Gugur di musim semi
sungguh tiada berhenti. musim silih berganti, namun gugur masih menyertai. seperti lubuk hati yg di penuhi luka, tak mampu di sembuhkan oleh abadinya waktu. sementara hanya jeda sejenak, gugur kembali datang.. sejuknya musim hujan, indahnya musim semi, teduhnya hati, sembunyikan duka. namun tak pernah beku, mengeras, apalagi terlupakan.
sudah ku usahakan. aku tak hanya diam saja menunggu hatiku kuat. ia tak akan mampu.
sunyi malam selalu menatapku sendu. ‘’mirisnya dirimu’’ seolah katanya. aku tersenyum. dengan hujan di musim kemarauku. mungkin ia bosan, menyaksikan keluku yg tak berujung. fajar pun seakan enggan menemuiku.
musim seni masih indah. gugurku, akan ku nikmati.












