"Selamat malam, Malamku."
Sebaris kalimat itu sebagai larik pembuka salah satu puisi yang kutulis beberapa bulan lalu. Beberapa minggu ini, aku lagi-lagi terlalu menyukai Malam sampai mataku tidak rela menutup sedikitpun dan memilih untuk menemani Malam mengobrol.
Kami berteman sudah lama, tapi tidak bisa dikatakan teman dekat, sampai beberapa minggu terakhir. Dulu, saat aku kecil, kami hanya bertemu sejenak. Dia menegurku, tapi aku terlalu muda untuk berinteraksi dengannya. Jadi, teguran itu hanya sepihak sampai bertahun-tahun.
Kami mulai bertegur sapa saat aku memasuki masa remaja. Tidak sering, bahkan dalam satu tahun bisa dihitung dengan jari. Itupun kami hanya bertegur sapa. Dia menyapaku, aku membalas, lalu aku beralih bercengkerama dengan temanku. Dia terabaikan, tapi masih di sana.
Intensitas interaksi kami meningkat saat aku mulai meninggalkan setelan pakaian yang orang sebut seragam. Terkadang aku mengajaknya bicara, terkadang dia menemaniku menekuri keyboard laptop kesayanganku, dan terkadang dia mulai bercerita tentang potongan kejadian kecil yang disuguhkan oleh semesta. Kami mulai berteman dekat waktu itu.
Kedekatan kami semakin erat sejak beberapa minggu terakhir. Kami bertemu dengan dikelilingi banyak suara dan pijar lampu yang dinyalakan orang-orang. Sebenarnya dia pernah bilang padaku kalau dia tidak begitu suka dengan sorotan cahaya berwarna putih itu. "Aku tidak bisa memamerkan bintang-bintangku dengan jelas," alasannya ketika aku bertanya mengapa.
Saat jarum pendek jam mulai meninggi, kami semakin dekat dan intim. Bersamaan dengan meredanya suara-suara penghuni bumi dan lampu-lampu yang sebagian mulai dimatikan, kami mulai berbagi rahasia satu sama lain.
Seringkali rahasia yang dia bagi membuatku tergelak hingga membuatku mati-matian menahan suara tawaku agar tidak memecah keintiman kami.
Sedangkan rahasia yang kubagi dengannya seringkali membuatnya menangis tersedu sampai aku harus memberinya berlembar-lembar tisu. Suatu kali, saat aku mengulurkan sekotak tisu untuknya yang sedang menutup muka karena air matanya sudah merembes ke wajah, dia mengambil satu lembar dan menggunakannya untuk mengusap pelan pipiku yang ternyata juga basah. Tidak berbeda dengan keadaannya, ternyata. Aku masih bergeming saat dia menarik lembar tisu kedua dan kembali mengusapnya di pipiku yang satu.
Tiga detik setelahnya, giliran tanganku yang mengambil tisu untuk membersit hidungnya. Aku tidak ingin ingusnya masuk ke dalam mulut dan tertelan.
Kami memutuskan untuk menyudahi membuat pipi kami basah karena persediaan tisuku tinggal sedikit. Kami harus menyisakannya untuk pertemuan kami selanjutnya yang entah kapan.
Aku dan Malam. Kami berteman baik, tapi kami bertolak belakang. Kami berbagi rahasia, tapi kami sangat berbeda. Kuputuskan kalau kami adalah antinomi yang sepakat untuk saling menawarkan pengertian.