#OPTIK© — Menyaksikan konten-konten yang berseliweran di media sosial saat ini bikin geleng-geleng kepala. Ya, masa, ada orang yang bongkar aib sendiri, dijadikan konten di media, isinya maksiat semua, dan bangga lagi. Parahnya, sok jadi teladan dan minta dijadikan contoh buat orang-orang. Sudah maksiat, minta dicontoh. Sejak kapan kemaksiatan dijadikan objek keteladanan? Ya, sejak saat ini. Aneh, tapi nyata. Gila, tapi kejadian. Makin maju teknologi, bukan makin maju pikirannya. Justru pikirannya makin rusak dan menyimpang mendadak. Artinya, kita butuh aturan yang tegas untuk konten-konten semacam ini. Konten yang menopeng edukasi, padahal invitasi. Bukan terdidik untuk memahami, justru "terdidik" untuk mendatangi. Lihat baik-baik. Yang ngomong saja baru belasan tahun, sok ngasih edukasi soal kelamin, sanggama, dan keintiman laki-laki dan perempuan lainnya. Apa tidak bikin waswas lambenya itu? Pelajaran buat orang tua. Ujian buat anak-anak. Orang tua mesti membimbing dan memantau. Anak-anak mesti memahami baik-buruknya sesuatu dan risiko di belakangnya. Apalagi, anak-anak yang sudah balig, wajib tahu dan mengerti soal ini. Satu-satunya cara agar terhindari semua keburukan ini ya cuma satu: ngaji. Tabik, @agoytama #PerajinKata #PekerjaTeksKomersial #agoytama #agoytamaquotes #opinipuitik #seniman #penyairdigital #fwb #aib #pameraib #seksedukasi #trending #maksiat https://www.instagram.com/p/CexuFV_pyWS/?igshid=NGJjMDIxMWI=











