyerah, membela segala alasanku bahwa tempatku bukan di sana, keluarga yang ini justru memarahiku ketika aku berniat menyerah. Keluarga ini menyuruhku tetap berjuang, sebab kata mereka, setiap amanah ada tanggung jawabnya, dan tanggung jawab itu bukan hanya dalam bentuk sidang dan LPJ, tapi akan ditagih di akhirat nanti, tentu dengan persidangan yang jauh lebih adil. Mereka berkata, amanah ini ada di pundakku bukan untuk memberatkanku, melainkan untuk mendewasakanku.
Belum genap setengah tahun aku mengenal keluarga itu, namun rasanya ada ikatan yang benar-benar menyatukan tanpa pernah bisa kulepas. Aku masih ingat saat pertama kali bertemu, kami belajar berhitung menggunakan bahasa Minang. Ah, di pertemuan pertama saja hatiku sudah terikat, sebab memang begitulah yang dikatakan Ayah-Ibu kami, bahwa mereka memang mengader dengan hati. Tak perlulah banyak bicara tentang kebersamaan, tak perlu banyak berkata tentang kesatuan. Tanpa disuruh pun, atau bahkan tanpa dikatakan pun, kami sudah otomatis merasakannya. Ajaib. Tanpa banyak kata, aku sudah merasakan bahwa aku bagian dari mereka, dan mereka juga bagian dari diriku.
27 Maret 2016 menjadi hari jadi kami. Ayah-Ibu hadir di pelantikan kami. Bahwa di hari itu kami benar-benar resmi diterima sebagai bagian dari keluarga besar itu. Keluarga yang tersohor dengan nama Keluarga Remaja Islam Salman ITB. Ya, sebutlah saja keluarga itu dengan sebutan Karisma. Rasanya senang sekali ketika kami diterima dengan baik, setelah sebelumnya kami harus berjuang mengibarkan panji “Khidmat Amaliyah, Tangguh Pantang Mengeluh, Bergerak Optimis serta Sinergis” kepunyaan kami. Tak apalah badan terluka sedikit sebab harus berduel dengan anggota keluarga yang lebih dulu lahir, yang jelas panji kami bisa berkibar. Tekad kami yang tertuang di kain putih itu tak boleh terebut. Tapi ada juga rasa khawatir, bisakah kami melanjutkan tongkat estafet dakwah itu? Bisakah kami menjadi generasi penerus yang mereka harapkan? Hingga air mata kami bercucuran, mengingat bahwa jalan yang kami hadapi akan sangat berliku, akan sangat jauh, akan sangat berat, akan sangat menguras tenaga, jiwa, dan pikiran. Namun kepala keluarga di sana mengingatkan bahwa jalan dakwah kami tak ada apa-apanya dibanding jalan Rasul dan para sahabat. Maka sejak itu kami bertekad, bahwa kami tak boleh mudah menyerah, seperti yang tertulis dalam panji kami, “Tangguh Pantang Mengeluh.”
3 April 2016 menjadi hari yang tak kalah bersejarah bagi kami. Hari itu kami menamai diri kami: Mufiid. Mujahidin Fii Dinillah. Nama yang indah, sekaligus menjadi do’a, bahwa tiap-tiap diri kami haruslah menjadi pejuang agama Allah, sebagaimana difirmankan dalam Q.S. Muhammad ayat 7.
Di hari itu pula, sebuah amanah besar hinggap di pundakku. Menjadi kepala bagi 52 anggota tubuh yang lain. Kusebut sebagai kepala dan anggota tubuh, karena dua hal tadi haruslah sinergis. Kepala takkan bisa berbuat tanpa anggota tubuh, dan anggota tubuh takkan bisa berbuat tanpa kepala. Jujur, amanah ini menjadi yang paling berat diantara amanah-amanah lain, sampai-sampai mulutku tak sanggup berucap ketika mereka menyebut namaku kala itu. Air mataku menetes. Mengapa harus aku? Namun sekali lagi keluarga itu mengingatkan, bahwa hakikatnya ini adalah proses pembelajaran, proses pendewasaan, maka janganlah dianggap sebagai beban.
Semoga aku bisa menikmati setiap proses itu. Menjadi sekuat-kuatnya pundak, menjadi selapang-lapangnya dada. Terima kasih, Allaah. Sekali lagi Kau singgahkan harta yang tak ternilai harganya: sahabat-sahabat shalih/shalihah, In syaa Allaah.
Mufiid, terima kasih telah menjadi keluarga pertamaku di Karisma. Terima kasih atas banyaknya pembelajaran yang tak terhingga banyaknya walau perkenalan kita belum genap setengah tahun. Menjadi Panitia SU kemarin menjadi pengalaman tak ternilai buatku. Terima kasih. Terima kasih.
Dan untuk Ayah-Ibu, jika kelak kami berhasil, tentulah kalian yang paling berjasa.
Jazaakumullaahu khairan katsiiraa.
===
Langit malam, jam dinding yang kehabisan baterai, bantal biru, dan novel baruku menjadi saksi atas guratan ini: rasa syukur yang tiada terhingga. Semoga Allaah mengekalkan ukhuwah kita, abadi hingga Jannah-Nya. Aamiin.
Bandung, 4 Juni 2016,
Mumtaziahana Mufiid








