Praktikum Klinik ala Mahasiswa Bau Kencur
Menjadi mahasiswa tingkat akhir ternyata membosankan ya karena kegiatannya itu-itu aja. Semester 7 lalu hanya praktikum klinik yang dilakukan di luar kampus. Semester dimana belajar berhadapan dengan dunia nyata. Tapi praktikum klinik ini sangat menyenangkan karena tempatnya berpindah-pindah. Mulai dari stase komunitas yang bertempat di sekolah master (isinya anak jalanan), di MI kelas 3, di keluarga, lalu di sebuah tempat untuk sewa tenda. Praktikum di stase komunitas ini menguji kemampuanku untuk bekerja sama, tidak egois, kooperatif, serta mengujiku untuk bisa lebih bisa berbicara di tempat umum karena kami harus bisa mengedukasi banyak orang. Di stase ini, kami setiap hari kerja lebur bagai quda hehe karena siangnya melakukan pengkajian, malamnya sudah harus tau diagnosisnya apa, dan besok mau melakukan intervensi apa. Kami juga dituntut untuk bisa berpikir cepat dan kreatif untuk melakukan intervensi. Seperti misalnya saat kami berpraktik di sekolah master ke siswa kelas 2 SMP kami ingin mengedukasi mereka tentang seksualitas agar mereka tidak terjerumus ke hal-hal yang seperti itu. Menurut kami, edukasi yang paling tepat adalah melalui drama. Jadilah kami membuat skenario drama dadakan untuk mengajarkan mereka. Itu keren parah sih !
Oke lanjut ke ke stase yang kedua, yaitu stase medikal bedah dan maternitas. Praktik klinik stase ini dilakukan di rumah sakit. Tetapi sebelumnya kami harus mencari ibu hamil yang usia kandungannya lebih dari 32 bulan terlebih dahulu untuk kami lakukan pemeriksaan antenatal. Satu kelompok harus ada 1 bumil. Ternyata, mencari bumil itu susah gais, ke puskesmas pun belum tentu ada yang mau :”. Tapi beruntungnya aku punya kenalan kating yang ternyata temannya lagi hamil dan bekerjanya di klinik makara UI dimana kami akan melakukan pemeriksaan disitu. RencanaNya memang indah ya, di saat kami kocar kacir mencari bumil ternyata Dia mudahkan dengan aku bertanya kepada katingku ini.
Pemeriksaan bumil tidak berlangsung lama, hanya 1 jam. Pengalaman ini merupakan pengalaman pertamaku memeriksa ibu hami. Mulai dari melihat perubahan rambut bumil yang berminyak dan rontok, mendengar suara denyut jantung janin, sampai meraba posisi kepala janin ada dimana.
Kemudian, hari-hari berikutnya selama 3 minggu kami berpraktik di sebuah RS yang terletak di Jakarta Timur. Setiap hari harus bangun pagi dan pepes naik kereta dan berdesak-desakan dengan ribuan orang yang bersemangat untuk mencari nafkah. Masih beruntung, hanya 3 minggu mengalami penderitaan ini hehe.
Minggu pertama di RS aku berada di ruang rawat nifas dimana banyak sekali ibu yang habis melahirkan. Di ruang itu juga banyak bayi-bayi lucu nan gemas. Hari pertama, targetku dan kelompok adalah mencari pasien kelolaan.Setelah mencari yang cocok, ternyata pasien kelolaanku ini umurnya sama kaya aku, 20 tahun. Ya ampun, w aja masih kek gini, dia udah nikah aja wkkw. Oke lanjut. Dia ini lahiran SC (section caesaria) karena ketuban pecah dini. Di hari pertama kami kaji, dianya masih belum kerasa nyeri karena mungkin efek biusnya masih ada. AIr susunya juga belum keluar. Dia masih terlihat sangat lemas tapi terlihat semburat bahagia di wajahnya ketika melihat bayinya. Kemudian, di hari kedua kami kaji, dia merasakan nyeri yang amat sangat apalagi kalau bergerak. Air susunya juga belum keluar. Kami bertanya apakah dikasih obat untuk mengobati nyeri ? Dia jawab dikasih. Oke aman. Kemudian kami ajarkan dia teknik relaksasi napas dalam untuk mengurangi nyerinya. Kami juga lakukan breast care agar air susunya cepat keluar. Sebagai ibu muda yang baru pertama kali lahiran, dia excited banget pengin tau banyak tentang perawatan bayi. Disitulah kami juga merasa senang karena kami berhasil membangun trust dengan pasien juga senang karena akan berbagi ilmu hehe. Dia bertanya bagaimana cara memandikan bayi, cara merawat tali pusat bayi, cara agar air susunya lancar, dan lain sebagainya. Akhirnya, Kami jelaskan sebisa kami. Beruntung juga ya jadi mahasiswa keperawatan, belajar jadi ibu juga karena dapet ilmunya hehehe. Ya, setiap mom memang excited ya untuk bisa merawat bayinya dengan baik.
Kami juga merawat pasien-pasien lain yang ada di ruang rawat. Paling senang adalah ketika belajar nyopot selang kateter dan nyopot selang infus karena belum pernah nyoba hehe walaupun ya rada deg-degan gitu. Eh yang nyopot selang kateter hanya observasi aja deng. Tapi kalau selang infus nyoba sendiri. Namun ada satu hal yang membaut deg-degan karena ada salah satu pasien yang punya HIV positif jadi harus ekstra hari-hari menyopot selang infusnya agar darahnya tidak mengenai tubuh kita.
Selain itu, aku juga senang ketika pagi-pagi mandiin bayi walaupun dari kosan harus berangkat ekstra pagi, jam 5 wkwk. Ini juga pengalaman pertama memandikan bayi dan ternyata membuat deg-degan juga karena bayinya licin dan terlalu imut. Aku bahkan ga berani buat membalik badan bayinya karena licin wkwk. Yha, di ruangan ini aku belajar bahwa menjadi ibu itu perjuangannya luar biasa. Mulai dari mengandung 9 bulan, sakitnya melahirkan, lalu belajar lagi mengurus dan mendidik anak-anak agar anak-anaknya kelak menjadi manusia yang berkualitas. Seketika itu, yang kuingat adalah ibuku yang ada di rumah.
Minggu kedua kami berada di ruang rawat pasien yang telah dioperasi. Di ruangan ini lebih gabut karena pasiennya dikit dan yang mahasiswa yang praktik banyak wkwk. Tapi aku belajar banyak juga di sini terutama sama kakak perawatnya yang super kritis. Kakaknya bertanya “Apa bedanya infus makro sama mikro kenapa pake makro kenapa pake mikro”, terus ditanya lagi, cara mengganti balutan luka. Yha disitu saya merasa bodoh wkwk karena belum baca lagi :”” Di sini aku juga pertama kalinya melihat ganti balutan orang yang luka diabetikum di kakinya. Kakak perawatna berani banget buat ngebersihin kakinya yang sudah banyak lukanya dan baunya juga lumayan. Harus sering-sering liat luka kayagitu akunya biar ga kaget kalau ngeliat begituan lagi.
Minggu ketiga ini minggu yang paling menegangkan karena kami ditempatkan di ruang rawat TB hehe. Tapi disini aku lebih banyak belajar lagi. Mulai dari belajar bersikap sama ke pasien, walaupun dia TB tapi kan dia tetep pasien kita. Aku juga belajar untuk berempati kepada mereka. Di sini pula aku pertama kali nginfus ke orang secara langsung tapi gagal :” mungkin efek grogi karena baru pertama kali. Aku juga belajar buat memberi makan lewat NGT (selang makan lewat hidung), belajar inhalasi dsb. Nah disini ada beberapa mahasiswa keperawatan lain yang sedang praktik dan ketika melakukan tindakan beda-beda. Ada yang ketika memberi makan NGT ga di cek residunya dulu, ada yang ketika menghinhalasi pasien obat yang ada di tempatnya ga dibuang dulu, ada yang disuruh menghitung balance cairan tapi cuma nembak :”” (ga diitung bener-bener keluaran urinnya berapa liter dsb). Sedih sih, padahal masih belajar harusnya kan harus sesuai dengan teori tapi kenapa malah mengikuti yang ada di RS padahal ga semua RS prosedurnya benar.
Selesai praktik 3 minggu di RS, aku tepar wkwk cape juga euy. Tapi lumayan lah belajar buat adaptasi dengan suasana di RS.
Stase ketiga adalah stase anak. Akan dipost di postingan selanjutnya ya karena ini udah panjang banget ternyata hehe.