'when i first met you, i honestly don't know you were gonna be this important to me' 🌹 . as always my routine skincare and make up from Mary Kay 👸 . #MisiTheBibik's #projectkita
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Saudi Arabia
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Russia
seen from China

seen from United States

seen from Russia
seen from Russia
seen from France

seen from Australia
seen from China
seen from China
seen from China

seen from United States

seen from Ireland
seen from United States
seen from United States
'when i first met you, i honestly don't know you were gonna be this important to me' 🌹 . as always my routine skincare and make up from Mary Kay 👸 . #MisiTheBibik's #projectkita
Waktu yang Salah
Part 3
1 minggu kemudian
Semenjak kejadian minggu lalu, Lyra benar-benar tak mau membalas pesanku sama sekali. Dibaca pun tidak. Hal itu membuatku pusing bukan main. Seminggu ini aku mencoba mengintropeksi diri namun aku merasa tak pernah melakukan kesalahan terhadapnya. Pikiranku semakin kacau saja ketika mengingat cincin yang tersemat dijari manisnya.
“Apa kamu sudah tunangan ataukah menikah? Ah Tidak! Tidak!” bantiku diikuti dengan gelengan kapalaku. Peduli setan, selama janur kuning belum melengkung, aku masih ada kesempatan.
Aku segera mengambil jaket dan bergegas menuju rumah Lyra. Memacu motorku diatas kecepatan rata-rata, jarak rumahnya tak terlalu jauh dari rumahku. Dibukakan pintu atau tidak itu bagaimana nanti yang penting aku ingin meluruskan segalanya.
Tok…tok..tok… “Permisi.” Ucapku.
Kuulangi hal yang sama hingga beberapa lama, akhirnya engsel pintu bergerak juga. Kulihat kamu membukakan pintu untukku. Tak ada senyum. Seolah enggan melihat begitu tahu aku yang datang.
“Pulang sana.” Ucapmu cepat seraya hendak menutup pintu kembali.
“Tunggu Ly, ada yang mau gue omongin.” Cegahku menahan pintu.
“Kan gue udah bilang gak mau ketemu sama lo. Lo tuli ya? Pulang aja lo sana!” ucapmu jutek.
Dengan cepat kamu menyingkirkan tanganku hendak menutup pintu. Aku panik saat ini. Tanpa memperdulikanku kamu bersikeras mengusirku.
“Gue cinta sama lo!” ucapku cepat.
Kamu terdiam menatapku, terkejut akan ucapanku. Aku saja kaget sendiri mendengar perkataanku barusan, aku sudah diluar kendali. Kamu berlalu masuk ke dalam, tak lama kembali dan duduk dibangku taman kecil depan rumahmu. Aku mengikuti langkahmu. Tanganmu mengulurkan sebuah kartu berwana putih gading berpadu dengan warna gold, tertera namamu bersama seorang pria.
“Le dulu waktu SMA ada cowok yang gue taksir. Ya emang bener kali ya cinta tuh kayak jalangkung, datang tak diundang. Gue sempet mikir dia itu cinta pertama gue. Sikap dia baik banget sama gue, lain sikapnya sama temen perempuan di kelas. Tapi ya dia akhirnya milih perempuan lain, gue bisa apa yang gak dilirik dia sama sekali. Gue cukup lama bertahan sama perasaan gue itu. Mungkin belum jodoh gue pikir, gue mundur untuk kesekian kalinya. Sampai akhirnya gue tau perasaannya dia.” Ucapmu panjang.
“Siapa?” Tanyaku dengan hati berdebar.
“Lusa gue nikah. Datang ya.” Ucapmu tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku. Berlalu masuk ke dalam rumah.
Aku melangkah gontai meninggalkan taman kecil rumahmu bersama undangan pernikahanmu ditangan. Hatiku kini benar-benar hancur. Seakan jatuh dari tempat yang semestinya. Bukan aku tak menganggapmu, aku yang pengecut bertahan dibalik kebodohanku. Mengira kamu menyukai laki-laki lain, bukan aku. Berbahagialah Ly, aku pun akan bahagia walau tanpamu. Saat ini aku pun sedikit merasa bahagia karena kita pernah memiliki perasaan yang sama, hanya saja waktunya yang tak tepat.
Tamat.
@kitajabodetabek