Puluhan tamu berdiri di depan istananya, hitam hitam menanti terang benderang jawaban atas teguh, tanya dan duka bagi yang dicinta.
Ratusan kamis sang tamu menanti tuntasnya dahaga atas penantian dan pertanyaan. Yang ditunggu sembuhnya cedera kemanusiaan dan kembali berlaga sang kebenaran.
Namun di mana sang penghuni istana? Tak tampak batang hidungnya, tak di sambut ketukan tamu pada gerbang nurani untuk kuasa dan kebijakannya.
Apakah sang tamu terlalu hitam 'tuk putih dan sucinya istana? Apa mungkin cinta mereka akan kemanusiaan yang terlalu besar, hingga tak cukup ruang ‘tuk dapat menelusup ke ruang tamu nan megah?
Bagimu sang tamu, yang hitam hitam sebagai tanda teguhnya cinta. Teruslah merawat ingatan, semoga sabar dan kuat kelak kan berbuah.
Untukmu sang penghuni istana, coba tengoklah kenyataan di luar. Mungkin tamu-mu sedang butuh seteguk air keadilan. Karena ada enam puluh lima kekeringan, sembilan puluh delapan kehausan, pun tujuh tanaman lain yang meranggas di halaman.