Petualangan: Sebuah Undangan Misterius
Pukul enam pagi. Masih pagi, terlalu pagi bahkan. Tapi hiruk pikuk sudah melanda sebuah rumah sejak setengah jam yang lalu. Rumah berukuran sedang itu terletak di pusat Jakarta. Hari ini Senin. Semua anggota keluarga penghuni rumah itu sedang bersiap-siap melakukan aktivitas, termasuk Sahara.
“Hara.. Sarapan sudah siap, Nak.”
“Iya, Ma. Sebentar. Lima menit lagi Hara ke meja makan.” Sahut Sahara, merespons apa yang dikatakan mamanya.
Sahara sedang di kamarnya. Menyiapkan segala perlengkapan yang akan dia bawa ke sekolah. Bolpoin, buku tulis, penggaris, semua harus dipastikan masuk ke dalam ranselnya.
Sebelum keluar kamar, sejenak Sahara memandangi langit dari balik jendela kamarnya. Ada yang tidak biasa dengan langit Jakarta pagi ini. Segumpal awan hitam bergelantungan, seperti sedang mengepung rumahnya.
“Aneh.. Ah mungkin cuma perasaanku saja.” Gumamnya.
Sarapan selesai. Kakak perempuan Sahara yang duduk di bangku SMA berangkat bersama ayahnya. Sementara Sahara berangkat ke sekolah berjalan kaki.
“Hara berangkat dulu, Ma. Assalamu'alaikum.” Pamit Sahara sambil mencium tangan mamanya.
Keluar dari gerbang rumahnya, Sahara menemukan keanehan lagi. Tiga kucing hitam berdiri di depan rumahnya. Seperti sedang menunggunya. Dia mengernyitkan dahi, tanda waspada. Tiba-tiba seseorang memanggilnya.
“Ra! Ayo berangkat. Nanti kita telat.”
Sahara menghampiri seseorang yang memanggilnya, “hai, Do. Ayo kita berangkat.”
Seseorang yang memanggil Sahara tadi, dia Aldo. Rumah Aldo terletak bersebelahan dengan rumah Sahara. Hampir setiap hari mereka berangkat ke sekolah bersama. Sekolah mereka, SDN 01 Menteng, berjarak sekitar 500 meter dari rumah mereka.
Mereka berjalan kaki. Di sepanjang perjalanan, Sahara bercerita tentang keanehan yang dia temui pagi ini. Tentang awan hitam, kucing hitam yang menyambutnya di depan gerbang…
“Iya, sama Ra. Aku juga ngerasa aneh. Dari tadi aku ngerasa ada yang buntutin.” Papar Aldo.
Tiba-tiba bulu kuduk mereka berdiri. Mereka mempercepat langkah. Bergegas.
Kegiatan belajar di sekolah berjalan lancar. Pukul 14.00. Bel tanda waktu pulang berdering nyaring. Aldo dan Sahara pun keluar kelas. Pulang bersama-sama.
Di depan gerbang sekolah, lagi-lagi mereka menemui hal aneh. Tiga kucing hitam yang tadi pagi berdiri di depan rumah Sahara, sekarang berkeliaran di depan sekolah. Mata kucing-kucing itu menatap tajam. Seperti sedang mengawasi Sahara dan Aldo.
“Do, kamu lihat deh kucing-kucing itu. Aneh. Tadi depan rumahku. Sekarang di sini.” Kata Sahara.
“Udah biarin aja. Mungkin kucing biasa. Abaikan.” Timpal Aldo dengan nada tenang, cenderung masa bodoh.
Akhirnya, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, Sahara langsung menuju kamarnya. Dia menghempaskan tubuhnya ke kasur, mendesah berat. Jadwal belajar yang padat di sekolah membuatnya kelelahan.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan. Bukan dari pintunya, tapi dari arah jendela kamarnya. Perlahan-lahan Sahara bangkit. Sambil mengerjapkan mata, Sahara melihat sesosok burung hantu putih bertengger di luar jendelanya, mengetuk-ngetuk kaca dengan paruhnya. Sahara mendekat ke arah jendela, lalu membukanya. Burung hantu itu berwarna putih, dengan mata bulat menatap tajam. Di kakinya, burung itu mencengkeram gulungan kertas. Tidak lama kemudian, burung itu menyerahkan gulungan tadi kepada Sahara dengan paruhnya. Lalu terbang kembali, menghilang entah ke mana.
Sahara membolak-balik gulungan tadi. Melepas tali yang mengikatnya. Gulungan itu ternyata sebuah amplop berwarna cokelat. Tidak ada nama pengirimnya. Di bagian belakang amplop itu terdapat sebuah gambar topi kerucut berwarna hitam. Seperti topi penyihir. Entah apa maksudnya.
“Hara, dicariin Aldo tuh. Dia di ruang tamu. Mau ketemu kamu katanya.” Suara mama mengalihkan perhatiannya.
Tiga menit kemudian, Sahara sudah berada di ruang tamu.
“Ra, aku punya sesuatu.” Kata Aldo berbisik.
Sejurus kemudian Aldo mengeluarkan amplop cokelat dari sakunya, “aku dapet ini. Tadi pas main basket di halaman belakang, ada burung hantu yang nyamperin aku. Ngasih amplop ini. Aneh.”
“Ha? Burung hantu? Warnanya putih?”
“Iya. Kok kamu tahu?” Tanya Aldo.
Lalu Sahara menunjukkan amplop cokelat miliknya. Aldo tersentak. “Kamu juga dapet?” Yang ditanya hanya mengangguk.
Lalu mereka membuka amplop cokelat bergambar topi penyihir itu. Mereka membaca isinya.
Isi amplop itu berupa sebuah kertas. Ada beberapa kalimat tertulis.
‘Dua hari lagi, pergilah ke sebuah bangunan tua berlangit-langit tinggi di sebelah barat kota ini. Bangunan tua itu adalah sarang ular besi. Ular-ular itu seringkali menelan ribuan manusia tiap harinya. Tapi manusia-manusia itu tetap hidup.
Ada seseorang yang akan menjemput kalian di sana.’
“Sarang ular besi?” Mereka saling bertatapan. Kemudian terdiam beberapa saat. Sibuk dengan pikiran masing-masing. “Apa yang dimaksud dengan sarang ular besi, ya, Do?” Tanya Sahara dengan muka yang masih memikirkan arti dari surat tersebut.
“Sahara, Aldo, kenapa mukanya pada serius banget? Lagi mikirin apa, hayo?” Mama Sahara mengintip dibalik pintu ruang tamu. Keheranan karena tak biasanya muka mereka seserius itu.
“Eh, Tante. Kita lagi mikirin tugas, Tan. Hehehe. Susah.” Jawab Aldo sekenanya sambil menyembunyikan amplop coklat miliknya ke dalam baju.
“Perlu bantuan?” Dijawab dengan gelengan cepat oleh mereka berdua.
“Hara, gimana kita lanjutin ini lewat chatting aja? Daripada nanti Mama kamu tanya-tanya lagi kenapa muka kita serius begini.”
“Yaudah lewat chatting aja. Lagian aku mau ngerjain PR dulu. Tugas dari Bu Ira banyak banget, nih.” Keluh Sahara.
“Oke deh. Aku pulang dulu, ya. Assalamualaikum.”
Malamnya, mereka berdiskusi lewat chatting. Sahara yang memulai percakapan. Ia mengirim stiker dengan gambar Hi.
Sahara: Jadi gimana, Do? Kamu udah mecahin teka teki surat itu?
Aldo: Sedikit, Har. Aku baru mecahin tentang apa itu ular besi. Pasti yang dimaksud dalam surat itu adalah kereta. Kereta itu, kan, panjang seperti ular dan dibuat dari besi. Selebihnya aku belum tahu.
Sahara: Hmm, kereta ya. Benar juga. Bangunan tua sebelah barat kota adalah petunjuk kedua. Sepertinya aku tau yang dimaksud dengan bangunan tua itu.
Sahara: Stasiun Kota! Iya aku yakin Stasiun Kota. Aku pernah ke sana sama kakakku. Waktu itu aku ikut main sama teman-temannya dan kami janjian di sana. Bangunannya memang sudah tua tapi banyak orang yang naik kereta dari stasiun itu.
Di seberang sana, Aldo langsung mencari lokasi yang disebut dengan Stasiun Kota. Tak lupa ia mencari angkutan bagaimana mereka bisa menuju Stasiun Kota.
Dua hari berlalu dengan cepat. Tak ada yang berubah dengan aktivitas pagi mereka. Pukul enam pagi, Sahara sedang bersiap melakukan aktivitas seperti biasa, setidaknya itu yang terlihat oleh orang-orang yang ada di rumahnya. Begitu pula dengan Aldo. Notes kecil, pulpen, senter, beberapa cemilan, jaket, dan bekal sudah aman masuk ke dalam ransel. Juga, dia membawa handphone, diam-diam.
Aldo menghabiskan sarapannya dengan cepat dan buru-buru berpamitan dengan ayah dan ibunya. “Ayah, Aldo berangkat, ya. Bu, Aldo berangkat, ya.” Aldo mencium telapak tangan Ayah dan Ibunya bergantian.
Sahara sudah menunggu Aldo di depan rumahnya. Pagi itu Sahara juga sudah bersiap ke sekolah. Dan tiga kucing hitam itu ada lagi di sekitar rumah mereka. Sahara dan Aldo saling tatap, tersenyum penuh arti.
Keluarga mereka tidak tahu. Pagi itu, Aldo dan Sahara akan berangkat menuju ke sekolah yang berbeda. Di tempat yang berbeda. Tempat di mana para penyihir dari berbagai penjuru dunia berkumpul.
Jakarta-Bogor, Penghujung 2016-Awal 2017
Sebuah kolaborasi dari @fnibrass dan @tiflunium
PS. Cerpen di atas terinspirasi dari buku ‘Harry Potter’, Karya J.K. Rowling