julia x millie. just hear me out
.
seen from United States
seen from China

seen from Australia
seen from China

seen from India
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Australia
seen from China
seen from China

seen from United States

seen from Brazil
seen from Malaysia
seen from China

seen from Thailand
seen from United States
seen from Russia

seen from United Kingdom
seen from China
seen from China
julia x millie. just hear me out
.
Selisih Waktu Orang Miskin Masuk Surga
Orang miskin yang sabar dan tekun beribadah lebih mulia kedudukannya di sisi Allah.
Rasulullah SAW dalam hidupnya pernah memberikan wasiat kepada orang-orang fakir.
Ia mewasiatkan tentang selisih waktu orang fakir saat masuk surga.
Dalam hadits shahih Bukhari, Nabi SAW berkata, "Wahai orang-orang fakir, apakah aku tidak memberi kabar gembira kepadamu, sesungguhnya orang Muslim yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang Muslim atau mukmin yang fakir akan masuk surga, sebelum orang-orang mukmin yang kaya dengan jarak setengah hari akhirat, yang itu setara dengan 500 tahun.”
Dalam buku Wasiat Rasulullah SAW kepada para Sahabat karya Fitriani GS, dijelaskan jika orang miskin yang sabar dan tekun beribadah lebih mulia kedudukannya di sisi Allah SWT dibandingkan mereka yang kaya. Di akhirat nanti, orang kaya akan lebih lama dihisab.
Mereka akan ditanya tentang hartanya, dari mana perolehannya, serta kemana harta itu digunakan. Saking banyaknya pertanyaan yang diajukan, waktu hisab mereka menjadi lama.
Kaum Muslim yang miskin bisa masuk surga terlebih dahulu karena perbuatan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT sedikit. Utamanya yang berkaitan dengan harta.
Fakir miskin selama di dunia kerap dipandang sebelah mata. Bahkan tidak jarang mereka dianggap sebagai gembel dan berada dalam strata terbawah kehidupan sosial masyarakat. Namun, di hadapan Allah, mereka adalah yang lebih mulia dan masuk surga lebih dulu.
Meski demikian, perlu diingat jika tidak lantas otomatis semua mukmin yang miskin bisa masuk surga. Yang dimaksud orang miskin yang mulia adalah mereka yang beriman, sabar, dan mematuhi segala perintah dan larangan Allah SWT.
Orang fakir yang dimaksud bukanlah sembarangan. Karena, banyak pula orang miskin lantas melakukan tindakan kejahatan, ahli maksiat, dan tidak beriman. Mereka yang seperti ini tidak termasuk golongan orang yang mulia dan masuk surga terlebih dulu.
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, "Aku melihat ke dalam surga, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah fuqara’ (orang-orang fakir), ...."
Dalam hadits lainnya, Nabi SAW bersabda, "Saya pernah berdiri di pintu surga, ternyata umumnya orang yang memasukinya adalah orang miskin. Sementara orang kaya tertahan dulu (masuk surga). Hanya saja, penduduk neraka sudah dimasukkan ke dalam neraka."
*) https://m.republika.co.id/amp/qcfe9p366
Mengapa Muslimah Harus Memiliki Cita-cita?
Eps 1 || #rikeberopini
Islam merupakan agama yang paling sempurna. Dalam Islam, peran wanita sangalah penting. Islam telah memuliakan wanita sebagai saudara, anak, dan istri. Dalam kitabNya, terdapat surat khusus bernama surat An-Nisa yang artinya perempuan atau wanita. Istilah muslimah mulai terkenal sebagai panggilan seorang wanita penganut agama Islam.
Muslimah adalah pondasi peradaban. Ia harus melahirkan generasi-generasi yang cerdas untuk membangun peradaban gemilang yang bergelimang cahaya kebajikan. Nah, bagaimana cara agar muslimah melahirkan generasi penerus yang cerdas? Tentunya, anak yang cerdas lahir dari seorang ibu yang cerdas jua. Oleh sebab itu, seorang wanita muslimah harus memiliki ilmu yang tinggi untuk mendidik anak-anaknya, karena pada dasarnya, wanita muslimah adalah madrasatul ulaa (madrasah/guru pertama) bagi anak-anaknya.
Sebelum Islam datang, kaum wanita sangatlah rendah kedudukannya. Bahkan, kaum jahiliyyah menilai bahwa seorang wanita sangatlah hina. Tetapi, setelah datangnya Islam, Allah meninggikan derajat wanita dengan kesalehannya, ketaatan-Nya dan juga ilmunya. Ilmu dari seorang wanita muslimah haruslah luas, karena dengan iman, tekad yang kuat dan cita-cita yang tinggi, ia akan mendapat ridha Allah di dunia maupun di akhirat.
Di era milenial ini, banyak sekali wanita muslimah yang memiliki tekad yang kuat untuk meraih ilmu yang tinggi. Lantas, cita-cita apakah yang harus dimiliki oleh seorang muslimah?
Wahai para muslimah...
Ketahuilah bahwa cita-cita atau tujuan hidup manusia ini, hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Tetapi, hidup haruslah seimbang. Bukan. Bukan maksud melupakan akhirat dan mengutamakan dunia. Namun, balik lagi ke tujuan awal, bahwa hidup manusia hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Apakah menuntut ilmu itu ibadah? Tentu saja ibadah, jika niat di hatinya karena Allah Ta'ala, bukan untuk gelar ataupun pekerjaan.
“Kejarlah akhirat, maka Dunia akan mengikutimu”, sebuah kutipan yang bisa dijadikan sebagai pengingat atau alarm hidup; bahwa hidup di dunia hanya sementara atau tempat singgah saja. Tentunya, para kaum muslimah sudah mengetahui akan hal ini, karena sejatinya seorang muslimah yang memiliki ilmu tinggi dapat membedakan mana yang sementara dan mana yang selamanya. Jadi, bercita-citalah yang tinggi untuk mewujudkan mimpi-mimpi. Sebab, Allah Ta'ala akan meninggikan derajat manusia orang yang berilmu.
Sebagaimana firman Allah ;
...يرفع الله الذين آمنوا منكم و الذين اوتوا العلم درجات... (المجادلة :11)
“… Niscaya Allah akan mengangkat ( derajat ) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang yang di beri ilmu beberapa derajat…” ( Q.S Al-Mujadalah : 11 )
Kualitas masa depan seseorang sangat dipengaruhi oleh kualitas impian dan cita-cita yang ada dalam orang tersebut. Maka, jika ada seseorang yang bertanya “Mengapa muslimah harus memiliki cita-cita?” Tentu jawabannya, karena seorang muslimah harus memiliki ilmu yang tinggi untuk mendidik anak-anaknya kelak. Karena, muslimah harus melahirkan generasi Islam yang berkualitas di masa selanjutnya.
Seorang muslimah memiliki tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak-anaknya. Untuk menjadi seorang ibu, bukanlah hanya sebagai madrasatul Ulaa saja, tetapi hal itu adalah pekerjaan seumur hidup. Maka, apakah bisa seorang Muslimah mendidik seorang anak berkualitas, jika dirinya sendiri tidak mempunyai ilmu?
Wahai para muslimah...
Menjadi seorang muslimah yang berkualitas tidaklah mudah. Ia harus berdedikasi pada ilmunya. Hidup di dunia hanya sekali dan kesempatan tidak datang dua kali. Sebuah pesan untuk para muslimah, manfaatkanlah waktu dengan sebaik-baiknya untuk mencari ridha Allah lewat perantara menimba ilmu. Jangankan seorang muslimah, tiap-tiap dari manusia mana-pun yang hidup, memang harus memiliki cita-cita. Karena hukum mencari ilmu itu adalah wajib.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
طلب العلم فريضة على كلّ مسلم و مسلمة
“Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan ( Muslimah ).” ( H.R . Ibnu Abdil Barr )
Mari kita bercermin dari sosok belahan jiwa Rasulullah SAW yaitu Ibunda Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shidiq. Beliau telah menyebarluaskan ilmu ke seluruh penjuru dunia. Dalam periwayatan hadits, beliau adalah tokoh yang sulit dicari bandingannya dan lebih memahami hadits ldari istri-istri Nabi yang lain. Bahkan, seorang sahabat mengatakan, “Aisyah adalah satu-satunya wanita pada masanya yang menguasai tiga disiplin ilmu, yaitu fiqih, kedokteran dan sastra.”
Realitas historis tersebut menunjukkan bahwa; wanita muslimah menyambut baik ilmu pengetahuan semenjak Allah memuliakan mereka dengan Islam.
Wahai para muslimah...
Seorang muslimah adalah suri tauladan atau contoh bagi anak-anaknya. Pun akan menjadi inspirasi bagi anak jika ibunya mempunyai ilmu yang luas dan pendidikan yang tinggi. Meski pada hakikatnya, laki-laki lebih berpotensi daripada wanita. Maka cukuplah, wanita Muslimah menuntut ilmu bukan untuk uang dan pekerjaan. Karena sejatinya, laki-lakilah yang akan mencarikan uang dan mencari kerja.
Jadikan cita-cita sebagai manifestasi dari hidup. Jika tidak memiliki cita-cita, bagaimana bisa tereliasasikan generasi cerdas dan berkualitas di masa yang akan datang? Bukankah mencerdaskan seorang Ibu sama maknanya dengan mencerdaskan sebuah generasi? Maka dari itu, seorang muslimah haruslah memiliki cita-cita yang tinggi.
Semangat semua para calon Ibu!
Teringat sebuah kutipan bahwa,
Wanita yang mendidik seorang anak laki-laki mungkin ia sedang melahirkan seorang pemimpin, sedangkan wanita yang melahirkan dan mendidik seorang anak perempuan, maka ia sedang mendidik sebuah peradaban.
Mulia bersama AlQuran
Orang yg menerimanya, Rasulullah Muhammad SAW, menjadi manusia paling mulia.
Malaikat yg menyampaikannya, Jibril, menjadi pemimpin para malaikat. Malam diturunkannya, Laylatul Qodr, menjadi malam paling mulia. Bulan diturunkannya, bulan Ramadhan, menjadi bulan yg paling mulia. Tempat diturunkannya, Makkah & Madinah, menjadi tempat paling mulia.
Orang yang membacanya mendapatkan banyak pahala. Orang belajar dan mengajarkannya menjadi sebaik-baik manusia.
Semoga kita juga diberikan kemuliaan bersama AlQuran.
اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِالقُرْءَانِ وَاجْعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنُورًا وَهُدًا وَرَحْمَةً اللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِينَا وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا وَارْزُقْنَا تِلَاوَتَهُ ءَانَآءَ الَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ وَاجْعَلْهُ لَنَا حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
[Bersabarlah Melaluinya]
"Menggapai cita yang mulia, pastilah berat jalannya. Ada sakit dan tangisnya, juga mentok dan kehabisan tenaga. Namun sabar, ikhlas, dan taqwa akan berbuah hadiah indah dari-Nya."
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. - (potongan Q.S At-Thalaq : 2-3)
"Sudah Sadarkah Kita?"
Kita tak pernah bisa memilih lahir dari rahim siapa. Tapi, kita bisa memilih perlakuan apa yang pantas diberikan pada pemilik rahim itu.
Kita barangkali lupa atas usaha siapa tulang-tulang kuat kita bisa tumbuh sekokoh ini. Kita mengorbankan tulangnya yang mungkin sekarang sudah sering diterjang pegal linu.
Dan bisa jadi, kita telah menguras keringat mereka sampai letih pun mereka enggan rasa.
Satu lagi, kita pun adalah alasan kuat bagi mereka untuk terus hidup dan berjuang walau jatah usia mereka yang tak lagi panjang.
Sampai kapan kita mengindahkan 'ketidaksadaran' itu akan mereka?
Sedangkan wanita sampai ia menikah baru terlepas dari tanggung jawab orang tuanya.