“Our Lord! Pour upon us patience...”
NASA
TVSTRANGERTHINGS

Janaina Medeiros

izzy's playlists!
occasionally subtle

pixel skylines

Kiana Khansmith
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

blake kathryn
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Show & Tell

Kaledo Art
he wasn't even looking at me and he found me
No title available
ojovivo
sheepfilms
Alisa U Zemlji Chuda

ellievsbear
Stranger Things

❣ Chile in a Photography ❣

seen from United States

seen from Italy

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Chile
seen from Japan

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Chile
seen from Malaysia
seen from Italy
seen from Japan

seen from Singapore

seen from Chile

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Malaysia
@gekgungdita
“Our Lord! Pour upon us patience...”
Kemarin gelap, sangat-sangat gelap. Sampai kamu mengajari aku tetap berjalan di keadaan tergelap sekalipun, sampai aku akhirnya tau kamu menerangi gelap itu dengan cintamu, sampai aku tau ada maupun tanpamu aku tetap bisa berjalan dengan cahaya kasih yang secara mejik tertanam selamanya pada diriku. Tugasmu dulu menjadi terang, sekarang aku sudah terang sepertimu. Setelah terang apakah akan menjamin gelap tidak lagi datang? Oh tentu tidak. Gelap bisa datang sesuka hatinya, lagi, lagi, dan kapanpun. Namun sekarang aku akan selalu tau bagaimana bisa terang sendirian. Malah kamu mengajari bagaimana tetap punya tenaga menerangi orang lain. Sungguh perubahan pesat kalau saja aku boleh berpikir lebih dalam. Aku, kamu, kita, berdua bersama-sama berubah menjadi lebih baik, lebih besar porsi bertanggung jawabnya daripada kemarin. Tujuan sudah kudapat, begitu baik begitu lurus. Kamu pernah memberiku jalan lain yang bagimu baik tapi aku menjelaskan bahwa jalanku lebih penting. Anehnya saat aku merasa goyah kamu datang tidak hanya menyinari gelap jalan pilihanku sendiri malah mengingatkan yang kubimbangi telah. Kamu merupa terang, kamu mengingatkan jalanku lurus disana tidak perlu mengikuti hendakmu yang bagimu pasti baik, kamu menepuk bahuku pelan menyuruh menunggu atas hal yang sudah kuperhitungkan tadi. Hasilnya terang, hangat, mengharu, teduh, tenang, sejuk, semua hal menyenangkan itu dari hadirmu dalam kehidupanku.
Terima kasih, ya, kita sama-sama terus, ya, semoga.
Comfort gastric friendly caramel latte by me
- an espresso, I choose decaf
- one pump of caramel syrup
- non fat milk
p: idr 52.000 (+ 10% gov tax included) tall size
Aku sama sekali tidak mencurangi kita, apalagi mencurangi jadwal bekerjamu, hei. Cuma-cuma sekali informasi mengenai akan bagaimana dirimu berlaku sampai besok November dimana aku memastikan diri kesana menemuimu kembali seperti selalu sebelumnya.
Sebetulnya bagian paling berat dan menakutkan dari mendewasa bukannya memilih sebuah keputusan. Tapi bertahan, tidak menyesal dengan pilihan yang sudah tidak bisa mundur lalu mencoba menyelamatkan hal-hal terkontrol agar tidak seutuhnya berpilihan buruk.
Lalu bersyukur. Setidaknya banyak orang lain yang mendambakan ada di posisi kita, yang dianggap idaman walaupun aslinya tidak seenak prasangka lain.
Music video by Tan Sri P. Ramlee performing Itulah Sayang. © 2007 Universal Music Sdn Bhdhttp://vevo.ly/swIJe7
Tanya sama hati, apa asal sayang?
Adakah tandanya nampak dipandang?
Tanya sama hati, pernahkah merindu?
Ingat masa lelah, apa mimpimu?
Masa berjauhan apa nan dikenang?
Bila difahamkan itulah sayang.
— Amar Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh
Aku tidak keberatan tiga jam lamanya, bahkan lebih, menunggumu akhirnya bisa duduk sendirian di meja kerjamu. Bertahun hidup dekatmu membuat diri ini semakin terbiasa meliukkan badan menahan kantuk maupun lapar selama menunggu kamu punya sedikit waktu luang bersamaku, cukup hanya berdua, serahasia mungkin saling bertukar cerita soal apa saja. Sampai kita berdua tertawa puas, sampai kita berdua merasakan hangat dada yang saling lalu pamit pulang. Mengantarkanmu masuk mobil, memberikan peluk erat dan kecupan hingga tandas sempurna tidak lagi nampak di hadapanku, diteruskan berbalik arah menyusur jalan sendirian tanpa kamu menyampingi posisiku.
Aku semakin memahami sela itu, aku semakin mahir menata rindu kata seorang pujangga terkenal itu. Menemanimu berbicara banyak topik berat nan menarik di hadapan banyak sekali orang aku tau cara memenangkan hatimu tidak perduli beribu lainnya mengaku kagum padamu.
Aku tidak suka menebar janji. Beberapa manusia suka membual ingin dibersamai mulai nol bahkan minus sekian menuju paling atas dengan orang yang dicintainya, begitupun harapku kepada kamu. Satu hal besar yang selalu kusyukuri adalah sanggup bertahan mencintaimu. Satu dua kali tak sepaham pendapat tidak akan mungkin membuatku berhenti cinta apalagi berbalik rasa dari cinta, hampir sangat mustahil. Tidak perduli berapa banyak waktu tidak bersama aku akan selalu bisa membayar tuntas segala kejadian saat kita sedang masing-masing. Aku mencatat, aku membuat kotak musik canggih yang kunamai sesuai musim.
Cintaku, cintamu, cinta kita tidak pernah kenal musim, tidak pernah basi sebab disemai di hati.
(Dekat Lab. Psikodiagnostik, 3 sore)
A (not so) little rewind
Aku benar-benar berharap ini kali terakhir menulis soal perasaan semacam begini. Sangat tidak nyaman rasanya mengakui meski memilih diam menyimpan jauh lebih tidak menyehatkan. Aku berharap semua sudah berakhir, aku berharap tidak ada lagi residu gumpalan emosi lain yang akan meledak di kemudian hari, aku berharap segalanya reda. Aku berharap tidak ada lagi cinta dariku untukmu, tidak ada waktu yang kuluangkan untuk memikirkanmu, tidak ada lagi air mata yang jatuh untuk menangisimu. Sudah, ya sudah.
Aku ingin meneruskan hidupku dengan tenang. Aku akan menyelesaikan masalah lain, memiliki orang baru yang entah akan lebih meringankan atau malah memberatkanku.
Sekali lagi aku akan mengulang satu masa, satu kejadian, satu waktu terberat dalam kehidupanku yang berantakan dulu yaitu tidak dicintai oleh orang yang aku cintai. Sungguh pedih, melelahkan, dan puncaknya aku sangat menyesal mengapa diberi Tuhan perasaan kasih sampai berujung pengharapan agar dicintai kembali. Tenang, kamu orang kedua setelah ibu sisanya semoga tidak ada lagi, semoga kamu akan mendamai menerimaku seperti ibu. Yang selalu kupanggil ibu itu adalah manusia yang serupa emosi denganmu sekarang. Aku masih ingat pegal badan serta pikiranku dibebani perasaan cinta tidak menyenangkan karena tidak saling. Bukankah cinta harusnya indah?
Cinta universal ah semua orang tahu. Cinta datangnya dari Tuhan masih dipercayai separuh-separuh kedudukannya. Cinta adalah semua yang indah itu saat pertama berbicara dua arah langsung denganmu meskipun dihalangi layar dan jarak. Bagiku cinta pengorbanan, cinta tabah menunggu kekasihnya melakukan kebiasaan yang berkebalikan dengannya, cinta rela memilih sepi sedangkan dunia besar menantinya menari-nari, cinta tidak bisa hanya searah. Semoga tidak terdengar seperti kalau aku sudah mencintaimu maka kau wajib mencintaiku kembali. Aku pernah diajari bahwa cinta malah sebaiknya membebaskan, menemani bertumbuh, mendukung, mendorong lebih baik, membersamai proses, menyorak saat lemah, mengapresiasi ketika sudah berhasil mencapai tujuan, namun tetap menemani tidak menyalahkan kegagalan lalu lembut memberi tahu,
“Istirahatlah sebentar di bahuku, menangislah semaumu, tapi berjanjilah untuk tidak menyerah sebab esok kau harus mencobanya lagi. Kuat sama-sama, ya?”
Sekarang kita punya satu pola: kita akan kuat kalau kita sama-sama menanggung cinta ini bersama, berdua. Tidak hanya aku, tidak hanya kamu, kita, sama-sama, singkatnya aku menyebutnya saling. Agar lebih sederhana meskipun cinta tidak pernah sederhana kamu boleh menbaca ulang paragraf sebelum ini. Cinta berat, cinta penuh ujian yang tidak selesai-selesai karena selesai berarti mati. Aku tidak perlu menyeru pertanyaan, dan semoga itu tidak membuat terlihat memaksakan kehendakku. Semoga kelak kita akhirnya sepaham soal semua ini.
Karena kita belum satu tuju maka aku belum akan meneruskan tahapan-tahapan setelah kita saling mencintai. Menyingkirkan batu besar hatimu agar menerimaku saja aku seperti menyerah apalagi menyuarakan kompromi keseimbangan diri supaya bersama namun tidak kehilangan diri sendiri, ah itu jauh. Menyirami cinta, bertahan saat kekasih dilanda nestapa, setia menghadapi manusia yang konon menjanjikan dirinya lebih baik darimu, menghindari perpisahan konyol, mengatur rindu, halah tidak usah terlalu tinggi coba saling cinta dulu lah. Kamu, kan? Aku sudah mencintaimu.
Aku tidak suka perbedaan, aku juga tidak suka menyama-nyamakan tapi kali ini menyamakanmu dengan ibu merupakan daya besar yang kalau tidak kau terima jua menurutku keterlaluan. Bukan membandingkan, bukan, hanya berusaha memberi dua arah sudut pandang dari aku maupun ibu karena kalian berdua sama profesi. Aku mulai, ya?
Detil yang paling kuingat, hari itu Selasa. Di auditorium kampus dekat tempat pendaftaran mahasiswa baru lantai dua, aku cukup antusias menaiki anak tangga menuju sana. Acaranya job fair, acara yang aku sebenarnya belum terlalu butuh karena saat itu masih semester tujuh, dan tentu aku dipastikan lulus lebih lambat daripada teman seangkatanku. Sabar aku mengikuti berbagai rangkaian acara dari workshop, seminar, sampai keseruan mencoba mengetahui minat bakat sendiri melalui alat ukur sederhana yang disediakan penyelenggara. Ini gawenya fakultas psikologi, kan. Ketika acara ditutup seluruh peserta beranjak menghampiri booth perusahaan yang ikut meramaikan. Lagi, aku ingat awalnya aku berkemeja rapi tapi bergegas mengganti dengan kaus lengan panjang lebih santai menghampiri dua meja di ujung ruangan besar itu. Ibu didapuk menjadi fasilitator lokal, berjaga barangkali ada yang butuh nasihat cuma-cuma soal persiapan bekerja sedangkan aku datang acara hanya ingin bertemu ibuku. Aku mengamati kerut wajah ibu menggunakan tatapan tidak asing, menatap dalam-dalam, aku mengenalnya persis. Kalau tidak salah kita sudah berbicara lebih dari lima kali dałam konseling diluar obrolan biasa, diluarnya. Aku pernah menyampaikan bahwa aku menyayangi ibu, dan ibu memahaminya. Wajahnya tenang, begitu datar sampai bahkan hampir tidak banyak bergerak. Kalau tidak berkedip mungkin aku akan mengiranya boneka penari kecak. Bagi ibu acara beginian terasa membosankan dan terlalu ringan sebab aku mengetahui cakupan pekerjaannya tidak hanya mengajar-menerima konseling klien-ke lembaga pengabdian masyarakat kampus-dan sangat banyak lainnya. Nampak berat, ya?
Cukup lama menunggu gerombolan mahasiswa yang duduk di hadapan ibu kemudian gantian aku. Ibu sempat minta ijin dua menit menerima telepon ponselnya lalu menanyakan apa maksudku mencarinya.
Aku masih mengamati ibu lamat-lamat, lebih lekat, lebih dekat mengikuti lekukan wajahnya. Secara profesional aku menanyakan banyak hal soal bagaimana mengasah skill sedangkan ibu memberi jawaban akurat bersama kompetensinya, selayaknya, pada umumnya. Kita berbincang tentang kisaran jam yang ideał latihan musik dan menulis untuk aku setiap harinya, ya biasa saja. Mari lebih intens menggunakan perasaan. Sekitar setengah jam sudah aku berkonsultasi dengan ibu, aku mencoba lebih menguasai diri yang semakin tak teratur rasa di dada,
“Bu, aku takut kehilanganmu.” meluncur begitu saja dari mulutku pada ibu yang memandangku berawang lurus menukik menusuki ulu hati,
“Bu?” aku memastikan kalimat tadi diterima baik tanpa salah paham.
Sekujur badanku terasa disengat listrik campur dingin menggigil, aku sampai menghangatkan tengkuk leher dengan gesekan dua tanganku, dan ibu masih diam mencerna perkataanku. Tidak ada hambur peluk, tidak ada elusan tangan yang menggenggamku kala panik melanda apalagi selebih panik begini. Aku memaklumi karena banyak orang lain di sekitaran, aku juga tak biasa disentuh dalam keramaian, seperti malu. Ibu menyilangkan tangan ke depan dadanya lalu membetulkan letak kacamata meskipun tampak tidak berubah sedikitpun. Mestinya ibu menenangkanku jauh lebih keras daripada saat aku mengadu nilai mata kuliah pembuatan kontrakku dapat D padahal teknis tidak pernah membolos maupun terlalu bodoh tidak memahami materi,
“Han?” ibu memanggil namaku sangat lembut. Aku yakin tangannya mendarat tepat di kepalaku jika kita hanya berdua di ruangan tertutup. Aku menunduk merapatkan kepala ke meja menahan tangis,
“Han. Han, dengarkan. Kalau pertemuan kita selama ini bermanfaat aku berharap kamu bisa banyak mengambil pelajaran supaya besok lebih baik ya aku senang. Tapi kalau itu membuatmu menggantungkan semuanya ke aku sebaiknya kita tidak ketemu lagi.” diutarakan lugas, bersih, berlogat agak cadel Bali seperti biasa. Aku solid menangis, aku mencoba menopang kepalaku tegak membiarkan berbulir-bulir air menetes melewati pipi mengusir sesak di dada, dan pundak ikut naik turun. Aku merasakan ujung jari ibu menyentuh tanganku seperti akan didekap tapi kutepis pelan. Ayolah kuasai dirimu, erangku.
Aku tetap menangis di hadapan ibu walau tidak mengeluarkan suara apapun lagi. Pandangan kami mulai saling melunak, lagi-lagi aku melihat ibu membetulkan kacamata yang kemudian kutandai kalau ibu akan selalu begitu saat canggung menutupi kekosongan percakapan sambil berpikir. Sangat tenang nyaris tidak mengubah air muka yang seharusnya khawatir yang diteruskan berdiri membentuk gerakan akan menerima pelukanku sedang aku mulai mencangklong tas bersiap meninggalkannya, dan betulan melupakannya,
“Mau, hmm, mau apa?” ibu bertanya sambil berdiri, aku masih duduk. Aku mengusap bekas air mata, melengos, seperti tidak kenal lagi dengan orang di hadapanku aduhai jenakanya aku jika diingat-ingat lagi. Aku menyorongkan tangan kanan yang disambut tangan ibu lalu mencium punggung tangannya sekilas. Aku pamit, bukan pamit ke sekolah, tapi pamit melupakannya.
“Han?” aku melepaskan genggaman tangan lalu keluar ruangan tanpa menggubris ibu yang beberapa kali memanggilku. Tenang saja ibu tidak akan mengejarku karena sudah ada tiga antrian manusia lagi di belakang yang hendak berkonsultasi.
Sekuat tenaga aku berlari yang tak sampai semeter jauhnya hampir jatuh tersungkur, untungnya belum turun tangga. Sebetulnya sudah cukup tidak aleman dibegitukan ibu tapi kakiku menjadi kebas serasa tidak punya kaki, hahaha. Aku memutuskan menikmati ketidakberdayaan itu, menepuk-nepuk kaki, menangis lagi, malah makin kencang, waduh. Aku ingat bahkan ada beberapa anak yang berkalung identitas panitia acara yang mendatangiku, menanyakan mengapa aku begitu, menawarkan bantuan. Isak tangis yang terbata-bata aku berkata habis ditelepon karena ada keluarga meninggal dunia. Mereka terperangangah, mulutnya membentuk bulatan oh panjang disusul mengucapkan turut berduka cita, hahaha. Iya berduka karena dosen kalian, tuh, teriakku dalam hati. Singkatnya aku pulang, tidur siang sebentar, malamnya kuliah hukum acara peradilan agama. Dengan tetap menangis konstan berkali-kali, seharian.
Esoknya aku mengatur siasat. Melupakan ibu tidak boleh setengah-setengah, prinsipku. Lagipula anaknya penurut loh aku ini, mengapa tidak mau melupakan ibu, mengapa tidak mau membenci ibu kalau ibu tidak menyayangi aku, kan? Aku memutuskan meletak ponsel yang biasa kugunakan masuk lemari. Dilanjutkan membeli simcard baru, mencopot social media yang tidak penting meski penting tak penting itu hanya soal biasanya ada tapi sekarang mencoba tidak perlu ada, perlunya menghindar. Aku tidak se-ekstrim langsung membuang ponsel lamaku, tidak perlu, ponselnya mahal hahaha. Hanya mengalihkan jaringan komunikasi kelas, dua arah antar aku dan dosen yang memercayakan kelas pada aku, beberapa teman yang kuanggap patut mengerti aku tidak lagi memakai nomor lamaku. Aku merasa tidak sanggup hidup dengan banyak kenangan tentang ibu, dengan banyak catatan, dengan banyak foto kebersamaan. Tiga hari pakai ponsel lain mau tak mau kembali ponsel awal karena yang dibuat menghindar tidak mendukungnya, hahaha. Ponselnya hilang, kuduga terperosot dari kantong celana, dan aku sempat berusaha lapor polisi agar dibantu mencari tapi nihil. Nasib yang apakah pahit, apakah rasa lain, kembali begitu, kembali bersama bayang ibu.
Setengah semester penuh aku tidak mau melewati fakultas ibu tiap kali ada urusan yang mengharuskan lewat fakultas psikologi. Rela hati memutar jalan ke sisi timur kampus untuk ke gedung pascasarjana, misalnya, padahal kalau dari fakultasku lurus fisip, pesiholohi, lalu ambil kanan sudah sampai. Oh, relaku putar jalan demi melupakan ibu, demi membenci ibu.
Rentang waktunya pas. Tidak kurang tidak juga lebih cenderung tidak sampai satu semester lamanya pandemi membuat perkuliahan langsung menjadi di rumah saja. Sedangkan aku mengenalmu di tahun kedua pandemi, hai. Hai kamu, masihkah disana membaca sampai sepanjang ini? Maaf aku masih ingin cerita ibu, dan terima kasih mau meneruskan membaca. Terus terangnya aku pernah bersyukur dengan keadaan itu, keadaan tidak perlu ke kampus tanpa harus memikirkan lupa atau sebaiknya tidak jadi melupakan ibu, keadaan tidak perlu putar jalan lagi. Rindu mulai datang. Eh, mengapa rindu? Merindukan orang yang harus dilupakan itu bisa, ya? Mengapa bisa? Diam-diam aku mencari celah dimana Ibu kosong jadwal. Menanti waktu dimana antara sudah selesai kerja, belum akan pulang, dan masih bisa meluangkan menyimak aku bicara. Dari banyaknya percobaan mencari kesempatan ajaib itu sampai menyerah menjadi pilihan terakhir saking lelahnya tidak mencapai tujuan.
Aku bertemu ibu seperti bagaimana kita, kamu yang aku cinta seperti serupa ibu namun kenyataannya sama sekali tidak sama. Di seminar-seminar kampus online, di acara komunitas psikologi, di semua hal yang dipisah oleh layar ketika dulunya selalu bisa kurasai halus tangan ibu mengelus pundakku, menertawai banyak hal sama-sama, bahkan bercuri pandang dengan orang lain agar bisa berkesempatan berpelukan secara rahasia. Sekarang semua serba terbatas, tak semenyenangkan dulu meskipun tentu perbedaan ini membuat semua orang beradaptasi, mempelajari resiliensi.
Kalau aku memberi tahu mama, orangtua kandung perempuanku sungguh katanya mencintai ibu jauh lebih baik daripada mencintaimu. Padahal dulu aku dan ibu adalah dua kutub berbeda yang menyatu bertalian seiring beratnya cobaan menuju diri saling mencintai, saling menerima. Sederhana sekali kalau se-ringan mengatakan lebih baik bersama ibu yang bekerja sekota bersamaku daripada kamu di Semarang. Aku harus memahamkan mama bahwa hubunganku pada ibu hasil dari banyak tempaan keras bahkan pernah sepakat berpisah, bagiku cinta selalu menemukan jalan, bagiku ibu jauh lebih tidak terjangkau seandainya tidak mengajar di kampus kita sebab berkelahiran di Yogyakarta dan besar di Denpasar. Semuanya tepat waktu, tepat porsi, kan?
Lalu bagian terpentingnya ternyata aku mengulang persis bagaimana dulu saat sepakat melupakan ibu. Aku sangat ingat bagaimana aku mengabari teman-teman terdekatku agar menyimpan nomor baruku, aku mengulang semua itu sepresisi dulu meskipun sekarang aku tidak terlalu berusaha langsung menyingkir hanya menepi. Aku menghapus banyak kenangan tentangmu bukan bersamamu. Menyedot keluar apa-apa yang pernah ada di kepalaku mengenaimu, mencoba sejengkal langkah kecil menjauhi dirimu. Oh, apakah aku membeli ponsel baru, apakah aku menarik diri sementara dari peredaran? Jawabnya tidak.
Seminggu lalu salah satu motor besar dan ponsel punya sepupuku raib digondol maling, yang anehnya dicuri oleh temannya sendiri setelah semalamnya numpang menginap di rumah keluarga kami. Mungkin aku akan bisa bercerita lumayan banyak bagaimana runyamnya kami sekeluarga menghadapi pelaku yang mengajak berpetak umpet berjanji mengembalikan barang dengan utuh saat bisa berbicara di hadapanmu, banyak cerita yang bisa kuceritakan. Singkatnya ponsel nenekku kini beralih penggunaan ke sepupu malangku itu. Aku tidak marah, pula nenek yang tentu ratusan lipat lebih penyabar daripadaku. Aku juga berusaha membesarkan empati selama kesusahan yang datang melanda apalagi keluarga. Aku juga memikirkan bagaimana nenekku tidak suntuk sepeninggal almarhum kakek hampir seratus hari lalu. Tenyata tidak hanyaku yang pusing memikirkan gaya hidup nenek gaulku si tukang cari video masak dan parade topeng monyet di tiktok lebih aktif daripada aku yang cenderung hanya sesekali membuka linimasa lalu mudah bosan. Sebagai cucu pertama aku tentu paham banyak sekali yang bicara mau berkorban tapi ujung-ujungnya tetap aku ujung tombaknya, aku yang paling merasakan berat remuk redam perasaan menjadi korban meski tidak begitu merutuk sebab aku paham porsi pengorbanan diriku. Aku senang, dan rela hati apalagi demi keluarga.
Aku berinisiatif meminjamkan sebentar ponsel utamaku sehari-hari pada nenekku, awalnya tentu beliau tidak setuju. Tapi secara aktif persuasif aku menekankan tidak terlalu membutuhkan barang itu, mencoba memberi tahu bahwa jika orang lain menelepon nomorku maka secara bersamaan akan muncul pemberitahuan telepon sekaligus dari laptopku. Sederhananya jika nenekku tidak merasa akan ditelepon beliau harus mengabaikan telepon dari orang lain, kan? Penjelasan yang mudah diterima perempuan serenta itu. Lalu aku mencoba menjelaskan hal lain, diserap secepat kilat pula. Praktis sekarang ponselku disewakan kepada nenek dengan syarat aku minta diberi uang bensin, membeli makanan dari ojek online, sampai rokok saat habis, hahaha. Nenekku setuju menjabat tanganku jenaka sambil nyengir lalu berkata: oke bisa diatur.
Berkorban dan sedang berusaha melupakan. Hal yang pertama pasti akan berakhir cinta sebab nenekku mencintaiku tanpa syarat sejak aku lahir sampai kapanpun jua. Malah aku berpotensi membuatnya semakin menyayangiku, menghargai usahaku berbakti padanya. Sedangkan kira-kira apa yang perlu diharapkan dari kamu, dari hubungan kita? Ya entahlah. Aku berharap kamu sama seperti ibu, aku mengira menakhlukkan hatimu tidak akan sesusah ibu dahulu lalu sekarang lebih memahami kamu dan ibu sama sekali tidak sama, memiliki khas, memiliki tingkat kesulitan sendiri yang unik tak sama.
Jadi, sudahkah kamu berpikir soal keputusan bagaimana kita kelak setelah aku berceritera tentang semua ini, kinasih?
Kira-kira berhasilkah misiku melupakan dan membencimu, jika pagi dimana aku sungguh sangat berniat ingin berhenti mencintaimu hanya bertahan paling lama dua jam setelah kemudian menemukanmu begini?
Kinasih, berusahalah mencintaiku kembali tanpa sebuah paksa apa dan siapapun, bagaimanapun. Kinasih, kamu harus merasakan cinta ini, kamu harus merasakan saling mencintai adalah hal indah nan ringan jika kita sama-sama mengijinkan diri dicintai dan mencintai. Kinasih;
Kalau dikasih nama pasti nyangkal gak pernah kenal eh nanti giliran gak dinamain katanya gak biasa terima yang asing— terus kudu gimana, sih?
marah sama tembok
Silence will be your saviour
Every human being is born with a pre-destined ‘word-count’. Just as our provisions, our actions, our lifespan, and our fate in the hereafter are written, so too is the number of words we utter above the ground.
Allāh says in the Qur’ān:
مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Man does not utter a single word without an observer.” (Al-Qur’ān, 50:18)
Words by their nature, can have contrasting effects. They can be memorable but also forgotten, they can enact change but also have no influence, and they can be a cause for a person’s eternal salvation but also their eternal damnation.
The Prophet ﷺ said:
“A person utters a word thoughtlessly (i.e. without thinking about it being good or not) and, as a result of this, he will fall down into the fire of Hell deeper than the distance between the east and the west.” (Bukhāri and Muslim)
Imam Nawawi elaborates:
“Every legally responsible person should refrain from saying anything except when there is a clear advantage to speaking. Whenever speaking and not speaking are of equal benefit, it is sunnah to remain silent, for permissible speech easily leads to that which is unlawful or offensive, as actually happens much or even most of the time — and there is no substitute for safety.”
Therefore, remember you are being examined. Make it incumbent upon yourself, to speak only when your words are more beneficial than your silence. A rush of blood is not an excuse to speak excessively, and thus inappropriately.
Take the advice of our Prophet ﷺ:
مَنْ صَمَتَ نَجَا
“Whoever is silent is saved.” (Al-Tirmidhi)
Silence can save a person from slander, gossip, lying, backbiting, and swearing among other sins. Once the tongue utters the word, and those in your surroundings have been harmed, then begins the begging of forgiveness and feeling of regret.
As Umar ibn Al-Khattab said: “I have never regretted my silence, as for my speech I’ve regretted it many times.”
Protect humanity from your tongue by exercising silence, your hereafter depends upon it.
Via Habibi Halaqas
Ketiga-ketiga-ketiga
Tajuk acaranya tampak besar. Judul tidak hanya sekadar judul namun sebesar pagelaran yang akan begitu besar adanya. Melibatkan tentu penulis, budayawan, aktivis lintas budaya lintas kepercayaan lokal maupun luar Bali oh aku hanya terpaku menyoroti nama demi nama pengisi panel keacaraan. Menemukan beberapa nama yang sama sekali tidak asing, beberapa sisanya berkesiur seperti bebunyian melalui telinga, aku mengenalnya, aku pernah bersamanya, tapi sayangnya tidak berkesamaan jadi hanya dari sisiku saja. Aha! Akupun mengenali sang empu acara yang pernah sedekat nadi, kalau boleh dengan bahasa penulis nan mendayu ini. Dekat meskipun belum pernah bertemu yang memang aku tidak merencanakan pertemuan kita. Bersama pasangan, dan anak sulungnya kompak meramaikan acara yang digagasnya.
Aku tidak bermaksud membeda-bedakan tapi percayalah memang berbeda. Awalnya memang begitu baik begitu manis, saling membersamai. Tapi akhirnya aku hanya berlalu bagai desau angin mempersiapkan pertanyaan orang lain yang akan bertanya mengapa aku tidak lagi bersamanya,
“Aku tidak terlalu suka bergaul dengan Luh, Dek, Mang. Mih gampang ditebak gati.” maksudnya untuk nama-nama orang berawalan Ni Luh-Kadek-Komang yang menunjukkan urutan kelahiran berturut dari anak pertama berkelipatan tiga. Seperti ibuku tentu Ibu Agung yang sampai sekarang belum kuketahui memiliki berapa saudara kandung, pertama seperti aku kah, tunggal kah? Begitupun Desak, Ida Ayu, Cokorda, begitupun aku Agung Ayu yang tiada mencerminkan kelahiran keberapa. Sederhananya aku akan bilang mungkin maaf dia tidak berkulit putih susu seperti ibuku, atau sering menyama-nyamakan diri dengan hal berkaitan India sebagai pusat Hindu. Begitu saja.
Aku memutus hubungan dekat semudah menggunting tali rafia plastik, pada beberapa orang, beberapa waktu ini. Alasannya tidak sederhana apalagi didasari kelabilan emosi malah oleh sebab merasa lebih dewasa dan lebih tidak apa-apa kehilangan beberapa teman. Aku lebih layak bersanding dengan yang sepadan denganku, usia sebayaku, gelar akademisku, jurusan kuliahku, hirarkis kekeluargaanku, kepercayaanku, semuanya itu hampir beriringan tidak dibawahku pula terlalu atas tak terjangkau olehku. Lebih baik melompang hati kesepian daripada menghabiskan waktu barang semenit bersama yang tidak seimbang berlaku hubungan pertemanan hingga bakal pasangan hidup kelak. Sepertinya aku tumbuh mendewasa seirama doa yang selalu dibaca ibu. Terlihat acuh, dan pongah, terlihatnya, oh kemurnian harus dijaga. Padahal tidak sepenuhnya benar. Kusudahi saja lah. Setidaknya yang penting sudah mengutarakan mengapa begitu. Lalu aku ingat salah satu orang yang kuhapus dari radar komunikasiku malah yang banyak berdiskusi soal pesanan rangkaian bungaku untuk seseorang disana.
Rasanya sejak bulan Februari pertengahan aku banyak berceracau mengenai rencana menghadiahi seseorang dengan bunga di bulan kelahirannya, Maret. Terpisah sekira seratus kilometer lebih membuat aku tidak memiliki pilihan lain kecuali memesan dari penjual satu kota dengannya lalu membayarnya, agar lebih murah. Bukannya tidak ingin bersama dan bertemu tapi memang sepertinya hanya aku yang menginginkan hal itu, tidak dengan sebaliknya, tidak saling. Kalau boleh optimis aku akan menganggapnya belum. Maka aku perlu mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan memesan bunga untuknya. Salah satu caranya dengan mencoba bertanya, menyahuti pemikiran orang lain mengenai kiraan respon yang akan ada. Mulai jenis bunga, warna, tidak lupa saling sok tahu makna dibaliknya apa. Dan aku tidak akan begitu asal menebak reaksi orang itu pertama kebingungan, lalu heran, lalu berpikir aku hanya emosional mengeluarkannya dari semua jejaring kabar digitalku. Padahal kita banyak bertukar pikiran soal harus bunga apa yang diberikan orang berganti usia berzodiak Pisces, yang bahkan diapun demikian. Maaf, aku merasa tidak perlu lagi bukan tidak pantas mengucapkanmu selamat ulang tahun. Nyatanya aku tetap memesan bunga tanpa adanya intervensi siapa, dan apapun.
Aku hanya mengira-ngira sekiranya bunga apa yang pantas. Utamanya pasti mawar, tinggal dipikirkan warnanya saja, kan? Sekian lama bergumul dengan diri sendiri menimbang-nimbang perlukah membelikannya bunga dengan posisi “tidak saling” tadi. Aku memilih berproses meminta maaf pada langit-langit kamarku yang semoga mewakili dia, tak lupa aku memaafkan diriku sendiri, memaafkan segala keadaan yang tidak bisa kukendalikan, memaafkan semua yang kehendaknya bukan dari diriku, ya pokoknya memaafkan. Aku terus mengulang maaf itu sampai ditemukan suatu hari meramban penjual bunga di kotanya. Ulir-diulir mengulir dari yang paling atas, ah penjualnya tidak sepahamku, ah kemahalan, ah ah lainnya. Aku berpikir sepertinya beli bunga hanya jadi wacana. Terakhir tentu November tahun lalu bertepatan dengan ulang tahun ibu si Scorpio, sudahlah, jadi tak elok membicarakan sering soal bintang. Akhirnya aku mendapatkan bunga dari seorang penjual yang menyuruhku memasukkan alamat penerima lalu berseru ongkos kirimnya gratis saja karena masih satu komplek, wow, baik, mengusahakan diri tidak terlalu berlebihan merespon kebetulan, masih satu alamat, astaga, cukup, biar kuelusi sendiri diriku seperti kucing yang sedang kasihan matanya berkaca-kaca menanggung haru dan sedih. Ya sedihnya soal belum saling, ya? Nomor telepon pribadi jelas tidak punya sampai detik tulisan ini ada.
Sebenarnya aku ingin menulis keseluruhan cerita disini saat bunganya disampaikan. Aku sudah meminta agar penerima tidak diberi tahu kalau aku pemesan bukan pengirimnya karena secara teknis aku tidak kesana. Inginnya hanya kabar baik berupa penerimaan, oh, egois nian aku? Saking sedihnya sudah beberapa kali mencoba mendekat tapi tidak digubris ya bagiku wajar. Kedua aku sedang menyiapkan keinginan selanjutnya yaitu tidak dikabari penjual saat bunganya tidak diterima, tapi, tentu syaratnya bunga tetap dimiliki siapapun yang ingin atau dibawa penjualnya kembali, atau dikirim ke rumahku saja, ya kan? Siapa bilang aku tak sayang diriku, sayang lah, sayang sekali malah. Menurutku aku sudah memenuhi syarat mencintai diri sendiri dan di taraf boleh sesekali mengungkapkan cinta kepada orang lain seperti ibu dengan hadiah, dengan bunga, kan?
Aku cukup kaget saat dikabari penjual bahwa tidak ada stok mawar kuning. Diganti krisan kuning yang sempat ditawari apakah mau diselipi mawar putih. Aku membayangkannya ah pasti indah seperti bunga matahari. Lalu aku meramban layar laptopku memastikan krisan dan warna kuning ber-arti apa. Optimisme tentunya, semangat baik, hidup sehat, panjang umur, kebangsawanan, kegembiraan, pertemanan oh jelas lah, paling mencengangkan adalah cerita cinta bertepuk sebelah tangan, eh?
Bisa-bisanya begitu? Maksudnya kok tahu sih kan tidak asik ya.
Sorry?
Via: https://www.tumblr.com/blog/view/thelipsofwisdom
Forgiveness is a very important principle taught in spiritual traditions and philosophies all around the world from time immemorial to present day. In the Hindu tradition, the Bhagavad-Gita says “if you want to see the heroic look to those who can love in return for hatred; and if you want to see the strong look to those who can forgive.”
The reality for most of us is that we drag quite a history of things around that we haven’t forgiven ourselves or others for and all those things drain our energy, awareness, happiness and capacity to love and live with joy and passion. Without forgiveness we are actually chained to the past. The inability to forgive weighs us down because we go around carrying all this baggage from our past interactions, experiences, and histories. The guilt, resentment, hate, anger, and fear around these things cripples us. It diminishes our lives to an astounding degree in ways we often don’t realize. The true power of forgiveness lies in its ability to free us from all the baggage we are carrying around within our hearts.
Something very important to remember is that forgiveness is fundamentally for our own sake. It’s for our mental, spiritual and physical health. For in forgiveness we let go and find relief in our heart for all the anger, hurt, bitterness, and hatred we may carry. This doesn’t mean we ignore the truth of our suffering or any harm or hurt that was done to us. We acknowledge what is unjust and wrong but let the baggage go and carry it around no longer.
For example, if you were to call to mind someone who may have hurt, wronged, deceived, used, abused, or took advantage of you, and just the thought of this person begins to irritate you, make you annoyed, and angry when you call them to mind, who’s really doing this to you? Who is ruining your present experience? Is it really the person you are thinking about? What’s ruining your experience, the thing that is actually causing you to get angry and upset, is all the baggage you are carrying around in regards to them, the hurt that they may have caused you, etc. Without forgiveness, we are constantly carrying around all this extra weight and remain caught in the hurt and pain of our history. It is through forgiveness that we free ourselves from this past history. We break the chains that are binding us and holding us down so that we can move forward in our journey lighter and freer.
“Holding hatred in the heart is like drinking poison and hoping others will die. Only forgiveness will make our soul peaceful”. -Buddha
Intinya minta maaf dan maafin itu enak. Apalagi saling memaafkan, duh.
Tanya pada diri, mana letak budi, Tanya pada akal, apa yang dibekal, Tanya pada hati, sudahkah terisi?
Datin Sri Hajah Siti Tarudin bin Tarudin, Panas Berteduh Gelap Bersuluh
Dulu aku sering berandai-andai seandainya kita sudah punya hubungan dekat mungkin banyak hal indah yang dulu sering aku bayangin bakal jadi kenyataan. Eh kenyataannya jauh lebih keren ya dari yang dipikirin, dari yang diharapin, oh, aku tau, ya bonusnya aku relatif lebih bisa ngatur jadwal ketemu gak usah rapat-rapat malahan syahdu kalau ketemu setelah udah lama gak sama-sama, hahaha!
Bisa gitu, ya? Gak pengin ketemu tiap hari? Ha, ha, yakin? Ya pengen lah kalau bisa.
Tak WhatsApp opo kelingan dewe wae ngko?
seorang ibu penjual makan dan minuman kecil di sebelah hotel daerah pekojan kota lama semarang saat sedang mengingatkan seseorang seperti keluarganya agar dibawakan air panas dalam termos dari rumah
I know life is hard for us all recently so hopefully these Duas are helpful enough to keep us all going 💔