Bau Hujan, Aroma Buku, Dua Cangkir Teh dan Tentang Kamu.
Pertengahan Bulan September 2018
Hujan mungkin telah usai, tetapi aku masih terus membaui setelah keberakhirannya.
Beberapa buku telah kulahap habis, aromanya pekat. Ada beberapa bagian lembarnya yang telah menguning.
Dua cangkir teh yang telah mendingin. Dan tentangmu, yang tak pernah usai.
Kamu, kau bawa rinduku. Kemana? Coba tanya pada pepohonan yang mungkin hanya kita dapati di sepanjang jalan trotoar khusus pejalan kaki atau di taman-taman Kota ini.
Dengan aroma tanahnya setelah hujan reda. Atau pada tetes embun, yang menempel pada bangku-bangku taman di Kota ini.
Jendela-jendela kafe dengan embunnya, tempat kita biasa bercengkrama. Bersama dua cangkir teh, dengan asapnya yang masih mengepul.
Namun kali ini dibiarkan tehnya sampai mendingin. Lalu penuh tanya tidak ada satupun diantara kita berdua, yang menyesapnya barang sehirup pun pada hari terakhir itu.
Karena punggungmu mungkin telah berlalu, takkan pernah kudapati, kamu mampir barang sebentar pun, menemaniku menyesap teh yang telah menghangat.
Maka kubiarkan dua-duanya berada diatas meja dan mendingin, di tempat dimana kita biasa memesan. Di dekat jendela, supaya bisa melihat lalu lalang manusia berjalan.
Siapa tahu kamu sudi datang, meski hanya barang sedetikpun. -nebula senja
Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia.













