MY EXPERIENCE : Jadi Bagian dari Kampus Merdeka Permata Sakti
Salah satu yang aku syukuri tahun ini adalah bisa join program permata sakti Unpad dan jadi bagian kampus merdeka, program Pak Nadiem, menteri millenial kita semua.
Jujur awalnya sama sekali nggak ada bayangan apa itu Permata Sakti. Yang aku tau cuma aku bakal ambil 2 kelas tambahan di semester ini dan itu akan ada di luar undip semua. Kebetulan juga di semester ganjil ini semua sks teoriku di Undip sudah habis jadi jatah kulaih 1 semester cuma tersisa magang. Jadi, waktu program ini mulai sounding, ofc im in!!!
Nggak ada ekspektasi apa-apa, intinya cuma nekat semata.
Ada kesempatan bagus, sikat!
Aku ditemani 2 orang dari jurusanku di Undip. Kami ber-3 manggut manggut saat akhirnya nama kami tertulis terdaftar di kelas Teori Keterampilan Komunikasi dan kelas Evaluasi Perencanaan Program Komunikasi.
Jadi, program ini memungkinkan mahasiswa untuk memilih dimana mereka mau belajar, apa program yang mau diambil yang sesuai dengan pilihannya masing masing. Tapi pengecualiannya adalah undip nggak bisa ikut kuliah di UI atau UGM atau universitas2 yang berada di wilayah sama dengan universitas asal. Karena Undip, UI, UGM sama-sama berada di wilayah tengah, itu berarti pilihan universitas bergeser ke arah timur atau barat.
Dari 2 pilihan yang direkomendasikan dosenku, akhirnya pilihan terfokus ke ITB dan Unpad. Tapi, karena jurusan di ITB yang tersedia sama sekali nggak ada yang berhubungan dengan komunikasi, akhirnya Unpad jadi satu satunya pilihan kami. 2 mata kuliah semuanya dari Unpad.
Sebetulnya, bisa saja kalau pilihan ke-2 ingin beda universitas. Tapi karena banyak pertimbangan dan arahan dari Mba Uli, dosen Komunikasi kami, akhirnya yasudah, Unpad saja semua. Dan di kemudian hari, ternyata pilihan itu memang sangat tepat.
Kelas jelas diadakan online dengan sistem beberapa kali pertemuan diadakan melalui zoom meeting, dan sisanya melalui course yang disediakan Unpad lewat website mooc.
Jujur impresi personalku ketika kelas pertama, aku plus 2 orang temanku terkagum2 dengan dosen baru kami karena sebelum memulai kuliah mereka memutar playlist lagu yang oke dan selalu memulai kelas 15 menit setelah lagu diputar. Jarang jarang kan, ada dosen yang memutar musik gaul sebelum kelas dimulai? Selain itu, penggunaan mooc untuk wadah course matkul menurutku adalah hal yang brilliant dan tepat. Dan yang paling menyenangkan adalah, ternyata dosen 2 mata kuliah yang aku ambil adalah Ibu Ira, dosen tiktok yang suka viral dan dibahas dimana mana. Selain beliau, ada pula Pak Dadang dan Pak Detta, serta dosen dosen lainnya yang berjasa selama proses pembelajaran di program permata.
Ya, walaupun online, tapi menurutku tetap menyenangkan karena kelasnya interaktif, fleksibel, dan materi yang ada mudah dipahami. Anyway, di kuliah pertama Bu Ira memang menyampaikan bahwa program permata ini memang di design fleksibel karena pada prinsipnya kampus merdeka berarti mahasiswa dapat belajar dimana saja, kapan saja mereka mau, sehingga tidak ada paksaan sama sekali, kecuali terkait dengan tanggung jawab tugas dan etika saat pembelajaran. Tentu aku senyum senyum sendiri gara gara itu. Sambil belajar, bisa disambi magang juga dengan leluasa karena kebetulan saat itu sedang magang. Tugas tugas yang diberi juga menyenangkan dan tidak memberatkan, malah seperti bermain game karena berbentuk quiz, diskusi, dan kerja kelompok.
Oya, karena kelas online, jadi mau nggak mau aku dan yang lain harus berkenalan (lagi) secara virtual. Rasanya seperti mahasiswa baru, karena teman teman lain semuanya asing dan berasal dari universitas yang berbeda beda. Serunya adalah kami semua bisa langsung menyesuaikan dengan keadaan, sehingga diskusi berjalan lancar, tugas kelompok juga selesai dengan jobdesc yang sudah dibagi, tanpa drama, & semua orang menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya masing masing.
Hampir di akhir sebelum pelaksanaan UAS, aku baru tahu kalau kampus merdeka juga memberi tunjangan dengan nominal tertentu untuk seluruh mahasiswanya. Alhamdulillah, tanpa disangka-sangka.
Sayangnya, program ini berlaku hanya sekali seumur hidup saja jadi semester depan nggak ada kesempatan lagi, deh hehehe.
Selama kurang lebih 3 bulan, aku rasa program kampus merdeka ini sangat menyenangkan dan program pemerintah yang menurutku berhasil. Belajar serasa tanpa paksaan, sehingga materi yang diajarkan masuk dan cukup efektif.
Yang masih membuat aku ragu adalah, aku masih belum tau apakah nilai dari 2 matkul ini nanti bersifat transparan atau akan dibagi benar benar di akhir dan secara personal saja jadi cukup bikin aku deg degan karena nilai ini masuk sks kuliahku. Ya, kita lihat saja nanti, semoga hasilnya baik dan berkah.
Semoga program ini ada kontinuitasnya dan semakin banyak mahasiswa yang bisa merasakan dan berbagi pengalamannya.











