“Janji, ya!” Kataku bersemangat.
“Kita sama-sama terus. Sampai kita nikah, sampai tua!”
Sebegitunya cinta mampu menguasai kita, ya, Tuan. Hingga kita merasa mampu dan percaya diri menentang takdir Tuhan. Padahal Ia sang kreator Cinta.
Ada satu hal yang istimewa dari kita. Tuhan kita sama. Bukankah itu patut disyukuri?
Akan aku rangkum di sini betapa beruntungnya aku sebagai wanitamu.
Bayangkan saja, ketika aku kerap bermimpi untuk menyandang titel wanita sempurna, dengan kedua tanganmu menekan pipiku, berkata,
“Ngapain,sih? Kayak gini aja udah bikin repot, kok!”
Aku bukan yang sempurna memang, namun setidaknya aku merasa demikian ketika bersama kau!
Aku pernah berkali-kali menuntut untuk kau hadiahi bunga. Namun kau selalu datang dengan tangan kosong dan senyum lelah.
(Bahkan disaat ia lelah masih mampu mengusahakan senyumnya untukku)
Tapi kau bilang bunga dan coklat bukan caramu untuk menunjukkan kasih sayang.
Sungguh, perlahan aku faham bahwa cintamu lebih dari sekedar itu, dan aku kerap menerawang ketika pria seromantis ini memilih aku sebagai tujuan pulangnya.