seen from United States

seen from Chile

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Australia
seen from China

seen from Poland
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from South Korea

seen from Malaysia
seen from China

seen from Malaysia
seen from Canada
seen from South Korea
seen from Italy
seen from Malaysia
seen from Russia
seen from United States
Seoul, 20 Maret 2016
Baek Eun Jo mengepalkan jemarinya erat-erat; satu upaya terbaiknya dalam menekan habis emosi yang sesungguhnya ia harap dapat keluarkan. Pendingin udara yang bekerja baik seperti biasa, setelan kaus hitam berlengan panjang dengan jin dan kets putih yang membuatnya tampak necis seperti biasa, ide baru untuk melengkapi koreografi yang muncul tiba-tiba seperti biasa pun tak serta merta membuat amarahnya mereda barang seujung kuku. Kelas terakhir usai sudah lebih dari tiga jam yang lalu, satu dari kelas lain yang menurutnya tidak lebih berguna daripada tidur-tiduran di studio menunggu kebahagiaannya tiba. Tarikan napas ditahannya lama, cukup sampai pemuda populer itu terpaksa mengembuskannya perlahan agar tidak terdengar seperti dengusan kasar. Proses itu diulangnya kembali, beberapa kali, terus sampai dirinya merasa stabil dalam arti melupakan sejenak bahwa memang ada satu hal buruk yang tengah terjadi.
Seperti biasa, Eun Jo, lewati hal ini seperti biasa—batinnya mengingatkan.
“Sayaka?” panggilnya dengan intonasi tinggi, berlagak mencari.
Desas-desus terdengar spontan nyaris sedetik setelahnya mengeluarkan suara, satu dari tipikal keramaian yang paling dibencinya di dunia. Pemuda itu mendengus, ingat betapa sudah cukup merepotkan untuknya terus memasang senyum palsu sepanjang hari selama berada di Seoul Arts. Setahun lagi, dan dia akan benar-benar terbebas dari semua omong kosong ini. Derap langkah menyusul, terdengar menjauh bersama bisikan-bisikan cemas yang turut mengabur. Satu, dua, tujuh orang— Eun Jo menghela napas, tidak habis pikir bagaimana hal bodoh ini terus menerus terjadi. Satu hal bodoh yang dengan bodohnya ia tidak bisa singkirkan begitu saja. Mengambil sedikit waktu untuk mendinginkan kepala sejenak, pemuda itu lalu melangkah menuruni tangga dan berhenti tepat di hadapan seseorang yang berdiri mematung. Sial, perasaannya kembali berkecamuk sekarang.
“Jo-ah,” ia memanggilnya nyaris dalam bisikan.
Dalam saat-saat seperti ini, Eun Jo berharap mengutuk sekeras-kerasnya adalah hal yang paling benar untuk dilakukan di atas pelampiasan-pelampiasan kotor lain. Asal tahu saja, pemuda itu tidak pernah dan tidak akan menjadi sebaik yang publik kira, lebih-lebih sesabar yang mereka sangka. Mereka memandangnya dengan kekaguman luar biasa, tidak tahu saja sumpahlah yang selalu dia umpatkan dalam hati. Jika tidak ada tatapan yang mengisyaratkannya untuk tetap bungkam, Eun Jo barangkali sudah menendang apa pun yang berada di dekatnya dan menghakimi mereka satu per satu tanpa ampun detik itu juga. Dengan pemikiran seperti itu saja tatapan Sayaka untuknya masih lekat, tidak goyah barang sedikit pun. Dia tidak tahu lagi, kecuali keyakinan bahwa gadis itu sesungguhnya masih terguncang. Meneguk berat, Eun Jo membawa dirinya mendekat, cukup dekat untuk merengkuhnya dalam pelukan erat yang ia harap tidak menyakiti.
Begini sudah cukup—batinnya mengingatkan, lagi dan lagi.
Ya, begini sudah cukup.
Seoul, 13 Januari 2014
Aku baru mendengar beritanya, setelah lama dialamatkan kepadaku namun tak jua sampai. Bukan salahku, tentu, karena kejujuran itu seharusnya telah datang jauh sebelum aku memahami kondisi yang tengah terjadi. Selama ini aku tak sadar aku kerap menunggu, tetapi nyatanya ketidaksukaan itu gagal melampaui waktu.
Aku mencari, tetapi sakitnya tak jua berhenti, jadi kutahan diri untuk tidak menarik kembali dirinya, segala tentangnya, yang kulepas perih. Aku jadi lebih sering berdiam diri, letih, dan memantapkan hati untuk tidak kembali.
Makanya aku masih di sini, hari demi hari. Kutanyakan perihal yang sama lagi dan lagi— apa, mengapa? Aku tidak peduli, aku tidak mencampuri, aku tidak pula mengingkari. Aku yang dibatasi, apa aku egois? Yah, memang kedengaran begitu, pantas saja aku tak berani kembali.
Aku tidak peduli, toh tetap perih.
Hanya kini aku sadar aku telah begitu lama merindukan embus angin yang membawa pergi kesedihan, kepulan yang menghangatkan, dirinya yang kusebut kebahagiaan.