Resensi Buku Islamisasi Sains: Sebuah Upaya Mengislamkan Sains Barat Modern
Judul : Islamisasi Sains: Sebuah Upaya Mengislamkan Sains Barat Modern
Penulis : Budi Handrianto
Penerbit : Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS)
No science has ever been integrated into any civilization without some of it also being rejected. It’s like the body. If we only ate and the body did not reject anything we would die in a few days. Some of the food has to be absorbed, some of the food has to be rejected. -Seyyed H. Nasr-
“Bacalah (wahai Muhammad). Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menjadikan. Menjadikan insan dari segumpal darah. Bacalah; dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajar insan dengan pena. Mengajar insan apa yang tidak diketahuinya. QS Al-Alaq ayat 1-5”
Memberikan gambaran secara langsung mengenai buku ini ialah, buku ini berisi tentang sejarah, konsep, paradigma, makna, fakta dan agenda islamisasi ilmu pengetahuan, khususnya di bidang sains alam (natural science). Diawali dengan pembahasan konsep ilmu menurut Islam (kajian filsafat ilmu), proses naturalisasi ilmu pengetahuan dari peradaban satu kepada peradaban lain, sejarah dan proses islamisasi ilmu pengetahuan di masa kejayaan peradaban islam.
Islamisasi bukan sekedar memberikan label islam terhadap ilmu. Bukan sekedar mencantumkan kalimat “bismillahirrahmanirrahiim” di awal tulisan, bukan pula mengganti istilah-istilah asing menjadi istilah islam. -hal tersebut hanya merupakan salah satu bagian dari proses islamisasi. Tapi islamisasi sains yang dimaksudkan dalam tulisan pada buku ini ialah islamisasi sains sebagai sebuah konsep di mana ilmu yang ada (ilmu sekular) dibersihkan terlebih dahulu dari nilai/paham yang bertentangan dengan islam dan kemudian diisi dengan nilai-nilai islam didalamnya. Oleh karena itu penempatan islamisasi sain berada dalam tataran konsep, dan fokus pembahasannya menyangkut ranah filosofi, bukan berkaitan dengan produk sains atau teknologi. Oleh karena itu tidak akan ditemui pembahasan islamisasi sains pada menghasilkan seperti matematika islam, astronomi islam, ilmu ukur islam, ilmu kedokteran islam, fisika islam, produk-produk yang dalam kritik dan sindirian terhadap islamisasi sains disebut bahwa akan mengubah sudut siku-siku yang 90 derajat menjadi 97 derajat, usia jagatraya yang 13.72 miliar tahun menjadi 6000 tahun, lingkaran bukan lagi bersudut 360 derajat melainkan 357 derajat. Sebuah kritik yang pernah disampaikan terhadap agenda islamisasi sains, yang pada dasarnya salah alamat karena islamisasi sains tidak bicara dalam ranah produk ataupun teknologi melainkan tataran konsep.
Buku ini terdiri dari 9 bagian dengan 5 bagian utama mengenai Islamisasi sains. Bagian pertama merupakan bagian yang membedah konsep ilmu dan makna sains dalam islam. Bagian ini lah yang akan menentukan pembahasan selanjutnya, karena dalam bagian ini pokok utama pembahasan berasal dari thesis “ketidaknetralan ilmu” yang akan menjadi perdebatan dan poin kritik kenapa islamisasi sains menjadi penting. Jika dalam pemahaman seseorang ilmu itu “netral” maka mereka tidak akan mengenal dan memahami mengenai istilah “islamisasi”
Bagian kedua, setelah ilmu telah dijabarkan posisinya mengenai dirinya yang “value-free/bebas nilai” ataukah “value-laden/terikat nilai” maka penjabaran dibagian kedua ialah mengenai naturalisasi ilmu. Karena posisi ilmu yang tidak netral, maka ilmu bisa diarahkan kepada pemahaman tertentu suatu kaum. Seperti ilmu yang berasal dari Yunani yang bertransformasi ketika diambil oleh peradaban islam dan juga ilmu yang diambil barat yang menjadi terbaratkan/westernized.
Bagian ketiga, sejarah islamisasi ilmu pengetahuan di awal islam. Bercerita tentang bagaimana dahulu islam pernah melakukan islamisasi ilmu. Yaitu pengambilan ilmu-ilmu dari peradaban Yunani kuno, Persia maupun India. Setelah ilmu itu terislamkan, dan kemudian kejayaan islam mulai memudar, ilmu pun berubah lagi arahkan menjadi terbaratkan.
Bagian keempat, ialah akan mengulang kembali ide islamisasi ilmu pengetahuan secara umum, patut diketahui upaya-upaya dan ide-ide yang dahulu pernah dipaparkan, seperti oleh Al-Attas, Faruqi, maupun Nasr. Ide ketiga pakar inilah yang kemudian memengaruhi pengembangan ide islamisasi sains saat ini.
Bagian kelima, ialah inti yang membahas tentang islamisasi sains, yang saat ini setidaknya terdapat lima pendekatan. Instrumentalistik, justifikasi, sakralisasi, integrasi, dan wordview.
Kelanjutan dari buku ini ialah bagian yang juga memberikan ruang dengan kritik atas ide islamisasi sains dan bagaimana responnya, perkembangan islamisasi sains di Indonesia dan juga gerakan-gerakannya, serta yang saat ini ialah upaya memasukkan sains islam ke dalam kurikulum pendidikan.
5 Pendekatan Islamisasi Sains
Konsep islamisasi sains dengan pendekatan instrumentalistik merupakan suatu konsep yang menganggap ilmu atau sains sebagai alat(instrument). Bagi mereka, sains terutama teknologi adalah sekadar alat untuk mencapai tujuan, tidak memperdulikan sifat dari sains itu sendiri, yag penting sains menghasilkan dan mengantarkan pada tujuan pemakainya.
Hal ini dapat diperhatikan dari reaksi pertama ilmuwan dan tokoh muslim terhadap sains barat yang melakukan pendekatan ini. Setelah barat maju dengan teknologinya kemudian melakukan penjajahan dan kolonisasi di negri-negri muslim, para tokoh tersebut menyadari ketertinggalannya dan bereaksi selama pendudukan bangsa barat dengan mencoba menggunakan sains dan teknologi itu untuk melawan kaum penjajah. Seperti Muhammad Ali di Mesir dan Sultan Salim di Turki. Mereka mengirimkan pelajar-pelajar ke Eropa, mengembangkan teknologi militer, menerjemahkan buku-buku dan memasukkan pengajaran ilmu pengetahuan dan teknologi modern ke dalam kurikulum sekolah.
Dengan kondisi seperti itu tentunya tanggapan yang hadir berbagai macam pula, yang terpenting ialah sikap kaum muslimin yang beriringan dengan perkembangan sains dan teknologi yang tumbuh sangat pesar serta disisi lain upaya kembali ke tradisi islam untuk mengembalikan hegemoni islam yang kian pudar.
Salah satu tanggapan tokoh muslim pada saat itu ialah tanggapan Jamaluddin Al-Afghani. Idenya mengenai pengambilalihan teknologi barat untuk dikuasia sarjana-sarjana muslim sebagai contoh pendekatan instrumentalistik dalam islamisasi sains.
Islamisasi sains yang paling menarik bagi sebagian ilmuwan dan kalangan awam ialah konsep justifikasi. Justifikasi ialah penemuan ilmiah modern, yang diberika justifikasi(pembenaran) melalui ayat al-Qur’an maupun hadits. Meskipun kritik terhadap konsep ini juga cukup gencar salah satunya ialah kritikan konsep ini bukan merupakan islamisasi namun ayatisasi, namun penerbitan buku-buku yang mengupas penemuan Ilmiah yang dikaitkan dengan ayat al-qur’an dan hadist juga berkembang cukup pesat.
Konsep inilah yang berpengaruh kepada karya seperi Keith L. Moore, professor anatomi FK universitas Toronto yang menulis buku Hightlights of Human Embryology in the Qoran and Hadits (1982), kemudian buku correlation studies with Qur’an and hadits karangan ‘Abd Majid az-Zindhani, dan banyak lainnya. Salah satu contohnya ialah pendekatan justifikasi ketika meneliti mumi fir’aun di mesir yang dihubungkan dengan qur’an surat yunus ayat 92 yang berbunyi:
maka pada hari ini kami selamatkan badanmu suoaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu” (QS Yunus: 92)
Disini Bucaille, menemukan keganjilan, yaitu tingginya kandungan garam pada tubuh mumi tersebut. Dia baru menemukan jawabannya di Al-Qur’an, ternyata fir’aun inilah yang dulu ditenggelamkan oleh Allah swt ketika sedang mengejar nabi Musa as. Injil dan taurat hanya menyebutkan bahwa ia tenggelam, tetapi hanya Al-Qur’an yang kemudian menyatakan bahwa mayatnya diselamatkan oleh Allah swt, sehingga menjadi pelajaran bagi kita semua.
Konsep ini banyak sekali menemukan kesesuaian ayat dengan temuan sains modern, diantaranya;
· Pembentukan alam semesta
· Orbit benda-benda langit
· Langit yang mengembang (expanding universe)
· Segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan
· Keajaiban pada besi dll.
Sakralisasi. Artinya sains modern yang sekarang ini bersifat sekular dan jauh dari nilai-nilai spiritualitas, diarahkan menuju sains mempunyai nilai sacral. Ide ini dikembangkan pertama kali oleh Seyyed H. Nasr. Nasr melakukan kritik terhadap sains modern yang sekular yang berkembang saat ini. Menurutnya, dalam pandangan sekular ia tidak melihat ada jejak tuhan dalam keteraturan alam. Alam bukan lagi sebagai ayat-ayat Allah tetapi entitas yang berdiri sendiri. Alam digambarkan secara mekanistis bagaikan mesin dan jam. Alam menjadi sesuatu yang bisa ditentukan dan diprediksikan secara mutlak.
Nasr kemudian mengemukakan idenya tentang sains sacral yang membahas tentang kebenaran pada tiap tradisi, konsep manusia dan konsep intelek dan rasio. Dalam sains sakral, iman tidak terpisah dari ilmu dan intelek tidak terpisah dari iman. Rasio merupakan refleksi dan ekstensi dari intellek. Ilmu pengetahuan pada akhirnya terkait dengan intelek Ilahi dan bermula dari segala yang sakral.
Ide ini diketengahkan oleh Ismail R. Al-Faruqi. Menurutnya akar dari kemunduruan umat Islam dalam berbagai dimensi karena dualisme sistem pendidikan. Dalam pandangannya dualism sistem pendidikan inilah yang merupakan tugas terbesar kaum muslimin. Pada satu sisi, sistem pendidikan islam mengalami penyempitan pemaknaannya dalam berbagai dimensi, sedangkan pada sisi yang lain, pendidika sekular sangat mewarnai pemikiran kaum muslimin.
Al-faruqi menyimpulkan solusi terhadap permasalahan dualism sistem pendidikan yang terjadi ini dengan islamisasi sains. Sistem pendidikan harus dibenari dan dualism harus dihapuskan dan disatukan dengan jiwa islam dan berfungsi sebagai bagian yang integral dari paradigmanya. Paradigma tersebut bukan imitasi dari barat.bukan juga untuk semata-mata memenuhi kebutuhan ekenomis dan pragmatis belajar untuk pengetahuan professional. Sistem pendidikan harus diisi dengan sebauah misi yang tidak lain ialah menanamkan visi islam, menancapkan Hasrat untu merealisasikan visi islam dalam ruang dan waktu. Dalam pendekatan ini Al-faruqi mengajukan prinsip-prinsip metodologi islam seperti 1. Unity of Allah (tauhid) 2. Unity of Creation 3. Unity of Truth and Knowledge 4. Unity of Life 5. Unity of Human Kind.
Ide ini ialah salah satu ide islamisasi sains yang pertama kali disampaikan secara sistematis oleh Al-Attas. Bahkan secara khusus ia menyebut permasalahan islamisasi ialah permasalah mendasar yang bersifat epistemologis.
Ide islamisasi sains ini ialah ide yang dimulai dengan membongkar sumber kerusakan ilmu. Menurut Al-Attas tantangan terbesar yang dihadapi kaum muslimin ialah ilmu pengetahuan yang tidak netral telah merasuk ke dalam praduga-praduga agama, budaya dan filosofis, yang sebenarnya berasal dari refleksi kesadaran dan pengalaman manusia barat. Dan harus diislamkan, ini mencakup metode, konsep, praduga, symbol, beserta aspek-aspek empiris dan rasional dan yang berdampak kepada nilai dan etika, penafsiran hitorisitas ilmu, bangunan teori ilmu tersebut, praduganya yang berkairan dengan dunia, dan rasionalitas proses-proses ilmiah, teori ilmu tersebut tentang alam semesta, klasifikasinya, batasannya, hubung kaitnya dengan ilmu-ilmu lainnya serta hubungannya dengan sosial harus diperiksa secara teliti.
Oleh karena itu Al-Attas memberika pengertian islamisasi sains sebagai:
Pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur-nasional dan dari belenggu paham sekular terhadap pemikiran dan bahasa.. juga pembebasan dari kontrol dorongan fisiknya yang cenderung sekular dan tidak adil terhadap hakikat diri atau jiwanya, sebaab manusia dalam wujud fisiknya cenderung lupa terhadap hakikat dirinya yang sebenarnya, dan berbuat tidak adil terhadapnya. Islamisasi adalah suatu proses menuju bentuk asalnya yang tidak sekuat proses evolusi dan devolusi.
Proses islamisasi itu sendiri dilakukan dengan du acara yang saling berhubungan dan sesuai urutan, yaitu pertama ialah melakukan proses pemisahan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban barat, dan kedua memasukkan elemen-elemen islam dan konsep konsep kunci ke dalam setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan. Jelasnya “ilmu hendaknya diserapkan dengan unsur-unsur dan konsep utama Islam setelah unsur-unsur dan konsep pokok dikeluarkan dari setiap”