Pesan Bapak; Tentang Mencari.
Pagi itu, petuah romantisnya mengalahkan manis dan hangatnya secangkir teh yang kuseduh…
Me: Pa, kalau kelak anak perempuanmu ini mencari tambatan hati, untuk dijadikannya imam atas dirinya dan keluarga kecilnya, kepada lelaki yang seperti apa seharusnya anakmu ini menjatuhkan pilihannya?
Pa: Seperti yang kata hatimu pilih. Yang penting dia beragama dan taat pada agamanya. Karena yang taat pada agama, akan tahu bagaimana seharusnya memperlakukan perempuan dan keluarganya.
Me: Teman-temanku kebanyakan menjadikan ‘kemapanan finansial’ sebagai salah satu syarat untuk bisa dipilih menjadi imamnya. Karena biaya hidup semakin mahal, katanya. Menurutku itu realistis, kalau menurut Papa?
Pa: Kalau menurut Papa, soal itu jangan khawatir. Allah sudah berjanji untuk senantiasa mencukupi rezeki tiap hambanya. Yang penting kalian ndak berhenti ikhtiar dan tawakal. Barang siapa yang bersyukur maka akan Ku tambah nikmatnya, dan barang siapa yang kufur maka azab-Ku sangat pedih. Itu janjinya Allah. Biaya hidup memang akan semakin mahal, tapi kalau kamu terus berikhtiar, bertawakal, banyak bersyukur, maka mahalnya biaya hidup tidak sebanding dengan murahnya rezeki yang Allah berikan kepadamu.
Me: (diam. malu sekali karena sudah meragukan Allah)
Pa: Carilah lelaki yang baik, dan yang baik itu ialah ia yang senantiasa mendukung dan menuntunmu untuk lebih dekat dengan Tuhanmu, menepukmu demi kepentingan akhiratmu. Bukan yang membiarkanmu terus terlena dengan kepentingan duniamu. Jadi inget nak, cari yang bisa diajak mengumpulkan bekal untuk ke surga, bukan yang cuma ngajak enak-enakan di dunia.
Me: Iya, Pa. Insya Allah. Tapi kan masih lama sekali itu. Kakak kan bilangnya ‘kelak’. Masih banyak kewajiban lain yang harus kakak selesaikan hehe.
Pa: Kata siapa masih lama? Kamu bisa memulainya dari sekarang.
Me: Mulai cari jodoh, Pa?
Pa: Bukan, mulai menyiapkan dan memantaskan diri. Jodohmu itu cerminan dirimu. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik pula. Begitu kan kata Allah? Jadi, kalau kamu mau mendapatkan imam hidup yang seperti Papa bilang tadi, mulai sekarang kamu harus menjadi wanita yang seperti demikian, yang taat sama agama.
Me: Siap, Pa.
16 April 2015; 05.30 WIB. | @intansyahputria











