Pak Sulis & Bu Uti . Lelangen Beksan karya Retno Maruti dan Rury Nostalgia, persembahan sanggar tari klasik Surakarta #Padnecwara . Jumat, 8 September 2017 Pukul 19.30 - 20.30 wib Di Sasono Lengan Budoyo, TMII . Sulistyo Tirtokusumo, salah satu penari di Istana Negara, sekarang menjabat Dirjen Kebudayaan Kembud.
I had been blessed for given a chance to document a traditional dance performance by Padneçwara. This one called Savitri, a Javanese traditional dance created by Retno Maruti. The dance originally performed in 1978, which is based on the small part of the Mahabharata story. And at the same year, Jakarta Arts Council was awarded Savitri for the Best Dance Writing Manuscript.
There is a little different from the staging in 1978, which only consists of 9 female dancers (bedhayan) Surakarta style, this time using the 18 dancers Savitri. Performances which also commemorates the 35 years of Padneçwara, using 9 female dancers in the style of Surakarta and 9 male dancers Yogyakarta style. As Padneçwara distinctiveness, dialogue form always use song (langendriyan, a kind of opera).
Loyalty or commitment nowadays being more neglected, marginalized, by and on behalf of private interests or groups, while the risk-benefit consideration has exceeded the limits of reasonableness. Through her work, Retno Maruti tries to remind us the meaning of true loyalty.
Savitri is the story presented a picture of extreme loyalty and the power of love to the husband’s wife, can be interpreted as loyalty and love to any person who requires commitment as a human being. The power of love offered by the story of Savitri, can turn anything and able to give happiness to the human being itself.
Savitri, putri Raja Aswapati, mendapat restu mencari jodoh sesuai pilihan sendiri. Ia memilih Satyawan, pangeran Kerajaan Dyumatsena. Satyawan tengah mengikuti ayahnya, Raja Dyumatsena yang buta setelah kalah perang dan menjalani hidup sebagai pertapa di hutan.
Raja Aswapati merestui pilihan Savitri, walau sedih karena tahu usia Satyawan kurang dari 12 bulan lagi. Savitri, saat mengetahui hal itu, tidak mengurungkan niatnya karena cintanya kepada Satyawan.
Dua belas bulan usai pernikahan, sebelum dikaruniai anak, Batara Yama mencabut nyawa Satyawan.
Pergelaran ini adalah pentas ulang karya 1978, Savitri, bersumber kisah “Sawitri” (bagian kecil dari kisah Mahabarata—sebetulnya sebuah bingkai cerita di dalam epos Mahabarata). Naskah pertunjukan tari Savitri mendapat penghargaan Penulisan Naskah Tari Terbaik dari Dewan Kesenian Jakarta pada 1978.
Berbeda dari pementasan 1978, yang hanya terdiri dari 9 penari wanita (bedhayan) bergaya Surakarta, kali ini Savitri menggunakan 18 penari. Pergelaran yang sekaligus memperingati 35 tahun Padnecwara ini, menggunakan 9 penari wanita dengan gaya Surakarta (Solo) dan 9 penari pria bergaya Yogyakarta. Sebagaimana kekhasan Padnecwara, bentuk dialog selalu menggunakan tembang (langendriyan—semacam opera).
Di Balik Savitri:
Kesetiaan atau komitmen merupakan nilai yang kian terabaikan, terpinggirkan, oleh dan atas nama kepentingan pribadi/golongan , saat pertimbangan untung-rugi sudah melampaui batas kewajaran.
Kisah yang dipaparkan Savitri adalah gambaran ekstrem kesetiaan dan kekuatan cinta istri kepada suami, dapat ditafsirkan sebagai kesetiaan dan cinta seseorang kepada apapun yang menuntut komitmen sebagai manusia.
Kekuatan cinta yang ditawarkan kisah Savitri, bisa “menghidupkan” apapun dan mampu memberi kebahagiaan pada diri manusia itu sendiri.
Antara Surakarta dan Yogyakarta
Dua kota ini merupakan dua sumber besar kesenian Jawa, termasuk seni tarinya. Keduanya memiliki sejarah panjang dan karenanya memiliki keunikan gaya masing-masing, baik pada pola gerak, tata gending, maupun tembang-tembangnya.
Dua kekuatan gaya ini disatukan untuk menuturkan kisah Savitri. Dua gaya ini, seolah mewakili dua kultur yang melatarbelakangi Savitri dan Satyawan. Keduanya mampu menyatu dan saling melengkapi serta menumbuhkan kekuatan pada kehidupan.
(Teks: Inda Turner)
***
Savitri; persembahan Padnecwara, karya Retno Maruti