Bekerja
Sebagai seorang yang baru saja menyandang gelar ‘sarjana’ akhirnya saya disibukkan oleh tantangan baru, yaitu 'mencari tempat bekerja’.
Terhitung sudah tiga bulan saya mencari pekerjaan. Tepat setelah saya sidang skripsi, saya ditawari beberapa pekerjaan tanpa harus melewati berbagai tes yang umumnya diadakan sebuah perusahaan ketika mencari seorang karyawan. Tanpa pikir panjang, saya menolak semua tawaran yang diberikan hanya dengan satu alasan,
“Saya tak akan bahagia jika melakukan pekerjaan itu.”
Hari demi hari berlalu dan saya tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Kedua orang tua saya tak pernah meminta saya untuk cepat-cepat bekerja, apalagi melihat saya memang belum mendapatkan ijazah sebab saya belum wisuda. Bapak lebih semangat mencarikan saya 'tempat ngaji’ daripada nyuruh saya cepat-cepat dapat gaji. Bapak tahu betul, anak perempuannya membutuhkan Murabbi baru di Bekasi. Sebab sudah lama tak dilihat anak perempuannya pergi 'mengaji’ semenjak berada di Bekasi.
Seharusnya berdasarkan apa yang terjadi, saya tak perlu terburu-buru mencari pekerjaan. Namun, saya tak dapat menampik, terus berdiam diri di rumah membuat saya merasa menjadi orang lain. Saya tak lagi memiliki kepercayaan diri seperti yang saya miliki saat masih menjadi mahasiswa. Saya merasa asing dengan kota kelahiran saya sendiri dan Bandung menjadi kota yang begitu saya rindukan.
Beberapa kali saya kembali ke Bandung untuk mengerjakan proyek dosen. Saat itulah saya menyadari betapa menyenangkannya kembali disibukkan oleh hal-hal yang sesuai dengan 'passion’ kita.
Pernah beberapa kali saya mencoba meminta izin agar dapat kembali ke Bandung untuk bekerja dan jawabannya selalu sama,
“Sudah cukup empat tahun kamu kuliah dan tinggal jauh dari orang tua, jangan pernah kau tambah lagi dengan alasan ingin bekerja. Semua orang berlomba-lomba untuk bekerja di Jakarta, lalu kenapa kamu malah pergi darinya dan pindah ke tempat yang jauh dari orang tua? Kamu bahkan tak memiliki mahram di sana. Kami tak pernah memaksa agar kamu mendapatkan pekerjaan secepatnya. Kami hanya ingin kamu tinggal di sini, bersama kami berdua. Jika tidak juga mendapatkan pekerjaan dalam waktu yang lama, kamu bisa melanjutkan studimu di universitas yang lebih baik dari tempatmu berkuliah dulu.”
Saya selalu terdiam setiap kali mendengarkan perkataan mereka. Ya, pekerjaan memang bukan segala-galanya, cukuplah rido Allah dan rido orang tua yang harus saya dapatkan selama hidup di dunia. Bukan tumpukan uang hasil jerih payah saya selama bekerja, bukan juga pengakuan dari rekan atau bahkan atasan di tempat saya bekerja. Sayangnya pemikiran seperti itu tak pernah bertahan lama. Setiap kali bosan berada di rumah dan tak melakukan apa-apa selain pekerjaan rumah, saya nyaris frustasi dan berniat menerima pekerjaan apapun asalkan dapat membuat saya sibuk.
Namun ketika ditanya,
“Kamu ingin pekerjaan yang seperti apa?”
Saya mendadak menjadi seorang yang sangat idealis,
“Saya menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang saya pelajari saat berkuliah. Saya ingin benar-benar terjun menjadi seorang ahli bahasa, minimal menjadi editor bahasa di sebuah penerbitan. Lebih bagus jika ada yang mengajak saya untuk meneliti satu dua kasus bahasa. Saya ingin pekerjaan yang dapat mengembangkan keilmuan yang saya miliki. Saya ingin pekerjaan yang tidak mengubah cara berpakaian saya (semisal harus pakai celana dan tidak diperkenankan menggunakan kerudung yang menutup dada). Saya juga tak ingin pekerjaan yang membuat saya lalai dalam beribadah.”
Terlalu banyak syarat yang saya keluarkan bukan? Padahal di satu sisi saya juga ingin menjadi orang yang bisa menerima berbagai pekerjaan untuk sekadar mencari pengalaman.
Di saat-saat seperti ini kerinduan akan tempat kerja saya yang dulu memuncak. Ya, dulu sewaktu masih menjadi mahasiswa saya juga menjadi pekerja part-time di sebuah lembaga amal. Gajinya tak seberapa, tapi saya bahagia bekerja di sana. Saya berada di divisi Marketing Communication dan dipekerjakan sebagai social media officer, sedikit banyak pekerjaan itu juga mengasah kemampuan berbahasa saya. Lingkungannya pun tak mengubah saya menjadi orang lain. Lingkungannya justru membuat saya semakin semangat dalam beribadah. Sayangnya saya terpaksa berhenti bekerja di sana karena harus kembali ke Bekasi.
Kini, begitu sulit mencari pekerjaan yang sesuai dengan hati. Dulu, kuat sekali keinginan bekerja di sebuah stasiun TV, tapi semenjak pernah magang di salah satu stasiun TV swasta, saya justru kapok. Lingkungannya benar-benar tak cocok dengan saya. Saya takut dengan bekerja di sana, justru akan membuat saya semakin jauh dari agama. Saya melihat terlalu banyak kebohongan dan manipulasi yang ada di balik layar kaca.
Bagaimana dengan perusahaan-perusahaan besar? Ya, saya mungkin bisa saja menjadi pegawai sebuah perusahaan. Namun, sayangnya lebih banyak perusahaan yang begitu ketat mengatur cara berpakaian pegawainya dan aturannya tak pernah cocok dengan saya.
Selain opsi untuk bekerja di sebuah perusahaan, tak sedikit juga yang dengan mudah berkata,
“Kau harusnya bekerja saja di sekolah bapakmu. Kau pasti tak perlu melalui serangkaian tes untuk masuk sekolah itu dan menjadi guru.”
Perkataan seperti itu biasanya hanya saya jawab dengan senyuman. Sejak kecil, saya tidak pernah hidup di bawah bayangan siapapun. Saya tidak sedikitpun berusaha mempermudah perjuangan saya dengan memanfaatkan orang-orang di sekitar saya. Saya ingin dipandang sebagai saya, tanpa ada embel-embel siapapun di belakang saya. Sebab saya pernah merasakan sakitnya melihat orang lain begitu mudah mendapatkan sesuatu hanya karena orang terdekatnya memiliki kekuasaan lebih untuk membantu dia memiliki sesuatu itu. Saya ingin kehidupan yang adil dan menjauh dari sekolah bapak adalah salah satu cara saya untuk hidup secara adil.
Lantas bagaimana sekarang?
Saya masih berjuang mencari pekerjaan yang sesuai. Saya masih dan akan terus berjuang. Beberapa kali sempat terpikir membuat usaha sendiri, tapi untuk saat ini saya memang masih harus mematangkan berbagai pemikiran yang terlintas di benak. Namun, perlu kalian ketahui saya tidak pernah mempermasalahkan besar kecilnya gaji yang nantinya akan saya dapatkan, entah kenapa itu selalu saya letakkan di urutan terakhir ketika mencari sebuah pekerjaan. Prioritas saya adalah kenyamanan dan kebahagiaan dalam melakukan pekerjaan tersebut. Saya juga selalu mengutamakan seberapa bermanfaatnya hal yang saya kerjakan untuk orang lain. Sebab saya terlalu takut, jika ternyata pekerjaan saya justru membuat banyak orang terluka.
Ah, kehidupan pascakampus ternyata semelelahkan ini.
Sekarang, biarkan saya menikmati waktu luang yang tak banyak orang bisa memilikinya. Biarkan saya bergelut dengan berbagai pemikiran yang saya ciptakan. Biarkan….biarkan….
Adakah yang pernah merasakan hal yang sama seperti saya? Bagaimana kamu mengatasinya?












