Day 10 : Peran Mahasiswa
Wih, berat gak tuh judulnya? Hehe. Assalamu'alaikum, teman-teman. Alhamdulillah hari ini aku dapat inspirasi dan bisa tepat waktu nulis di tumblr. *** Jadi beberapa hari ini diadakan diklat terpusat oleh kabinet kampus. Salah satu tujuan nya adalah untuk mengenalkan dan menyadarkan posisi potensi dan peran mahasiswa untuk kemajuan bangsa. Ya intinya sih gitu. Selain itu juga untuk meningkatkan semangat pergerakan dalam bidang karya, sosial masyarakat, dan sosial politik. Keren kan aku hafal? Soalnya tadi siang baru ngafalin visi misi oskm dan baru selesai uas dikpus juga. Hehe. *** Teorinya, posisi mahasiswa itu sama dengan masyarakat, ada di dalam tatanan masyarakat. Hanya saja diberi kesempatan lebih untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Dan kalau dilihat, mahasiswa juga memiliki banyak potensi yang harusnya bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ada. Nah, dengan posisi dan potensi itu mahasiswa berperan sebagai inisiator dan pelopor pergerakan untuk membantu menyelesaikan masalah yang ada di sekitarnya. Pergerakan ini bisa berupa berkarya, memajukan sosial masyarakat dan memperjuangkan hak melalui sosial politik. Banyak hal yang bisa dilakukan, asal jangan diam. Itu kata kak miqdam di hari ke 1 dikpus. Ya, teorinya begitu. *** Hari ini kami diberi tugas untuk melakukan observasi dan merumuskan masalah apa yang sebenarnya ada di lingkungan sekitar kampus. Kelompokku dapat wilayah di sekitar sekeloa, dekat dipatiukur. Selama kurang lebih 2 jam kami mewawancarai dan berkenalan dengan warga, ada satu hal yang membuat kami tertegun sejenak (duh). Tahukah kalian apa keluhan dan masalah yang sering masyarakat sebutkan? Bukan. Bukan keluhan tentang lingkungan yang kotor. Walaupun ada di gang, kondisi jalan dan lingkungannya bisa dibilang cukup bersih. Masalah yang sering dikeluhkan warga adalah mahasiswa yang berisik dan banyak membuat keributan dan gak kenal waktu. Ibu Nani, salah satu ibu yang kami wawancarai mengeluh soal mahasiswa yang ribut sampai larut malam, bahkan sampai dini hari. Terganggu dengan mereka yang teriak-teriak seenaknya, apalagi kalau bawa banyak teman ke kos nya. Menurutnya, yang namanya mahasiswa harusnya punya etika, tapi kok malah banyak krisis moral. "saya juga pernah jadi mahasiswa dulu. Tapi gak segitunya. Prihatin sama mahasiswa zaman sekarang" "ah, mau itb, mau unpad, sama aja, teh" katanya begitu. "iya sih, saya juga paham, gak semua mahasiswa kayak gitu. Masih ada yang baik juga, tapi kalau gini kan jadinya hilang respek ke mahasiswa. Kayak peribahasa, nila setitik rusak susu sebelanga", sambung Bu Nani. *** Dari observasi tadi aku jadi merasa ada suatu ironi yang sangat menyedihkan. Sebagai mahasiswa, bukannya berkarya dan membantu menyelesaikan masalah, tapi kenyataannya malah menjadi masalah baru di lingkungannya. Memang, kalau mau beralasan, kami bisa bilang, "itu kan bukan saya, bu. Kami gak seperti itu kok bu". Tapi bukannya itu tanggung jawab bersama ya? Berarti tanggung jawab kita juga sebagai insan (yang katanya) terdidik. Ya, kan? *** Jadi cobalah berkenalan dan menyapa warga sekitar kos mu. Coba buat hal positif dan membantu warga. Cobalah untuk menyelesaikan masalah yang ada. Jangan cuma diem di kamar dan belajar terus. Karena pada akhirnya kita akan kembali untuk bersama menyelesaikan masalah yang ada. Lalu, bagaimana kita bisa bergerak kalau kita sendiri gak tau masalahnya apa? Kembangkan empati mu ya! Ya kalau sibuk sama urusan kuliah dan gak ada waktu buat interaksi sama masyarakat sekitar, gak masalah. Tapi setidaknya kurang-kurangi lah bawa temen serombongan ke kosan dan berisik sampai ganggu tetangga. Kurang-kurangi lah parkir motor serombongan menuhin gang. Kosan kalian kan deket kampus, jalan kaki aja, biar sehat! Hehe. Kurang-kurangi lah muter lagu malem-malem dengan volume yang besar, pakai headset kan bisa? Banyak adik-adik yang kehilangan tempat bermainnya karena dijadikan tempat parkir sama kalian loh. Ajak main lah sesekali dede nya. Pasti seneng walaupun cuma diajak main kertas lipat aja. Yuk! Intinya jangan sampai peran kita sebagai pemecah masalah malah berubah jadi pembuat masalah. Iya. Gitu. *** Aku, yang masih harus belajar banyak menjadi mahasiswa, Bandung, 5 Juni 2017 See ya!











