PARUMAEN . Tidak dapat dielakkan pertanyaan-pertanyaan seputar pasangan ada di tiap obrolan perempuan berusia 20 tahun ke atas. Tanpa dirasa, aku sudah memasuki umur itu, dengan lingkungan itu, dan obrolan itu. Dulu (saat masih berseragam), aku sudah merasa risih dengan obrolan seperti ini, di antara teman-teman yang memulai cinta monyet mereka, dari surat menyurat, gangguan-gangguan kecil bikin sensi, sampai juga pada pernyataan cinta (kecut!) mereka di bangku kelas, halaman belakang sekolah, atau di depan kelas dengan tangan kiri memegang cokelat dan kanan memegang spidol, setelah menulis "I love you" di papan. . Apa artinya aku menolak pacaran? Hhhm, contoh yang di atas merupakan kumpulan aksi heroik cinta-cintaan saya yang lalu. . Sejak orangtua saya mengadakan pernikahan lagi pada Desember lalu (secara mangadati, kisah cinta mereka baik2 saja selama 26 tahun), kata-kata ini yang selalu bergelinang setiap kali orang-orang dekat mereka menyalamiku. . "Bah nga balga hape hamu, nungga adong calon mu dah", "Jadi nungga boe gabe parumaen hu", "Satokkin nai nama ho kuluiah ateh? Nungga adong hallet mu? Olo doho gabe parummaen hu?" . Parumaen adalah menantu perempuan. Yap, di usia 23 (bulan depan 24! heol..) istilah itu akan makin sering kudengar. Aku berpikir, apakah aneh, jika aku belum memikirkan hal itu hingga 5 tahun ke depan? Apakah aku diperbolehkan untuk memberikan buah sulung dari 6 tahun perjuanganku ini benar-benar mengerjakan sesuatu yang aku suka, sebelum nanti akan ada seseorang yang menjadi kepalaku, menemaninya bagaimanapun keadaannya, dan bertambah banyak sebagai sebuah keluarga. . Jadi, mohon maaf namboru, awak sekolah hampir 20 tahun. Iya, ngga kunjung bisa juga masak-masak, apalagi marhata batak --". Kukejar dulu mimpiku sambil bersiap jadi parumaen namboru, ya. . PS: Ada yang mamanya mau di-tag, bang? 😉 @30haribercerita #30hbc1810 #30haribercerita #parumaenhits

















