Terlalu sering mengeluh itu tak sehat.
Namun banyak memendam juga tak membuat kita jadi hebat.
Tingkatkan sabarmu, tinggikan ikhlasmu.
Dan jangan kau lupakan perbanyak syukurmu.
seen from United Kingdom
seen from Russia

seen from United States

seen from T1

seen from United States

seen from Romania
seen from United States
seen from Ecuador

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from Brazil
seen from T1
seen from China
Terlalu sering mengeluh itu tak sehat.
Namun banyak memendam juga tak membuat kita jadi hebat.
Tingkatkan sabarmu, tinggikan ikhlasmu.
Dan jangan kau lupakan perbanyak syukurmu.
Misteri Dalam Diam
Di dunia kita
Ada yang sedikit bercerita
Tak pernah menyampaikan berita
Hingga membuat sebagian tak mampu berkata-kata
Yang dulu tertawa renyah
Yang dulu senyumnya sumringah
Hanya mampu munculkan gundah
Sebagian mereka menatap dengan gelisah
Bergumam sambil menerka
Kapan waktuku tiba
Diam tanpa suara
Terbujur kaku disaksikan ribuan pasang mata
Tentang Memaknai Perpisahan
Terkadang kita harus bersyukur pada pertemuan,
Darinya kita belajar banyak hal,
Tentang rasa senang, sedih, dan rasa tak tentu yang tak bisa diungkapkan.
Sehingga, jangan kau berlarut dalam kesedihan
Bisa jadi kau dipertemukan lagi di hari esok,
Di hari di mana kau dan dia sama-sama siap.
Dan jika tidak, setidaknya kau dapatkan pelajaran untuk hari ini.
"Karenanya, syukuri pertemuan, dan berikan senyuman terbaik pada perpisahan."
Jika Satu Itu Awal, Lalu?
Yang kita harapkan telah datang.
Masih diawal dan belum jauh dari satu.
Dulu mungkin kita pernah menyesel telah melewatinya tanpa ada yang membekas, tanpa ada yang bermakna, dan tanpa ada rasa memiliki.
Tanpa disadari telah lewat dan tak kembali.
Mungkin, bertemunya kita kali ini merupakan kesempatan terakhir, atau kesempatan awal kita untuk memeluk ramadhan lebih erat lagi.
Jangan sampai terjadi penyesalan-penyesalan berikutnya.
Atau jangan sampai nanti kita tak mampu menyesalinya lagi karena ramadhan selanjutnya tak menyapa hangat kita.
Kali ini, coba kita raih berkahnya, cari ridhoNya, dan lewati Ramadhan dengan sungguh-sungguh bahwa esok tak lagi hari kita.
Karena masih awal, masih ada kesempatan.
"Jangan sampai setelah akhir, kita diselimuti penyesalan tanpa perlawanan."
- DAgger
Tentang Waktu?
Jika semua tentang waktu,
Maka jangan kau lupakan yang lalu
Jangan kau remehkan yang sekarang
Dan jangan kau abaikan yang akan datang
Karena, waktu tak pernah ingkar janji
Meninggalkan mereka yang lalai
Mengiringi mereka yang acuh
Esok dan Hari Ini
Tak ada bedanya akhir tahun dan awal tahun.
Sama seperti sebelumnya, bagaikan hari ini dan hari esok.
Namun ada harapan yang selalu sama seperti hari ini, dan harapan yang bertambah untuk hari esok.
Hari esok harus lebih baik dari hari ini? Tentu, itu sudah pasti.
Perbaikilah diri selagi sempat.
Mantapkan hati serta luruskan niat.
Semoga duniamu tak melupakan akhirat.
Tentang Aku, Bukan Dia, Apalagi Mereka
Tulisanku bukan tentang dia dan bukan pula tentang mereka. Semua itu hanya tentang aku dan sekelilingku.
Tulisanku hadir seiring dengan waktu yang diberikan oleh Allah kepadaku. Berkembang dan terus berkembang tanpa terbatas oleh satu hal saja.
Kenapa demikian? Apakah aku sehebat itu hingga mampu menulis tanpa batas? Justru sebaliknya, aku hanya seorang “pemula” yang berusaha mengekspresikan emosi, pikiran dan kejadian dalam suatu tulisan. Tak sehebat kalian atau mereka yang mampu menulis meski dalam batas-batas yang digariskan.
Hari ini aku bisa saja menulis tentang bumi dan mungkin besok aku akan menulis tentang laut atau langit. Atau bisa jadi aku hilang ke dalam bumi bersama dengan semua emosi yang belum mampu aku tuliskan. Karena yang terlintas dalam pikiran, yang terlihat oleh mata, dan yang kudengar dengan telinga, serta yang kurasakan dalam hati, itulah yang akan aku tulis untuk diriku.
Tentang kenangan masa lalu yang kualami, masa kini yang kurasakan, dan tentang masa depan yang kuharapkan. Tentang masa lalu yang menjadi pelajaran hingga mampu membuat aku lebih baik di masa kini. Dan tentunya dengan pengharapan, jika itu semua menjadi pelajaran untuk semua orang yang membaca. Dan jika orang lain tak mengambil pelajaran dari masa lalu yang aku tuliskan, cukup semua itu menjadi hal yang akan kuselami dan kurenungi sendiri.
Tentang kejadian hari ini yang setiap langkahnya mampu mengolah setiap emosi dalam diriku. Semuanya menjadi benih ide dalam setiap tulisanku. Menunggu disemai, hingga berbuah hikmah dan pelajaran yang berharga bagi diriku dan sekitarku.
Tentang harapan hari esok yang menjadikanku semangat untuk melangkah. Tentang mimpi-mimpi seorang anak kaki gunung yang saat ini tak lagi muda. Karena tak mampu melukis mimpi, aku hanya berharap pada pena dan tinta untuk menuliskan mimpiku. Dan itu menjadi salah satu “tentang” yang aku tuliskan.
Hari ini dan seterusnya, aku akan setia menulis tentang diriku. Yang diolah dari indera yang dianugrahkan kepadaku.
Aku menulis setiap kejadian yang aku alami, setiap rasa yang aku rasakan, dan setiap emosi yang membuatku hidup.
Karena bagiku, mengomentari diri sendiri dan menuangkannya dalam tulisan, itu lebih bijak dari pada mengomentari orang lain yang mungkin mereka selalu lebih hebat dariku.
Hambatan Itu Bagai Belati Bermata Dua
Dalam dunia kelistrikan, arus yang mengalir pada suatu penghantar itu akan sangat dipengaruhi oleh resistansi atau hambatan. Semakin besar hambatan pada suatu penghantar maka akan mengakibatkan arus semakin kecil. Dan jika arus semakin kecil, maka energi listrik yang disalurkan akan semakin kecil juga. Sehingga agar energi yang sampai ke tujuan sesuai yang diharapkan, maka salah satu caranya yaitu dengan menaikkan arus listrik, agar energi yang sampai ke tujuan sesuai dengan harapan.
Begitu juga dalam dunia kepenulisan. Hambatan itu pasti hadir menghadang setiap penulis untuk berkarya. Seperti belati bermata dua, hambatan itu kadang dapat menghentikan semangat. Namun tak jarang juga menghadirkan semangat kepada setiap penulis untuk menghasilkan karya-karya terbaiknya. Jika kita menyerah, semua berhenti hanya sampai di sana. Dan jika kita mampu mematahkan setiap hambatan yang hadir, maka akhir yang indah akan menghiasi setiap jejak karya kita.
Dalam menulis, tak jarang aku menemui satu atau dua hambatan, bahkan hingga sembilan. Mulai dari yang dirasa ringan hingga yang kadang dirasa sangat berat. Mulai dari waktu yang kesibukan yang membatasi, hingga ide-ide yang kadang sukar untuk hadir meski jari-jari ini ingin sekali menari di atas keyboard. Dan masalah terbesar yang sering aku hadapi dalam menulis hingga saat ini yaitu rasa malas dan rasa jenuh. Malas memang masih menjadi musuh terbesarku saat ini. Terkadang diberikan waktu luang, namun tak pernah terisi oleh setiap kata yang terpikirkan. Diberikan nikmat sehat, namun ternyata malas lebih berkuasa atas raga ini.
Dan hingga saat ini aku masih memegang teguh sebuah prinsip. Yaitu, ”hidup akan terasa biasa-biasa saja, hingga aku melakukan sesuatu yang luar biasa”. Prinsip tersebut selalu menjadi motivasiku untuk menulis dan melawan setiap hambatan yang hadir. Selain itu, berkumpul dengan orang-orang yang memiliki komitmen dan tujuan yang sama, dapat menjadi salah satu caraku untuk menghadapi setiap hambatan yang hadir. Hadir di tengah-tengah mereka yang memiliki tujuan sama, membangkitkan semangat lewat kata. Semuanya terasa nikmat dilalui meski berat dirasakan.
Selain itu menyemangati orang lain merupakan cara untuk mengatasi setiap hambatan tersebut. Karena, bagiku, menyemangati orang lain itu berarti menyemangati diri sendiri.
Dan semoga raga dan jiwa ini mampu menaklukan setiap hambatan dan menggapai setiap jengkal mimpi yang telah kutulis.