Musuh dalam Selimut
Ada beberapa potongan ayat dalam Al-Quran, yang tiap mendengarnya aku menjadi takut.
Mama selalu bilang. Manusia itu diuji dengan ujian yang bermacam-macam. Ntah dari segi ekonomi, kesehatan, keluarga, bahkan hidup bertetangga pun bisa menjadi ujian.
Tapi membayangkan ujian itu datang dari keluarga sendiri, sangat menakutkan. Membayangkan luka itu malah ditorehkan dari orang yang di dalam pembuluh darahnya mengalir darah yang sama denganmu sungguh menyakitkan.
Apalagi kalau baca Qs. Abasa:33-37, selalu ngga kuat. Di hari akhir nanti, kita akan melarikan diri dari satu sama lain, tidak mampu mempertanggungjawabkan apa yang kita perbuat di dunia, kita tidak mampu memberi syafaat untuk satu sama lain, dan memutuskan kabur agar tak saling dituntut.
Bayangkan Ibu yang mengandung 9 bulan tertatih-tatih dan mesti bertarung nyawa untuk lahirnya buah hati, ayah yang berkerja keras tak kenal lelah dan bahaya demi mengkondisikan kehidupan yang optimal untuk anaknya, tapi di hari akhir nanti mereka malah harus melarikan diri dari semua perjuangan dan susah payahnya..
Dan bagi orangtuaku, menjaga anak-anaknya adalah amanah terberat yang mereka punya.
Malam tadi, ntah untuk kesekian kali, sebelum sholat isya, mama bilang begini, "Mama bersyukur sama Allah, dikaruniakan anak-anak yang in syaa allah baik. Naudzubillahi min dzalik, semoga Allah selalu jaga kalian dari perbuatan yang tercela." Beliau mencium dahiku, "Terimakasih ya nak, sudah dewasa menjaga diri."
Selepas sholat, mama gantian mencium dahi adikku, anak perempuan terkecilnya.
"Adek jaga diri, banyak orang-orang yang bisa kita lihat dan ambil pelajaran hidupnya. Jauh-jauh dari perbuatan zina, ngga usah pacar-pacaran. Hancur-sehancurnya Nak, orangtua dan diri kalian sendiri."
Terenyuh.
Walau sempat terselip banyolan "Hah, kan kakak jugoo, Maaa."
"Kakak udah dewasa, in syaa allah. adek nah harus kakak awasin terus 24/7." Jawabku dan mama kompak.
Akhirnya, selepas sholat mama ke ruang tamu, orangtuaku diminta menjadi mediator kedua keluarga yang berseteru karena perbuatan haram anak-anak mereka. Papa belum kunjung pulang, mengantarkan keluarga si perempuan pulang ke rumah, belum lagi anak perempuan tsb pingsan di perjalanan dengan kondisi kehamilan yang masih lemah.
Aku mendekati adikku, kutanyakan "ado yang dekat-dekatin adek dak?"
"Ado lah kak!".
"Terus?"
"Kan kalo suka-suka wajar, kata ustadzah, punya perasaan tu wajar, yang dak boleh pacaran."
"Yoo betul, kalo adek dak punya perasaan suka sama cowok, kakak malah takut."
"Kakak jg pasti ado kan suko sama orang?"
"Yo iyo.."
Terus kami ketawa sama-sama. Kuingatkan dirinya dan diriku tentang kejamnya kehidupan yang akan kami jalani. Tentang jahatnya tingkah laku laki-laki tak soleh dan jalan fikirnya yang tak bisa kami fahami.
Dear Adek kakak yang shalihah...
Mungkin kakak, ndak pandai menyampaikan dengan baik isi hati kakak ke adek.
Bagaimana takutnya kakak menjadi perempuan yang memiliki adek perempuan.
Bagaimana takutnya kakak menyandang label 'dewasa' dan melangkah maju menjadi seorang wanita dengan ratusan kekhawatiran mengenai laki-laki, pernikahan, keluarga.
Tentu adek bisa lihat, kakak bukan sosok kakak yang sempurna, bukan sosok adik yang sempurna, bukan sosok anak yang sempurna.
Kakak punya banyak kekurangan di sana-sini. Kakak udah membuat jutaan kesalahan dalam hidup kakak.
Kakak udah pernah melewatin masa jadi anak SD yang lasak, anak SMP yang alay, anak SMA yang pembangkang. Sampai detik ini pun kakak selalu berproses untuk menjadi versi terbaik dari diri kakak.
Hingga kakak ngga mau adek kakak harus melewatin proses itu semua, kakak ngga mau adek melewati proses luka yang sama, trauma yang sama.
Kakak tahu beratnya menjadi anak perempuan yang harus menjaga dirinya, terlebih saat jauh dari orangtua. Kakak tahu betapa seramnya pergaulan saat ini, betapa banyaknya hal-hal yang harusnya tabu dan ngga mungkin bisa bergesekan sama prinsip hidup yang orangtua kita tanamkan sejak kecil malah menjadi hal yang orang lain bangga-banggakan.
Pun kakak faham, sulitnya menyesuaikan diri dengan pemikiran-pemikiran orangtua kita yang mungkin tak sepadan dengan kehidupan yang sedang kita jalani.
Maka kakak siap selalu memback-up pundak adek. Adek akan selalu menemukan kakak ketika adek menoleh ke belakang.
Kakak siap mendengar keluh kesah adek tentang teman-teman yang mulai tak sejalan, kakak akan siap meluruskan adek ketika adek salah memilih jalan. Kakak siap mendengarkan semua cerita patah hati adek, tentang bagaimana sulitnya menjaga dan mengontrol perasaan.
Kakak faham, karena kakak pun melaluinya.
Sampai kapanpun adek akan selalu punya kakak. Kakak yang cerewet, menyebalkan, suka menganggu ketenangan adek.
Sampai kita sama-sama tua dan jadi nenek-nenek pun adek akan melihat kakak sebagai kakak yang mungkin hobi marah-marah, suka suruh-suruh, suka ngejekin. Bukan karena kakak benci adek, tapi karena kakak sayaaang sekaliii dan kakak ngga mau ada jarak diantara kita.
Ntah bagaimana caranya, jika suatu hari nanti adek iseng nge-stalk kakak dan membaca semua keluh kesah kakak yang tertuang dalam tiap tulisan ini, pura-pura ngga baca ajalah ya, resapin baik-baik dalam hati, ambil pelajaran yang bisa diambil, ngga usah diungkit-ungkit dan dibahas, soalnya kakak malu. Wkwkwk.
.
It doesn't matter if you live far away from me
You feel I feel, you bleed I bleed, you cry and I cry.
We sleep and dream
Sometimes we're sad sometimes we're happy
You breathe I breathe
We love, walk, talk and we smile
I care about you and I wish you could realize
There's no difference between us two
We're part of one family
No matter how far you are
And even if we don't know each other
Oh, you and me, me and you, we are one















