Wamenkominfo Mengklaim Banyak Kemajuan di Sektor Pos, Telekomunikasi dan Penyiaran
BANDUNG, cinews.id – Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamenkominfo) Nezar Patria mengatakan bahwa perkembangan sektor pos, telekomunikasi, dan penyiaran mencatat banyak kemajuan, terutama dalam 10 tahun terakhir.
“Antara lain kita melihat di 2014, misalnya, itu penetrasi internet kita masih sekitar 34 persen dari total populasi di 2014. Sekarang sudah mencapai hampir 80 persen di 2024,”…
STUDI FENOMENA SOSIAL KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM: JURNAL ONLINE BUKTI NYATA TEORI MODERNITAS
Abstrak: Modernisasi sangat terasa pada sebuah fenomena sosial peng-upload-an jurnal secara daring. Bagi generasi millennial yang sangat tidak asing dengan dunia gadget tentunya akan terasa mudah, namun tidak seperti generasi terdahulunya yang belum seberapa mengenal gadget. Tentunya hal tersebut akan menjadi sebuah adaptasi sosial. Terlepas dari itu, konsep modernitas terhadap jurnal online akan menimbulkan kontroversi bagi mereka yang awam terhadap pembaharuan sosial.
Kata kunci: Modernitas, Jurnal online
Pendahuluan
Modernisasi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, Karena modernisasi merupakan salah satu perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Masyarakat tidak bisa menghindarinya karena setiap masyarakat manusia terus berubah dan mereka ingin berubah terus-menerus kehidupan berubah. Masyarakat adalah fenomena sosial yang alami karena setiap orang memiliki minat yang tak terbatas.
Perubahan sosial adalah proses yang memunculkannya perubahan struktur dan fungsi sistem sosial. Ada tiga tahap utama dalam proses perubahan, yaitu mungkin dimulai dengan penciptaan atau kelahiran sesuatu apa yang diinginkan atau apa yang dibutuhkan kemudian menjadi ide baru. Jika ide digulung seperti gasing yang berputar menjadi abu mereka, dibagikan di antara anggota masyarakat, proses transformasi sudah memasuki tahap kedua. Fase berikutnya sebagai fase ketiga disebut result (hasil, akibat), yaitu perubahan yang terjadi dalam sistem sosial yang bersangkutan sebagai akibat dari menerima atau menolak inovasi.[1]
Jika inovasi diterima maka orang untuk menolak, maka tindakan seperti itu disebut mengangkat. Jadi ada invasi yang diterima dan terus digunakan dan yang lainnya tidak.[2]
Penerbitan jurnal dari masa ke masa pun mengalami perubahan pada media yang dipakainya. Dahulu, jurnal diterbitkan dalam sebuah buku fisik. Namun, saat ini hal itu telah berubah dikarenakan telah adanya inovasi baru berupa website. Melalui website mahasiswa dan dosen millennial dapat dengan mudah mengakses serta meng-upload sebuah jurnal pada laman dan membagikannya melalui sosial media. Lalu, publik dapat melihat jurnal yang diupload secara bebas atau terbatas sesuai dengan kebijakan privacy yang ditetapkan. Dengan begitu, telah terasa bahwasannya efek dari konsep modernitas atau perubahan sosial telah terasa pada sebuah penerbitan jurnal.
Isi
Gagasan modernisasi pada dasarnya melibatkan transformasi keseluruhan dari kehidupan bersama tradisional dan pra-modern dalam hal teknologi dan organisasi sosial menjadi norma-norma ekonomi dan politik yang menjadi ciri negara-negara Barat yang tetap.[3]
Modernisasi adalah proses modernisasi yang secara etimologis berasal dari kata latin “modernus”, yang berarti “sekarang”. Modernisme sering dipahami sebagai sesuatu yang terletak pada tataran konseptual (ideologi), sedangkan modernisme terletak pada tataran realitas praktis atau konkretisasinya.[4]
Secara historis, modernisasi merupakan proses perubahan tipe sistem sosial, ekonomi, dan politik yang berkembang pesat di Eropa Barat dan Amerika Utara sejak abad ke-17 hingga abad ke-19. Modernisasi merupakan salah satu bentuk perubahan sosial. Seringkali dalam bentuk perubahan sosial yang ditargetkan berdasarkan perencanaan sering disebut sebagai perencanaan sosial. [5]
Modernisasi merupakan masalah yang harus dihadapi masyarakat, karena prosesnya meliputi wilayah yang sangat luas, proses disorganisasi, masalah sosial, konflik antar kelompok, hambatan perubahan, dan sebagainya.
Sebagaimana dijelaskan di atas, disorganisasi adalah proses hilangnya dan melemahnya moralitas dan nilai-nilai sosial melalui perubahan. Wujud nyata dari disorganisasi adalah munculnya masalah-masalah sosial. Masalah sosial dapat muncul sebagai penyimpangan dari aturan masyarakat, yang merupakan masalah bagi masyarakat secara keseluruhan. Misalnya, masalah yang berkaitan erat dengan penerbitan jurnal secara online. Banyak pihak yang merasa kurang paham terhadap sistematika peng-upload-an jurnal akan bingung dan merasa kesusahan.[6]
Selain itu, tentu saja mungkin ada penolakan terhadap perubahan sebagai akibat dari modernisasi. Keyakinan yang kuat akan kebenaran tradisi, sikap intoleran terhadap penyimpangan, keterlambatan pendidikan dan kemajuan ilmu pengetahuan adalah beberapa faktor yang menghambat proses modernisasi.
Dengan demikian, ada sesuatu yang sangat mempengaruhi diterima atau ditolaknya modernisasi, terutama sikap dan nilai-nilai, kemampuan menunjukkan manfaat unsur-unsur baru dan kesesuaiannya dengan unsur-unsur budaya.
Modernisasi bersifat preventif dan konstruktif, dan karena itu proses ini tidak mengarah pada keinginan yang baik. Di sisi lain, modernisasi harus mampu mencerminkan perkembangan yang ada di masyarakat di masa yang akan datang.[7]
Syarat-syarat modernisasi adalah sebagai berikut.
Cara berpikir ilmiah yang dilembagakan oleh kelas penguasa dan masyarakat. Untuk itu diperlukan sistem pendidikan dan pembelajaran yang terencana dan terencana dengan baik.
Sistem ketatanegaraan yang baik, yang benar-benar terdiri dari birokrasi.
Adanya sistem pengumpulan dan pemusatan data yang baik dan teratur pada suatu instansi atau kantor tertentu.
Menciptakan iklim yang kondusif bagi masyarakat pasca modernisasi dengan menggunakan alat komunikasi massa.
Tingkat organisasi yang tinggi berarti disiplin di satu sisi, dan pembatasan kebebasan di sisi lain.
Sentralisasi kekuasaan dalam pelaksanaan perencanaan sosial.[8]
Penutup
Perubahan teknologi selalu lebih cepat perubahan budaya, karena perubahan budaya terutama perubahan dalam berpikir, sementara perubahan teknologi mungkin tidak selalu membutuhkan perubahan dalam berpikir terlebih dahulu. Untuk perubahan masyarakat kemudian dapat mengubah masyarakat yang progresif kebutuhan mental untuk mendorong perkembangan sosial. Sebelum masyarakat manusia yang berkembang sudah terkenal ada kecenderungan untuk berkembang, tetapi sebagai perangkat dan kurangnya sumber daya sulit untuk diperbaiki lakukan atau lanjutkan. Perubahan sosial Ini dapat dengan mudah terjadi jika masyarakat terpengaruh terbuka untuk objek baru sebagai elemen, keduanya luar dan dalam.
Mahasiswa dan dosen harus bisa beradaptasi dengan kondisi (jurnal online) perubahan akibat modernisasi. Perubahan yang sifatnya positif harus disambut baik tangan terbuka. Upaya untuk mengatasi perubahan negatif dimungkinkan.
[1] Bahreint T. Sugihen, Sosiologi Pedesaan (Suatu Pengantar), (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), hal. 55.
[2] Jefta Leibo, Sosiologi Pedesaan Mencari Strategi Pembangunan Masyarakat Desa Berparadigma Ganda, (Yogyakarta: Andi Offset, 1995), hal. 77.
[3] Moore, Wibert E., Sociale Verandering dalam Social Change, diterjemahkan oleh A. Basoski, Prisma Boeken, (Antwepen: Utrecht, 1965), hal. 129
[4] J.W Schoorl, Modernisasi: Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-Negara Sedang Berkembang. PT. Gramedia, Jakarta, 2009, hal. 1
[5] Ibid, hal. 120
[6] Wilbert, E., Moore, op. cit., hal. 131-132
[7] William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff: Sociologi, edisi ke 4, A feffer dan Simons Internasional University Edition, 1964, hal. 758
Sambut Ramadhan, KPI Keluarkan SE Pelaksanaan dan Pengawasan Siaran bagi Lembaga Penyiaran
Sambut Ramadhan, KPI Keluarkan SE Pelaksanaan dan Pengawasan Siaran bagi Lembaga Penyiaran #HimpunID
HIMPUN.ID – Menyambut bulan Ramadan tahun 2022, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengeluarkan surat edaran tentang pelaksanaan dan pengawasan siaran bagi lembagai penyiaran.
Surat edaran ini telah dikeluarkan sejak Selasa (15/3/2022).
Dalam surat edaran tersebut terdapat 14 poin yang harus dipatuhi oleh lembaga penyiaran di Indonesia selama berlangsungnya bulan Ramadhan 2022.
Poin-poin aturan…
Pernah Diusulkan Jokowi, Surakarta Jadi Tuan Rumah Hasiarnas Ke-88
Pernah Diusulkan Jokowi, Surakarta Jadi Tuan Rumah Hasiarnas Ke-88
Semarang, Mitrapost.com – Surakarta terpilih sebagai tempat penyelenggaraan Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) ke-88 pada 1 April mendatang.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua KPI Pusat, Agung Suprio, saat menemui Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pada Rabu (3/3/2021).
Ketua KPI menjelaskan bahwa pemilihan Surakarta sebagai tuan rumah Harsiarnas merupakan usulan dari Presiden Joko Widodo…
“Kalau kita hanya menunggu digitalisasi, itu akan lama. Yang harus dilakukan adalah bagaimana saling bersinergi dan memberdayakan tiap potensi yang ada”
Rudiantara, Menkominfo RI.
JAKARTA, publikreport.com – Sembilan orang personil Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Masa Bakti 2019-2022, masing-masing Agung Supriyo, sebagai ketua merangkap anggota. Nuning Rodiyah, Mulyo Hadi Purnomo, Aswar Hasan,…
Wujudkan Penyiaran Sehat, Diskominfo Parepare Gelar Sosialisasi
Wujudkan Penyiaran Sehat, Diskominfo Parepare Gelar Sosialisasi
MERAHNEWS.COM | PARE-PARE – Dinas Komunikasi dan Informatika menggelar sosialisasi Forum Masyarakat Peduli Penyiaran Sehat. Ketua Komisi Penyiaran Indonesia, Matewakkang, S.Ip. M.Si menjadi narasumber dalam sosialisasi tersebut. Tema yang diangkat, disosialisasikan kepada yang hadir diantaranya pengusaha TV kabel, LPPL, LPS, dan LPK, sosialisasi tersebut bertujuan untuk mewujudkan penyiaran yang…