tiga hal
ada tiga hal yang sedang dan ingin saya pelajari. mungkin gara-gara membaca buku NGANU, ditambah nasehat dosen kemarin pagi.
pertama adalah attitude.
dalam berbisnis, attitude menjadi perkara yang penting. sebab katanya, poin utama dari bisnis seringnya bukan tentang barang yang kita jual, melainkan attitude yang kita berikan. orang akan malas membeli kalau kita sebagai penjual menjajakan dagangannya tanpa attitude yang baik. kurang senyum, kurang sopan dalam berbicara, dan bersifat memaksa. sekalipun barang yang kita jual adalah kualitas terbaik. sekalipun barang yang kita jual adalah makanan terenak. kalau tidak ada attitude dalam diri kita, tidak lakulah barang itu. orang akan malas dahulu sebelum membeli. berlaku sebaliknya.
dalam menulis juga, katanya sama. kita nggak bisa memaksa penerbit melirik naskah yang kita berikan, apalagi menyuruh mereka menerbitkannya. maka tugas seorang penulis adalah menawarkan sebaik mungkin barang itu (naskah buku) tentu dengan sifat yang santun. tanpa marah-marah, tanpa suudzon, juga tanpa memaksa. kata Pak Edi (bapak CEO yang wajahnya teduh), kalau kita mengirim naskah ke penerbit dan berbulan-bulan belum ada konfirmasi bahwa naskah kita diterima atau tidak, tanyakanlah status naskahmu dengan bahasa yang baik. bukan malah ngebom email dan marah-marah. karena sebagai penulis, attitude baik juga menjadi penilaian.
dosen saya bilang, bahwa kita sebagai manusia harus menjaga baik-baik attitude kita. terutama sebagai seorang perempuan. katanya lagi, laki-laki itu akan memilih perempuan yang cantik fisiknya untuk dijadikan pacar. tapi... untuk dijadikan istri, mereka akan mencari perempuan yang sederhana dan punya attitude yang baik. kecantikan fisik sudah bukan menjadi hal yang utama lagi. (dasar ya laki-laki :D).
lalu bertanyalah beliau kepada kami yang perempuan, “jadi kamu mau dijadiin pacar atau dijadiin istri?”
dijadiin sailormoon!
kedua, soal kerja keras.
“di dunia ini, sebenarnya nggak ada orang yang nggak sukses. yang ada itu orang yang nggak mau sukses,” masih sama kata dosen saya tadi.’ orang yang mau sukses itu tidurnya nggak banyak-banyak. beda sama orang yang nggak mau sukses, kerjaannya tidur terus,” di situ kadang saya merasa njlebb.
mau bisnis lancar, ya jangan malas. intinya itu.
beda lagi sama Bapak CEO berwajah teduh itu.
“sesering apapun panjenengan keluar masuk workshop menulis, semua itu nggak menjamin panjenengan jadi penulis. kecuali, kalau panjenengan itu Tere Liye.”
“kalaupun panjenengan misalnya menerbitkan buku, tidak otomatis buku itu akan disukai pembaca, jadi best-seller, lalu panjenengan jadi kaya. kecuali, kalau panjenengan itu Tere Liye.”
heuheuheu.
begitulah Pak Edi, tidak hanya bercerita keindahan menjadi penulis tapi juga menceritakan sisi kelam seorang penulis. tentu saja maksudnya bukan untuk menjatuhkan tapi malah membangkitkan. jadi ingat malam pembukaan Kampus Fiksi, beliau cerita yang kelam-kelam, besoknya diceritain yang indah-indah. tentu saja kalimat “kecuali, kalau panjenengan itu Tere Liye,” selalu ada di dalamnya. hahaha. jadi kangen ikut Kampus Fiksi (padahal baru bulan kemarin).
sayangnya dan juga buruknya, saya ini termasuk yang pemalas. mau dapet nilai bagus, tapi ngerjain tugas kuliah kalau udah deadline. mau berhasil ujian tapi belajarnya baru tadi malam. mau nulis, tapi kebanyakan tidur. buka sosmed dua jam, nulisnya nggak nyampe 20 menit. mau bikin outline tapi bingung sendiri, nggak jadi terus diabaikan. udah bikin malah nggak disiplin. Ya Tuhan.
di mana letak berdarah-darah dan bernanah-nanahnya?
“hepiiii... tukeran bab satu yuk. aku baca punya kamu, kamu baca punyaku. nanti kita saling komentar.” - Depi.
“hepiiii... kamu udah ngajuin bimbingan belum?” - Mbak Uput.
“kak hepi kemarin ngirim buat KFE nggak? kak hepi udah ngajuin bimbingan?” - Aling
di situ kadang saya merasa stres sendiri. ditambah malu. nggak tahu lagi mau jawab apa.
ketiga, tentang perspektif atau sudut pandang.
tau soal Ustad Felix Siaw yang menulis tentang mulianya seorang ibu yang memilih menjadi ibu rumah tangga, mengurus suami dan anak di rumah ketimbang bekerja di luar rumah? kebetulan saya pernah baca, kemudian dosen saya bercerita:
“kita sebagai manusia, nggak bisa mengambil ilmu hanya dari satu guru. saya bilang, Ustad Felix itu tidak salah, toh hadisnya memang ada. kalaupun Ustad lain bilang bahwa perempuan boleh bekerja, itu juga nggak salah. sama kayak kita nggak bisa menyalahkan orang yang solat subuhnya nggak pake qunut sementara kita pake qunut. berlaku juga sebaliknya. toh dua-danya mungkin pernah dicontohkan Rasulullah. lah yang salah itu ya yang nggak solat tho? (bagi orang islam)”
sama kayak Pak Edi bilang kalau kita nggak boleh menjudge sesuatu. ”misalnya, sebagai perempuan yang memakai kerudung, kita nggak bisa menjudge orang yang tidak memakai kerudung itu tidak mulia, tidak baik di Mata Allah. kata siapa? lagipula memangnya kita siapa? yang bisa menilai tingkat kesalehan seseorang kan cuma Allah, tho? ini lagi-lagi tentang perspektif. sudut pandang kita harus luas. nggak bisa kita berpikir kayak gitu.”
dari situ saja saya berpikir dan mulai belajar kalau kita memang nggak bisa hanya berpikiran sempit saja. sama kayak nulis, nggak bisa berkutat sama satu definisi. harus keluar, harus berpikir dengan sudut pandang yang berbeda. itu membuat tulisanmu jadi nggak basi, kata buku NGANU nya Pak Edi. lagi-lagi.
23 Februari 2016.
Happy Hawra












