Memasak merupakan sebuah kegiatan yang merangsang motorik, dimana kegiatan tersebut menyatukan seluruh indera, penglihatan, perasa, pembau, peraba dan pendengar. Pendengar? Tidak percaya? Coba pikirkan ketika kamu memasak air dengan cerek, atau memasak sesuatu dengan presto, bukankan indikator air/makanan tersebut sudah masak itu ketika kita mendengar bunyi “tuuuuuuuuuuuuuuuuuut” pada masing-masing alat tersebut.
Keterampilan memasak tidaklah didasarkan atas perbedaan gender. Baik laki-laki --perempuan (saya rasa) harus memiliki keterampilan memasak, walaupun memasak masakan sederhana sekalipun. Bagi seorang perempuan, memasak merupakan hal yang (almost exactly) vital dimiliki sebagai keterampilan. Bayangkan jikaseorang perempuan telah berkeluarga, apa yang akan dia sajikan pagi, siang, malam hari sebagai menu pemersatu hati dimeja makan kelak? Akankah kita yang notabene perempuan dengan ‘lapang dada’ menyajikan sajian buatan orang lain. (Saya) percaya, bahwa seorang laki-laki (kita nanti) kelak menghargai masakan kita, meskipuuuun masakan yang disajikan tidaklah (seenak) seperi masakan pedagang kaki lima yang tendanya selalu ramai pengunjung, atau pedagang di warteg yang tiap jam istirahat makan selalu disesaki oleh pekerja yang kelaparan itu. Bukankah lebih romantis jika dia dibekali makanan home made, yang kita buat sendiri?
Percayalah, memasak menjadi salah satu perangsang motorik. Sesekali ajaklah anak-anak( kita nanti) untuk memasak bersama, biarkan, biarkan mereka bereksplorasi dengan apa yang mereka pikirkan, jangan biarkan mereka jajan diluar yang kita tidak tau higenitasnya. Ajaklah mereka untuk membuat makanannya sendiri, selain lebih hemat, itu juga akan mendekatkan batin kita dengan anak kita (nanti) mendekakan ikatan antara anak dan orang tua bukan?
Keterampilan memasak itu penting teman. Kita tidak tahu pasangan kita (nanti) seperti apa keadaan finansialnya. Dengan bisa memasak bukankan kita bisa membuka usaha berjualan makanan? Membantu perekonomian rumah tangga kita, yang memang diqodar sederhana. Benar bukan?
Bagi seorang laki-laki, janganlah menganggap memasak tidak dibutuhkan untuk seorang laki-laki, jangan menganggap ‘toh aku laki-laki wajar tidak bisa masak, kan ada istriku yang memasakan untukku’. Buanglah anggapan seperti itu teman. Dalam hal-hal tertentu memang bisa digunakan anggapan seperti itu, tetapi jika ibu atau istri (kalian) sakit, istri (kalian) melahirkan, jika istri kalian dinas ke luar kota, siapa yang akan memasakan untukmu? Untuk anak-anakmu? Bosan tho kalau makan diluar terus? Mkan yang kita tidak tahu komposisinya halal atau tidak, fresh atu tidak, higenis atau tidak. Memasak sendiri lebih asyik kan? Bisa menyesuaikan dengan selera kita sendiri.
Memasak sama pentingnya bagi perempuan dan laki-laki. Belajar memasaklah jika tidak bisa, belajarlah teman. Sungguh, memasak dapat menciptakan kerjasama, dan ke-Romantisan. Kombinasikanlah keterampilan memasak kalian dalam sebuah masakan yang nantinya bisa kalian sajikan bersama-sama dimeja makan, untuk dinikmati berdua, atau ditambah bersama anak-anak kalian, atau mungkin kalian nikmati dengan mertua kalian, bukankan asyik?