I’m not okay, but it’s okay
“You have to go to the psychiatrist or at least psychologist, because you look stress, man“. Itu kata seorang sahabat setelah mendengar cerita rasa takut dan trauma dari yang apa yang terjadi sama gue di bulan September kemarin. September tahun ini menjadi waktu yang bakal gue hapus kenangan yang ada di dalamnya, karena kebanyakan kenangan pahit dan sakit disini.
I laugh too loud. Really? Psychiatrist or even psychologist?! I’m not crazy, man. I’m just afraid after the things happen to me. Gue ga sakit, gue ga gila. Cuma takut. Dan itu juga ga tiap menit kerasa takutnya. Hanya di saat2 tertentu atau juga di tempat2 tertentu yang merujuk kejadian itu. Contoh, hotel rooms, lobby hotel, toilet, bahkan di lift. Selain itu engga. To be honest, rasa rakut yang dirasain juga ga terlalu jadi beban amat kok.
Tapi kalo lagi sendiri, tiba-tiba kepikiran rasa takut sama trauma itu, maka gue bakal ga tidur all night long dan membiarkan diri gue duduk di tempat tidur sambil nyalain laptop seolah lagi ngerjain sesuatu. Tidur lagi ketika papa udah bangun buat prepare ke masjid untuk sholat shubuh. Biasanya buka kamar gue, dan ngelihat gue “seolah2″ baru selesai ngerjain tugas, then papa membiarkan gue sholat di rumah. Padalah, baru siap2 buat tidur dan bangun jam setengah 6 pagi buat sholat shubuh dan prepare buat kuliah. Ini sih yang berat. Rata-rata sehari cuma tidur sejam.
Gue gabisa menjelaskan dengan tepat bagian mananya dari kejadian itu yang membuat gue takut dan trauma. Gue masih bisa mengingat beberapa hal yang gue bener-bener ga pernah inginkan terjadi, bahkan dalam mimpi pun engga, namun terjadi dalam idup gue. Gue terperangkap dalam situasi itu dan terpuruk dalam perasaan yang sama.
Unfortunately, berselang dari kejadian itu terjadi, gue belum bisa benar-benar bangkit dari kedua rasa itu, takut dan trauma. Dan yang paling membuat gue sulit melepaskan diri adalah rentang waktu yang panjang yang harus gue lalui hingga gue bisa berpikir normal kembali bahwa gue layak menikmati idup seperti orang lain bebas menikmatinya.
Jadi jangan heran kalo sampai hari ini, gue cuma bisa tidur dengan lampu yang dimatiin, dengan guling yang ada di depan dan di belakang gue, supaya gue ngerasa aman. Sejujurnya, gue belum berani untuk nginep dirumah temen lagi, padahal hal itu yang sering gue lakuin, karena gue sama temen2 sering nongkrong smp tengah malem dan males buat pulang kerumah, akhirnya kita ngumpul di salah satu rumah temen gue. Dan hal yang ga masuk akal lainnya, gue mau pipis di tempat umum juga milih-milih, gue engga milih toilet yang rame, atau gue tahan tu kencing.
And finally, gue bener-bener mengikuti saran sahabat gue, pergi ke psikolog. Psikolog yang gue datengin ga lain dan ga bukan guru gue sendiri yang emang background beliau dari psikologi. I tell everything about what happen in September. Sekarang, insyaallah berangsur membaik, walapun ga signifikan.
Once again, I’m not okay but it’s okay.















