Kartu Pos dan Keintimannya
Aku meniup-niup lapisan debu di atas tumpukan kertas usang menguning yang kutemukan di dalam lemari bawah ranjang ibuku. Kucoba menepuk-nepuknya juga agar aku bisa melihat gambar ataupun tulisan yang tertulis pada kertas tersebut.
Ternyata itu adalah tumpukan kartu pos milik ibuku. Semua nama penerimanya tertuju untuk ibu. Di sana juga tercantum berbagai salam singkat maupun pertanyaan-pertanyaan ringan seperti "Apa kabar? Semoga kamu baik-baik saja.". Entah mengapa pertanyaan singkat ini terasa begitu menyentuh.
Sungguh aneh. Pertanyaan sederhana menjadi begitu penuh makna jika disampaikan melalui kartu pos, berbeda jika menggunakan peralatan modern seperti ponsel ataupun komputer. Mungkin karena setiap goresan pena juga ikut memberikan rasa keingin-tahuannya dan juga mengambil andil dalam setiap doanya.
Aku pun mulai membaca beberapa kartu pos lainnya. Lama kelamaan aku mulai membayangkan jaman dahulu di mana komunikasi jarak jauh begitu sulit untuk dilakukan. Orang-orang saling berkirim surat atau kartu pos untuk menanyakan kabar, bertukar doa, maupun mengucapkan selamat. Semua terlihat begitu rumit sehingga pastilah kedua orang yang melakukannya memiliki hubungan yang erat.
Ah, jadi ingin coba sendiri bagaimana rasanya berkirim kartu pos dengan orang-orang terkasih