Traveling Pemikiran: Menghidupkan Akal, Membangun Nalar
Ada dua quotes tentang buku yang terkadang menggelayuti pikiran saya; yang satunya familiar, dan yang satunya lagi gak familiar (hampir gak ditemukan di Google kalo kita search).
“If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else is thinking.” — Haruki Murakami, dalam bukunya Norwegian Wood
“Wahai engkau yang meminjam buku dari saya. Ketahuilah, bagiku meminjamkan buku adalah cela di dunia ini. Hanya bukulah kekasih saya. Apa komentarmu pada orang yang tega meminjamkan kekasihnya?” — Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna As-Sa'ati (Ayah Hasan Al-Bana)
Sekilas kedua quotes itu tampak keren, dan kita cenderung meng-iya-kannya. Tapi kalo saya maknai secara mendalam (uhuk, mendalam katanya~), keduanya memiliki sifat negatif. Keduanya sama-sama ‘menyerukan’ agar insight/pemikiran/ilmu gak tersebar secara luas, ekslusif, dan inaccessible (sulit diakses).
Haruki Murakami secara tersirat mengajak kita untuk gak membaca buku-buku yang dibaca oleh kebanyakan orang. Jadi seolah-olah kita diajak untuk membaca buku-buku lain yang anti-mainstream agar pemikiran kita juga anti-mainstream. Dan menurut pemaknaan saya, orang lain gak perlu tahu buku-buku apa yang kita baca.
But there is a part of me yang gak setuju dengan gagasan Murakami ini. Kalo itu menyangkut valuable knowledge dan useful insights, kenapa gak disebarkan aja? Kenapa gak mengajak banyak orang untuk membacanya? Kenapa gak pintar dan cerdas berjama’ah aja? Kalo kita belum pernah membaca, apalagi dalam kondisi tertinggal, kenapa gak baca aja buku-buku yang dibaca oleh banyak orang?
Ayahanda Hasan Al-Bana memberi gagasan bahwa buku adalah sesuatu yang sangat berharga, layaknya kekasih. Jadi meminjamkan buku adalah cela baginya (dan bagi orang lain juga).
Sebagai seorang yang posesif terhadap barang-barang milik pribadi (terutama buku), tentu saya sependapat dengan Syaikh Ahmad. Saya adalah orang yang suka merawat buku dan protektif banget. Tapi dulu saya masih “oke-oke” aja meminjamkan buku-buku saya. Lalu banyak pengalaman yang mengecewakan dan gak menyenangkan pasca peminjaman buku, yang akhirnya membuat saya ogah meminjamkan buku-buku saya ke siapapun. Orang-orang hanya saya bolehkan membaca di rumah saya, tidak untuk membawanya pulang/ke tempat lain.
Dan lagi-lagi, there is a part of me yang gak sependapat dengan Syaikh Ahmad. Sebab saya sendiri juga ada kalanya adalah orang yang meminjam buku (meski jarang banget). Alasan kedua adalah karena banyak orang yang underprivileged, sehingga gak mampu membeli buku. Alasan ketiga adalah di masa kejayaannya, Islam menjadi sebuah peradaban ilmu. Perpustakaan dan toko buku berserakan dimana-mana, karena yang membuka dan menjajakan adalah perseorangan/pribadi-pribadi, orang per orang, gak hanya instansi terkait.
Dalam bukunya yang berjudul “1001 Inventions: The Enduring Legacy of Muslim Civilization”, Salim T.S. Al-Hassani menyatakan (langsung aja saya terjemahkan ke Bahasa Indonesia):
Buku-buku disajikan dan banyak kaum terpelajar/intelektual yang mewariskan perpustakaannya ke masjid kotanya untuk memastikan pelestariannya dan untuk membuat buku-buku tersebut dapat diakses oleh para pelajar yang sering mengunjunginya. Maka tumbuhlah universitas-universitas besar Cordoba dan Toledo yang mengguncang umat Kristen dan juga Muslim.
Dikatakan bahwa Khalifah Abbasiyah Al-Ma'mun membayar para penerjemah dengan emas untuk setiap buku yang mereka terjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Arab. Dari sini menghasilkan persediaan buku yang sangat banyak, yang menarik perhatian dan rasa hormat dari generasi berikutnya, baik Muslim maupun non-Muslim. Selama periode Abbasiyah, ratusan perpustakaan—yang banyak dimiliki secara pribadi—dibuka, sehingga membuat ribuan buku tersedia bagi pembaca (alias accessible).
Koleksi buku masyarakat begitu luas sehingga mustahil menemukan masjid, tempat belajar, tanpa koleksi buku. Sebelum bangsa Mongol menghancurkan Baghdad pada tahun 1258, kota ini memiliki 36 perpustakaan dan lebih dari 100 pedagang buku, beberapa di antaranya juga penerbit, mempekerjakan banyak penyalin (copyists). Ada perpustakaan serupa di Kairo, Aleppo, dan di kota-kota besar Iran, Asia Tengah, dan Mesopotamia.
Perpustakaan masjid disebut “Dar Al-Kutub” atau “The House of Books”, dan menjadi pusat kegiatan intelektual. Di sini para penulis dan cendekiawan mendiktekan hasil studi mereka kepada khalayak dari berbagai kalangan—dari kaum muda, cendekiawan lain, dan orang awam yang tertarik. Siapa saja dan semua orang bisa ambil bagian dalam diskusi. Kemudian profesional warraqs (penyalin naskah/buku) atau scribes (juru tulis) menyalin dan mengubahnya menjadi buku. Bahkan ketika buku-buku itu dipesan secara khusus, buku-buku itu masih akan diterbitkan dengan cara seperti ini.
When book lovers died, it was a tradition that they would donate their collected manuscripts, sometimes thousands of volumes, to the mosque libraries for all to enjoy. (Ketika para pecinta buku wafat, sudah menjadi tradisi bahwa mereka akan menyumbangkan manuskrip yang mereka kumpulkan—terkadang ribuan volume—ke perpustakaan masjid untuk dinikmati semua orang.)
Jadi begitu, gengs. Ruang privasi diubah menjadi ruang publik. Di sana terjadi pertukaran insight, ilmu, gagasan, ide, wacana, informasi, dll. Ilmune gak dipendem dewe (Ilmu mereka gak disimpan sendirian, tapi disebarkan). And as the saying goes, “Apa gunanya banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu?”
Saat saya traveling pemikiran (read: sedang membaca buku), terkadang saya men-stabilo-i kalimat/kata-kata/paragraf/maklumat yang sudah sangat saya pahami (sebelumnya). Tujuannya agar ketika buku itu dibaca oleh orang lain—khususnya orang yang gak begitu suka membaca—mereka bisa langsung tertuju ke bagian yang di-stabilo-i dan langsung ke intinya.
***Ini buku-buku saya dan saudara kandung saya, ya.... Kalo saya pribadi mah, belum mampu beli segini banyaknya, wqwq. Dan buku-buku yang ada di foto ini pun belinya mencicil selama kisaran 5 tahun terakhir ini.
Dalam buku “1001 Inventions: The Enduring Legacy of Muslim Civilization” juga terselip quote ini:
"The book is silent as long as you need silence, eloquent whenever you want discourse. It never interrupts you if you are engaged, but if you feel lonely it will be a good companion. It is a friend who never deceives or ratters you, and it is a companion who does not grow tired of you." — Al-Jahiz, Muslim Philosopher and Man of Literature, Abad ke-8, Basra, Iraq
“Buku itu diam selama kamu butuh keheningan, pintar berbicara kapanpun kamu ingin bercakap. Dia tidak pernah mengganggumu jika kamu bermesraan dengannya, tapi jika kamu merasa kesepian dia akan jadi teman baik. Dia adalah teman yang tidak akan membohongimu atau mengkhianatimu, dan dia adalah teman yang tidak akan bosan denganmu.”
Nah, sejauh apa traveling pemikiran kita? Bagaimana relationship kita dengan buku?
Wah, gak terasa sudah di penghujung November aja! Crazy, it’s one more month left in 2021! :(