Penatua
Banyak orang beranggapan bahwa duduk dalam jabatan gereja (a.k.a. Penatua) itu sesuatu yang "wah" atau luar biasa, tapi tidak sedikit juga mereka yang menganggap bahwa tidak enak bila duduk dalam jabatan gereja dengan alasan menyita waktu, banyak rapatnya, dsb. Lalu sebenarnya seperti apa?
- Ada ungkapan bahwa menjadi seorang penatua itu pelayanan mulia.
Sebenarnya, pelayanan, apapun bentuknya adalah mulia. Tidak harus jadi seorang penatua baru dikatakan pelayanan tsb mulia.
- Ada ungkapan bahwa menjadi seorang penatua itu menyenangkan / merepotkan.
Menyenangkan atau tidak, merepotkan atau tidak tergantung bagaimana kita yang duduk dalam jabatan ini memandang pelayanannya seperti apa. Jangankan menjadi penatua, menyenangkan / tidaknya hidup kita itu tergantung dari sudut mana kita memandang.
- Ada ungkapan bahwa jika seseorang bisa menjadi penatua itu hebat, apalagi kalau orang tersebut berusia masih muda (dibawah 30 tahun).
Well.. Justru bukan karena seseorang itu hebat bisa menjadi penatua, melainkan karena keterbatasan, ketidaksempurnaan, dan karunia Tuhanlah yang bisa membuat seseorang dipilih menjadi penatua. Usia muda maupun tua, setiap orang memiliki panggilannya masing-masing dan jawabannya masing-masing. Kalau Tuhan memanggil kita jadi penatua, pilihan jawaban kita hanya ada dua, yaitu YA atau TIDAK (dengan segala konsekuensi yang ada). Tidak ada kesan yang "wah" dan "hebat" sebenarnya. Justru karena kasih dan karunia Tuhan sajalah yang mau memilih dan memanggil kita. Seharusnya, ketika kita sadar benar akan panggilan tersebut, kita perlu terus mengembangkan diri menjadi lebih baik dan berkenan di hadapan Allah (bukan di hadapan manusia). Adakah diantara kita yang merasa bahwa dirinya layak dan berkenan di hadapan Allah semesta alam?
- Ada ungkapan bahwa jadi penatua itu repot, banyak rapatnya, nggak bisa jalan-jalan kalau hari Minggu karena harus bertugas dalam kebaktian, belum lagi dobel-dobel, terus tanggung jawabnya banyak mengurusi ini dan itu, dll.
Siapa yang bilang jadi Penatua itu enak, ya? Kalau ada yang bilang jadi Penatua itu enak, sorry to say, itu bohong! Memikul salib (diri kita sendiri) itu berat dan sulit.
Jadi penatua itu repot? Hmm.. Sebenarnya bukan hanya jadi penatua itu merepotkan, semua hal yang kita lakukan itu kadang merepotkan, bukan? Repot itu konsekuensi.
Jadi penatua banyak rapatnya? Banyak rapat atau tidak itu tergantung masing-masing organisasi gerejanya. Ada gereja yang memang banyak rapatnya, ada yang tidak. Semakin banyak jumlah jemaat dalam suatu gereja, maka para pejabat gereja otomatis akan banyak rapat dan kegiatannya. Lumrah bukan?
Jadi penatua nggak bisa jalan-jalan? Jawabannya : ngeyel. Persoalan tidak bisa berjalan-jalan atau tidak itu bagaimana kita yang menjabat jadi penatua mampu untuk me-manage waktu. Tapi ada hal yang memang harus disadari bahwa ketika kita memegang tanggung jawab sebagai seorang pejabat gerejawi / jabatan apapun itu, memang ada hal-hal yang harus kita korbankan. Ketika rekan-rekan sepelayanan kita di komisi sedang asyik pergi main, kita malah sedang sibuk rapat bersama para penatua lainnya, well, that's the consequence.
- Ada ungkapan bahwa jadi penatua itu suka di"kepo"in banyak orang.
Bisa iya, bisa tidak. Tapi ini hal yang lumrah karena ketika seseorang duduk di dalam suatu jabatan (gereja atau duniawi), maka dirinya akan menjadi perhatian orang lain, terutama sikap hidupnya. Saya merasakan sendiri bahwa baik di gereja ataupun di dunia kerja, ketika rekan-rekan saya mengetahui bahwa saya seorang penatua di gereja, maka terkadang mereka mungkin menilai sikap saya, gaya hidup saya, cara saya bekerja, bahkan tingkah laku saya dalam pergaulan dengan sesama rekan. Ada hal yang dapat membuat seseorang dilema ketika menjadi seorang penatua. Ketika dia melakukan tindakan yang benar, maka orang tidak akan mempermasalahkan atau bahkan tidak peduli. Sedangkan, ketika dia tidak sengaja berbuat kesalahan, mungkin akan banyak orang yang langsung menilai dia buruk dan mengkait-kaitkannya dengan jabatan kepenatuaannya. Lumrah? Ya, itulah kenyataannya. Memang akan jadi sulit ketika orang banyak mengetahui bahwa kita sedang menjadi seorang penatua. Mungkin kita tidak sadar bahwa akan ada orang-orang yang "keeping his/her eyes on us", jadi setiap tindakan dan ucapan kita akan dinilai. Lalu, bagaimana kita harus menghadapi hal ini? Jawaban saya sederhana, bekerjalah dengan baik untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Karena, kalau kita bekerja untuk Tuhan, otomatis setiap tindakan dan perkataan kita hanya untuk kemuliaan Tuhan saja.
Ada sebagian orang yang entah dengan motivasi baik atau buruk ingin duduk dalam jabatan kepenatuaan. Seseorang dapat duduk dalam jabatan penatua itu adalah karena kasih karunia dan kemurahan Allah memilih dirinya. Secara logis, bagaimana mungkin orang yang berdosa seperti kita ini layak untuk bisa menjadi rekan sekerja Allah? Tak jarang orang yang ingin dan "keukeuh" jadi penatua supaya dipandang oleh orang lain. Tak jarang ada orang yang dengan sengaja mengincar jabatan penatua di gereja untuk menaikkan harga dirinya di keluarga, di dunia kerja, atau di dalam gerejanya sendiri. Dan ada juga orang yang ingin duduk sebagai penatua supaya mendapat tempat yang layak dalam suatu kedudukan tertentu di luar gereja.
Tantangan ketika kita menjadi seorang penatua bisa datang dari mana saja. Bukan hanya sekedar dari rekan sepelayanan kita saja di kepenatuaan, akan tetapi di dunia kerja dan keluarga pun tantangan itu hadir. Mungkin ada diantara kita yang memiliki rekan sepelayanan yang menurut kita menyebalkan dan memiliki sikap kurang berkenan. Ketika kita berada di dunia kerja dan rekan-rekan kerja kita tahu bahwa kita seorang pejabat di gereja, mungkin beberapa orang, seperti yang sudah saya tulis di atas, akan memerhatikan tindak-tanduk kita di dunia kerja. Ketika dalam lingkup keluarga, di mana seharusnya kita kumpul dengan keluarga kita, namun ternyata ada pelayanan yang harus kita jalani di gereja, membuat kita harus mengorbankan waktu bersama keluarga. Sungguh pilihan yang terkadang membuat kita dilema, bukan? Sejak awal Tuhan tidak pernah menjanjikan hal-hal yang happy kalau kita bersedia menjadi rekan sekerja Allah sebagai penatua, justru Dia malah memberi bahkan mengizinkan tantangan itu hadir dalam hari-hari kita supaya kita semakin menyadari bahwa Allah itu terlampau baik dan kita harus terus mengandalkan Allah dalam setiap gerakan kita.
Dari semua hal yang telah dijabarkan di atas akan kembali lagi kepada diri kita sendiri, maukah kita menjadi rekan sekerja Allah meskipun akan ada banyak hal yang menjadi konsekuensi? :)







