ajarkan aku menyembah yang salah, dengan hati yang tetap tulus.
di atas altar kasihnya aku diletakkan, berlutut di depanku, disembahnya aku oleh bibirnya. namun mataku, tak pernah setia pada terang. mungkin aku memang diciptakan untuk terbakar, untuk mengira hangat itu berharga.
cermin di kamar bertepuk tangan setiap malam; aku menunduk, lalu kembali menatap bajingan egois itu, yang menyamar sebagai orang yang belajar mencintai. berapa banyak lagi bagian diriku yang harus hilang, demi tetap dicintai?

















