Peresean Dusun Sasak Ende
Melanjutkan cerita lama dan tulisan lama. Sebelumnya ada di sini: https://janatunrahmilah.tumblr.com/post/160254004369/menyapa-lombok-tulisan-lama-itung-itung
Menurut guide nya, Dusun Sasak Ende belum termasuk ke dalam kategori desa wisata. “Kami sudah beberapa kali mengirimkan proposal baik kepada pemerintah maupun Disbudpar, tapi sampai sekarang masih jalan di tempat saja. Untuk bisa melestarikan budaya disini, kami bekerja sama dengan beberapa travel untuk mengajak wisatawan mengunjungi desa kami ini. Lumayan untuk pemasukan kas desa, kami bisa membuat rumah baru atau memperbaiki rumah-rumah adat dari uang wisatawan.”
Berbeda dengan Desa Sade yang sudah menjadi objek wisata, tak jauh dari Sasak Ende, Desa Sade banyak dijajaki wisatawan, bahkan saat kami melewati Desa Sade banyak penjual kerajinan atau dagangan lainnya di sekitar Desa Sade. Kalau di Sasak Ende ini, masih terlihat alami, saat kami mengunjunginya, tidak ada pengunjung lain yang datang ke lokasi ini.
Berikut adalah foto rumah adat Suku Sasak Dusun Ende.
Foto ini saat kami memasuki rumah adat. Saat memasuki rumah adat, kami harus menunduk karna pintu masuknya sengaja dibuat pendek. Filosofinya sangat bermakna, kata guide nya “Makna saat menunduk itu patuh kepada Tuhan, kita itu tidak ada apa-apanya, kita rendah dihadapan Tuhan. Makna selanjutnya yaitu menghormati sesama manusia. Menunduk itu menghormati yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda dibawah kita.”
Foto ini merupakan kondisi di dalam rumah adat. Rumah ini hanya terdiri dari 3 unsur yakni kayu, bambu, dan tali. Tanpa paku atau pun lainnya. Atapnya dari ilalang, dan lantainya dari kotoran sapi. Ditumpuk berkali-kali sampai padat. Uniknya saat kami masuk, tidak ada bau kotoran sama sekali. “Dari 3 unsur tadi, ada filosofinya juga. Tali itu ibarat ayah yang harus bisa mengikat kuat sebagai kepala keluarga, nah si bambu ini ibarat anak-anaknya karna setiap ruas bambu itu akan menimbulkan suara yang berbeda saat di ketuk, sama hal nya dengan karakter anak yang berbeda-beda. Kalau kayu ibarat seorang ibu, harus kuat sebagai pondasi dalam keluarga. Bahkan sosok ibu itu harus lebih kuat daripada ayah.”
Merinding mendengar penjelasan bapak guide nya. Makna begitu dalam yang melekat pada rumah ini dibangun oleh nenek moyang dulu. Ya, saya pribadi jadi mengerti bahwa apapun yang diciptakan pasti mempunyai arti.
Nenek ini sudah sangat renta, tapi paling eksis. Bukan kami yang mengajak, malah neneknya mengajak berfoto. Tidak fasih berbahasa Indonesia, tapi semangatnya menyapa pengunjung patut diacungi jempol. :D
Sebelum memulai peresean, para petarung harus menari atau joged-joged dulu sambil membusungkan dada sebagai tanda keberanian.
Mahasiswa mencoba menunjukkan kejantanannya untuk mencoba peresean. Tak mau kalah, dosen pun ikut turun untuk bertarung.
Foto ini menunjukkan kalau petarungnya mahasiswa, tingkahnya lucu. Seperti meluapkan emosi kekesalan terhadap lawan mainnya. Haha
Waah.. Ini baru hari ke-2 loh, disini masih tersisa 5 hari lagi! Selanjutnya goes to Desa Sukarara, ada apa ya disana? Next trip!
KKL Pendidikan Geografi ‘2012
Dusun Sasak Ende, 13 Mei 2015
Lombok








