Huwaa sempat ambil gambar kat photobooth je for #PCD2017 #pcldpecolourfulday2017 Nak makan pun tak sempat. Maaf ye team committee @syelly_syalira @norfadhillahabdullah kite tak dapat nak support sampai habis. Wuhuuuu.

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from Yemen

seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Sweden

seen from Australia

seen from United Kingdom
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Germany
seen from Russia
seen from United States
Huwaa sempat ambil gambar kat photobooth je for #PCD2017 #pcldpecolourfulday2017 Nak makan pun tak sempat. Maaf ye team committee @syelly_syalira @norfadhillahabdullah kite tak dapat nak support sampai habis. Wuhuuuu.
This is is definitely getting blown up and going on my wall! 😍 Check out the newest @bloggerchicks video on #youtube cause #SocaSaySo @Regrann from @bloggerchicks - Our own @Socasayso with @dawgeslaughter at @shorblu's #PCD2017 - #regrann (at Stage 48)
Our girl @thesocalyst interviewing #Trinidadian #soca artiste @sekonsta at #PCD2017 - #regrann @bloggerchicks
My girls bad!!! #bloggerchicks @Regrann from @bloggerchicks - @bloggerchicks: @thesocalyst @dyschick @socasayso in the building #pcd2017 - #regrann
@Regrann from @bloggerchicks - Check out our coverage at PCD 2017 in NYC with Soca Artists @sekonsta @dawgeslaughter & @iamlyrikalace (Click the link in the bio ) #pcd2017 #NYC #BloggerChicks #Soca #Caribbean @socasayso @dyschick @thesocalyst Thanks for having us @shorblu! - #regrann
RESUME KE 2 (MATA KULIAH PENGOLAHAN CITRA DIGITAL 2017)
ANGGOTA :
ANINDYA RAHMANIAR 10070314002
HANSYAN AS ARRY 10070314003
MELIA RINTANI 10070314005
PENGOLAHAN CITRA DIGITAL
Keunggulan Inderaja
Menurut Sutanto (1994:18-23), penggunaan penginderaan jauh baik diukur dari jumlah bidang penggunaannya maupun dari frekuensi penggunaannya pada tiap bidang mengalami pengingkatan dengan pesat. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
· Citra menggambarkan obyek, daerah, dan gejala di permukaan bumi dengan; wujud dan letak obyek yang mirip ujud dan letak di permukaan bumi, relatif lengkap, meliputi daerah yang luas, serta bersifat permanen.
· Dari jenis citra tertentu dapat ditimbulkan gambaran tiga dimensional apabila pengamatannya dilakukan dengan alat yang disebut stereoskop.
· Karaktersitik obyek yang tidak tampak dapat diwujudkan dalam bentukcitra sehingga dimungkinkan pengenalan obyeknya.
· Citra dapat dibuat secara cepat meskipun untuk daerah yang sulit dijelajahi secara terestrial.
· Merupakan satu-satunya cara untuk pemetaan daerah bencana.
· Citra sering dibuat dengan periode ulang yang pendek.
MANFAAT PENGINDERAAN JAUH
Bidang Kelautan (Seasat, MOS)
· Pengamatan sifat fisis air laut.
· Pengamatan pasang surut air laut dan gelombang laut.
· Pemetaan perubahan pantai, abrasi, sedimentasi, dan lain-lain.
Bidang hidrologi (Landsat, SPOT)
· Pemanfaatan daerah aliran sungai (DAS) dan konservasi sungai.
· Pemetaan sungai dan studi sedimentasi sungai.
· Pemanfaatan luas daerah dan intensitas banjir.
Bidang geologi
· Menentukan struktur geologi dan macamnya.
· Pemantauan daerah bencana (gempa, kebakaran) dan 7
· B pemantauan debu vulkanik.
· Pemantauan distribusi sumber daya alam.
· Pemantauan pencemaran laut dan lapisan minyak di laut.
· Pemanfaatan di bidang pertahanan dan militer.
· Pemantauan permukaan, di samping pemotretan dengan pesawat terbang dan aplikasisistem informasi geografi (SIG).
Bidang meteorologi dan klimatologi (NOAA)
· Membantu analisis cuaca dengan menentukan daerah tekanan rendah dan daerah bertekanan tinggi, daerah hujan, dan badai siklon.
· Mengetahui sistem atau pola angin permukaan.
· Permodelan meteorologi dan data klimatologi.
· Untuk pengamatan iklim suatu daerah melalui pengamatan tingkat kewarnaan dan kandungan air di udara.
Bidang oseanografi
· Pengamatan sifat fisis air seperti suhu, warna, kadar garam dan arus laut.
· Pengamatan pasang srut dengan gelombang laut (tinggi, frekuensi, arah).
· Mencari distribusi suhu permukaan.
· Studi perubahan pasir pantai akibat erosi dan sedimentasi
Keterbatasan Inderaja
Berupa ketersediaan citra SLAR yang belum sebanyak ketersediaan citra lainnya. Dari citra yang ada juga belum banyak diketahui serta dimanfaatkan (Lillesand dan Kiefer, 1979). Di samping itu jugaharganya yang relative mahal dari pengadaan citra lainnya (Curran,1985).
Kelemahan Inderaja
Walaupun mempunyai banyak kelebihan, penginderaan jauh juga memiliki kelemahan antara lain sebagai berikut
· Orang yang menggunakan harus memiliki keahlian khusus;
· Peralatan yang digunakan mahal;
· Sulit untuk memperoleh citra foto ataupun citra nonfoto.
Koreksi Geometrik
Geometrik merupakan posisi geografis yang berhubungan dengan distribusi keruangan (spatial distribution). Geometrik memuat informasi data yang mengacu bumi (geo-referenced data), baik posisi (system koordinat lintang dan bujur) maupun informasi yang terkandung di dalamnya.
Menurut Mather (1987), koreksi geometrik adalah transformasi citra hasil penginderaan jauh sehingga citra tersebut mempunyai sifat-sifat peta dalam bentuk, skala dan proyeksi. Transforamasi geometrik yang paling mendasar adalah penempatan kembali posisi pixel sedemikian rupa, sehingga pada citra digital yang tertransformasi dapat dilihat gambaran objek dipermukaan bumi yang terekam sensor. Pengubahan bentuk kerangka liputan dari bujur sangkar menjadi jajaran genjang merupakan hasil transformasi ini. Tahap ini diterapkan pada citra digital mentah (langsung hasil perekaman satelit), dan merupakan koreksi kesalahan geometric sistematik.
Geometrik cita penginderaan jauh mengalami pergeseran, karena orbit satelit sangat tinggi dan medan pandangya kecil, maka terjadi distorsi geometric. Kesalahan geometrik citra dapat tejadi karena posisi dan orbit maupun sikap sensor pada saat satelit mengindera bumi, kelengkungan dan putaran bumi yang diindera. Akibat dari kesalahan geometric ini maka posisi pixel dari data inderaja satelit tersebut sesuai dengan posisi (lintang dan bujur) yang sebenarnya.
Kesalahan geometrik citra berdasarkan sumbernya kesalahan geometric pada cita penginderaan jauh dapat dikelompokkan menjadi dua tipe kesalahan, yaitu kesalahan internal (internal distorsion), dan kesalahan eksternal (external distorsion). Kesalahan geometrik menurut sifatnya dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu kesalahan sistematik dan kesalahan random. Kesalahan sistematik merupakan kesalahan yang dapat diperkirakan sebelumnya, dan besar kesalahannya pada umumnya konstan, oleh karena itu dapat dibuat perangkat lunak koreksi geometrik secara sitematik. Kesalahan geometri yang bersifat random (acak) tidak dapat diperkirakan terjadinya, maka koreksinya harus ada data referensi tambahan yang diketahui. Koreksi geometrik yang biasa dilakukan adalah koreksi geometrik sistemik dan koreksi geometrik presisi.
Kesalahan geometrik internal disebabkan oleh konfigurasi sensornya, akibat pembelokan arah penyinaran menyebabkan distorsi panoramic (look angle), yang terjadi saat cermin scan melakukan penyiaman (scanning). Besarnya sudut pengamatan (field of view) satelit pada proses penyiaman akan mengakibatkan perubahan luas cakupan objek. Distorsi panoramic sangat besar pengaruhnya pada sensor satelit resolusi rendah seperti rendah NOAA-AVHRR dan MODIS, namun citra resolusi tinggi seperti Landsat, SPOT, IKONOS, Quickbird, dan ALOS bebas dari distorsi panoramic, karena orbitnya yang tinggi dengan medan pandang kecil hampir tidak terjadi pergeseran letak oleh relief pada data satelit tersebut. Distorsi yang disebabkan perubahan atau pembelokan arah penyiaman bersifat sistematik, dapat dikoreksi secara sistematik. Kesalahan geometric menyebabkan perubahan bentuk citra.
Koreksi geometric dilakukan sesuai dengan jenis atau penyebab kesalahannya, yaitu kesalahan sistematik dan kesalahan random, dengan sifat distorsi geometric pada citra. Koreksi geometrik mempunyai tiga tujuan, yaitu:
1. Melakukan rektifikasi (pembetulan) atau restorasi (pemulihan) citra agar koordinat citra sesuai dengan koordinat geografis.
2. Meregistrasi (mencocokan) posisi citra dengan citra lain yang sudah terkoreksi (image to image rectification) atau mentransformasikan system koordinat citra multispectral dan multi temporal.
3. Meregistrasi citra ke peta atau transformasi system koordinat citra ke koordinat peta (image to map rectification), sehingga menghasilkan citra dengan system proyeksi tertentu.
Koreksi geometrik yang biasa dilakukan adalah koreksi geometrik sistematik dan koreksi geometric presisi. Masing-masing sebagai berikut.
1. Koreksi geometrik sistematik melakukan koreksi geomertri dengan menggunakan informasi karakteristik sensor yaitu orientasi internal (internal orientation) berisi informasi panjang focus system optiknya dan koordinat titik utama (primary point) dalam bidang citra (image space) sedangkan distorsi lensa dan difraksi atmosfer dianggap kecil pada sensor inderaja satelit, serta orientasi eksternal (external orientation) berisi koordinat titik utama pada bidang bumi (ground space) serta tiga sudut relative antara bidang citra dan bidang bumi.
2. Koreksi geometrik presisi pada dasarnya adalah meningkatkan ketelitian geometric dengan menggunakan titik kendali / control tanah (Ground Control Point biasa disingkat GCP). GCP dimaksud adalah titik yang diketahui koordinatnya secara tepat dan dapat terlihat pada citra inderaja satelit seperti perempatan jalan dan lain-lain.
Koreksi geometrik citra dapat dilakukan dalam empat tahap yang mencakup sebagai berikut:
1. Memilih metode setelah mengetahui karakteristik kesalahan geometrik dan tersedianya data referensi. Pemilihan metode tergantung pada jenis data (resolusi spasial), dan jenis kesalahan geometric (skew, yaw, roll, pitch) data.
2. Penentuan parameter yang tidak diketahui didefinisikan dari persamaan matematika antara system koordinat citra dan system koordinat geografis, untuk menentukan menggunakan parameter kalibarasi data atau titik control tanah.
3. Cek akurasi dengan verifikasi atau validasi sesuai dengan criteria, metode, dan data citra, maka perlu dicari solusinya agar diperoleh tingkat ketelitian yang lebih baik. Solusinya dapat dilakukan dengan menggunakan metode lain, atau bila data referensi yang digunakan tidak akurat atau perlu diganti.
4. Interpolasi dan resampling untuk mendapatkan citra geocoded presisi (akurat). Beberapa pilihan Geocoding Type yang sudah tersedia pada perangkat lunak, seperti Tryangulation, Polynomial, Orthorectify using ground control poinr, Orthorectify using exterior orientation, Map to map projection, Point registration, Rotation. Kegunaan setiap tipe geocoding adalah (a) Tryangulation untuk koreksi geometric data yang mengalami banyak pergeseran skew dan yawa, atau data yang tidak sama ukuran pixelnya pada satu set data. (b) Polynomial untuk koreksi geometrik data citra yang mengalami pergeseran linear, ukuran pixel sama dalam satu set data resolusi spasial tinggi dan rendah. (c) Orthorectify untuk mengoreksi citra secara geometris, berdasarkan ketinggian geografisnya. Koreksi geometrik jika tidak menggunakan Orthorectify, maka puncak gunung akan bergeser letaknya dari posisi sebenarnya, walaupun sudah dikoreksi secara geometerik. (d) Rotation untuk koreksi geometrik citra karena terjadi pergeseran citra yang terputar, baik searah jarum jam maupun sebaliknya.
Teknik koreksi geometrik triangulasi dilakukan koreksi secara linear dalam setiap segitiga yang dibentuk oleh tiga GCP dan daerah yang mempunyai kesalahan geometric besar diberikan GCP lebih banyak. Persyaratan pengambilan titik di lapangan adalah (a) teridentifikasi jelas pada citra satelit, (b) wilayah harus terbuka agar tidak terjadi multipath, (c) permukaan tanah stabil, tidak pada daerah yang sedang atau akan dibangun, (d) Lokasi pengukuran aman dan tidak ada gangguan
PENGGUNAAN CITRA SATELIT DALAM PERENCANAAN
ANGGOTA :
ANINDYA RAHMANIAR 10070314002
HANSYAN AS ARRY 10070314003
MELIA RINTANI 10070314005
1. RTRWN dan RTRWP
Resolusi Spasial citra satelit 15 - 30m akan menghasilkan skala peta maksimum 1 : 50.000 dan minimumnya 1 : 100.000, resolusi spasial 15 - 30m ini terdapat pada citra satelit landsat 5 (TM), landsat 7 ( ETM+) , landsat 8 OLI dan citra satelit Aster.
· SATELIT ASTER (Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer)
ASTER (Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer) adalah instrumen/sensor yang dipasang pada satelit Terra, yang diluncurkan pada Desember 1999, merupakan bagian dari NASA Earth Observing System (EOS) yang bekerja sama dengan Jepang. ASTER digunakan untuk pemetaan temperatur permukaan bumi, emisivitas, reflektansi dan elevasi.Platforms EOS adalah bagian dari NASA Earth Science Enterprise, dimana lembaga ini merupakan lembaga untuk penelitian biosfer, hidrosfer, litosfer dan atmosfer.
ASTER adalah salah satu citra yang mempunyai resolusi tinggi untuk observasi permukaan lahan, air, dan awan dari panjang gelombang tampak hingga inframerah thermal untuk studi klimatologi, hidrologi, biologi, and geologi. ASTER sendiri terdiri dari tiga subsistem, yaitu: VNIR, SWIR, TIR. VNIR memiliki 3 channel di gelombang visible dan inframerah dekat dengan resolusi spasial 15 m. Karakteristik Citra Satelit ASTER :
• Tanggal Peluncuran : 18 Desember 1999
• Lokasi Peluncuran : Vandenberg Air Force Base, California, USA
• Orbit : Sinkron putaran matahari (Sun Synchronous)
• Periode Orbit : 98.88 menit
• Ketinggian Orbit : 681 Km
• Inklinasi : 98.3°
• Resolusi Spasial : 15 m (VNIR), 30 m (SWIR), 90 m(TIR)
• Resolusi Temporal : 4 hari
2. RTRWK atau RTRWKab
Resolusi Spasial Citra Satelit 5 - 10 m akan menghasilkan skala peta maksimal sampai 1 : 10.000 dengan skala peta minimum 1 : 25.000, resolusi spasial 5 - 10m ini terdapat pada citra satelit seperti SPOT 4 resolusi 10m, SPOT 5 resolusi 5 dan 10 m, Alos AVNIR -2 dan Alos Palsar yang memiliki resolusi citra 6 m.
· SATELIT ALOS (Advanced Land Observing Satellite)
ALOS (Advanced Land Observing Satellite) merupakan satelit penginderaan jauh Jepang yang diutamakan untuk pengamatan daratan menggunakan teknologi satelit JERS-1 (Japanese Earht Resource Satellite-1) dan satelit ADEOS (Advanced Earth Observing Satellite) yang telah ditingkatkan (Gokmaria, 2009). Satelit ALOS dilengkapi dengan tiga sensor inderaja, yaitu sensor PRISM (Panchromatic Remote Sensing Instrument for Stereo Mapping) dan sensor AVNIR-2 (Advanced Visible and Near Infrared Radiometer type-2), serta sebuah sensor gelombang mikro atau radar yaitu PALSAR (Phased Array type L-Band Synthetic Aperture Radar). Satelit ALOS diluncurkan pada tanggal 24 januari 2006 dan berhenti beroperasi pada bulan april 2011, mempunyai 5 misi utama yaitu pegamatan kartografi, pengamatan regional, pemantauan bencana alam, penelitian sumber daya alam dan pengembangan teknologi satelit JERS-1 dan ADEOS. Karakteristik Citra Satelit ALOS :
• Tanggal peluncuran : 24 Januari 2006
• Kendaraan peluncur : H – II A
• Tempat Peluncuran : Tanegashima Space Center, Jepang
• Orbit : Sinkron putaran matahari
• Ketinggian Orbit : 691.65 Km
• Inklinasi : 98.16
• Resolusi Spasial : 2,5 m pankromatic dan 10 m multispektral
• Resolusi Temporal : 46 hari
• Luas Cakupan Wilayah : 70 x 35 m2
3. RDTRK
Resolusi Spasial Citra Satelit 0.6 - 1m akan menghasilkan skala peta maksimal 1 : 5000, Resolusi 0,6 - 1m ini terdapat pada citra satelit QuickBird dan Ikonos.
· Satelit IKONOS
Satelit IKONOS adalah satelit resolusi tinggi yang dioperasikan oleh GeoEyeberasal dari bawah Lockheed Martin Corporation sebagai Commercial Remote Sensing System (CRSS) satelit. Pada April 1994 Lockheed diberi salah satu lisensi dari US Department of Commerce untuk satelit komersial citra resolusi tinggi. Pada tanggal 25 Oktober 1995 perusahaan mitra Space Imaging menerima lisensi dari Komisi Komunikasi Federal (FCC) untuk mengirimkan telemetri dari satelit di Bumi delapan-gigahertz band ExplorationSatellite Service. Sebelum memulai, Space Imaging mengubah nama untuk satelit IKONOS. IKONOS berasal dari bahasa Yunani yang berarti “gambar”. Pada November 2000 Lockhead Martin menerima”Best of What’s New” Grand Award dalam kategori Penerbangan &Ruang Angkasa dari majalah PopularScience. Space Imaging diakuisisi oleh ORBIMAGE pada bulan September 2005. Perusahaan ini kemudian diganti namanya menjadi GeoEye. Aplikasinya dapat digunakan untuk pemetaan sumberdaya alam daerah pedalaman dan perkotaan,analisis bencana alam, kehutanan, pertanian, pertambangan, teknik konstruksi,pemetaan perpajakan, dan deteksi perubahan.Karakteristik IKONOS :
• Orbit :Sinkron putaran matahari
• Inklinasi : 98.1
• Kecepatan mengelilingi Bumi : 14.7 kali tiap 24 jam
• Ketinggian : 681 kilometer
• Masa Operasi : 7 tahun lebih
• Resolusi spasial : 1 meter
• Resolusi temporal : 3 hari
• Dynamic Range (resolusi radiometrik): 11-bit per pixel
• Resolusi pada Nadir (resolusi spektral) : 0,82 meter (panchromatic) 3,2 meter (multispectral)
• Resolusi 26° Off-Nadir (resolusi spektral): 1,0 meter (panchromatic) 4,0 meter (multispectral)
• Cakupan Citra : 11,3 kilometer pada nadir, 13,8 kilometer pada 26° off-nadir
• Waktu Melintas Ekuator : Nominal 10:30 AM waktu matahari
• Waktu Lintas Ulang : Sekitar 3 hari pada 40 ° garis lintang
• Saluran Citra : Panchromatic, blue, green, red, near IR
· SATELIT QUICKBIRD
Quickbird merupakan satelit penginderaan jauh yang diluncurkan pada tanggal 18 Oktober 2001 di California, U.S.A. Dan mulai memproduksi data pada bulan Mei 2002. Quickbird diluncurkan dengan 98º orbit sun-synchronous dan misi pertama kali satelit ini adalah menampilkan citra digital resolusi tinggi untuk kebutuhan komersil yang berisi informasi geografi seperti sumber daya alam.
Satelit Quickbird mampu untuk men-download citra dari stasiun three mid-latitude yaitu Jepang, Itali dan U.S (Colorado). Quickbird juga memperoleh data tutupan lahan atau kebutuhan lain untuk keperluan GIS berdasarkan kemampuan Quickbird untuk menyimpan data dalam ukuran besar dengan resolusi tertinggi dan medium-inclination, non – polar orbit. Setelah meng-orbit selama 90 hari, Quickbird akan memperoleh citra dengan nilai resolusi, Panchromatic sebesar 61 cm dan Multispectral sebesar 2.44 meter. Pada resolusi 61 cm bangunan, jembatan, jalan-jalan serta berbagai infrastruktur lain dapat terlihat secara detail Quickbird dapat digunakan untuk berbagai aplikasi terutama dalam hal perolehan data yang memuat infrastruktur, sumber daya alam bahkan untuk keperluan pengelolaan tanah (manajemen, pajak). Sedangkan untuk keperluan industri, citra Quickbird dapat memperoleh cakupan daerah yang cukup luas sebesar 16.5 km atau 10.3 mil. Karaketeristik Quickbird :
• Orbit: Sinkron putaran matahari
• Inklinasi : 97,2°
• Kecepatan pada Orbit: 7.1 Km/detik (25,560 Km/jam)
• Kecepatan diatas bumi: 6.8 km/detik
• Akurasi : 23 meter horizontal (CE90%)
• Ketinggian: 450 kilometer
• Resolusi spasial : 0.61 meter
• Resolusi temporal : 3-7 hari.
• Resolusi Pankromatik : 61 cm (nadir) to 72 cm (25° off-nadir)
• Resolusi Multi Spektral: 2.44 m (nadir) to 2.88 m (25° off-nadir))
• Cakupan Citra: 16.5 Km x 16.5 Km at nadir
• Waktu Melintas Ekuato: 10:30 AM
• Waktu Lintas Ulang: 1-3.5 hari, tergantung latitude (30° off-nadir)
4. Site Plan
Resolusi Spasial Citra Satelit 0.5m akan menghasilkan skala peta maksimal 1 2000, resolusi 0,5m ini terdapat pada citra satelit Geoeye, WorldView - 1, World View - 2, dan Pleidas.
· SATELIT WORLDVIEW
Satelit WorldView-2 adalah satelit generasi terbaru dari Digitalglobe yang diluncurkan pada tanggal 8 Oktober 2009. Citra Satelit yang dihasilkan selain memiliki resolusi spasial yang tinggi juga memiliki resolusi spectral yang lebih lengkap dibandingkan produk citra sebelumnya. Resolusi spasial yang dimiliki citra satelit WorldView-2 ini lebih tinggi, yaitu : 0.46 m – 0.5 m untuk citra pankromatik dan 1.84 m untuk citra multispektral. Citra multispektral dari WorldView-2 ini memiliki jumlah band sebanyak 8 band, sehingga sangat memadai bagi keperluan analisis-analisis spasial sumber daya alam dan lingkungan hidup. Karakteristik Citra Satelit Worldview :
• Tanggal peluncuran : 8 Oktober 2009
• Lokasi peluncuran : Vandenberg Air Force Base, California
• Orbit : Sinkron putaran matahari (Sun Synchronous)
• Periode Orbit : 100 menit
• Ketinggian Orbit : 770 Km
• Resolusi Spasial : 0.46 m panchromatic dan 1.84 m multispectral
• Luas Cakupan Wilayah : 65.6 km x 110 km
• Perekaman per Orbit : 524 Gigabit
· SATELIT GEOEYE-1
GeoEye-1 merupakan Satelit pengamat Bumi yang pembuatannya disponsori oleh Google dan National Geospatial-Intelligence Agency (NGA) yang diluncurkan pada 6 September 2008 dari Vandenberg Air Force Base, California, AS. Satelit ini mampu memetakan gambar dengan resolusi gambar yang sangat tinggi dan merupakan satelit komersial dengan pencitraan gambar tertinggi yang ada di orbit bumi saat ini.
Satelit ini mampu menangkap luasan gambar setara 270 ribu mil persegi permukaan bumi setiap harinya. Luasan tersebut setara dengan luas negara bagian Texas Amerika. Kemampuannya menangkap detil gambar sekecil debu tentang bumi dalam kecepatan 17.000mph di orbitnya dan hasil gambar yang diambilnya memberikan gambaran keindahan tentang planet kita ini. Karakteristik Citra Satelit GeoEye-1 :
• Tanggal Peluncuran : 6 September 2008
• Lokasi peluncuran : Vandenberg Air Force Base, California
• Orbit : Sinkron putaran matahari
• Periode Orbit : 98 menit
• Ketinggian Orbit : 681 Km
• Inklinasi : 98
• Resolusi Spasial : 0,41 m pankromatik, & I,65 multispektral
· CITRA SATELIT PLEIADES
Satelit optis Pleiades dikembangkan dan diluncurkan oleh AIRBUS Defense and Space, Prancis. Diluncurkan melalui roket Russia Soyuz STA di Pusat Peluncuran Guiana, Kourou. Satelit ini dibedakan berdasarkan 2 tipe sensor yaitu Pleiades-1A dan Pleiades 1B.
1. Pleiades-1A Satellite Sensor Diluncurkan pada 16 Desember 2011. Sensor satelit ini mampu mengambil gambar stereo dalam sekali pemotretan dan dapat mencakup wilayah yang luas (hingga 1000km x 1000km).
2. Pleiades-1B Satellite Sensor Diluncurkan pada 2 Desember 2012. Memiliki kemampuan untuk melakukan pemetaan skala besar termasuk rekayasa dan proyek konstruksi, monitoring (kompleks pertambangan, industri dan militer, daerah konflik dan krisis, bencana alam serta evakuasi dan operasi penyelamatan).
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2015. (http://pusfatekgan.lapan.go.id/wp-content/uploads/2015/02/Informasi-Satelit-Pleiades.pdf. Diakses pada tanggal 12 Maret 2017)
Maulana, Rahadian. 2015. Karakteristik Berbagai Citra Satelit. (http://rahardianmaulana.blogspot.co.id/2015/01/karakteristik-berbagai-citra-satelit.html. Diakses pada tanggal 12 Maret 2017)
Ardh, Latifa. http://latifaardh.blogspot.co.id/p/manfaat-citra-resolusi-tinggi-untuk.html. Diakses pada tanggal 12 Maret 2017