"Sobald Du beginnst, all die Dinge zu tun, die Du liebst, wird sich auch Deine Angst auflösen, das Leben könnte an Dir vorüberziehen. Du wirst erkennen, dass Du heute, morgen und auch noch im nächsten Jahr all die Begabungen, Neugier und Intelligenz, die in Dir stecken, zum Einsatz bringen kannst." - Barbara Sher
Hari ini hujan, dirumah sendirian. Hanya ditemani 1 kotak rokok beserta minuman soda 1,5 liter. Bermandikan cahaya kamar serta diiringi rintik-rintik hujan. Terbayang betapa nyamannya suasana itu. Tapi, hal itu bertolak belakang dengan suasana yang ada dihati.
Pernahkah kalian merasakan stress berat? Itu yang penulis rasakan saat ini. Hidup memang tidak adil, selalu tidak sesuai dengan apa yang diimpikan. Hanya bisa melampiaskannya dengan sebuah keluhan yang tak ada habisnya.
Hampir setiap hari, setiap memasuki ruang kamar yang tidak begitu bersahabat, penulis merenung tiada henti memikirkan apa yang telah terjadi hari itu. Selalu ada hal yang memang terasa menyakitkan, dan itu hampir setiap hari. Bertahun-tahun hal yang sama dirasakan penulis, sampai ia sadar, pantaskah penulis hidup?
Semua pengalaman yang diterima hampir semua mengecewakan. Dari segala sisi, semua sangat menyesakkan. Mengapa semua hal buruk terjadi kepada penulis? Apakah penulis pernah melakukan kesalahan yang benar-benar tidak bisa dihapus? Apakah penulis sangatlah hina? Pantaskah dia hidup? Semua persepsi itu terselip dikepalanya hingga banyak rambut rontok berserakan.
“I’ts not fair, though.” Pikir sang penulis. Semua aspek kehidupannya hampir hancur berantakan. Hatinya sakit, terlalu sakit untuk dibayangkan. Mengapa harus seperti itu? Tidak semua orang kan seperti ini? Mereka bisa menikmati hidupnya sesuai yang diinginkan. Mengapa aku tidak? Ini sangatlah tidak adil.
Hari itu penulis melampiaskan seluruh keluhannya dengan menonton film random, berjudul Sing. Kartun, penuh drama tapi sangat menginspirasi. Banyak kutipan yang bisa diambil. Tapi, penulis hanya memikirkan kutipan yang menyatakan “Semua mimpi bisa diraih apabila ada kerja keras yang mendorongnya.” Jujur, kutipan ini terdengar sangat munafik dikepalanya. Karena hal tersebut sudah dilakukan oleh penulis, tapi tak kunjung membaik.
Hujan terus turun, sama sekali tak berhenti. Semakin sakit hati sang penulis, memikirkan jalan hidupnya yang sangat terjal, bahkan abstrak. Hingga terbesit untuk menuliskannya dalam sarana sosial yang ada di internet. Menuliskan gambaran tentang apa yang dirasakan. Feel sad, right?
Banyak sekali hal yang diinginkan penulis. Baik dalam aspek keahlian, pendidikan, asmara, finansial, dan hal lain yang berhubungan dengan kebutuhan dunia nyata. Akankah semua itu hanya menjadi sebuah angan-angan? Ya, itulah misteri yang terus terbayang di benak penulis.
Mungkin terdengar seperti betapa menyedihkannya apa yang dirasakan penulis. Tapi hal tersebut bukanlah tujuan dalam tulisan ini. Penulis hanya menyalurkan keresahannya dalam sarana internet. Tidak peduli apakah diamati atau tidak, penulis hanya ingin terus berkarya dalam stress beratnya.
setiap orang pasti punya mimpi, baik itu masuk akal maupun tidak sama sekali. mimpi merupakan sarana yang paling ampuh untuk memotivasi seluruh keluarga badan agar mengejar apa yang di inginkan. karena mimpi juga merupakan gambaran sebuah tujuan hidup seseorang dalam dunia nyata. bisa dikatakan, mimpi merupakan kebutuhan pokok setiap umat manusia.
tetapi, mimpi mempunyai sarana lain untuk mendukungnya agar terwujud. setiap mimpi pasti didukung oleh sebuah keahlian, atau bahasa kerennya “passion”. keahlian bisa didapat dari lahir (bakat), atau ketekunan individu tersebut. setiap orang pasti punya keahlian atau bahkan banyak keahlian. lebih beruntung lagi, keahlian tersebut merupakan bakat mereka dari lahir. simpelnya, punya mimpi dan keahlian yang jelas adalah posisi yang paling nyaman.
dilihat dari pernyataan diatas, dapat disimpulkan memang penting untuk mempunyai keahlian dan mimpi yang jelas. tidak hanya pintar, tapi juga ahli. mungkin beberapa orang menganggap hal ini sepele. jangan salah, inilah masalah utama yang dihadapi si penulis.
penulis lahir dikeluarga yang bernuansa seni, dari mulai orang tua sampai saudara kandungnya merupakan seseorang yang berkecimpung di dunia seni. dari musik, sastra hingga illustrasi gambar. dan yang pasti, mereka mempunyai mimpi dan keahlian yang sangat jelas dan terasah. dan coba tebak? si penulis sama sekali tidak memilikinya.
si penulis merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara. bahkan diumurnya yang sudah menginjak 20th, tidak ada satupun keahlian atau mimpi yang didapat. hanya dapat berandai-andai dan berkhayal dengan apa yang dia ingin rasakan. setiap keahlian dicoba, tetapi tidak satupun yang dikuasai dengan baik.
situasi itu tidak hanya terjadi di keluarganya, bahkan lingkungan pertemanannya merupakan zona yang sangat menekan baginya. setiap temannya mempunyai keahlian yang bahkan beragam. dan yang pasti, mereka sudah mempunyai mimpi yang ingin dicapai.
penulis pun mulai berpersepsi “apa benar ada seseorang yang benar benar tidak mempunyai keahlian dan mimpi sama sekali diumur yang sama denganku?”. hal tersebut terus terngiang-ngiang dikepalanya. timbul beberapa persepsi yang mungkin bisa dikatakan “pesimis”. bahkan penulis pernah berpikir untuk mati saja.
tulisan ini hanya untuk menggambarkan keresahan penulis yang mencoba mencari keahlian dan mimpi yang ingin dia capai. sekian.
Just like many other young children, I did some things that made my parents worry. For instance, writing my "Y's" and "N's" backwards, standing on top of a table to color (who seriously needs a chair), or a personal favorite, twirling myself up in a curtain and spinning out at high speed only to run into the nearest wall. Clearly they were not thinking rising star at that point.
Fast Forward....
Ah, my middle school experience. Does anybody really want to talk about those years?
No, didn't think so.
High school was a wild ride to say the least. But college was when the real decision-making, self-discovering, absolutely life defining moments began. I am a believer in no pain, no gain. Of course I am not suggesting the you throw yourself into physically and emotionally heart wrenching experiences every day in the name of self-growth. But I am saying that the little burn you feel in your stomach, that awareness of "there is an opportunity to put myself out there a little bit more and learn" is an avenue to great things. That first began for me when I decided to leave Texas and go to Nebraska for my first few years of college. Eventually, I wound up at Iowa State which is where I will be finishing my degree in May 2017.
To say that I have enjoyed college academia would be a lie. Trying to obtain a degree has been my first extremely long-term goal and at this point, it absolutely blows. But throughout all the lectures, lab reports, and group discussions, a story was and is forming.
Now, down to the real question: What qualities have remained throughout all of my encounters with great/not so great people, changes, and mistakes? A damn good sense of humor, a truly deep understanding of my actions/results, and taking my dreams seriously.