#FurRealz 🤣 #NoBonus 💔 #WTH 🐸☕💅 #TheStruggleIsReal 😭 https://www.instagram.com/p/B6OeLWeDcP_DDpZNv0bQ1cEAqYyy3l-8kFL7jA0/?igshid=1xqbmcawa0ib2
seen from Spain
seen from Türkiye
seen from Canada

seen from Singapore

seen from United States
seen from China
seen from Sweden

seen from Switzerland
seen from United States
seen from Italy

seen from Australia
seen from China
seen from United States
seen from Ukraine
seen from Germany
seen from Yemen
seen from Canada
seen from Germany
seen from Canada
seen from United States
#FurRealz 🤣 #NoBonus 💔 #WTH 🐸☕💅 #TheStruggleIsReal 😭 https://www.instagram.com/p/B6OeLWeDcP_DDpZNv0bQ1cEAqYyy3l-8kFL7jA0/?igshid=1xqbmcawa0ib2
"I heard a rumor!! I heard Charles Rice was going to get a million dollar bonus if this power plant goes through. When I say 'Charles Rice', you say 'No Bonus!' 'Charles Rice!'" #NoBonus #NoGasPlant @350NewOrleans @All4Energy https://t.co/VOL1o9qUCy (at City of New Orleans Civil District Court)
Mt. Cikuray Journey : No Bonus, but Full of Joyness
Diawali ajakan seorang teman yang sempat saya tolak dan diakhiri dengan kebahagiaan. Begitulah kesimpulan saya tentang perjalanan yang saya akan ceritakan ini.
Beberapa minggu lalu, Robi mengajak saya untuk naik cikuray. Namun, tanggal yang berbentrokan dengan acara ITB Carrier Day yang sangat penting untuk pengangguran seperti saya, membuat saya menolaknya. Terlebih saya sudah mengagendakan Semeru di bulan Mei, jadi takut boros juga. Akan tetapi, beberapa hari sebelum hari-H pendakian Cikuray, ada sebuah diskusi yang membuat saya jadi ikut. Awalnya saya meminta teman-teman yang masih ‘nubie’ dalam perjalanan ke semeru nanti untuk naik cikuray sebagai pemanasan, eh malah saya ikut-ikutan naik cikuray juga. Siaal J
Jumat, 2 Mei 2014. Itulah pendakian. Start point adalah lab hidro. Saya sempat bingung ngapain bawa tas segede gaban ke lab hidro, agak aneh. Haha. Tapi lumayan lah, biar keliatan ganteng. *apesih.
Berangkat dari lab hidro pukul 4 sore padahal seharusnya jam 3. Biasa Indonesia. Tim yang berangkat dari Bandung adalah saya, Robi dengan Vera, Mas Imam si picture hunter, Mas Bimotottt (Baca: Bimo Otot), dan Alfi budak BMU. Jadi ber 6. Dan nanti di Garut sudah ditunggu Monita a.k.a Teh Ata si Mojang Garut.
Perjalanan dari Bandung, naik Elf dari leuwipanjang menuju terminal Guntur, Garut. Tarif ELF yang dikenakan untuk kami adalah 30 ribu per orang. Katanya gara-gara pake turbo jadi segitu. Apapula. Sampai di Guntur pukul 20.00. Setelah solat dan menikmati bungkusan makanan dari si momon, berangkatlah sampai batas masuk gunung cikuray. Dari Guntur kami naik angkot borongan Dan ternyata angkotnya laknat karena kami ditipu masalah harga. Seharusnya dari Guntur sampai Batas masuk itu harganya 10 ribu, tapi kami dikenakan jauh lebih dari itu. Hal ini membuat kami hampir overbudget. Karena di batas masuk cikuray, kami harus naik satu kendaraan lagi, yaitu kolbak. Tarif kolbak tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh si supir angkot. Kami harus naik kolbak atau berjalan sekitar 12 kilo ke Pos pemancar. Setelah negoisasi alot dengan supir kolbak dan dibantu oleh ranger cikuray, kang ade, akhirnya tidak jadi overbudget dan kami bisa naik kolbak ke pos pemancar. Setelah membayar sebesar 3 ribu untuk setiap orang di pos pencatatan sampailah kami di pos 1 a.k.a pos pemancar.
Persiapan dilakukan di pos pemancar. Doa mengawalinya. Setelah melapor pada pos pemantau, pukul 22.30 dimulailah pendakian cikuray oleh 7 orang dengan 2 nubie. Sambutan dari cikuray begitu mengesankan. Jalan menyusuri kebun teh dengan propertis sudut kemiringan 60 derajat. Itu membuat mas bimo sakit pinggang pada 10 menit pertama. Shock terapi dari cikuray dimulai. Hal ini berulang ditambah dengan mulainya kelelahan mas imam. Belajar dari pengalaman naik Gede-Pangrango (Gepang). Sebagai timer, saya kali ini bertindak ‘kejam’. Tidak ada istirahat lebih dari 5 menit kecuali di pos seperti waktu jadi timer di Gepang. Kalau saya melihat masih bisa jalan, saya paksa tim untuk tetap jalan. Hasilnya setelah pos 3, semua bisa berjalan stabil. Oke balik ke perjalanan dari pos 1, pertukaran tas terjadi untuk mengakali tim tetap berjalan. Pos 1 menuju pos 2 memang sebuah ‘ruang tamu’ besar penuh kejutan. Sudah panjang dan naik terus tanpa bonus. Total perjalanan ke pos 2 memakan waktu 1.5 jam dan masih normal, walaupun diselingi istirahat-istirahat kecil. Istirahat di pos 2 agak lama, sekitar 15 menit.
Selanjutnya perjalanan ke pos 3. Medan agak sedikit berbeda dengan perjalanan dari pos 1 ke pos 2 yang kombinasi kebun teh dan hutan. Perjalanan ke pos 3 seluruhnya jalan hutan penuh akar. Kemiringan kombinasi 50-80 derajat. Dan terus miring tanpa bonus. Kali ini tim, dapat berjalan tanpa henti selama 22 menit dan sampai di pos 3 20 menit selanjutnya, jadi total 40 menit. Setelah istirahat 10 menit, perjalanan dilanjutkan. Perjalanan dari pos 3 ke pos 4 sudah stabil. Tim sudah menemukan ritme. Tapi masalah muncul pada diri saya. Sebenarnya masalah ini telah saya prediksi dari pengalaman naik Gepang, yaitu kram paha. Kalau waktu pendakian Gepang, kram paha diawali dengan kram betis, kali ini langsung ke paha. Walaupun begitu, saya paksakan karena masih bisa dipaksakan. Sampai pos 4 saya pake pereda kram yang lumayan manjur, yakni counterpain cool, inget yang warna biru, yang marun gk ada panas2nya. Hahaha. Oh iya, perjalanan ke pos 4 ini medannya sama dengan pos 2-3. Dan makan waktu sekitar 40 menit.
Sesudah itu, perjalanan dilanjutkan ke pos 5 dengan medan yang sama cenderung makin curam dan waktu tempuh lebih singkat. Hal ini karena seluruh anggota tim telah stabil. Di pos 5 pun hanya istirahat sebentar dan langsung dilanjutkan menuju pos 6. Pukul 2.30 pagi 3 Mei 2014 sampailah tim di pos 6. Di pos ini kami mendirikan tenda sesuai dengan kesepakatan. Summit attack hanya dilakukan dengan daypack. Hampir 1 jam mendirikan tenda yang bentuknya aneh karena asal berdiri saja dan faktor tendanya tidak lengkap 'onderdil'nya. Hahaha. Oh iya, saran saya tenda memang didirikan disini, tanahnya luas dan banyak juga pendaki yang mendirikan tenda disini, jadi lumayan aman lah.
Summit attack *asik gk bahasanya.hahaha... dimulai pada pukul 03.20, dengan modal 1 daypack yang berisi 2 botol air dan perlengkapan lainnya. Perjalanan terasa ringan karena yang bawa daypacknya mas imam, yang sedari pos 3 sudah polll semangatnya. Katanya sih ada yang dorong-dorong biar cepet2 ke puncak :p . Ada-ada aja. Walaupun di tengah perjalanan, mulai capek dan diserahkan ke saya daypacknya. Pos 7 pun dilewati. Kalaupun berhenti, tidak lebih dari 3 menit. Pokoknya asik. Walaupun, kram paha saya kambuh dan harus menyerahkan daypack ke mas bimo.
Dan sampailah kami di puncak cikuray pada ketinggian 2818 M atau 2821 kalau ditambah bangunan di atasnya. Sembah sujud langsung saya haturkan. Tercatat di jam tangan mas bimo pukul 4.30, 3 Mei 2014. Masya Allah indah sekali puncak cikuray ini. Salah satu puncak gunung yang bisa dinikmati berjam-jam. Puncaknya lumayan datar dan cukup luas. Setelah memandang bintang yang bertaburan di langit sejenak, kami pun shalat subuh. Terpilih sebagai imam, saya pun melantunkan surah yang paling tepat untuk hal ini. Ar Rahman, salah satu surah favorit saya.
"Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?"
Begitu dalam menyentil setiap saraf tubuh, menyengat setiap hembus nafas, dan menyeruak dalam hati terdalam.
Menunggu sunrise, lalu melihat gunung2 di sekitar gunung cikuray dan nampak sepertinya ada sebuah letusan di sebelah timur, nampaknya itu Merapi. Sungguh fenomena luaaarrrrrr biasaa.
Setelah HAHA HIHI HAHA HIHI *kalau kata Mas Imam, terus pocan2 a.k.a Poto-poto cantik, jam setengah 7 pagi perjalanan balik ke pos 6 dimulai. Kali ini saya di depan sendirian bawa daypacknya, karena gunung ini punya track favorit saya *turun doang. Saya bisa downhill dengan seru. Tim saya tinggal di belakang. Hahaha. Tapi, saya berhenti sebentar takut terjadi apa2. Setelah saya pastikan aman, lari lagi deh turun. Setelah semua sampai di pos 6, tidurlah semua kami. Walaupun saya tidak bisa tidur, biasa 'penyakit' saya kayak gitu. Jam 9 bangun dan dimulai sarapan dengan indomie campur abon campur sarden. Dilengkapi dengan coklat hangat plus energen menambah serunya pertempuran melawan udara yang sejuk menuju dingin.
Pukul 10.30 semua beres-beres dan jam 11.30 perjalanan turun dimulai setelah doa mengawali langkah kami. Perjalanan turun sangat cepat dan di luar prediksi. Saya paling belakang, jadinya bisa 'wait and run'. Hehe. Perjalanan turun pun dilakukan dengan ceria. Mungkin istirahat2 kecil melengkapinya ditambah canda tawa. Untuk perjalanan pulang, saya telah menyiapkan 2 botol aqua yang saya bawa dari awal. Hal ini adalah hasil dari pembelajaran naik Gepang dimana ketika itu kehabisan air ketika turun. Saya bertekad botol air di tas lain boleh habis, botol air di tas saya hanya untuk turun. Dan hasilnya sangat bermanfaat. Selain bisa membagi ke dua pendaki yang nampaknya baru pertama mendaki, botol air masih tersisa setengah ketika sampai di bawah.
Perjalanan turun ini pun diwarnai hal-hal menarik. Dari lomba lari turun gunung oleh bocah-bocah seperti alfi, robi, dan bimo yang mengakibatkan trauma pada bimo. Hahaha. Sampai saya yang jatuh dengan kerennya langsung berdiri. Padahal jatuhnya langsung kepala, tapi gak ada akibat apapun. Alhamdulillah banget lah itu. Keren banget turunnya. lewat kebun teh yang oke banget dan poto-poto cantik. Haha. Pukul 2 kurang tim udah sampai pos pemancar alias titik awal daki. Yeaaahhhhh. Alhamdulillah.
Abis beli badge, 'nyetor', dan nunggu angkot berangkat. Destinasi selanjutnya adalah rumah si mojang garut Teh Ata a.k.a Momoon. Naik kolbak dengan tarif 40 ribu langsung rumah momon. Yeah. Setelah solat terus makan *terimakasiiih keluarga momon yang sudah dengan senang hati menerima tim super rempong ini..haha.. Oh iya rumah momon semacam komplek keluarga. Haha.. Setelah magrib, kami pamit pulang dan momon tinggal di rumah dan saya gagal membujuk ibunya momon mengijinkan momon menemani saya eh kami ke puncak pelaminan eh mahameru maksudnya. Hahaha . *candakeleus.
Pulang ke bandung, naik elf jurusan caheum. Sebutan untuk Elf ini adalah Elf maut. Pertama elf ini asal naikin penumpang. Padahal isi elf udah penuh, masih aja naikin kami. Liciknya tas kami sudah di taruh di atas elf sehingga mau tak mau harus naik elf ini. Terpaksa kami berdiri sejenak sampai ada penumpang yang turun. Dan beberapa penumpang turun, teman2 saya duduk dengan tempat duduk seadanya dan saya harus bertanggungjawab dengan ngeregol (sunda) atau nyengser (betawi) atau berdiri bergelantungan di depan pintu (Indonesia). Padahal waktu di rumah momon, saya berharap ada elf AC dengan reclining seat yang okeh. Tapi apa mau dikata yang didapat, sebuah pegangan dan AC alam. Dan MAUTnya elf ini adalah emosi supir yang uncontrol banget. Udah bawanya ngebut dan beberapa kali mau nabrak. Saya berpikir dalam hati, " ini mah lebih mempertaruhkan nyawa pas naik elf daripada naik gunungnya" hufttt. Dan buat momon, keren banget bisa naik motor PP garut-bandung sendirian dengan medan kacau kayak gini. Salutee. Untung setelah seperempat perjalanan saya dapet duduk di sebelah alfi. Walaupun cuman seperempat *maaf* pantat saya saja yang duduk. Setelah setengah perjalanan, saya duduk di bawah kaki alfi dan setelah 3/4 perjalanan saya dapat duduk di kursi. Dan akhirnya pukul 9 kurang 10 menit di malam hari sampai di terminal caheum.
Oke, ada beberapa catatan penting dalam pendakian kali ini.
Pengalaman itu sangat sangat berarti. Pengalaman naik Gepang sungguh gue jadiin pembelajaran (dan gue sampe sekarang masih bingung kenapa pas turun dari Gepang tuh lama banget)
Jangan pernah sombong. Ini selalu gue sampein ke tim.
Tim cikuray ini, salah satu tim terbaik gue. Mereka super semangat dan itu adalah modal kuat setiap pendaki. Padahal gunung ini tidak ramah banget buat nubie karena tanpa bonus. Oh iya, ekpektasi gue bakal nyampe puncak jam 8 pagi tidak terbukti dan gue senang. Hahaha
Ini pertama kalinya gue liat bintang jatuh. Kirain gue, bintang jatuh tuh cuman di pelem2 dan boongan.. Hahaha
Awas tertipu. Sampai sekarang gue masih kecewa ama masyarakat Indonesia, masih aja nyari kesempatan di kesulitan orang lain. Walaupun, gue yakin masih banyak orang baiknya semacam kang ade.
Perjalanan Cikuray benar-benar banyak berkahnya. Udah gak ujan, dapet sunrise, dan nemu uang 100 ribu. Allah mengganti semuanya dengan kebahagiaan. Segala Puji Bagi-NYA lah.
Cek perlengkapan. Terutama untuk alat-alat yang vital. Kayak tenda, batere, dll.
Ingat siapin minimal 2 botol minum untuk turun.
Jangan lupa foto-foto cantik ganteng makanya bawa kamera.. Hahaha
Jangan lupa bawa counterpain warna biru.. ahahaha
Dan untuk "album" gue sudah ritual di dua puncak. Gamalama dan Cikuray. Dan ini adalah puncak ke 4 gue.
Oh iya, terakhir, jangan suka kode-kodean di gunung semacam monita sari. Bahaya. Hahaha
Oke segitu aja catpernya.
Mt Cikuray : No Bonus, but Full of Joyness *full of jones juga sih..hahaha
No bonus for me...rawr