Laura Tidwell
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
tumblr dot com
One Nice Bug Per Day
Show & Tell
Cosmic Funnies

@theartofmadeline
Fai_Ryy
official daine visual archive
occasionally subtle
todays bird
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

tannertan36
$LAYYYTER
Doug Jones
KIROKAZE

shark vs the universe
Mike Driver

Origami Around

Game Changer & Make Some Noise
Color Me Curious

seen from Bolivia
seen from Venezuela
seen from United States
seen from United States

seen from South Korea
seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands

seen from United States

seen from Singapore
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States
seen from United States

seen from Serbia
seen from United States

seen from China
@annitageo11-blog
Laura Tidwell
FOLD - GEOLOGY STRUCTURE - BOYOLALI
Haris - Jodi - Annita - Surya - Haikal (kiri-kanan)
Kelompok cetar 88, nemu banyak struktur cetar
[ i l o v e w o r d s ]
foraminifera nummulites sp.
petrografi batuan sedimen karbonat
on the centerr of the pict
microcline - has cross hetch twinning.
Geologist in oil and gas
Geology is a science that learns about everything was happen in the earth, the morphology of earth, and how they are happen and formed. The person who studies geology is a geologist. Geologist was divided some concentrations, such as
· Petroleum
· Mining
· Environmental
· Marine
· Hydrogeology
· Glaciologist
· Volcanologist
· Sedimentologist
· Geo physic
· Seismologist
· Paleontologist
Geologist has role as the pioneer or some one who will know about structure and character of earth. In sector petroleum and gas, geologist is also as the pioneer to find out where the oil and gas is. In oil, oil has a source rock which produces oil. Then, oil was trapped in reservoir rock. Reservoir rock was usually as the place where oil is. But the reservoir rock in different place was different the oil where is. Reservoir rock sometimes could find in antiklin fold, sometimes in a delta and sometimes in a sediment basin, so why the geologist was needed in sector geologist because the geologist was learn about structure in earth where the oil was in and know about how the oil can be trapped in such structures.
Petrogenesa Batuan Beku
Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari pembekuan magma langsung baik secara ekstrusif maupun secara intrusive, yaitu proses perubahan fase cair menjadi fase padat (Bates dan Jackson, 1990).
Gambar 1 Rock Cycle
Batuan beku memiliki struktur dan tekstur yang berbeda-beda bergantung terhadap proses yang dialaminya. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya tekstur pada batuan beku:
1. Tingkat kristalisasi yaitu tingkat pembentukan kristal. Semakin banyak kristal mineral yang terbentuk maka semakin lama proses pembentukan batuan beku tersebut. Proses pembekuan yang lama tersebut biasanya terjadi jauh di dalam permukaan bumi. Tingkat kristalisasi sendiri dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
a. Holokristalin : apabila batuan tersusun seluruhnya oleh massa kristal. Tingkat kristalisasi menunjukkan bahwa tingkat pembentukan kristal yang lama karena batuan dapat membentuk kristal seluruhnya. Proses yang lama ini dapat terjadi pada batuan beku intrusif yang membeku jauh di bawah permukaan.
b. Hipokristalin : apabila batuan tersusun oleh massa gelas dan massa kristal. Tingkat kristalisasi menunjukkan bahwa terjadi perbedaan suhu. Kemungkinan batuan beku dengan tekstur ini berada di area hypabisal karena terdapat gelasan pula. Daerah hypabisal yang dimaksud biasanya daerah korok. Pada daerah ini merupakan suhu pertemuan antara suhu dekat permukaan dengan suhu bawah permukaan yang berada lebih di bawah lagi.
c. Holohyalin : apabila batuan tersusun oleh massa gelas seluruhnya. Batuan beku yang memiliki tekstur ini menunjukkan bahwa batuan tersebut mengalami pembekuan yang cepat. Seperti pada batu obsidian. Hal ini dikarenakan pembekuan yang cepat tidak sempat membentuk kristal.
2. Ukuran kristal
Dalam tekstur ini, terdapat ukuran kristal halus, sedang dan kasar. Semakin kasar ukuran kristal maka semakin lambat laju pembekuan magma yang terjadi. Hal tersebut dikarenakan oleh lokasi pembekuan yang berada jauh di bawah permukaan. Pada lokasi tersebut memiliki suhu yang sangat tinggi maka akan sulit sekali untuk mengalami kristalisasi.
3. Granularitas
Merupukan hubungan antara kristal penyusun batu terhadap kristal yang lain dalam satu batu. Granularitas secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu:
a. Equigranular
Merupakan tekstur dimana kristal penyusun batuan memiliki ukuran yang sama (seragam).
o Fanerik granular yaitu apabila kristal mineral dapat dibedakan dengan mata telanjang dan berukuran seragam. Contoh: granit dan gabro. Tekstur ini terjadi akibat pembekuan magma yang berlangsung secara lambat sehingga menghasilkan kristal mineral yang fanerik.
o Afanitik yaitu apabila kristal mineral sangat halus sehingga tidak dapat dibedakan dengan mata telanjang. Contoh : basalt. Tekstur ini terjadi akibat pembekuan magma yang berlangsung dengan cepat sehingga menghasilkan kristal yang afanit (berukuran halus).
b. Inequigranular
Merupakan tekstur dimana kristal penyusun batuan memiliki ukuran yang berbeda, dimana terdapat kristal mineral yang lebih besar (fenokris) dan adanya massa dasar. Hal ini diakibatkan oleh sejarah pembekuan magma yang kompleks sehingga menghasilkan tekstur porfiritik.
Tekstur ini terjadi karena terdapat beda waktu pembekuan magma. Pertama-tama, magma membeku cukup lama karena berada di “intrusive body” dan kemudian mulai membentuk inti kristal mineral yang terus berkembang. Namun sebelum kristalisasi magma ini selesai, magma yang masih dalam fase cair serta butir mineral yang sudah dalam bentuk padat di dalamnya terekstrusi menuju permukaan bumi dimana pembekuan terjadi secara cepat. Di sinilah yang kemudian membentuk tekstur afanitik.
Ø Porfiritik merupakan tekstur dimana massa dasar berupa kristal.
- Faneroporfiritik yaitu bila kristal mineral yang besar (fenokris) dikelilingi kristal mineral yang lebih kecil (masa dasar) dan dapat dikenal dengan mata telanjang. Contoh : diorit porfir
- Porfiroafanitik yaitu bila fenokris dikelilingi oleh massa dasar yang afanitik. Contoh : andesit porfir
Ø Vitrovirik merupakan tekstur dimana massa dasar berupa gelas
4. Bentuk kristal
Bentuk kristal terdiri dari:
a. Euhedral : bentuk kristal mempunyai bidang kristal yang sempurna dan jelas.
b. Subhedral : bentuk kristal dari butiran mineral dibatasi oleh sebagian bidang kristal yang sempurna.
c. Anhedral : bentuk kristal dari butiran mineral dibatasi oleh bidang kristal yang sempurna.
Semakin jelas bentuk kristal dari suatu batuan beku maka batuan tersebut mengalami pembekuan jauh di bawah permukaan. Karena bentuk kristal yang semakin tidak jelas ke arah bentuk kristal anhedral dikarenakan mineral-mineral lain yang mulai terbentuk mulai saling menumpuk mineral lainnya.
Sedangkan berdasarkan warna dari batuan beku dapat dijadikan indikator magma asal walaupun hal tersebut tidak berlaku untuk semua batuan terutama batuan beku yang terdiri dari gelasan saja. Warna batuan sendiri berkaitan erat dengan komposisi mineral penyusunnya. Mineral penyusun batuan tersebut sangat dipengaruhi oleh komposisi magma asalnya sehingga dari warna dapat diketahui jenis magma pembentuknya, kecuali untuk batuan yang mempunyai tekstur gelasan.
Batuan beku yang berwarna cerah umumnya adalah batuan beku asam yang tersusun atas mineral-mineral felsik, misalnya kuarsa, potash feldsfar dan muskovit. Mineral-mineral felsik sendiri berasal dari magma asam yang memiliki kandungan silika yang tinggi yaitu >66%.
Batuan beku yang berwarna gelap sampai hitam umumnya batuan beku intermediet dimana jumlah mineral felsik dan mafiknya hampir sama banyak. Apabila dilihat dari komposisi silika yang dimiliki batuan beku intermediet terdapat silika 52-65%.
Batuan beku yang berwarna hitam kehijauan umumnya adalah batuan beku basa dengan mineral penyusun dominan adalah mineral-mineral mafik yang berwarna gelap karena mineral-mineral mafic biasanya terdiri dari mineral yang mengandung unsur Fe dan Mg. Seperti mineral olivine dan piroksen. Kandungan silika pada magma basa penyusun batuan beku basa yaitu 45-51%. Selain tekstur, batuan beku juga memiliki struktur tersendiri. Struktur adalah kenampakan batuan secara makroskopis dan dalam skala luas yang meliputi kedudukan, kenampakan, dan hubungannya antar bagian-bagian batuan yang berbeda. Pada batuan beku struktur yang sering ditemukan adalah:
a. Masif yaitu bila batuan pejal, tanpa retakan ataupun lubang-lubang gas
b. Jointing yaitu bila batuan tampak mempunyai retakan-retakan
c. Vesikuler yaitu dicirikan dengan adanya lubang-lubang gas. Vesikuler sendiri terjadi akibat magma yang mengandung uap air dan gas-gas lainnya yang kemudian gas-gas tersebut terjebak pada pembekuan magma. Sehingga menimbulkan rongga-rongga pada area yang ditempati oleh gas-gas tersebut.
-Skoriaan yaitu bila lubang lubang gas tidak saling berhubungan
-Pumisan yaitu bila lubang-lubang gas saling berhubungan
d. Aliran yaitu bila ada kenampakan aliran dari kristal-kristalnya.
e. Amigdaloidal yaitu bila lubang-lubang gas telah terisi oleh mineral-mineral sekunder
Gambar 1.3 Amigdaloidal
Asal Mula Danau Toba
Danau Toba merupakan danau terbesar di Indonesia, di tengah-tengah danau tersebut terdapat pulau yang bernama Pulau Samosir. Danau ini terletak di Provinsi Sumatera Utara dan rencananya menjadi salah satu Geopark di Indonesia.
Gambar 1.1 Danau Toba
Danau Toba ini menurut sejarahnya merupakan hasil dari aktivitas vulkanisme Gunung Toba pada ±74.000 tahun yang lalu. Gunung Toba merupakan salah satu supervulcano di dunia dengan ledakan yang memiliki indeks ledakan 8 (mega kolosal) sedemikian kuatnya hingga membentuk kompleks kawah dengan ukuran 3.000 km2. Volume erupsi diperkirakan antara 2.000 hingga 3.000 km3 magma dan 800 km3 terendapkan sebagai abu vulkanis. Letusan ini diketahui sebagai letusan terbesar di dunia dalam 25 juta tahun terakhir. Selain itu, letusan ini berdampak pada “volcanic winter” di seluruh dunia dengan penurunan suhu 30C sampai 50C dan sampai 150C pada wilayah dengan lintang yang lebih tinggi.
Pada saat ini, bentuk gunung dari Gunung Toba sendiri sudah tidak membentuk gunung lagi namun kaldera yang merupakan bentukan dari 3 kali letusan Gunung Toba. Letusan pertama terjadi pada 800.000 tahun lalu dan membentuk kaldera di sebelah selatan Danau Toba yaitu bagian Porsea dan Prapat. Letusan kedua terjadi pada 500.000 tahun yang lalu dengan kekuatan letusan yang relatif lebih kecil dibandingkan letusan pertama dan ketiga. Letusan kedua membentuk kaldera di sisi selatan Danau Toba yaitu daerah Silalahi dan Haranggaol. Dari kedua letusan ini, letusan ketigalah yang merupakan letusan paling dahsyat. Letusan ketiga membentuk kaldera, dan menjadi Danau Toba seperti saat ini serta Pulau Samosir di tengah danau.
Kaldera Toba
Komplek kaldera Toba ini memiliki empat kawah vulkanik yang tumpang tindih saling berdampingan dengan “The Sumatran Volcanic Front”. Kaldera termuda merupakan kaldera kuarter terbesar di dunia dengan memotong tiga kaldera tua. Perkiraan 2.800 km3 dari batu padat yang setara dengan batuan piroklastik diketahui sebagai tuff Toba termuda berasal dari letusan kaldera termuda yang merupakan salah satu letusan terbesar dalam sejarah geologi. Setelah erupsi tuff toba termuda, sebuah kubah khas muncul kembali terbentuk dalam kaldera baru dan bergabung dua setengah kubah yang dipisahkan oleh graben membujur.
Gambar 1.2 Perbandingan letusan gunung berapi
Kenapa terjadi letusan besar pada Gunung Toba ini?
Gunung Toba ini terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik yaitu lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Ketiga lempeng ini merupakan lempeng hidup yang setiap tahunnya bergeser, misalnya lempeng Indo-Australia yang menumbuk lempeng Eurasia sejauh 7 cm setiap tahunnya dan lempeng Pasifik yang bergeser secara relatif terhadap lempeng Indo-Australia sejauh 11 cm per tahun. Pergerakan lempeng-lempeng inilah yang pada akhirnya membentuk rangkaian gunung berapi, salah satu contohnya adalah Gunung Toba.
Dua lempeng yang lebih berperan pada dahsyatnya letusan Gunung Toba ini adalah lempeng lautan Indo-Australia yang mengandung lapisan sedimen menujam lempeng benua Eurasia. Gesekan dua lempeng yang berada di kedalaman sekitar 150 km di bawah permukaan bumi telah menciptakan panas yang dapat melelehkan bebatuan, lalu naik ke atas sebagai magma. Semakin banyak lapisan sedimen yang masuk ke dalam maka semakin banyak magma yang dihasilkan. Hal ini pula yang menyebabkan kantong magma Toba yang memuat magma dalam jumlah sangat besar. Menurut tiga peneliti dari German Center for Geosciences (GFZ) dengan Danny Hilman dari LIPI dan Fauzi dari BMKG pada 2010 menyimpulkan bahwa di bawah kaldera Toba terdapat dua dapur magma yang terpisah dan diperkirakan memiliki volume sedikitnya 34.000 km3 seperti banyaknya magma yang pernah dikeluarkan gunung ini sebelumnya.
Selain itu pergerakan lempeng Indo-Australia telah menimbulkan sesar geser besar yaitu Great Sumatran Fault yang membujur sepanjang 1.700 km dari Teluk Lampung sampai Aceh. Hampir seluruh gunung berapi berada di atas sesar besar ini.
Namun letak kaldera Toba tidak tepat berada di atas sesar besar ini, menyimpang beberapa kilometer ke arah timur laut dari sesar ini. Menurut van Bemmelen bahwa di antara Sungai Barumun dan Sungai Wampu, Pegunungan Barisan (yang berdiri di atas sesar) tiba-tiba melebar dan terjadi pengangkatan dari bawah yang membentuk dataran tinggi dengan panjang 275 km dan lebar 150 km yang disebut Batak Tumor. Batak Tumor menurut Bemmelen dianggap sebagai fase awal terbentuknya gunung Toba. Saat terjadi pembumbungan magma keluar dari retakan membentuk tubuh gunung yang hingga saat ini masih terdapat jejaknya di Haranggaol, Tongging, dan Silalahi.
Gambar 1.3 Letak-letak kaldera dan sesar besar
Maka Danau Toba jelas terpengaruh oleh gaya sesar ini. Bentuk Danau Toba yang memanjang, bukan bulat sebagaimana lazimnya kaldera, menunjukkan dia terpengaruh dengan gaya sesar geser yang berimpit di kawasan ini. Sisi terpanjang danau, yang mencapai 90 km, sejajar dengan Zona Sesar Sumatera, yang merupakan salah satu patahan teraktif di dunia selain Patahan San Andreas di Amerika. Aktivitas gunung berapi di Sumatera, termasuk Toba, dikontrol oleh patahan ini.
Sementara beberapa hal yang menyebabkan munculnya pulau Samosir diawali dengan anomali gravitasi di Toba. Menurut hukum gravitasi, antara satu tempat dengan tempat lainyya memiliki gaya tarik bumi sama bila mempunya massa, ketinggian dan kerelatifan yang relatif sama. Jika ada materi yang lain berada di situ dengan massa berbeda, maka gaya tariknya berbeda. Maka ketika gunung berapi meletus, maka banyak materi yang dikeluarkannya dan artinya akan kehilangan massa dan gaya tariknya berkurang sehingga terjadi pengangkatan (uplift) yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir. Hanya Samosir yang terangkat karena merupakan daerah terlemah dan terangakat karena tekanan magma ke atas yang belum keluar. Sementara daerah lainnya merupakan dinding kaldera.
garnet mineral in Eclogite stone
pillow lava - chert - red limestone (from top to bottom) - Karang Sambung Indonesia
basalt lava - karang sambung-Indonesia
intrusi diabas, karang sambung-Indonesia
"Are these the end times? Yes. And they have been this way since the beginning. Welcome to planet Earth, a wonderful but not entirely stable place to live."
Craig Childs
Cartenz Pyramid, Jayawijaya Mountain, Papua, Indonesia.
It is approved that Cartenz Pyramid, the peak of Jayawijaya Mountain which also the highest peak in Indonesia archipelago (4,884 m), was once a seabed with fossil of seashell found among its stones.
(by Gustian AG)
Niceeeee :) love it :)
History of Geology's Education in Indonesia :)
Sebagai mahasiswa geologi, tentunya pengen tahu gimana geologi ini bisa sampai di Indonesia, gimana caranya terus kenapa?? (⊙…⊙ )?
Lalu gimana buku-buku yang sering jadi beberapa literatur mahasiswa ini bersumber dari apa toh?? (°o°;)
terus siapa aja sih yang terlibat ??(;° ロ°)
Nah jadiii L(・o・)」, sejarah pendidikan geologi di Indonesia tuh sebenarnya rada telat datang daripada di negara-negara lain. Pendidikan geologi sendiri baru masuk ke INA pada tanggal 10 Mei 1938. Menurut sejarah tahun itu, INA masih di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Sebelumnya, Belanda dalam bidang kegeologiannya masih memakai tenaga ahli dari negara mereka atau terkadang negara lain. Namun, keadaan itu berubah pada tanggal 10 tadi. Pemerintahan Kolonial Belanda mendirikan suatu lembaga pendidikan darurat "ass kursus" disini asisten yang dimaksud adalah asisten geologi yg ditempuh selama tiga tahun seperti D3. Pendidikan tersebut dilaksanakan oleh Dinas Pertambangan yang bahasa londo ne "Dienst van het mijnbouws" di Bandung. Staff pengajarnya sendiri berasal dari instansi tersebut, salah satunya adalah Van Bemmelen. Pada umumnya murid-murid yg mengikuti pendidikan tersebut adalah warga Belanda tapi ada dua orang Indonesia yg ikut serta yaitu Bapak F. Lasut dan Bapa Sunu Sumosusastro (inget bukan bang sunu hercules ya (*ノ▽ノ) ).
Tapi eh tapi, pendidikan tersebut cuma berlangsung satu angkatan atau tiga tahun saja. Karena kemudian tentara Jepang masuk ke INA. Nah, Bapak F. Lasut dan Bapak Sunu Sumosusastro ini, adalah ahli dari INA yg pertama dan mereka juga yg nantinya akan sangat berperan dalam mensharing, mengembangkan, dan memajukan pendidikan geologi di INA. Merekalah yang menyelamatkan arsip-arsip dan buku geologi ke Jalan Braga, Bandung Selatan lalu arsip itu pindah ke Ciwidey-Tasikmalaya-Magelang-Jogja. Sedangkan buku Geology of Indonesia karya van Bemmelen itu beda cerita. Semula van Bemmelen menyerahkan pada orang kepercayaannya yaitu seorang hoofd mantri opzichter (mantri ukur kepala), Djatikusumo ketika itu para ahli geologi dan pertambangan masuk dalam kamp inteniran. Ketika van Bemmelen sudah bebas, dia memintanya kembali namun yang bersangkutan menolak karena sebagai seorang pejuang kemerdekaan ingin menyelamatkan arsip ini untuk kepentingan bangsa Indonesia , dan kemudian membawanya ke tempat asalnya yaitu Malang . Namun kemudian manuskrip dan arsip/buku lainnya dia serahkan ke Dinas Pertambangan yang sudah mengungsi ke Magelang dan kemudian ke Jogyakarta.
Bapak F. Lasut dan Bapak Sunu Sumosusastro pada jaman penjajahan Jepang mereka dijadikan sebaga penerjemah laporan geologi dan pada saat itu pula mereka menjadi staff dinas pertambangan. Setelah kemerdekaan Indonesia barulah mereka menjadi Ketua Bapak F. Lasut) dan wakil (Bapak Sunu) Pusat Jawatan Geologi dan Pertambangan dibawah naungan Departement Kemakmuran dimana saat itu Indonesia berpindah pusat pemerintahan ke Jogja.
Kemudian juga didirikan beberapa sekolah untuk mendidik tenaga geologi dan pertambangan secara darurat pada Nopember 1946 yaitu:
Sekolah Geologi Pertambangan Pertama (SGPP, untuk pendidikan juruukur geologi
Sekolah Geologi Pertambangan Menengah (SGPM, untuk pendidikan juruukur geologi penilik)
SekolahGeologi Pertambangan Tinggi (SGPT), untuk pendidikan asisten geologi, dengan dosennya antara lain Sunu Sumosusastro (kepala sekolah) dan A.F. Lasut. N Lembaga pendidikan ini kemudian pindah ke Jogyakarta, dan nama SGPT berubah menjadi Akademi Geologi dan Pertambangan (AGP).
Lembaga pendidikan ini berakhir dengan ujian akhir pada akhir tahun 1949 sehingga berlangsung hanya 1 angkatan saja karena Bapak F. Lasut meninggal setelah beliau dibawa dari rumahnya dan kemudian ditembak dipinggir jalan pada 7 Mei 1949. Di antara para lulusan pendidikan yang pertama dan terakhir ini adalah: M.M. Purbohadiwidjo, Djajadi Hadikusumo (kemudian pendiri IAGI), Harli Sumadiredja, R. Prajitno (Ketua IAGI yang ke-2), Surjo Ismangun, G.M Mohamad Slamet Padmokesumo, Mohamad Jasin Rachmat dan Sanjoto Soeseno dan Sumardi Umarkatab.
Selanjutnya mulai muncul universitas yg mendirikan jurusan geologi sampai sekarang ini ∩(︶▽︶)∩
Referensi :
http://rovicky.wordpress.com/2012/06/07/awal-pendidikan-geologi-di-indonesia/
http://museum.bgl.esdm.go.id/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=14&Itemid=13
http://museum.bgl.esdm.go.id/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=48&Itemid=43
http://museum.bgl.esdm.go.id/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=49&Itemid=44