Entah mengapa menjalani hidup dengan biasa-biasa saja menjadi rutinitas yang menjenuhkan. Terkadang diri ini butuh melakukan hal-hal baru untuk menemukan apa yang selama tidak pernah terpikirkan. Pengulangan demi pengulangan terjadi tanpa adanya jeda. Bahkan jeda pun terasa sama saja. Tak berarti apa-apa selain menambah penat atas kerasnya kehidupan nyata. Entah harus bagaimana mungkin inilah yang disebut "putus asa".
Ketika putus asa menyandera pemikiran-pemikirian yang seharusnya melangkah maju membuat diri ini justru terkubur kecemasan, kekhawatiran dan keenganan. Putus asa membuat kita berjalan ditempat. Tak berarti dan menyesali banyak hal adalah perasaan yang akhirnya terbentuk. Kepercayaan diri sirna ketika putus asa terbangun.
Tak ayal putus asa menyebabkan diri menjadi sulit terkontrol. Akhirnya, marah pada pada keadaan pun tak terelakkan. Amarah tak harus diluapkan tapi tak baik juga dipendam. Eloknya dibicarakan dengan nada sopan.
Keputusasaan memang dapat membuat diri ini melupa siapa "aku" sebenarnya. Ia menciptakan halusinasi yang mengalihkan kita pada dunia yang terus berputar. Berpikir positiflah maka putus asa dapat terkendalikan. Bangun kepercayaan terhadap Tuhan. Mantapkan langkah dengan permohonan, lakukan semaksimal mungkin.
Niscaya hal-hal baik akan terjadi ketimbang berputus asa, wahai diri ini.
Menjadi bagian tak terpisahkan sebagai cerminan diri sendiri.