Tentang Tesisku: Kesepian pada Anak-anak dan Remaja
Dua orang mengirimiku tulisan ini yang dikutip dari sini.
Pertama, aku merasa senang karena mereka mengingatku setelah membaca ini. Kemungkinan besar karena aku sedang meneliti tentang kesepian pada remaja sebagai topik penelitian tesisku.
Kedua, aku merasa bersemangat kembali untuk mengulik tentang kesepian ini, apalagi melihat bahwa orang lain juga cukup relate dengan pengalaman kesepian di masa kecil. Besar kemungkinan bahwa pengalaman tersebut juga berlanjut di masa remaja, kan? Bahkan, beberapa orang juga berkomentar bahwa kesepian tersebut tidak lantas "menghilang" di masa dewasa, melainkan sesuai dengan apa yang tertulis di gambar di atas : they often settle for emotional loneliness in their relationships because it feels normal to them.
Aku menjadi bersemangat karena permasalahan yang sedang aku soroti berarti merupakan sesuatu masalah yang nyata, setidaknya dilihat dari respon orang-orang yang ada di kolom komentar. Meskipun belum menjadi fenomena yang sudah lebih banyak dibahas, seperti halnya kecemasan ataupun depresi, kesepian juga menjadi sesuatu yang layak untuk didiskusikan secara terbuka.
Aku menjadi bersemangat karena aku merasa penelitianku akan dapat menyumbangkan sesuatu yang bermakna bagi orang lain. Aku merasa dapat memberikan manfaat melalui penelitianku. Perasaan yang setelah aku refleksikan lebih dalam bersinggungan erat dengan belief yang kumiliki, yaitu aku harus melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Ketiga, berbicara lebih lanjut tentang kesepian, teori menyebutkan bahwa kesepian bisa dikategorikan menjadi kesepian secara sosial dan emosional. Jika kesepian sosial lebih berhubungan dengan kuantitas interaksi sosial atau jumlah teman/relasi yang dimiliki, kesepian emosional lebih berhubungan dengan kualitas interaksi sosial atau kebermaknaan suatu hubungan yang dimiliki individu.
Membaca tulisan tentang kesepian emosional di atas, aku jadi bertanya-tanya, apa yang bisa dilakukan untuk membantu anak-anak dan remaja yang mengalami kesepian secara emosional? Apakah intervensi yang akan aku berikan di penelitianku juga dapat membantu mereka secara emosional?
Sejauh ini, melalui penelitianku, rencananya aku akan mengajarkan cara coping yang adaptif secara emosional, seperti relaksasi dan imagery. Selain itu, format terapi yang akan dilaksanakan secara berkelompok ini diharapkan dapat memberikan sense of belonging untuk mereka yang merasa emotionally lonely. Aku juga berharap proses dalam kelompok dapat membuat mereka merasakan hubungan positif dengan teman sebayanya. Hopefully.













