Diatas batu di bawah batu #Petrologi #geofisika #engineer #ynwa #TGF14

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Russia

seen from Saudi Arabia

seen from Australia
seen from Türkiye
seen from China
seen from China
seen from United States

seen from Saudi Arabia
seen from Poland

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from India
seen from China

seen from United States

seen from Malaysia
seen from South Korea
seen from United States
Diatas batu di bawah batu #Petrologi #geofisika #engineer #ynwa #TGF14
01. Intro - Igneous Petrology
01. Intro – Igneous Petrology
The Earth’s Interior
Crust:
Oceanic crust: Thin: 10 km, Relatively uniform stratigraphy. ophiolite suite: Sediments, pillow basalt, sheeted dikes, more massive gabbro, ultramafic (mantle)
Continental Crust: Thicker: 20-90 km average ~35 km, Highly variable composition, Average ~ granodiorite
Mantle: Peridotite (ultramafic)
Upper to 410 km (olivine ® spinel), Low Velocity Layer 60-220 km
Transiti…
View On WordPress
Skema Klasifikasi Batuan Beku
Batuan beku memiliki skema klasifikasi dua kali lipat, berdasarkan mineralogi batuan dan…
View Post
Petrogenesa Batuan Beku
Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari pembekuan magma langsung baik secara ekstrusif maupun secara intrusive, yaitu proses perubahan fase cair menjadi fase padat (Bates dan Jackson, 1990).
Gambar 1 Rock Cycle
Batuan beku memiliki struktur dan tekstur yang berbeda-beda bergantung terhadap proses yang dialaminya. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya tekstur pada batuan beku:
1. Tingkat kristalisasi yaitu tingkat pembentukan kristal. Semakin banyak kristal mineral yang terbentuk maka semakin lama proses pembentukan batuan beku tersebut. Proses pembekuan yang lama tersebut biasanya terjadi jauh di dalam permukaan bumi. Tingkat kristalisasi sendiri dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
a. Holokristalin : apabila batuan tersusun seluruhnya oleh massa kristal. Tingkat kristalisasi menunjukkan bahwa tingkat pembentukan kristal yang lama karena batuan dapat membentuk kristal seluruhnya. Proses yang lama ini dapat terjadi pada batuan beku intrusif yang membeku jauh di bawah permukaan.
b. Hipokristalin : apabila batuan tersusun oleh massa gelas dan massa kristal. Tingkat kristalisasi menunjukkan bahwa terjadi perbedaan suhu. Kemungkinan batuan beku dengan tekstur ini berada di area hypabisal karena terdapat gelasan pula. Daerah hypabisal yang dimaksud biasanya daerah korok. Pada daerah ini merupakan suhu pertemuan antara suhu dekat permukaan dengan suhu bawah permukaan yang berada lebih di bawah lagi.
c. Holohyalin : apabila batuan tersusun oleh massa gelas seluruhnya. Batuan beku yang memiliki tekstur ini menunjukkan bahwa batuan tersebut mengalami pembekuan yang cepat. Seperti pada batu obsidian. Hal ini dikarenakan pembekuan yang cepat tidak sempat membentuk kristal.
2. Ukuran kristal
Dalam tekstur ini, terdapat ukuran kristal halus, sedang dan kasar. Semakin kasar ukuran kristal maka semakin lambat laju pembekuan magma yang terjadi. Hal tersebut dikarenakan oleh lokasi pembekuan yang berada jauh di bawah permukaan. Pada lokasi tersebut memiliki suhu yang sangat tinggi maka akan sulit sekali untuk mengalami kristalisasi.
3. Granularitas
Merupukan hubungan antara kristal penyusun batu terhadap kristal yang lain dalam satu batu. Granularitas secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu:
a. Equigranular
Merupakan tekstur dimana kristal penyusun batuan memiliki ukuran yang sama (seragam).
o Fanerik granular yaitu apabila kristal mineral dapat dibedakan dengan mata telanjang dan berukuran seragam. Contoh: granit dan gabro. Tekstur ini terjadi akibat pembekuan magma yang berlangsung secara lambat sehingga menghasilkan kristal mineral yang fanerik.
o Afanitik yaitu apabila kristal mineral sangat halus sehingga tidak dapat dibedakan dengan mata telanjang. Contoh : basalt. Tekstur ini terjadi akibat pembekuan magma yang berlangsung dengan cepat sehingga menghasilkan kristal yang afanit (berukuran halus).
b. Inequigranular
Merupakan tekstur dimana kristal penyusun batuan memiliki ukuran yang berbeda, dimana terdapat kristal mineral yang lebih besar (fenokris) dan adanya massa dasar. Hal ini diakibatkan oleh sejarah pembekuan magma yang kompleks sehingga menghasilkan tekstur porfiritik.
Tekstur ini terjadi karena terdapat beda waktu pembekuan magma. Pertama-tama, magma membeku cukup lama karena berada di “intrusive body” dan kemudian mulai membentuk inti kristal mineral yang terus berkembang. Namun sebelum kristalisasi magma ini selesai, magma yang masih dalam fase cair serta butir mineral yang sudah dalam bentuk padat di dalamnya terekstrusi menuju permukaan bumi dimana pembekuan terjadi secara cepat. Di sinilah yang kemudian membentuk tekstur afanitik.
Ø Porfiritik merupakan tekstur dimana massa dasar berupa kristal.
- Faneroporfiritik yaitu bila kristal mineral yang besar (fenokris) dikelilingi kristal mineral yang lebih kecil (masa dasar) dan dapat dikenal dengan mata telanjang. Contoh : diorit porfir
- Porfiroafanitik yaitu bila fenokris dikelilingi oleh massa dasar yang afanitik. Contoh : andesit porfir
Ø Vitrovirik merupakan tekstur dimana massa dasar berupa gelas
4. Bentuk kristal
Bentuk kristal terdiri dari:
a. Euhedral : bentuk kristal mempunyai bidang kristal yang sempurna dan jelas.
b. Subhedral : bentuk kristal dari butiran mineral dibatasi oleh sebagian bidang kristal yang sempurna.
c. Anhedral : bentuk kristal dari butiran mineral dibatasi oleh bidang kristal yang sempurna.
Semakin jelas bentuk kristal dari suatu batuan beku maka batuan tersebut mengalami pembekuan jauh di bawah permukaan. Karena bentuk kristal yang semakin tidak jelas ke arah bentuk kristal anhedral dikarenakan mineral-mineral lain yang mulai terbentuk mulai saling menumpuk mineral lainnya.
Sedangkan berdasarkan warna dari batuan beku dapat dijadikan indikator magma asal walaupun hal tersebut tidak berlaku untuk semua batuan terutama batuan beku yang terdiri dari gelasan saja. Warna batuan sendiri berkaitan erat dengan komposisi mineral penyusunnya. Mineral penyusun batuan tersebut sangat dipengaruhi oleh komposisi magma asalnya sehingga dari warna dapat diketahui jenis magma pembentuknya, kecuali untuk batuan yang mempunyai tekstur gelasan.
Batuan beku yang berwarna cerah umumnya adalah batuan beku asam yang tersusun atas mineral-mineral felsik, misalnya kuarsa, potash feldsfar dan muskovit. Mineral-mineral felsik sendiri berasal dari magma asam yang memiliki kandungan silika yang tinggi yaitu >66%.
Batuan beku yang berwarna gelap sampai hitam umumnya batuan beku intermediet dimana jumlah mineral felsik dan mafiknya hampir sama banyak. Apabila dilihat dari komposisi silika yang dimiliki batuan beku intermediet terdapat silika 52-65%.
Batuan beku yang berwarna hitam kehijauan umumnya adalah batuan beku basa dengan mineral penyusun dominan adalah mineral-mineral mafik yang berwarna gelap karena mineral-mineral mafic biasanya terdiri dari mineral yang mengandung unsur Fe dan Mg. Seperti mineral olivine dan piroksen. Kandungan silika pada magma basa penyusun batuan beku basa yaitu 45-51%. Selain tekstur, batuan beku juga memiliki struktur tersendiri. Struktur adalah kenampakan batuan secara makroskopis dan dalam skala luas yang meliputi kedudukan, kenampakan, dan hubungannya antar bagian-bagian batuan yang berbeda. Pada batuan beku struktur yang sering ditemukan adalah:
a. Masif yaitu bila batuan pejal, tanpa retakan ataupun lubang-lubang gas
b. Jointing yaitu bila batuan tampak mempunyai retakan-retakan
c. Vesikuler yaitu dicirikan dengan adanya lubang-lubang gas. Vesikuler sendiri terjadi akibat magma yang mengandung uap air dan gas-gas lainnya yang kemudian gas-gas tersebut terjebak pada pembekuan magma. Sehingga menimbulkan rongga-rongga pada area yang ditempati oleh gas-gas tersebut.
-Skoriaan yaitu bila lubang lubang gas tidak saling berhubungan
-Pumisan yaitu bila lubang-lubang gas saling berhubungan
d. Aliran yaitu bila ada kenampakan aliran dari kristal-kristalnya.
e. Amigdaloidal yaitu bila lubang-lubang gas telah terisi oleh mineral-mineral sekunder
Gambar 1.3 Amigdaloidal