A (not so) little rewind
Aku benar-benar berharap ini kali terakhir menulis soal perasaan semacam begini. Sangat tidak nyaman rasanya mengakui meski memilih diam menyimpan jauh lebih tidak menyehatkan. Aku berharap semua sudah berakhir, aku berharap tidak ada lagi residu gumpalan emosi lain yang akan meledak di kemudian hari, aku berharap segalanya reda. Aku berharap tidak ada lagi cinta dariku untukmu, tidak ada waktu yang kuluangkan untuk memikirkanmu, tidak ada lagi air mata yang jatuh untuk menangisimu. Sudah, ya sudah.
Aku ingin meneruskan hidupku dengan tenang. Aku akan menyelesaikan masalah lain, memiliki orang baru yang entah akan lebih meringankan atau malah memberatkanku.
Sekali lagi aku akan mengulang satu masa, satu kejadian, satu waktu terberat dalam kehidupanku yang berantakan dulu yaitu tidak dicintai oleh orang yang aku cintai. Sungguh pedih, melelahkan, dan puncaknya aku sangat menyesal mengapa diberi Tuhan perasaan kasih sampai berujung pengharapan agar dicintai kembali. Tenang, kamu orang kedua setelah ibu sisanya semoga tidak ada lagi, semoga kamu akan mendamai menerimaku seperti ibu. Yang selalu kupanggil ibu itu adalah manusia yang serupa emosi denganmu sekarang. Aku masih ingat pegal badan serta pikiranku dibebani perasaan cinta tidak menyenangkan karena tidak saling. Bukankah cinta harusnya indah?
Cinta universal ah semua orang tahu. Cinta datangnya dari Tuhan masih dipercayai separuh-separuh kedudukannya. Cinta adalah semua yang indah itu saat pertama berbicara dua arah langsung denganmu meskipun dihalangi layar dan jarak. Bagiku cinta pengorbanan, cinta tabah menunggu kekasihnya melakukan kebiasaan yang berkebalikan dengannya, cinta rela memilih sepi sedangkan dunia besar menantinya menari-nari, cinta tidak bisa hanya searah. Semoga tidak terdengar seperti kalau aku sudah mencintaimu maka kau wajib mencintaiku kembali. Aku pernah diajari bahwa cinta malah sebaiknya membebaskan, menemani bertumbuh, mendukung, mendorong lebih baik, membersamai proses, menyorak saat lemah, mengapresiasi ketika sudah berhasil mencapai tujuan, namun tetap menemani tidak menyalahkan kegagalan lalu lembut memberi tahu,
“Istirahatlah sebentar di bahuku, menangislah semaumu, tapi berjanjilah untuk tidak menyerah sebab esok kau harus mencobanya lagi. Kuat sama-sama, ya?”
Sekarang kita punya satu pola: kita akan kuat kalau kita sama-sama menanggung cinta ini bersama, berdua. Tidak hanya aku, tidak hanya kamu, kita, sama-sama, singkatnya aku menyebutnya saling. Agar lebih sederhana meskipun cinta tidak pernah sederhana kamu boleh menbaca ulang paragraf sebelum ini. Cinta berat, cinta penuh ujian yang tidak selesai-selesai karena selesai berarti mati. Aku tidak perlu menyeru pertanyaan, dan semoga itu tidak membuat terlihat memaksakan kehendakku. Semoga kelak kita akhirnya sepaham soal semua ini.
Karena kita belum satu tuju maka aku belum akan meneruskan tahapan-tahapan setelah kita saling mencintai. Menyingkirkan batu besar hatimu agar menerimaku saja aku seperti menyerah apalagi menyuarakan kompromi keseimbangan diri supaya bersama namun tidak kehilangan diri sendiri, ah itu jauh. Menyirami cinta, bertahan saat kekasih dilanda nestapa, setia menghadapi manusia yang konon menjanjikan dirinya lebih baik darimu, menghindari perpisahan konyol, mengatur rindu, halah tidak usah terlalu tinggi coba saling cinta dulu lah. Kamu, kan? Aku sudah mencintaimu.
Aku tidak suka perbedaan, aku juga tidak suka menyama-nyamakan tapi kali ini menyamakanmu dengan ibu merupakan daya besar yang kalau tidak kau terima jua menurutku keterlaluan. Bukan membandingkan, bukan, hanya berusaha memberi dua arah sudut pandang dari aku maupun ibu karena kalian berdua sama profesi. Aku mulai, ya?
Detil yang paling kuingat, hari itu Selasa. Di auditorium kampus dekat tempat pendaftaran mahasiswa baru lantai dua, aku cukup antusias menaiki anak tangga menuju sana. Acaranya job fair, acara yang aku sebenarnya belum terlalu butuh karena saat itu masih semester tujuh, dan tentu aku dipastikan lulus lebih lambat daripada teman seangkatanku. Sabar aku mengikuti berbagai rangkaian acara dari workshop, seminar, sampai keseruan mencoba mengetahui minat bakat sendiri melalui alat ukur sederhana yang disediakan penyelenggara. Ini gawenya fakultas psikologi, kan. Ketika acara ditutup seluruh peserta beranjak menghampiri booth perusahaan yang ikut meramaikan. Lagi, aku ingat awalnya aku berkemeja rapi tapi bergegas mengganti dengan kaus lengan panjang lebih santai menghampiri dua meja di ujung ruangan besar itu. Ibu didapuk menjadi fasilitator lokal, berjaga barangkali ada yang butuh nasihat cuma-cuma soal persiapan bekerja sedangkan aku datang acara hanya ingin bertemu ibuku. Aku mengamati kerut wajah ibu menggunakan tatapan tidak asing, menatap dalam-dalam, aku mengenalnya persis. Kalau tidak salah kita sudah berbicara lebih dari lima kali dałam konseling diluar obrolan biasa, diluarnya. Aku pernah menyampaikan bahwa aku menyayangi ibu, dan ibu memahaminya. Wajahnya tenang, begitu datar sampai bahkan hampir tidak banyak bergerak. Kalau tidak berkedip mungkin aku akan mengiranya boneka penari kecak. Bagi ibu acara beginian terasa membosankan dan terlalu ringan sebab aku mengetahui cakupan pekerjaannya tidak hanya mengajar-menerima konseling klien-ke lembaga pengabdian masyarakat kampus-dan sangat banyak lainnya. Nampak berat, ya?
Cukup lama menunggu gerombolan mahasiswa yang duduk di hadapan ibu kemudian gantian aku. Ibu sempat minta ijin dua menit menerima telepon ponselnya lalu menanyakan apa maksudku mencarinya.
Aku masih mengamati ibu lamat-lamat, lebih lekat, lebih dekat mengikuti lekukan wajahnya. Secara profesional aku menanyakan banyak hal soal bagaimana mengasah skill sedangkan ibu memberi jawaban akurat bersama kompetensinya, selayaknya, pada umumnya. Kita berbincang tentang kisaran jam yang ideał latihan musik dan menulis untuk aku setiap harinya, ya biasa saja. Mari lebih intens menggunakan perasaan. Sekitar setengah jam sudah aku berkonsultasi dengan ibu, aku mencoba lebih menguasai diri yang semakin tak teratur rasa di dada,
“Bu, aku takut kehilanganmu.” meluncur begitu saja dari mulutku pada ibu yang memandangku berawang lurus menukik menusuki ulu hati,
“Bu?” aku memastikan kalimat tadi diterima baik tanpa salah paham.
Sekujur badanku terasa disengat listrik campur dingin menggigil, aku sampai menghangatkan tengkuk leher dengan gesekan dua tanganku, dan ibu masih diam mencerna perkataanku. Tidak ada hambur peluk, tidak ada elusan tangan yang menggenggamku kala panik melanda apalagi selebih panik begini. Aku memaklumi karena banyak orang lain di sekitaran, aku juga tak biasa disentuh dalam keramaian, seperti malu. Ibu menyilangkan tangan ke depan dadanya lalu membetulkan letak kacamata meskipun tampak tidak berubah sedikitpun. Mestinya ibu menenangkanku jauh lebih keras daripada saat aku mengadu nilai mata kuliah pembuatan kontrakku dapat D padahal teknis tidak pernah membolos maupun terlalu bodoh tidak memahami materi,
“Han?” ibu memanggil namaku sangat lembut. Aku yakin tangannya mendarat tepat di kepalaku jika kita hanya berdua di ruangan tertutup. Aku menunduk merapatkan kepala ke meja menahan tangis,
“Han. Han, dengarkan. Kalau pertemuan kita selama ini bermanfaat aku berharap kamu bisa banyak mengambil pelajaran supaya besok lebih baik ya aku senang. Tapi kalau itu membuatmu menggantungkan semuanya ke aku sebaiknya kita tidak ketemu lagi.” diutarakan lugas, bersih, berlogat agak cadel Bali seperti biasa. Aku solid menangis, aku mencoba menopang kepalaku tegak membiarkan berbulir-bulir air menetes melewati pipi mengusir sesak di dada, dan pundak ikut naik turun. Aku merasakan ujung jari ibu menyentuh tanganku seperti akan didekap tapi kutepis pelan. Ayolah kuasai dirimu, erangku.
Aku tetap menangis di hadapan ibu walau tidak mengeluarkan suara apapun lagi. Pandangan kami mulai saling melunak, lagi-lagi aku melihat ibu membetulkan kacamata yang kemudian kutandai kalau ibu akan selalu begitu saat canggung menutupi kekosongan percakapan sambil berpikir. Sangat tenang nyaris tidak mengubah air muka yang seharusnya khawatir yang diteruskan berdiri membentuk gerakan akan menerima pelukanku sedang aku mulai mencangklong tas bersiap meninggalkannya, dan betulan melupakannya,
“Mau, hmm, mau apa?” ibu bertanya sambil berdiri, aku masih duduk. Aku mengusap bekas air mata, melengos, seperti tidak kenal lagi dengan orang di hadapanku aduhai jenakanya aku jika diingat-ingat lagi. Aku menyorongkan tangan kanan yang disambut tangan ibu lalu mencium punggung tangannya sekilas. Aku pamit, bukan pamit ke sekolah, tapi pamit melupakannya.
“Han?” aku melepaskan genggaman tangan lalu keluar ruangan tanpa menggubris ibu yang beberapa kali memanggilku. Tenang saja ibu tidak akan mengejarku karena sudah ada tiga antrian manusia lagi di belakang yang hendak berkonsultasi.
Sekuat tenaga aku berlari yang tak sampai semeter jauhnya hampir jatuh tersungkur, untungnya belum turun tangga. Sebetulnya sudah cukup tidak aleman dibegitukan ibu tapi kakiku menjadi kebas serasa tidak punya kaki, hahaha. Aku memutuskan menikmati ketidakberdayaan itu, menepuk-nepuk kaki, menangis lagi, malah makin kencang, waduh. Aku ingat bahkan ada beberapa anak yang berkalung identitas panitia acara yang mendatangiku, menanyakan mengapa aku begitu, menawarkan bantuan. Isak tangis yang terbata-bata aku berkata habis ditelepon karena ada keluarga meninggal dunia. Mereka terperangangah, mulutnya membentuk bulatan oh panjang disusul mengucapkan turut berduka cita, hahaha. Iya berduka karena dosen kalian, tuh, teriakku dalam hati. Singkatnya aku pulang, tidur siang sebentar, malamnya kuliah hukum acara peradilan agama. Dengan tetap menangis konstan berkali-kali, seharian.
Esoknya aku mengatur siasat. Melupakan ibu tidak boleh setengah-setengah, prinsipku. Lagipula anaknya penurut loh aku ini, mengapa tidak mau melupakan ibu, mengapa tidak mau membenci ibu kalau ibu tidak menyayangi aku, kan? Aku memutuskan meletak ponsel yang biasa kugunakan masuk lemari. Dilanjutkan membeli simcard baru, mencopot social media yang tidak penting meski penting tak penting itu hanya soal biasanya ada tapi sekarang mencoba tidak perlu ada, perlunya menghindar. Aku tidak se-ekstrim langsung membuang ponsel lamaku, tidak perlu, ponselnya mahal hahaha. Hanya mengalihkan jaringan komunikasi kelas, dua arah antar aku dan dosen yang memercayakan kelas pada aku, beberapa teman yang kuanggap patut mengerti aku tidak lagi memakai nomor lamaku. Aku merasa tidak sanggup hidup dengan banyak kenangan tentang ibu, dengan banyak catatan, dengan banyak foto kebersamaan. Tiga hari pakai ponsel lain mau tak mau kembali ponsel awal karena yang dibuat menghindar tidak mendukungnya, hahaha. Ponselnya hilang, kuduga terperosot dari kantong celana, dan aku sempat berusaha lapor polisi agar dibantu mencari tapi nihil. Nasib yang apakah pahit, apakah rasa lain, kembali begitu, kembali bersama bayang ibu.
Setengah semester penuh aku tidak mau melewati fakultas ibu tiap kali ada urusan yang mengharuskan lewat fakultas psikologi. Rela hati memutar jalan ke sisi timur kampus untuk ke gedung pascasarjana, misalnya, padahal kalau dari fakultasku lurus fisip, pesiholohi, lalu ambil kanan sudah sampai. Oh, relaku putar jalan demi melupakan ibu, demi membenci ibu.
Rentang waktunya pas. Tidak kurang tidak juga lebih cenderung tidak sampai satu semester lamanya pandemi membuat perkuliahan langsung menjadi di rumah saja. Sedangkan aku mengenalmu di tahun kedua pandemi, hai. Hai kamu, masihkah disana membaca sampai sepanjang ini? Maaf aku masih ingin cerita ibu, dan terima kasih mau meneruskan membaca. Terus terangnya aku pernah bersyukur dengan keadaan itu, keadaan tidak perlu ke kampus tanpa harus memikirkan lupa atau sebaiknya tidak jadi melupakan ibu, keadaan tidak perlu putar jalan lagi. Rindu mulai datang. Eh, mengapa rindu? Merindukan orang yang harus dilupakan itu bisa, ya? Mengapa bisa? Diam-diam aku mencari celah dimana Ibu kosong jadwal. Menanti waktu dimana antara sudah selesai kerja, belum akan pulang, dan masih bisa meluangkan menyimak aku bicara. Dari banyaknya percobaan mencari kesempatan ajaib itu sampai menyerah menjadi pilihan terakhir saking lelahnya tidak mencapai tujuan.
Aku bertemu ibu seperti bagaimana kita, kamu yang aku cinta seperti serupa ibu namun kenyataannya sama sekali tidak sama. Di seminar-seminar kampus online, di acara komunitas psikologi, di semua hal yang dipisah oleh layar ketika dulunya selalu bisa kurasai halus tangan ibu mengelus pundakku, menertawai banyak hal sama-sama, bahkan bercuri pandang dengan orang lain agar bisa berkesempatan berpelukan secara rahasia. Sekarang semua serba terbatas, tak semenyenangkan dulu meskipun tentu perbedaan ini membuat semua orang beradaptasi, mempelajari resiliensi.
Kalau aku memberi tahu mama, orangtua kandung perempuanku sungguh katanya mencintai ibu jauh lebih baik daripada mencintaimu. Padahal dulu aku dan ibu adalah dua kutub berbeda yang menyatu bertalian seiring beratnya cobaan menuju diri saling mencintai, saling menerima. Sederhana sekali kalau se-ringan mengatakan lebih baik bersama ibu yang bekerja sekota bersamaku daripada kamu di Semarang. Aku harus memahamkan mama bahwa hubunganku pada ibu hasil dari banyak tempaan keras bahkan pernah sepakat berpisah, bagiku cinta selalu menemukan jalan, bagiku ibu jauh lebih tidak terjangkau seandainya tidak mengajar di kampus kita sebab berkelahiran di Yogyakarta dan besar di Denpasar. Semuanya tepat waktu, tepat porsi, kan?
Lalu bagian terpentingnya ternyata aku mengulang persis bagaimana dulu saat sepakat melupakan ibu. Aku sangat ingat bagaimana aku mengabari teman-teman terdekatku agar menyimpan nomor baruku, aku mengulang semua itu sepresisi dulu meskipun sekarang aku tidak terlalu berusaha langsung menyingkir hanya menepi. Aku menghapus banyak kenangan tentangmu bukan bersamamu. Menyedot keluar apa-apa yang pernah ada di kepalaku mengenaimu, mencoba sejengkal langkah kecil menjauhi dirimu. Oh, apakah aku membeli ponsel baru, apakah aku menarik diri sementara dari peredaran? Jawabnya tidak.
Seminggu lalu salah satu motor besar dan ponsel punya sepupuku raib digondol maling, yang anehnya dicuri oleh temannya sendiri setelah semalamnya numpang menginap di rumah keluarga kami. Mungkin aku akan bisa bercerita lumayan banyak bagaimana runyamnya kami sekeluarga menghadapi pelaku yang mengajak berpetak umpet berjanji mengembalikan barang dengan utuh saat bisa berbicara di hadapanmu, banyak cerita yang bisa kuceritakan. Singkatnya ponsel nenekku kini beralih penggunaan ke sepupu malangku itu. Aku tidak marah, pula nenek yang tentu ratusan lipat lebih penyabar daripadaku. Aku juga berusaha membesarkan empati selama kesusahan yang datang melanda apalagi keluarga. Aku juga memikirkan bagaimana nenekku tidak suntuk sepeninggal almarhum kakek hampir seratus hari lalu. Tenyata tidak hanyaku yang pusing memikirkan gaya hidup nenek gaulku si tukang cari video masak dan parade topeng monyet di tiktok lebih aktif daripada aku yang cenderung hanya sesekali membuka linimasa lalu mudah bosan. Sebagai cucu pertama aku tentu paham banyak sekali yang bicara mau berkorban tapi ujung-ujungnya tetap aku ujung tombaknya, aku yang paling merasakan berat remuk redam perasaan menjadi korban meski tidak begitu merutuk sebab aku paham porsi pengorbanan diriku. Aku senang, dan rela hati apalagi demi keluarga.
Aku berinisiatif meminjamkan sebentar ponsel utamaku sehari-hari pada nenekku, awalnya tentu beliau tidak setuju. Tapi secara aktif persuasif aku menekankan tidak terlalu membutuhkan barang itu, mencoba memberi tahu bahwa jika orang lain menelepon nomorku maka secara bersamaan akan muncul pemberitahuan telepon sekaligus dari laptopku. Sederhananya jika nenekku tidak merasa akan ditelepon beliau harus mengabaikan telepon dari orang lain, kan? Penjelasan yang mudah diterima perempuan serenta itu. Lalu aku mencoba menjelaskan hal lain, diserap secepat kilat pula. Praktis sekarang ponselku disewakan kepada nenek dengan syarat aku minta diberi uang bensin, membeli makanan dari ojek online, sampai rokok saat habis, hahaha. Nenekku setuju menjabat tanganku jenaka sambil nyengir lalu berkata: oke bisa diatur.
Berkorban dan sedang berusaha melupakan. Hal yang pertama pasti akan berakhir cinta sebab nenekku mencintaiku tanpa syarat sejak aku lahir sampai kapanpun jua. Malah aku berpotensi membuatnya semakin menyayangiku, menghargai usahaku berbakti padanya. Sedangkan kira-kira apa yang perlu diharapkan dari kamu, dari hubungan kita? Ya entahlah. Aku berharap kamu sama seperti ibu, aku mengira menakhlukkan hatimu tidak akan sesusah ibu dahulu lalu sekarang lebih memahami kamu dan ibu sama sekali tidak sama, memiliki khas, memiliki tingkat kesulitan sendiri yang unik tak sama.
Jadi, sudahkah kamu berpikir soal keputusan bagaimana kita kelak setelah aku berceritera tentang semua ini, kinasih?
Kira-kira berhasilkah misiku melupakan dan membencimu, jika pagi dimana aku sungguh sangat berniat ingin berhenti mencintaimu hanya bertahan paling lama dua jam setelah kemudian menemukanmu begini?
Kinasih, berusahalah mencintaiku kembali tanpa sebuah paksa apa dan siapapun, bagaimanapun. Kinasih, kamu harus merasakan cinta ini, kamu harus merasakan saling mencintai adalah hal indah nan ringan jika kita sama-sama mengijinkan diri dicintai dan mencintai. Kinasih;










