Manusia-Manusia Apatis
Sekarang dapat dikatakan bahwa kita memasuki era digital, dimana segala aspek penunjang kehidupan manusia disokong oleh pilar-pilar teknologi melalui gadget terutama ponsel pintar dan jaringan internet. Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada tahun 2018 nanti jumlah pengguna aktif ponsel pintar di Indonesia bakal mencapai 100 juta jiwa. Jumlah yang fantastis bukan? dengan jumlah yang fantastis itu Indonesia bakal menjadi negara dengan pengguna aktif ponsel pintar terbesar keempat di dunia setelah Cina, India dan Amerika. Kepraktisan yang disuguhkan oleh canggihnya teknologi memang menarik. Banyak hal dapat dilakukan dengan hanya satu sentuhan dalam hitungan detik, sebut saja e-bank, e-mail, e-toll, dan lain-lain. semua berbau elektronik, semua berbau digital, semua berbau mesin. Hal tersebut tentu memudahkan manusia dalam beraktivitas. But. in the other side hal itu juga meningkatkan sisi individualisme manusia. Mereka dibuat berpikir bisa melakukan apapun seorang diri, transfer tak butuh teller lagi, kirim surat tak butuh pak pos lagi jadi nggak perlu repot-repot keluar rumah dan berinteraksi dengan orang lain, banyak hal dapat dilakukan hanya dengan pegang ponsel pintar sambil duduk diam di atas kasur. Sejauh yang aku amati, kalau hal tersebut terjadi secara terus menerus maka akan timbul sifat apatis. Apatis /apa·tis/ a acuh tidak acuh; tidak peduli; masa bodoh(KBBI, 2017).
Kecanggihan teknologi juga menyentuh lingkungan sekitarku begitupun dengan individualis dan apatis. Aku juga pengguna internet, juga pengguna gadget dan pemanfaat internet. Tapi aku mencoba untuk nggak individualis dan apatis dengan lingkunganku. Kupikir sebaga manusia yang pada hakikatnya adalah makhluk sosial memang harus saling berinteraksi dengan manusia lainnya. Sebagai wujud konkrit dari idealisme pemikiranku itu maka kulakukan hal yang paling sederhana, kuputuskan untuk berjalan kaki melewati jalan-jalan di kampung ketika berangkat kuliah maupun pulang kuliah sekaligus mode hemat ehehe kan anak kos. Anyway, Aku melewati trek yang sama setiap harinya, orang yang sama dengan aktivitas yang hampir sama di setiap pagi--Bapak-bapak yang selalu sibuk membenahi sesuatu di sepan rumahnya, seorang ibu penjaga toko, pria penjual bakso di depan industri mebel rumahan dan masih banyak orang yang kutemui di jalan. Setiap melewati beliau-beliau yang lebih tua dariku aku mengucap kata ‘permisi ’ sambil senyum, yang barangkali adalah satu tindakan ajaib yang membuat orang-orang yang tadinya sibuk berkutat dengan pekerjaanya mendongak sejenak lalu balas tersenyum. Tapi di suatu hari, ada satu kejadian yang membuatku tercenung, kejadian yang membuatku berpikir ulang. Suatu pagi aku berjalan melewati gang yang biasanya kulewati, gang itu sepi diapit dua dinding semen tinggi. Sebelum aku berkelok ke gang itu aku sempat melihat ada bapak-bapak penjual sayur yang sedang ramai dengan pelanggan serta seorang pria yang duduk di atas motor matic putihnya tak jauh dari keramaian kecil tersebut. Setelah masuk ke gang, aku mendapati seseorang memanggilku. Ternyata pria yang duduk di atas motor tadilah yang memanggilku. Aku menoleh dan melihat pria itu sedikit tersengal menghampiriku. pria itu kurus, memakai kemeja yang masih licin, membawa ponsel dan sebuah buku. Pada awalnya kupikir pria itu hendak menanyakan alamat kepadaku, namun ternyata pria itu bertanya apakah aku kuliah di kampus *pippp* lalu aku menjawab iya, setelah itu orang tersebut meminta uang kepadaku dengan alasan untuk membenahi motor bannya yang pecah atau entahlah aku tidak terlalu jelas mendengar ucapannya. Pria itu meminta uang 5000 dariku, tanpa berpikir panjang aku memberinya, menolong sesama, pikirku. Tapi kemudian pria itu meminta uang lagi sejumlah 10.000. aku menegrutkan dahi. Aku mengatakan kalau aku tidak membawa uang lagi(swear, beneran kok wkwk). kemudian orang itu berbicara dalam bahasa Inggris dan mengatakan kalau aku dan orang itu pernah bertemu di kampus *piiip* karena orang itu adalah mahasiswa pascasarjana di kampus *piiip*. Spontan aku langsung pasang muka judes dan bilang, “Hah, gak pernah tuh!” Seketika otakku mencerna situasi. Ada yang nggak beres dengan orang ini. Aku meningkatkan mode waspada dan pertahanan diri, sedikitpun tak kutatap orang itu ketika berbicara, setelah itu aku segera berbalik dan komat-kamit baca ayat kursi. Orang itu menanyakan nomor ponselku dan namaku, Pertanyaannya kujawab dengan satu seruan ‘ANI’ lantas aku segera berbalik pergi dengan dalih terburu-buru but yeapss aku saat itu memang terburu-buru karena akan praktikum. Setelah pulang kuliah, aku bercerita tentang hal tersebut pada teman-teman di kos. Ternyata ada juga temanku yang mengalami hal serupa. Semenjak saat itu aku jadi dilema ketika akan berjalan kaki lagi, mengingat temanku juga menceritakan kejadian yang sangat mengerikan menurutku yang terjadi di daerah yang kulewati setiap hari. Temanku pernah bercerita tentang anak-anak kecil yang suka menyelundup masuk ke kos cewek dan minta-minta uang jika tidak diberi bakal merusak kendaraan kita, lalu ada pula anak-anak yang mengejar-ngejar dan mengajak untuk “.....” yeahh you know lah(dia kebanyakan nonton film biru deh kayanya :(( kids jaman now), that’s ewhhhhhh ada juga bapak-bapak yang berkeliaran pada malam hari dan kerap kali menunjukkan kemaluannya.... WTF, dude!
Dunia ini makin creepy nggak sih? seringkali belakangan aku memutuskan untuk menaiki taksi online maupun ojek online ketimbang jalan kaki seperti biasa, yahh bukan berarti bakal aman 100% (yahh berdoa aja, selalu minta perlindngan Yang Maha Kuasa) tapi karena aku takut kalau-kalau ada orang nggak baik yang mencegatku lagi dan berniat entah melakukan hal-hal yang lebih mengerikan. Aku juga memutuskan untuk menaruh kewaspadaan lebih terhadap orang yang baru aku temui. Kadang aku jadi dilema ketika hendak menolong seseorang setelah mendengar cerita-cerita kejahatan yang berkedok minta tolong. LOL, nowdays, I think crime and kindess fuse to be one , semakin kabur dan tidak bisa dibedakan. Berpikir positif tehadap seseorang serasa tidak ada gunanya, kamu bakal serasa dikhianati pikiranmu sendiri ketika realita bertolak belakang dengan pikiranmu.
Aku jadi berpikir ulang, tidak selalu gadget menjadi alasan utama dibalik sifat apatis seseorang terhadap lingkungan sekitarnya, kadang juga justru lingkungan sekitar yang mendorong seseorang menjadi apatis, acuh terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar--mengingat this world is getting creepier by the time- dalam rangka ketakutan, dalam rangka mencari aman mereka mengisolasi diri dari dunia luar toh sekarang zaman sudah semakin canggih, apa-apa bisa dilakukan di dalam rumah hanya dengan satu sentuhan, nggak butuh bertemu orang lain lagi. Semakin sedikit interaksi dengan orang lain maka kamu akan semakin aman. Plautus, a Roman playwright at Latin period, pada sekitar abad ke 9 pernah mengatakan, “homo homini lupus” yang artinya manusia adalah serigala bagi manusia lainnya, tapi pada masa itu orang-orang masih belum mengerti maksud perkataannya. Mungkin manusia-manusia zaman sekaranglah yang bisa memahaminya, ya para manusia apatis dari zaman millenial.
Malang, 6 Desember 2017.







