Ini bahagiaku, Mana bahagiamu?
Pernah mendengar kalimat seperti ini “Bahagia tidak boleh ditentukan oleh orang lain”, pastinya pernah beberapa kali kita mendengar kalimat tersebut. Kalimat yang memang sangat memotivasi kita untuk terus bisa bahagia.
Tetapi apa benar kebahagiaan kita bergantung terhadap orang lain?
Pernahkah kita merasakan saat melihat orang lain mendapatkan suatu kebahagiaan dan kemudian kita pun ikut berbahagia? Jika pernah merasakan seperti itu, selamat anda adalah orang yang berbahagia.
Walaupun kadang juga ada orang yang justru sengsara melihat orang lain mendapatkan kebahagiaan, dan bisa jadi karena orang itu memiliki penyakit hati yang bernama iri dan dengki,
dan yang paling berbahaya adalah di saat kita berbahagia di saat orang lain sedang mengalami kesengsaraan dan kesedihan.
Bila memang ada yang mengalami seperti itu kemungkinan orang tersebut memiliki penyakit hati yang sangat parah, dan kemungkinan ada yang bermasalah dengan apa yang ada di dalam hatinya,
Pertanyaannya apakah kita seperti itu? Hanya kita dan Allah yang mengetahuinya.
Tetapi apa yang sering terjadi saat ini, apakah faktor kebahagiaan kita masih ditentukan oleh sikap orang lain?, seperti ketika sikap dan respon orang lain terhadap kita di dalam kehidupan sehari-hari ini,
tidak jarang sikap orang lain yang ternyata tidak seperti yang kita harapkan dan akhirnya membuat hati kita menjadi tidak bahagia.
Di saat kita mengharapkan sesuatu yang lebih tetapi ternyata dia mengecewakan hati kita walaupun itu hanya menurut kita sendiri,
yang kemudian membuat kita menjadi tidak bahagia, atau di saat karya kita tidak dihargai oleh orang lain akhirnya membuat kita tidak bahagia dan tidak jarang membuat kita berhenti berkarya, ditambah lagi lingkungan yang belum tentu seperti yang diharapkan.
Tidak jarang di saat situasi tersebut, kita malah mencoba mengkhayalkan sesuatu, seperti ini “andai saja bisa kembali ke masa kecil, masa kecil itu sangat membahagikan”,
tetapi pertanyaannya apakah semua orang memiliki masa kecil yang bahagia?
apakah semua orang memiliki masa kecil yang sama seperti kita?
Masa kecil yang dimana digunakan hanya untuk bermain dan bersenang-senang seolah tidak memiliki beban selayaknya anak-anak kecil pada umumnya?
Tetapi kenyataan yang terjadi di antara kita, tidak semua anak seberuntung kita di saat masa kecil, atau justru memang kita sendiri merasakan situasi yang tidak seberuntung tersebut.
Situasi dimana ada yang dari kecil sudah bekerja keras sehingga tidak ada kesempatan untuk bermain,
ada yang dari kecil sudah menjadi tulang punggung keluarga karena orang tuanya sudah tidak mampu menafkahi kebutuhan sehari-hari atau orang tuanya sudah meninggal,
Dan ada juga yang dari kecil sudah masuk dan tinggal di panti asuhan karena sudah tidak memiliki kedua orang tua,
atau bahkan mungkin ada yang dari kecil sudah menjadi korban kekerasan dari orang-orang sekitarnya.
Mungkin memang bahagia kita memang tidak seharusnya dipengaruhi oleh orang lain, akan tetapi mau tidak mau atau tanpa kita sadari kebahagiaan itu sangat terpengaruh oleh hadirnya orang-orang di si sekitar kita, khususnya orang-orang terdekat ataupun orang-orang yang ada di lingkungan tempat tinggal kita.
Di saat keluarga, orangtua, saudara, dan teman-teman dekat kita sedang merasa kesusahan, kesedihan atau kesengsaraan saat kita mengetahui hal tersebut apakah yang kita rasakan?, Apakah kita masih bisa merasakan bahagia?
Tentu bila kita memiliki empati saja dan perasaan di hati, pasti kita akan menjawab, kita tidak akan merasa bahagia, bahkan kita akan merasa ikut bersedih dan kemudian berusaha ingin mencoba untuk membantu meringankan beban mereka.
Dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah bersabda: "Barang siapa yang membantu seorang Muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia, maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada Hari Kiamat. Dan barang siapa yang meringankan (beban) seorang Muslim yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat" [HSR Muslim (no. 2699).
Hadits ini sangat populer dan sangat sering kali kita dengar dari para penceramah dalam mencapaikan ceramahnya.
Setelah kita mendengar dan tahu tentang hadits tersebut, pertanyaannya untuk kita yang sebagai seorang muslim, bagaimanakah sikap kita?
Dan apakah kita akan dan sudah mengamalkan hadits tersebut atau malah kita mengabaikan hadits tersebut?
Seandainya bila kita bisa mengamalkan hadits tersebut, kita mungkin bisa disebut orang yang paling berbahagia, mengapa kita dikatakan sebagai orang yang sangat bahagia?
Karena di saat ada seseorang yang sangat memerlukan bantuan, kemudian ada yang membantunya, apa yang dirasakan oleh orang-orang yang memerlukan bantuan tersebut?
Pastinya orang tersebut sangat berbahagia, dan yang pasti orang yang memberikan bantuan tersebut adalah menjadi orang yang lebih dari bahagia, karena bisa membantu meringankan beban orang yang membutuhkan.
Ini bahagiaku, mana bahagiamu?
Andaikan kita bisa memaknai bahagia seperti yang dijelaskan sebelumnya, yaitu dengan merasa bahagia disaat melihat orang lain sedang berbahagia, kemungkinan setiap orang akan sama-sama merasakan kebahagian menurut versinya masing-masing,
tidak akan ada rasa cemburu melihat kebahagian yang telah didapatkan oleh orang lain, karena kita yakin kita juga memiliki kebahagiaan tersebut walaupun dalam versi kita sendiri.
Bahagia itu sederhana, Kata-kata ini pun sangat populer di masyarakat kita, akan tetapi apakah dengan sesederhana itu untuk menjadi bahagia?
Dan apakah bahagia adalah rasa atau hal yang sederhana? Bila ditanya seperti boleh jadi rasa bahagia itu bukan sesuatu yang sangat sederhana, tetapi bahagia itu adalah merupakan sesuatu hal yang sangat luar biasa,
bila diibaratkan barang, rasa bahagia itu adalah barang yang sangat mewah, siapapun yang bisa mendapatkan bahagia tersebut, dia adalah orang yang sangat beruntung dalam hidupnya.
Memang bahagia tidak harus selalu dengan sesuatu barang ataupun hal-hal yang mewah, bahkan hal-hal yang sederhana pun bisa membuat menghasilkan rasa kebahagiaan,
jadi bagaimana kita dalam menyikapi rasa bahagia tersebut, apakah dengan rasa syukur atau dengan kuffur dalam menyikapi nikmat yang ada.
Ada beberapa kejadian di dalam kehidupan ini dalam menyikapi arti bahagia tersebut, seperti ada seseorang yang bisa dibilang kaya raya dengan harta, tetapi tidak jarang hatinya malah merasa tidak bahagia karena waktunya habis hanya untuk mencari materi,
sehingga tidak sempat menikmati hidup di luar aktivitasnya karena lelah untuk mencari materi tersebut,
ada juga orang yang segala kebutuhannya terpenuhi tetapi di uji dengan keadaan keluarganya yang berantakan, bisa dari istri atau anak-anaknya sulit diatur. Atau juga bisa di uji dengan penyakit yang menggerogotinya sampai-sampai harta yang dimiliki harus habis digunakan untuk mengobati penyakitnya tersebut.
Bahagia bisa karena hal-hal yang sederhana, berarti istilah lainnya kita bisa mensyukuri apa yang ada, tentang semua yang kita miliki sekarang,
seperti di saat kita bisa membantu orang lain yang sedang membutuhkan, disaat masih bisa melihat senyuman orang yang kita cintai, ataupun kita masih bisa menghirup udara yang kita hembus di setiap detiknya.
Dan memang biasanya orang yang bisa bahagia karena hal-hal kecil atau dari hal yang sederhana, pastinya akan otomatis bisa bahagia karena hal-hal yang lebih besar,
walaupun ada juga orang yang di saat dia belum memiliki apa-apa atau di saat miskin dia bisa memiliki rasa bahagia,
tetapi seiring berjalannya waktu, roda kehidupan pun berputar dari keadaannya yang miskin kemudian ditakdirkan nasibnya menjadi orang yang mudah mendapatkan segalanya dan memiliki kekayaan harta yang melimpah,
kemudian dia pun berubah menjadi orang yang tidak bahagia, dia tidak bahagia bisa karena beberapa faktor yang membuatnya tidak bahagia.
Bahkan begitupun sebaliknya disaat dia merasa bahagia dengan sesuatu yang dimilikinya karena harta yang melimpah dan kaya raya, dan kemudian menjadi miskin dan merasa tidak bahagia.
Sumber kebahagiaan yang hakiki adalah dari hati kita dalam menikmati kehidupan ini, dan yang paling terpenting kita mengerti dari mana asal kebahagiaan tersebut.
Bahagia tersebut memang tidak terlepas dari sesuatu apa yang ada di sekitar kita, kemudian hati dan pikiran terangsang dengan mencoba untuk merefleksikannya menjadi sebuah rasa, yang disebut rasa bahagia.
Tetapi setelah kita sadari lebih jauh dan mendalam, bahwa bahagia itu berasal dari satu sumber, dan sumber itu adalah Allah Swt yang merupakan sumber dari kebahagiaan,
betapa naif bila kita sibuk mencari kebahagiaan kesana kemari tetapi kita tidak datang untuk memohon dan meminta kebahagian dari sang pemilik kebahagiaan,
sesibuk apapun kita mencari kebahagiaan, semua itu tidak akan terjadi jika Allah Swt tidak menghendakinya, begitupun dengan keburukan dan kesengsaraan. Keburukan apapun tidak akan pernah menimpa kit, jika Allah Swt belum berkehendak, tugas kita hanya berikhtiar dengan sebaik-baiknya.
Bahagia dari seorang muslim itu bukan hanya fokus untuk bahagia di dunia, tetapi bahagia di akhirat kelak, bahkan ada doa nya ROBBANAA AATINAA FID DUNYAA HASANAH WA FIL AAKHIROTI HASANAH WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR “Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, Berikan pula kebaikan di akhirat, Dan lindungilah Kami dari siksa neraka”
dan doa ini menjadi doa wajib setelah doa untuk kedua orang tua bagi seorang muslim, setelah usai sholat fardhu.
Ingin bisa bertemu dengan Allah Swt adalah kebahagiaan paling utama bagi setiap muslim apalagi bisa bertemu nanti di akhirat,
betapa bahagianya setiap muslim ketika di timbang amalannya selama di dunia, ternyata amalnya itu lebih banyak amal kebaikanya daripada amal buruknya,
amal kebaikannya yang akhirnya memasukkannya kepada surgaNya nanti, surga yang di dalamnya penuh dengan kebahagian, kebahagian yang abadi, yang pastinya tidak seperti kebahagiaan yang ada di dunia,
di dalamnya tidak akan ada lagi kesedihan lagi, tetapi tetap yang paling membahagiakan adalah bisa bertemu dengan RabbNya yaitu Allah Swt.