CMS bikinan LEN (atas)
Otomelara 76mm (bawah)
seen from India
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from Canada
seen from Saudi Arabia
seen from United States

seen from Germany

seen from Brazil
seen from Georgia
seen from China
seen from Pakistan
seen from Philippines
seen from China

seen from United States

seen from Maldives
CMS bikinan LEN (atas)
Otomelara 76mm (bawah)
Otomelara Menggelegar Di GFR Paiton
Untuk Pertama di ASEAN Amunisi 76mm Otomelara GRF Menyalak
DINAS Materiil Senjata dan Elektronika TNI AL (Dissenlekal) melaksanakan uji fungsi amunisi 76mm Otomelara yang merupakan hasil pengadaan Dissenlekal di Pusat Latihan Tempur Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (11/02/2021).
Amunisi yang melesat sempurna ditembakkan melalui remote dengan menggunakan CMS (Combat Management System) GFR (Gunnery Firing Range) buatan BUMN PT Len Industri, tepat mengenai sasaran yang telah ditentukan.
Dengan berhasilnya uji fungsi ini, maka baik fasilitas GFR (Gunnery Firing Range) Kodiklatal maupun amunisi 76mm telah siap digunakan untuk mendukung latihan dan operasional TNI AL.
GFR terdiri dari sensor, persenjataan, dan command center (CMS) layaknya kapal perang yang dapat digunakan untuk latihan operasional pertempuran di kapal. Khususnya prosedur penembakan menggunakan meriam tanpa harus mengoperasikan kapal perang di laut.
Kadissenlekal Laksamana Pertama TNI Endarto Pantja mengatakan, amunisi yang diujikan ini diperuntukkan bagi Meriam 76mm Otomelara yang saat ini telah terpasang di beberapa KRI. “Saya berharap ke depan tidak hanya meriam 76mm saja yang dapat dimanfaatkan untuk pelaksanaan uji fungsi, namun juga meriam tipe lainnya dengan juga melibatkan siswa-siswa Kodiklatal,” ujarnya.
Pertama di ASEAN
Direktur Bisnis dan Kerjasama PT LEN Industri (Persero) Wahyu Sofiadi mengatakan, membangun GFR adalah pembuktian perusahaannya di bidang combat system, karena LEN sudah mengembangkan CMS sejak 2010.
Menurut dia, CMS tersebut terdiri dari sensor-sentor dan efektor atau persenjataan. “CMS-nya full kita kerjakan sendiri. LEN juga merefurbis senjata meriam OTO Melara KRI Slamet Riyadi (352) untuk diintegrasikan pada GFR ini," ujar Wahyu.
Ia menegaskan, GFR yang dibangun di Paiton Jawa Timur merupakan yang pertama dan satu-satunya di Indonesia, bahkan di ASEAN. GFR, ujarnya mulai difungsikan Kodikopsla pertama kali pada awal tahun 2020 dan dibangun sejak 2018. “Fasilitas ini mirip seperti yang sudah ada di Italia dan di Australia,” tegasnya.
Rencananya GFR ini akan dikembangkan lagi dengan menambahkan meriam kaliber 57mm dan 40mm. CMS-nya, imbuhnya, juga pasti akan di-upgrade berarti, karena ada fitur yang harus ditambahkan lagi. Kita siap mendukung ini.
GFR merupakan fasilitas pelatihan guna mengasah manajemen tempur prajurit artileri yang sedang menempuh pendidikan di Pusdikpel Kodikopsla Kodiklatal. Sistem ini dapat dipergunakan secara intensif oleh TNI-AL. Selain itu, GFR juga dapat menjadi prasarana pengembangan doktrin tempur TNI AL.
Ia menyebutkan GFR juga bisa dikembangkan agar dapat menembak target di udara atau anti air warfare. Dengan syarat GFR harus dilengkapi dengan radar tracking, karena yang sekarang baru dilengkapi dengan radar navigasi. (****)