Kini aku telah sampai di ujung jalan yang pernah membawaku pada kekeliruan; jalan panjang yang tiap tapaknya menyuguhkan kesengsaraan dan resah-resah yang tak berkesudahan.
Ratusan hari yang tak pernah terlalui dengan rasa sederhana, waktu yang terulur sia-sia, dan impresi akan memori yang sengaja menetap sebagai isi kepala. Sungguh masa yang begitu pelik.
Kini waktu tengah memutar dunia. Dunia yang tak lagi penuh duka, bahkan memetik bahagia bisa dengan sederhana saja.
Alam raya membagi suka cita dalam bentuk yang tak terduga. Meski bahkan terkesan semu, tetapi cukup mahir meneduhkan sendu.
Barangkali keliru-ku selama ini adalah cara semesta untuk menuntun ku tumbuh, tumbuh dari segala rasa yang pernah membuatku jatuh. Melatihku cukup, dari segala hal yang Tuhan bagi dalam hidup. Karena mungkin jiwa yang semakin baik tercipta dari pribadi yang lebih epik.
Jiwa yang sempat merasa gagal itu kini tengah menata jalan untuk menggapai angan. Di sisa waktu yang semesta sediakan, disambutnya hebat segala hal tentang impian. Sebagai caranya membalas dendam akan segala kekalahan. Teguhlah ambisinya meski nanti hanya dengan satu kaki, sebab mimpinya tetap-lah harus terpenuhi.
Tiba saatnya pintu yang dulu di harap terbuka, kini dibiarkan tetap apa adanya. Buku yang nyaris tiap hari di baca, kini ditutup sebab tak lagi ingin tau akhirnya. Tengadah tangan yang dahulu gemar meminta hal yang sama, kini terhenti sebab tak pernah ada isyarat untuk menapaki jalan yang sama.
Kutanggalkan keliruku pada Nya, sebagai bentuk terimakasih tak terkira. Sebab aku meyakini satu hal yang sama baiknya, bahwa balas dendam terbaik adalah dengan menjadi lebih baik, itu saja. Cukup.
~29th August ‘19 | © Dea Savitri