Kisah Dari Tangga Koridor Timur Salman ITB
Rasulullah saw. bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam. (Shahih Muslim No.4685)
Saat itu matahari tak begitu terik karena tertutupi awan, langit begitu teduh dan juga cerah. awan putih indah bergerak begitu tenang di luasnya langit saat itu. Siang itu, sekitar 3 bulan yang lalu, seperti biasanya, saya sedang berada di sekitar masjid Salman ITB, masjid yang menjadi salah satu pelaku pembentukan diri ini sejak tujuh tahun yang lalu. Bedanya, saat itu saya tidak sedang melakukan aktivitas di Sekre KARISMA ITB *saat itu saya masih menjabat sebagai Ketua LP2K*, siang itu saya sedang kosong tanpa agenda, menunggu agenda selanjutnya *sekitar 30 menit* bertemu dengan seorang sahabat di koridor timur masjid. Saya duduk di pelataran tangga, menghadap ke lapangan rumput yang hijau, terdiam, mencoba memaknai apa yang saya lihat disekitar.
Pembicaraan kami pun berlanjut, kita sebut saja beliau ahmad *nama disamarkan karena saya lupa :D *. Bapak Ahmad adalah seorang kepala keluarga yang tinggal di daerah sukamiskin *deket rumah saya*, beliau adalah mantan tunawisma yang dahulu tinggal di daerah jl. Merdeka, Bandung. Beliau menuturkan, hari itu adalah hari ketiga beliau tidak pulang ke rumah. 2 hari sebelumnya beliau dan anaknya *anaknya masih kecil dan imut* sempat menginap di Masjid Agung Bandung sebelum akhirnya sampai di masjid Salman ITB.
keasyikan diri ini mengamati sekitar sedikit tersela saat ada seseorang menyapa "Loe Anak ITB?", seorang pria berumur kira-kira akhir 30 tahunan dengan pakaian cukup lusuh menyapa. "bukan pak." jawab saya. "terus loe anak mana? kok ada disini?" tanya pria itu lagi. saya pun menjelaskan bahwa saya berkuliah di Institut Manajemen Telkom *tentunya beliau hanya kenal kata Telkomnya* dan saat itu sedang menunggu teman yang akan datang.
Dalam percakapan kami, beliau menjelaskan masa lalunya, beliau adalah seorang sarjana dari salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bogor, sesuatu telah terjadi dalam hidupnya, sehingga beliau stress dan akhirnya memutuskan untuk pindah ke Kota Bandung, beliau pun memilih hidup di jalanan.
Beliau pun menceritakan seluk-beluk jalanan. dari percakapan ini saya mengetahui, bahwa ternyata orang-orang yang hidup di jalanan, secara rutin mendapatkan bantuan dana dari pemerintah kota sebesar Rp.300.000 per bulannya, sebagian besar dari mereka pun sudah pernah mengikuti pelatihan wirausaha, pelatihan jahit ataupun keahlian lainnya yang diharapkan berguna untuk mendapatkan pekerjaan. Selain itu mereka pun rutin mendapatkan bantuan dari masyarakat, dari institusi A, B, C ..... Z yang memiliki kepedulian terhadap mereka. beliau menuturkan bahwa semua usaha itu NIHIL. saya pun bertanya "kenapa?". Bapak Ahmad pun menjelaskan bahwa, tunawisma dapat dibagi menjadi 2 katagori, orang yang terpaksa dan memang mau hidup di jalanan.
tunawisma, atau orang yang hidup di jalanan, sebagian besar dari mereka hidup di jalanan karena mereka punya alasan pribadi untuk tidak kembali ke tempat mereka dahulu tinggal, ada yang terlilit hutang, ada yang memiliki masalah dalam keluarga ataupun bermasalah dengan masyarakat sekitar, ada juga yang sudah tidak memiliki keluarga lagi, sehingga akhirnya mereka hidup di jalanan.
Sebagian dari mereka masuk kategori pertama, yaitu terpaksa *karena alasan-alasan diatas* namun mereka masih mau berusaha untuk hidup lebih baik dan meninggalkan jalanan. Sebagian yang lain masuk kepada kategori kedua, yaitu orang-orang yang sudah nyaman dengan kehidupan jalanan, yang boleh dikata serba ada, serba mudah, tanpa aturan yang mengekang, mereka hidup dengan suka rela dan sulit untuk keluar dari zona nyaman mereka. orang-orang dari kategori kedua inilah yang seringkali mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, oleh sebab itu bapak Ahmad mengatakan hasilnya nihil.
beliau menghimbau kepada kita semua, terutama yang punya kepedulian kepada orang-orang sekitar, ada baiknya jika kita melakukan survey ataupun pengecekan terlebih dahulu kepada target bantuan kita. Bapak Ahmad menuturkan ada sebuah panti dimana tunawisma yang punya semangat hidup dan perubahan tinggal, panti tersebut berada di daerah bandung utara *saya lupa namanya*, bapak Ahmad adalah alumnus tempat itu, beliau pun menunjukkan sertifikatnya pada saya. Dan juga tak lupa, beliau menghimbau kita untuk mempertimbangkan kembali jika kita ingin memberikan sejumlah urang pada anak jalanan. *silakan anda pilih kebijakan anda sendiri :D *
satu fakta yang cukup mencengangkan, beliau menceritakan seorang tunawisma *yang pastinya orang-orang Bandung tau*, tunawisma ini memiliki kulit kepala bagian kiri longgar, sehingga bagian wajahnya tak berbentuk sempurna lagi. beliau pernah bertanya pada orang ini "naha maneh teu operasi? pan rea eta bantuan ti masyarakat?" yang berarti "kenapa kamu ga operasi? kan ada banyak bantuan dari masyarakat?" perlu diketahui amat banyak lembaga yang menyediakan operasi gratis untuk hal-hal seperti ini. orang tersebut menjawab "mun teu kieu urang moal meunang duit" yang artinya "kalau ga begini saya ga akan dapat uang". Ternyata ada orang2 yang betul2 sengaja 'menyiksa' dirinya untuk uang. wallahualam..
Cerita belum selesai hingga disana, pertanyaan beliau yang satu ini cukup membuat saya tercengang. beliau mempertanyakan "apakah benar bahwa sesama muslim itu adalah saudara?" seperti yang dituliskan dalam Al-Qur'an ataupun dituturkan dalam hadits. seperti yang sudah saya tuliskan diawal, beliau sudah sekitar 3 hari tidak kembali ke rumahnya di bilangan sukamiskin, hal ini dikarenakan usaha reparasi alat elektronik *yang beliau pelajari di panti* mengalami sebuah musibah. TV yang beliau perbaiki rusak kembali *kalau tidak salah* karena kesalahan si empunya, namun justru beliau lah yang 'ketiban sial', beliau tidak dibayar dan diminta untuk membayar kerusakan tersebut. perjalanan yang beliau lakukan ini tidak lain karena beliat mencari uang Rp. 200.000 untuk bisa menggantikan itu semua.
Untuk mencari sejumlah uang tersebut, beliau sudah berkeliling ke banyak tempat penitipan zakat *saya ga perlu sebut namanya, yang jelas banyak dan semuanya terkenal* dan sampai dengan detik itu, beliau belum mendapatkan sepeser pun. beliau menjelaskan ini terjadi karena proses verifikasi yang sangat ngejelimet dari amil zakat tersebut, beliau dimintai akte kelahiran, ijazah lengkap, kartu keluarga, ktp dan lain sebagainnya. sedikit menjelaskan akte kelahiran & ijazah SMA kebawah beliau sudah tidak ada, kartu keluarga beliau tak punya, dan karena itu beliau pun tidak bisa membuat ktp. beliau sudah berulang kali mencoba meyakinkan pihak kecamatan bahwa beliau orang baik-baik dan berhak untuk itu, namun pihak kecamatan keukeuh meminta surat keterangan pindah dari Bogor ke Bandung. *masyaAllah* Beliau pun akhirnya berkesimpulan untuk segera membuat surat-surat palsu untuk lolos bisa lolos administratif. Beliau kecewa terhadap perlakuan yang diberikan pihak amil, padahal hanya untuk Rp. 200.000 saja.
beliau pun menuturkan dahulu kala, anak beliau pernah sakit, beliau datang ke berbagai lembaga muslim yang beliau pikir akan membantunya, namun apa yang terjadi, beliau selalu berhadapan dengan birokrasi dan administrasi yang ngejelimet dan tak langsung menyelesaikan masalah. beliau pun akhirnya datang ke sebuah rumah peribadatan agama lain, dan apa yang beliau dapat disana? pertolongan cepat dan tanggap tanpa basa-basi. Beliau berkata pada saya : "untung saja gua punya iman, kalau ga punya iman mungkin gua udah kayak temen-temen gua, menggadaikan diri mereka begitu aja".
pembicaraan kami pun berakhir karena sahabat saya datang dan anak bapak Ahmad ingin buang air besar. kami pun berpisah, saling mengucapkan salam satu sama lain, dan tentunya dalam hati saya berdo'a untuk keselamatan beliau.
cerita saya dan bapak Ahmad ini semoga memberikan sedikit bahan untuk renungan kita semua, umat muslim khususnya, untuk bisa menjadi seorang muslim yang seutuhnya. semoga kita bisa menjadi seseorang yang lebih peka terhadap lingkungan sekitar, dan terus berusaha membantu orang lain yang membutuhkan, semoga tanpa pandang bulu lagi, tanpa birokrasi dan tanpa pamrih. karena ternyata, diluar sana banyak sekali orang yang mempertanyakan 'keaslian' kita sebagai seorang muslim, dan akhirnya mereka menggadaikan keimanan mereka karena mendapatkan uluran tangan dari selain muslim.
Demi Indonesia yang lebih baik! mari terus bekerja untuk negeri, terus mencoba merangkai senyum Indonesia :)
Rasulullah saw. bersabda: Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan di mana bagiannya saling menguatkan bagian yang lain. (Shahih Muslim No.4684)