i don't do bad sauce passes
wallacepolsom
will byers stan first human second
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
trying on a metaphor
AnasAbdin
Keni

Product Placement

shark vs the universe
Peter Solarz
🪼
cherry valley forever
Cosimo Galluzzi
he wasn't even looking at me and he found me
Jules of Nature

blake kathryn

titsay
Monterey Bay Aquarium
we're not kids anymore.
seen from Switzerland
seen from United States
seen from United States
seen from Brazil

seen from Switzerland
seen from United States
seen from United States
seen from Switzerland
seen from United States

seen from Singapore
seen from Canada
seen from United States

seen from Colombia

seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Germany
@aqyasdini
a beautiful song to end your day peacefully
This song “WInter Sleep,” is about the cycle of life and death. The song tells the story of the first year (4 seasons) after losing a loved family, friend, and companion animal.
IU's description of the song on Melon: “I started sketching the song at 27 when I had a lot of thoughts about death and what was left in such world, and finished the song at 29 after I said several goodbyes. This song had the longest recording time. I usually try to express myself concisely during recording, but I didn’t control my emotions in this song."
"Despite the great loss in my world, flowers bloom, stars shine, poems are created without any delay. There is a 'Winter Sleep' in between those repeated seasons."
a reminder for a graduate student (me)
Aku pernah banget din ngerasain kaya kamu. Pun sampe sekarang masih suka meragukan kemampuan dan ide sendiri. Tapi waktu itu berpikir, sebenernya apa yang aku tulis dan teliti adalah proses belajar, dan belajar itu ya karena kita belum mampu. Jadi pasti ada ruang-ruang buat salah dan emang belum sesuai harapan.
Sama aku punya masalah sendiri, sama isu penilaian din. Jadi ujian dan bimbingan bikin cape banget. Buat defuse dari pikiran itu aku kadang mikir, aku memilih tema penelitianku ini karena emang aku tertarik, pengen juga bisa berbagi ke orang yang baca tentang hasil penelitiannya. Jadi fokusnya ke situ, lebih gimana caranya si riset ini bisa dimengerti sama orang lain juga. Mengalihkan fokus dari penilaian dosennya wkwk.
Sama ternyata setelah kemaren ngadepin himpsi dan tesis, apa yang kita nilaikan ke diri kita sendiri, malah ga objektif wkwk. Ternyata orang lain lihat kita mampu dan bagus aja.
Sekarang lagi fase capek dan at some point mungkin tweasa “sucks” ya din. Tapiiiiii aku percaya banget ini semua terlewati, this too shall pass!!!
- Ichak
Mbak dini, aku balas dari sini ya, soalnya di kotak itu ada batasan katanya. Aku sepanjang ngerjain tesis ini lebih banyak meragukan kemampuan dan ide sendiri mbak. Dan itu emang berpengaruh banget jadinya gak semangat/overthinking dsb. Dari pengalamanku, akhirnya aku tetep maju aja, dan ternyata waktu aku udah ngelewati masa itu apa yang kukerjain itu udah benar 70 persennya. 30 persennya baru aku pahami setelah ada revisi. Juga ada fase aku ngerjain setengah hati karena aku gak yakin tapi di sisi lain udah mentok gak ada jalan keluar karena gak bisa konsul/bimbingan juga. Akhirnya setengah hati ngambil datanya, afirmasiku waktu itu, ya udah usaha aja. Dan ternyata setelah aku olah datanya, gak seburuk yang ku bayangin karena aku ngerjain setengah hati itu. Dari situ aku mikir, yang penting tetep jalan meskipun kondisinya gak ideal dan setelah dikerjain gak seburuk yang dibayangin hasilnya.
Juga ada yang kusadari kalau waktu untuk paham itu kadang gak datang seperti yang diharapkan. Di situ aku berusaha menerima meskipun egoku nolak. Kayaknya emang aku perlu ngelewatin proses ini, yang akhirnya bisa kumaknai kayak gitu. Waktu ngelewatin proses itu macam-macam emosi yang kurasain, gak nyaman, tapi aku jadi belajar gimana rasanya mengalami sendiri emosi-emosi negatif yang biasa dikeluhkan pasien-pasien, ngelolanya pakai teknik yang udah dipelajari. Aku jadi kepikiran, itu kah hikmahnya aku ngalamin proses ini. Waktu mikir kayak gini, jadinya lebih ringan setelahnya.
- Luluk
Kalau meragukan kemampuan dan ide tuh sampe ujian aku ngerasain hal itu din.. bahkan pasca ujian kayak.. apaan ini penelitianku T_T banyak banget kurangnya..
Kalau tentang ngerjain mungkin ya yang penting pasang target per hari dan ngerjain tiap hari. Kasih hari libur tetepan.. Jamnya ikut jam kerja aja, biar waktu di luar itu bisa kamu pakai buat yang lain.
Kalau nyusun argumen tu.. kombinasi antara kuatnya kepahaman akan teori yg dipakai sama hasil olah data mungkin ya. Pengalaman pribadi membantu juga sih..
Kalau menjaga kewarasan aku kayaknya agak ngga waras WKWKW jadi tidak bisa ngasih masukan apa apa~ Tapi yang paliiiing banget nguatin itu pas udah bergantung sama Allah aja. Cukup Allah.
- Afifah
Barangkali memang hidup yang bikin keluargamu tenang itu, hidup yang dijalani oleh sumber rezekimu yang baik.
Rezeki yang selama ini kamu pikir hanya membuat keluargamu cukup dan bertahan untuk hidup yang biasa-biasa saja.
Tapi bisa jadi disitulah letak keberkahannya, ketenangan mejalani ibadah rumah tangga dengan penuh rasa syukur.
Anak-anak dan keluarga yang sehat. Kedamaian berumah tangga tanpa begitu banyak pertengkaran dan kerelaan hati menjalaninya.
Bisa jadi hidup keluargamu yang biasa-biasa saja saat ini, adalah hidup yang dirindukan banyak orang diluarsana dengan segala keberlimpahannya.
Keberlimpahan yang hanya membuatnya sulit tidur dan tidak bisa membuat ruang keluarganya penuh tawa dengan segala kesederhanaannya.
Sering-sering periksa lagi, jika sumbernya baik mudah-mudahan mengalirnya juga jernih.
—ibnufir
Kuliah Sambil Kerja
Kalau ada satu hal yang aku syukuri dari keputusanku untuk tetap bekerja sebagai freelance mentor di salah satu start up konsultasi berbasis daring sambil berkuliah S2 profesi, hal itu adalah pengalamanku berinteraksi dan mendampingi berbagai permasalahan klien. Baru-baru ini, ada kasus yang cukup berkesan karena berhubungan dengan penelitianku, yaitu isu kesepian.
Pada klien ini, kesepian yang ia alami dapat digolongkan cukup "kronis". Klien ini mengalami peristiwa kehilangan orang yang ia sayangi dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari ayahnya, ibunya, kakaknya, dan suaminya, mereka wafat mendahului klien tersebut. Meskipun peristiwa tersebut tidak terjadi dalam waktu yang bersamaan, perasaan berduka yang mendalam dan kehilangan sosok-sosok tersebut menyebabkan ia merasa tidak layak untuk mendapatkan kasih sayang. Klien tersebut berusaha untuk melanjutkan hidupnya dengan tetap bekerja dan bersosialisasi, namun jauh di lubuk hatinya, ia merasa hampa. Ia merasa takut untuk menerima dukungan dan cinta dari orang lain karena khawatir akan ditinggalkan.
Sebagai seseorang yang sedang banyak membaca referensi ilmiah seputar kesepian, kisah klien ini menjadi salah satu yang membuka sudut pandangku tentang kondisi nyata yang dialami oleh mereka yang mengalami kesepian. Pikiran buruk tentang diri sendiri dan orang lain, perasaan sedih dan cemas yang menumpuk dan sulit diungkapkan, dan perilaku menghindar dari interaksi sosial menjadi pola yang umum ditemui pada orang-orang yang mengalami kesepian, termasuk pada klienku ini. Rasanya ikut sedih saat mendengarkan betapa beratnya kesepian yang ia alami.
Sekalipun terkadang melelahkan untuk tetap bekerja sambil berkuliah, aku akui bahwa pekerjaan yang cukup linier dengan perkuliahan membuatku bisa lebih percaya diri. Dari segi kompetensi memberikan konseling, materi maupun praktek di ruang kuliah dapat menyumbangkan dasar teori yang aku perlukan. Selain itu, kasus-kasus yang aku tangani di ruang konsultasi saat bekerja menambah daftar portofolio dan jam terbangku sebagai seorang praktisi. Dari segi kompetensi ilmiah, dasar-dasar sebagai peneliti membantuku dalam mengulik artikel atau hasil penelitian yang relevan dengan kasus yang ada.
Memang tidak mudah untuk bekerja sambil berkuliah, bahkan terdapat risiko-risiko tersendiri. Misalnya, ada masanya aku akan hadir di ruang konsultasi dalam kondisi mengantuk karena seharian beraktivitas akademik. Ada masanya pula aku harus memprioritaskan aktivitas kuliah terlebih dahulu dan mengesampingkan request dari klien yang ingin berkonsultasi denganku. Namun demikian, bagiku, hal-hal yang aku dapatkan cukup layak untuk menjadi reward atas kesulitan-kesulitan tersebut.
Kesepian itu Nyata
Pada sidang komprehensif proposal tesisku yang kedua, salah satu pengujiku menyebutkan bahwa kesepian ini merupakan permasalahan yang "seksi". Dalam hal ini, nampaknya beliau merujuk pada kesepian sebagai fenomena yang populer secara umum, namun secara akademik belum banyak dilirik. Padahal, dampak kesepian terutama yang dialami berkepanjangan itu nyata karena bisa mengarah ke penyakit fisik seperti gangguan sistem kardiovaskuler dan penyakit mental seperti gangguan depresi.
Berangkat dari komentar beliau tersebut, aku cukup mengamini bahwa kesepian memang masih jarang dibahas atau ditelaah academically, apalagi di Indonesia. Asumsiku, di negara yang menganut budaya kolektif ini, kesepian erat dikaitkan dengan kesendirian dan ruang privasi yang besar--sesuatu yang lebih banyak ditemui di negara-negara yang lebih dekat dengan budaya individualis. Pada kenyataannya, kesepian juga bisa dirasakan saat seseorang berada di keramaian atau dengan orang banyak. Di sisi lain, orang yang sendiri belum tentu merasa kesepian. Merujuk ke istilah dalam bahasa Inggris, kesepian atau loneliness berbeda dengan kesendirian atau aloneness. Ada unsur penilaian individu terhadap hubungan sosialnya saat ia mengalami kesepian.
Lalu, apakah di negara yang cenderung kolektif ini, kesepian menjadi lebih jarang muncul? Jawabannya, belum tentu. Ada banyak faktor lain yang bisa menyebabkan seseorang mengalami kesepian, salah satunya adalah kualitas hubungan yang ia miliki dengan orang tuanya di masa kecil. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki kebutuhan emosional yang tinggi karena orang tuanya cenderung abusive (berperilaku kasar), mengabaikan, atau menuntut tanpa memberi ruang komunikasi dua arah, dapat mengalami kesepian di masa anak-anak. Apabila ia kesulitan memenuhi kebutuhan emosionalnya hingga masa remaja dan dewasa dan tidak menyadari hal ini, ia cenderung dapat terlibat pada hubungan yang tidak sehat.
Secara statistik, prevalensi kesepian memang tidak setinggi prevalensi kecemasan atau depresi, setidaknya pada remaja di Indonesia. Bisa jadi karena tidak disadari, atau karena pertemanan menjadi cara coping yang diandalkan bagi remaja sehingga kesepian tidak dianggap sebagai suatu masalah. Namun demikian, perlu dikulik lebih dalam, pertemanan seperti apa yang membuat mereka tidak merasa kesepian, sebab bisa jadi justru pertemanan tersebut justru menyebabkan mereka berperilaku yang merugikan atau menyimpang.
Tentang Tesisku: Kesepian pada Anak-anak dan Remaja
Dua orang mengirimiku tulisan ini yang dikutip dari sini.
Pertama, aku merasa senang karena mereka mengingatku setelah membaca ini. Kemungkinan besar karena aku sedang meneliti tentang kesepian pada remaja sebagai topik penelitian tesisku.
Kedua, aku merasa bersemangat kembali untuk mengulik tentang kesepian ini, apalagi melihat bahwa orang lain juga cukup relate dengan pengalaman kesepian di masa kecil. Besar kemungkinan bahwa pengalaman tersebut juga berlanjut di masa remaja, kan? Bahkan, beberapa orang juga berkomentar bahwa kesepian tersebut tidak lantas "menghilang" di masa dewasa, melainkan sesuai dengan apa yang tertulis di gambar di atas : they often settle for emotional loneliness in their relationships because it feels normal to them.
Aku menjadi bersemangat karena permasalahan yang sedang aku soroti berarti merupakan sesuatu masalah yang nyata, setidaknya dilihat dari respon orang-orang yang ada di kolom komentar. Meskipun belum menjadi fenomena yang sudah lebih banyak dibahas, seperti halnya kecemasan ataupun depresi, kesepian juga menjadi sesuatu yang layak untuk didiskusikan secara terbuka.
Aku menjadi bersemangat karena aku merasa penelitianku akan dapat menyumbangkan sesuatu yang bermakna bagi orang lain. Aku merasa dapat memberikan manfaat melalui penelitianku. Perasaan yang setelah aku refleksikan lebih dalam bersinggungan erat dengan belief yang kumiliki, yaitu aku harus melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Ketiga, berbicara lebih lanjut tentang kesepian, teori menyebutkan bahwa kesepian bisa dikategorikan menjadi kesepian secara sosial dan emosional. Jika kesepian sosial lebih berhubungan dengan kuantitas interaksi sosial atau jumlah teman/relasi yang dimiliki, kesepian emosional lebih berhubungan dengan kualitas interaksi sosial atau kebermaknaan suatu hubungan yang dimiliki individu.
Membaca tulisan tentang kesepian emosional di atas, aku jadi bertanya-tanya, apa yang bisa dilakukan untuk membantu anak-anak dan remaja yang mengalami kesepian secara emosional? Apakah intervensi yang akan aku berikan di penelitianku juga dapat membantu mereka secara emosional?
Sejauh ini, melalui penelitianku, rencananya aku akan mengajarkan cara coping yang adaptif secara emosional, seperti relaksasi dan imagery. Selain itu, format terapi yang akan dilaksanakan secara berkelompok ini diharapkan dapat memberikan sense of belonging untuk mereka yang merasa emotionally lonely. Aku juga berharap proses dalam kelompok dapat membuat mereka merasakan hubungan positif dengan teman sebayanya. Hopefully.
Muqollibul Qulub
Bicara tentang self-care seringkali tricky banget karena definisi tentang self-care tuh seringkali berdasarkan proyeksi kita terhadap apa yang telah kita alami. Bagi orang yang hidupnya selalu hectic, slow living adalah self-care. Sementara bagi orang yang hidupnya baru nemu tujuan, mungkin bentuk self-care-nya adalah kerja keras. Buku-buku self-care pun sangat bervariasi. Ini yang kadang membuat kita bingung ke arah mana hidup kita sebenarnya.
Ada yang bilang bahwa tanda kehidupan yang baik adalah hati selalu tenang dan tidak gelisah. Bahwa tanda manisnya iman adalah ketika kita bisa kalem ketika ditimpa cobaan berat. Apakah demikian? Apakah gelisah itu tanda bahwa manusia sedang jauh dari Allah? Yang maha menenangkan jiwa?
Belajar hidup dengan ADHD membuat gue belajar banyak hal tentang cara kerja jiwa. Dan ternyata ketenangan yang seringkali kita impikan ya memang tidak selalu ada. Tidak selalu kita capai and that's okay.
Kadang kita hidup dengan dopamin yang cukup sehingga bisa beraktifitas dengan baik. Kadang kita hidup dengan dopamin yang kurang sehingga sulit sekali berkonsentrasi.
Neurotransmitter effect is real.
Belakangan gue nyoba ngatur pola makan dengan protein diusahakan tinggi dan tanpa gorengan. Dopamin gue cenderung stabil dan nggak cepat stress. Tapi kadang perkara imbalance hormon or neurotransmitter juga bukan seperti saklar yang ada on-off nya. Maka definisi self-care versi gue adalah bersabar merawat diri sendiri. Ngasih makan-makanan yang baik, disiplin istirahat dan bersabar juga dengan mood yang tidak nyaman akibat neurotransmitter yang tidak seimbang.
Gue nggak lagi meromantisasi ADHD atau ngasih excuse kalo tiba-tiba mood gue jelek. Ini gue tulis karena ketenangan hati itu seringkali dikaitkan dengan iman. Padahal hati dan jiwa yang bergejolak tuh ya mungkin aja memang fitrahnya manusia. Entah karena punya masalah, entah karena struktur otak yang beda.
Berapa kali penyandang neurodivergent ditakut-takuti dengan "gelisah adalah tanda kurang iman", bahwa pengobatan ke psikiater akan membuat kita bergantung dan lepas kendali terhadap diri kita sendiri. Maka kepada Allah gue menitipkan diri gue ketika pikiran gue tidak sedang dalam kondisi baik. Semoga Allah berkenan menjaganya selalu. Agar jangan sampai merugikan diri sendiri dan orang lain. Dan jika pikiran gue sedang dalam kondisi baik, semoga Allah selalu memberi kesempatan untuk berbuat baik.
....
Hari ini ngerasain banget tenaga full tapi nggak mampu konsentrasi. Akhirnya gue cuma diem dan minum air anget sambil ngadep jendela. Yang muncul di kepala gue adalah:
"Ya Allah aku sudah berusaha dengan baik agar tidak mudah stress dan tubuh ini senantiasa dalam kondisi baik. Maka jika mood hamba berantakan lagi, engkau yang maha membolak-balikkan hati. Kutitipkan kepada-Mu dan jaga dengan baik"
Selanjutnya gue nulis tumblr ini dan ya again gue kepikiran buat bilang bahwa gelisah itu hanyalah signal yang harus dimaknai lebih jauh lagi. Bukan tanda bahwa yang maha menenangkan hati sedang tidak mau menenangkan kamu. Rahmat Allah itu luas. Bersabar dalam kegelisahan sampai kita bisa berdiri tenang juga termasuk ruang untuk mendapatkan pahala. Berikhtiar ke psikiater biar bisa hidup dengan baik juga bagian dari kebaikan.
"Masa Ini Akan Berlalu..."
Edgar Hamas | @ceritaedgar
Pernah dengar kisah seorang raja yang memiliki cincin bertulis "masa ini akan berlalu?"
Ia kisah singkat, tentang seorang raja bijak yang selalu diingatkan dengan kalimat "masa ini akan berlalu" setiap kali ia mendengar sebuah laporan dari menteri-menterinya.
Ketika ada laporan tentang hal buruk dan itu sampai ke telinga sang raja, ia pun sempat gelisah dan khawatir berlebih. Namun ia melihat cincinnya dan membaca "masa ini akan berlalu."
Gelisahnya hilang. Ia tahu masa buruk tak akan selamanya. Maka ia fokus membenahi masalahnya.
Pun ketika ada kabar gembira yang membuat semua orang bersorak-sorai, sang raja pun kembali menoleh melihat cincinnya, "masa ini akan berlalu."
Tadinya ia senang berlebihan. Namun setelah diingatkan oleh tulisan itu, ia kembali tenang. Ia senang, namun tak terlena dan bereuforia.
Siklus, itu adalah kuncinya. Sang raja jadi bijak karena tahu masa buruk tak akan selamanya. Masa senang pun tak akan berlama-lama. Sebab ia mengerti bahwa hidup berputar.
"Masa ini akan berlalu", kini coba kau renungkan. Jika kau sedang sedih, ketahuilah ia tak akan selamanya.
Pun bagi siapapun yang berbuat zalim. Kau mengira mereka akan di atas selamanya? Mengira bahwa mereka tak terkalahkan?
"Masa ini akan berlalu", yang zalim akan hilang. Yang di bawah akan naik. Yang tenggelam akan timbul. Yang dizalimi akan menang.
Termasuk di Gaza, Palestina.
Semua ada masanya. Semua ada waktunya. Yang sedang naik daun akan ada saatnya hilang. Yang terkenal akan redup. Yang berkuasa akan usai.
Semua yang di bumi itu fana. Akan usai. "...tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal..." (Ar Rahman 27)
Naik Kelas, Melihat Dunia
Saya lahir dari keluarga tidak berpendidikan. Ibu saya tidak tamat SD. Ayah saya meninggalkan madrasah tsanawiyah (setara SMP) karena yatim piatu dan tidak ingin merepotkan kakak tiri dan suami kakak tirinya yang memberi atap, makan, dan menyekolahkan. Saya sejak kecil tidak merasakan "kemewahan" seperti handphone pribadi, komik, diantar jemput pakai mobil, sega, nintendo, playstation atau liburan ke luar kota. Kami sekolah, mengerjakan PR, mengaji di mesjid, and repeat. Kami tidak tahu apa itu politik dalam negeri, apalagi politik luar negeri seperti penjajahan Isra3L pada Palestin4.
Baru setelah merantau ke Singapura, saya mulai belajar apa itu pergerakan, tipis-tipis. Sebelum lulus kuliah ikut Forum Indonesia Muda yang membuat saya terekspos dengan dunia aktivisme. Tapi masih fokusnya pada isu-isu nasional.
Saat master dan PhD di Inggris saya terekspos lebih jauh dengan aktivisme yang lebih formal, seperti menulis antologi, menulis opini di media massa, dan lalu policy brief (semacam rekomendasi kebijakan berdasarkan bukti dan studi ilmiah).
Menjelang lulus PhD, Uni Eropa, Amerika Serikat dan Kerajaan Inggris ketar-ketir dengan invasi Rusia ke Ukraina. Tiga entitas politik ini mengutuk aksi Putin dan mengirim bantuan pada warga Ukraina. Media satu suara mengecam Putin. Beberapa negara juga buka pagar untuk pengungsi Ukraina sebagai bentuk simpati.
Sekarang saya bekerja di Inggris, invasi dan pembunuhan secara terang-terangan oleh IsraëL kepada warga Palestin4 dengan jumlah korban 8000an dalam waktu tiga minggu. Korban masih berjatuhan, aksi militer terus digencarkan dan parahnya didukung oleh Uni Eropa, Amerika Serikat dan Kerajaaan Inggris.
Dunia Barat dan negara superpower punya dua muka. Tahun lalu mereka mengecam invasi Rusia ke Ukraina, tapi tidak invasi Isra3L ke tanah Palestina.
Ini bukan perang karena seperti Ukraina-Rusia, kekuatan militer tidak sebanding. Ini invasi, penjajahan.
Ada hal-hal yang ternyata sulit diubah, tapi bisa jika kita semua satu suara melawan dan menolak diam.
Media massa sudah dua dekade berpihak pada Isra3L. Media massa punya pemilik. Pemiliknya punya keberpihakan. Pemilik media yang besar-besae berpihak pada siapa yang punya. Sulitnya, media seperti CNN dan BBC dipegang kendalinya oleh pendukung misi IsraëL. Kecaman pada grup militan di negara Timur Tengah dan Afrika itu bisa jadi teramplifikasi oleh media massa. Ketika kita lihat mendalam, ternyata ini jadi justifikasi Amerika Serikat membunuh ribu bahkan jutaan manusia di negara "konflik". Well, konflik ini mereka yang mulai dan amplikasi. Dibaliknya ada motivasi lain--sumber migas misalnya.
Ideologi Isra3L itu jelas, zionisme--merampas Tanah Palestina, menghapuskan negara dan bangsa Palestina demi berdirinya negara-bangsa Yahudi. Dari ideologi saja, sudah seharusnya kita tidak berpihak karena untuk mencapai misinya, Isra3L akan membunuh dan mengusir jutaan manusia warga lokal Palestina.
Isra3L sudah tumbuh menjadi negara maju yang punya jaringan bisnis. Ini membuat Uni Eropa tidak mengecam partner bisnis mereka koloni penjajah Isra3L.
Politisi punya hubungan dengan pebisnis Isra3L/orang-orang pendukung ide Zionisme. Misalnya, Perdana Menteri Inggris yang punya investor mantan militer Isra3L dan pejabat pentolan UNICEF ada istri dari investor bagong pendukung zionisme.
Dari 4 hal ini, sulit melawan jika banyak dari kita hanya diam. Media massa dan politisi negara maju tidak berpihak pada Palestin4. Bahkan 1-2 negara Arab malah "membantu" operasi pembantaian warga Palestin4 yang sedang berlangsung.
Jadi, harapan warga Palestin4 tinggal suara mayoritas (orang biasa, kita semua).
***
👤 Dr. Syafiq Riza Basalamah
Kalau ke masjid saja malas-malasan padahal untuk berjumpa dengan Allah, maka bagaimana dengan yang lainnya? Tentunya, dengan istri akan malas-malasan, dengan anak juga malas-malasan…
Umar radhiyallahu anhu berkata:
إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يُضَيِّعُ الصَّلاةَ ، فَهُوَ وَاللَّهِ لِغَيْرِهَا مِنْ حَقِّ اللَّهِ أَشَدُّ تَضْيِيعًا
“Jika kamu melihat seseorang yang meremehkan shalatnya, maka demi Allah dia akan lebih meremehkan urusan lainnya” [HR. Ibnu Abid Dunya]
Orang-orang yang pernah kukenal dalam hidup ini tidak semuanya harus menjadi karib. Ada yang cukup untuk kenal, cukup untuk bekerja, cukup untuk hal-hal tertentu saja. Karena memang kehadirannya untuk bersinggungan takdir, mungkin sehari, seminggu, atau beberapa saat. Maka dari itu, tidak perlu terlalu mengambil hati apa-apa yang hanya lewat itu. Apalagi jika yang hanya lewat sebentar itu, membuatmu tidak nyaman sepanjang waktu dan kamu memeliharanya dalam pikiranmu bertahun-tahun.
Jangan sampai, sesuatu yang hanya sebentar, mengganggumu seumur hidup. Perasaan kagum, cinta, kasihan, marah, dan semua hal yang naik turun di dalam hatimu. Tidak perlu terlalu diambil hati. Lain kali, lebih hati-hati. Lain kali, lebih mawas diri.
Big chibird motivation to start your week off! 🙌 Sometimes you need to work hard, and chibird knows you can do it!
Chibird store | Positive pin club | Instagram
33 Tahun dan mengapa belum menikah di usia ini?
Ini tentu bukan bercerita tentangku, tapi tentang pengamatan. Sebagai penulis, beberapa kali melakukan proses interview, ngobrol, bertukar pikiran, dan sebagainya. Dulu, pandangan seperti ini tidak banyak kutemukan karena dulu usiaku masih 24 tahun saat memulai karir. Sekarang, tahun ini telah beranjak 33 tahun, sebentar lagi anak pertama masuk SD. Dan beberapa kali juga, melalui istri, ditanya apa ada temanku yang bisa dikenalkan ke teman-temannya istri. Yang tahun ini, menjelang kepala tiga. Dari proses-proses yang risetku selama menulis dan apa yang terjadi, datanya tidak sesederhana itu. Kita berada di lingkungan yang baik, tidak serta merta membuat kita langsung ketemu pasangan hidup yang sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Dipadu padankan dengan obrolan bersama psikiater beberapa waktu terakhir. Ada beberapa pendapat subjektif yang bisa kuhadirkan dari seluruh kumpulan riset itu, nanti kalau kamu ada lainnya, boleh ditambahkan : 1. Kehidupan yang semakin materialistik, ukuran terhadap materi dan kesiapan materi menjadi parameter yang sangat menentukan dalam pernikahan. Dan ukuran ini membesar, seperti kepemilikan rumah, kendaraan, atau gaji dalam nominal tertentu, serta tuntutan hidup materialistik (apa-apa diukur dengan uang) ini berpengaruh pada pola pikir dan kesiapan orang untuk menikah. Memang, mempersiapkan finansial untuk menikah itu penting, tapi ketika semua keputusan berpusat pada uang - mendominasi pikiran. Itulah awal mula dari kondisi tersebut. Apakah kamu setakut itu pada masalah rezeki? Kondisi yang sangat mungkin berbeda dengan waktu orang tua kita dulu. 2. Kondisi mental dan emosional yang belum pulih. Percaya atau enggak, orang lain bisa merasakan apakah kita ini cukup stabil atau se-eror itu. Apalagi jika keeroran kita tervalidasi melalui asesmen. Kita perlu untuk mengakui dan menyadari kalau memang kita perlu meluangkan waktu untuk mengobati diri sendiri. Kalau pun butuh waktu beberapa tahun, ya itu bagian dari konsekuensi. Karena masuk ke dalam pernikahan memang memerlukan kondisi mental emosional yang cukup kuat. "Badai"nya sesuatu, dinamikanya sangat beragam, dan tantangan yang akan dihadapi sangat berbeda dengan saat kita masih single. Kita akan berkompromi dengan banyak sekali orang. Apalagi jika nanti kita memiliki anak. Mereka perlu orang tua yang sehat jiwa dan pikirannya. Agar jangan sampai, kalau saat kita memiliki trauma, ternyata tanpa sengaja menjadi penghambat bagi anak-anak kita. 3. Romantisasi keadaan. Belum menikah di usia tersebut sebenarnya itu bukan masalah, tidak ada panduan bahwa menikah itu harus usia 25-30. Tidak ada dosanya juga belum menikah di umur 30 lebih. Tapi, membiarkan diri meromantisasi keadaan sehingga dari sana kita merasa mendapatkan dukungan, validasi, pembenaran pendapat, dan apapun yang sebenarnya digunakan untuk menutupi kekhawatiran diri karena belum menikah. Alih-alih berusaha untuk membangun persepsi diri yang benar, pandangan hidup yang lebih luas, dengan demikian kita bisa memiliki value kita sendiri yang kuat, yang tidak goyah saat kita sendirian dikamar yang sepi, atau saat di tengah kumpulan keluarga.
4. Tidak siap dengan masalah. Kalau kata buku yang kubaca, menikah itu seperti memilih masalah yang akan kita jalani seumur hidup, jadi pilihlah masalah yang kamu mau menjalaninya. Tontonan berupa film, drama, dan romanitasi yang berseliweran di media sosial secara tak sengaja membangun kesadaran kita bahwa menikah itu pasti akan sebahagia itu. Ini juga berkaitan pada poin satu tadi salah satunya. Tidak siap dengan beragam masalah, harus beradaptasi dengan beragam kondisi, kompromi dengan pasangan, belum lagi hal-hal lainnya. Tidak setiap pernikahan itu selalu dimulai dengan sudah memiliki rumah, kadang harus ngontrak. Tidak dimulai dengan langsung ada mobil, harus kerja bertahun-tahun dulu. Belum lagi nanti kalau harus memilih sekolah anak yang disesuaikan sama budget keluarga. Belum lagi, bersosialisasi dengan masyarakat. Singgungan yang banyak itu akan menciptakan dinamika, salah satu dinamikanya adalah masalah-masalah tersebut. Belum lagi dinamika soal tinggal di mana, siapa yang akan ngejar karir duluan, dan berbagai pembagian peran dan tugas dalam keluarga. Apakah kamu siap menghadapi dan berkompromi dengan beragam masalah itu? Sesuatu yang memang sudah sepaket dengan pilihanmu untuk berkeluarga.
Apakah kamu bisa membayangkan? Empat dulu, ada banyak temuan lainnya dari hasil diskusiku selama ini. Pendapat di atas sangat subjektif, benar-salahnya tidak mutlak. Tapi semoga bisa menjadi pelajaran penting. Pelajaran yang membuat kita bisa memiliki perspektif yang lebih luas dalam mengamati sesuatu. Ada tambahan? (c)kurniawangunadi
5. Simply karena jodohnya belum datang.
Merasa perlu menulis ini karena di usia yang ke-33 ini, sering sekali dapet judgement problematik. Entah dikira pilih-pilih, nggak berani mikir masa depan, nggak berani bertanggung jawab sama keluarga, ambisius dengan kerjaan sampai dikira feminazi.
Padahal deep inside, kita cuma orang yang berusaha menjalani hidup dengan baik aja. Kebetulan aja jalan hidupnya nggak sama dengan masyarakat kebanyakan.
(Re)start: Research Mode - Part 1
Finally... this is the beginning. Officially.
Setelah sekian bulan berupaya menyelesaikan laporan kasus-kasus itu, aku sampai juga di fase berikutnya dari studi magister profesi ini: mengerjakan tesis.
Saat workshop penulisan tesis, salah satu dosenku berkata, "Pilihlah topik yang kamu sukai, atau pilihlah topik yang bisa perlahan kamu sukai." Dari semua topik yang memungkinkan dan yang diusulkan padaku, ada beberapa yang mengerucut untuk kupilih. Kemudian, terpilihlah satu topik yang sebenarnya merupakan usulan orang lain, tapi aku merasa tertantang untuk mendalaminya.
Awalnya, aku merasa tidak banyak tahu atau berinteraksi dengan topik ini. Ada rasa skeptis, ada juga rasa takut. Akupun mencoba membaca dan mempelajarinya lebih dalam, hingga membuka puluhan tab di browser dalam satu waktu. Semakin aku mendalami topik ini dengan membaca secara ringkas puluhan hasil penelitian, semakin aku merasa takjub. Ternyata, topik ini sudah cukup banyak diteliti dari level individu maupun level kebijakan publik. Dari sudut pandang genetik, teori evolusi, bahkan geografi dan ruang publik. Sungguh menarik.
Topik ini merupakan sesuatu yang dialami oleh semua orang di satu titik di dalam hidupnya. Dari anak-anak hingga lansia. Di negara maju maupun di negara berkembang. Akan tetapi, topik ini menjadi semakin relevan karena dianggap semakin banyak dirasakan di dunia yang semakin modern. Semakin terhubung seseorang dengan seseorang yang lain, semakin topik ini menjadi penting untuk dibahas. Bahkan, terdapat negara yang menunjuk satu menteri khusus untuk menangani permasalahan yang dianggap tinggi prevalensinya akibat tingkat yang kronis dan berkepanjangan dari topik ini.
Ada yang bisa menebak, kira-kira apa topik yang akan aku teliti?
Things to Stop Saying to Yourself
1. “I’m no good at …”
Say instead “It’s just a skill, and something I can learn.”
2. “I’m such a failure …”
Say instead “I got it wrong, and everybody makes mistakes.”
3. “There’s no point in trying …”
Say instead “It may be hard, but step by step will get me there.”
4. “Everybody hates me; I’ve got no friends …”
Say instead “It doesn’t really matter what these people think of me.
There are others who will recognize my value and worth.”
5. “I hate myself. I deserve to be rejected …”
Say instead “I am beautiful inside, and have value and worth. I deserve to be cherished and be treated well.”
Melibatkan Allah SWT ver.
1. InsyaAllah, Allah SWT akan mampukan aku jika aku terus belajar dan berlatih
2. Kesalahan itu wajar dan manusiawi, serta terjadi atas izin Allah SWT. Kalau sudah sadar tentang kesalahanmu, segera bertaubat dan belajar dari kesalahan yuk!
3. Allah SWT tidak akan mengubah kondisimu kecuali kamu juga berusaha. Ayo coba lagi!
4. InsyaAllah ada kok orang-orang yang sefrekuensi denganmu dan bersedia menerimamu, menghargaimu, dan bersama-sama mengajakmu untuk menuju kebaikan. Semoga segera dipertemukan ya~
5. Allah SWT, Sang Pencipta aja berfirman kalau kamu diciptakan sebagai sebaik-baik penciptaan, lho. Yuk mulai sayangi dirimu dan jaga dirimu sesuai dengan tuntunannya :)